http://www.suarapembaruan.com/News/2005/09/21/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Pahitnya Menjadi Imigran Gelap
Oleh Santo Koesoebjono 



TELEPON berdering pagi-pagi sekali di suatu hari Minggu. Seorang wanita 
Indonesia meminta tolong untuk mencarikan pekerjaan bagi tujuh pemuda yang baru 
tiba di Amsterdam. Karena tidak dapat mencarikan pekerjaan bagi warga Indonesia 
yang datang ke Belanda, penulis, melalui istri, menyarankan agar si ibu itu 
menghubungi KBRI di Den Haag keesokan harinya. Dia langsung menolak dengan 
mengatakan, kalau hari itu tidak mendapat pekerjaan, rombongan itu akan segera 
kembali ke Jakarta. 

Ternyata wanita itu pernah mengantarkan rombongan kesenian tari dan gamelan 
Jawa ke Belanda. Seusai pertunjukan, hampir separuh anggota rombongan tidak 
kembali ke Indonesia. Mereka menetap di Belanda sebagai penduduk gelap. Mereka 
bekerja di restoran, sebagai tukang pijat panggilan, sebagai pembantu di 
rumah-rumah orang, dan bahkan ada yang membantu pekerjaan kasar di KBRI. 

Memang, untuk mencari rezeki karena tekanan ekonomi, orang bersedia ke mana 
saja dan mengerjakan apa saja. Kalau perlu, cara apa pun ditempuh. Tetapi orang 
sering kali tidak tahu (atau tidak mau tahu) tentang risiko yang dihadapi, 
tentang konsekuensi dari kehidupan sebagai pekerja gelap di negara asing. 
Apalagi jika mereka sudah diiming-imingi para calo dengan upah kerja yang 
tinggi dan kehidupan yang menyenangkan. 

Meski makin lama makin sulit mendapat visa memasuki salah satu negara Uni 
Eropa, tetap saja arus pencari kerja mengalir dari Asia dan Afrika. Jika sudah 
mendapat visa turis untuk memasuki satu negara, dengan dihilangkannya batas 
negara-negara Schengen, mudah sekali bagi seseorang pindah dari satu negara ke 
negara lain. Tidak ada kontrol imigrasi lagi di batas negara. 

Orang yang bisa masuk ke salah satu negara Schengen (sudah dapat tempat 
tinggal) biasanya akan tetap tinggal di negara itu meski visanya sudah habis 
masa berlakunya. Banyak wanita Indonesia yang bekerja secara ilegal tiap hari 
di lain rumah tangga sebagai pembantu dan malam harinya tinggal bersama-sama di 
suatu pondok. Mereka tinggal sampai paspornya hampir habis waktu, atau bahkan 
ada yang tetap tinggal di negara itu biarpun paspornya sudah tidak berlaku 
lagi, sehingga tidak mempunyai identitas diri. 


Bekal Habis 

Para pencari rezeki dari Indonesia sering kali harus mengeluarkan Rp 40 juta 
untuk sampai di Negeri Belanda, katanya untuk biaya paspor, tiket, dan visa. 
Jumlah itu berlipat ganda dari biaya yang sebenarnya. Hal itu menunjukkan, yang 
ingin mencari nafkah di luar negeri bukanlah dari golongan tidak mampu. Banyak 
di antaranya yang sudah memiliki usaha dagang dan bisnis sendiri. 

Uang itu dibayarkan kepada calo yang menjanjikan pekerjaan dan menjanjikan 
orang yang menjemputnya di Belanda. Ternyata janji itu palsu. Ada orang yang 
dimasukkan lewat Paris (karena visa masuk Belanda mungkin lebih sulit), dan 
dari Paris terpaksa mencari jalan sendiri (naik kereta api) ke Belanda. Ada 
pula yang masuk dari Wina atau Frankfurt. Ada juga yang bisa langsung masuk ke 
Bandara Schiphol Amsterdam. 

Sebagian besar dari pencari kerja itu tidak paham bahasa Inggris, apalagi 
bahasa Prancis, Jerman, dan Belanda. Bisa dibayangkan sulitnya mencari 
informasi di negara yang bahasanya tidak kita pahami. Jika sudah sampai di 
tempat tujuan (Belanda), mereka pun tidak tahu harus tinggal di mana dan di 
mana bisa cari kerja. 

Kebanyakan akan tinggal di hotel dulu, yang tarifnya minimal 50 euro (Rp 
600.000) per kamar semalam. Belum lagi biaya makan dan transpor, kalau harus ke 
kota-kota lain mencari kerja. Tentu saja dalam waktu 1-2 minggu, uang bekal 
sudah ludes. Mujur nasibnya jika kebetulan bertemu sesama warga Indonesia yang 
bisa menolong memberikan tempat tinggal atau pekerjaan. 

Pernah juga ada serombongan laki-laki Indonesia yang datang ke Belanda dan 
dibawa calonya berkeliling Belanda naik minibus mencari pekerjaan. Tetapi jelas 
upaya mencari pekerjaan itu hanya berpura-pura, sebab kantor-kantor yang 
didatangi si calo itu sebetulnya bukanlah kantor yang memberi peluang kerja. 

Setelah uang habis, ada yang langsung balik ke Jakarta, ada yang masih mencoba 
mengadu nasib ke Hong Kong, dan ada lagi yang pergi ke KBRI untuk meminta 
bantuan. Imigrasi di KBRI telah berupaya melacak calo yang jelas menipu warga 
Indonesia itu, tetapi belum berhasil. 

Memang di Belanda banyak lowongan untuk jenis pekerjaan yang berat atau 
berbahaya namun upahnya kecil, seperti keperawatan, kebersihan, bangunan, 
restoran/catering, dan sebagainya. Warga Belanda sendiri sudah enggan 
mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu. 

Atau majikan kurang berminat mengambil warga Belanda karena wajib membayar 
tunjangan pensiun dan premi asuransi kesehatan yang mahal. Lebih murah membayar 
pekerja gelap yang tidak mampu protes atau menuntut kalau gajinya jauh di bawah 
upah minimal dan tidak diberi tunjangan apa pun. 

Sekalipun perlu sekali tenaga kerja, peraturan di Uni Eropa tidak mengizinkan 
negara-negara anggotanya mengambil tenaga dari luar Eropa. Lowongan pekerjaan 
harus diisi dulu oleh penduduk negara Eropa. Kalau masih tidak cukup, 
diambillah dari negara-negara Eropa Timur. 

Dengan meluasnya Uni Eropa dari 15 menjadi 25 negara, pekerja asal Eropa Timur 
yang tadinya bekerja secara ilegal di Belanda, sekarang bisa mendapat gaji dan 
tunjangan penuh sebagai pekerja legal. Sekarang sudah lebih dari 20.000 warga 
Polandia bekerja secara resmi di Belanda sejak Polandia menjadi anggota Uni 
Eropa pada 2004. Dengan disahkannya posisi pekerja imigran asal Eropa Timur 
itu, lahan kerja yang masih bisa dimasuki pendatang gelap makin sempit saja dan 
persaingannya makin kuat. 

Di samping itu di Eropa banyak pencari suaka dari Afrika, Asia, dan Timur 
Tengah yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. Ini merupakan sumber 
tenaga kerja yang prima, yang dapat dimanfaatkan dengan segera. Misalnya, 
sekalipun kebutuhan untuk tenaga perawat makin meningkat, Negeri Belanda tidak 
bisa lagi mengambil perawat dari Indonesia, padahal ijazah akademi perawat 
Indonesia diakui Belanda. Rumah-rumah sakit terpaksa melatih pencari suaka atau 
warga Belanda yang di-PHK untuk dijadikan perawat. 


Razia 

Kalaupun imigran gelap berhasil memperoleh pekerjaan, yang menghadapi risiko 
itu bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga majikannya. Akhir-akhir ini 
petugas imigrasi dan polisi di negara-negara Eropa Barat makin rajin melakukan 
sweeping, mengontrol tempat-tempat kerja yang diduga bisa dijadikan penampungan 
imigran gelap. 

Dalam enam bulan pertama tahun ini, pemerintah Belanda menyidik 4.300 
perusahaan di Belanda. Sebanyak 1.100 perusahaan (26 persen) di antaranya 
dikenai denda karena mempekerjakan penduduk ilegal. Selama semester pertama 
tahun lalu hanya 23 persen perusahaan yang didenda. 



Jika terjaring dalam razia polisi atau petugas imigrasi, orang yang tidak 
memiliki kartu identitas dan izin tinggal akan tanpa ampun langsung dideportasi 
kembali ke negara asal. 

Sambil menunggu kesempatan deportasi, mereka ditahan di penjara. Sedangkan 
majikan atau pemilik perusahaan yang menampung pekerja gelap itu akan didenda 
tinggi sekali, antara 10.000 - 15.000 euro per pekerja. Oleh sebab itu baik si 
pekerja gelap maupun si majikan selalu was-was. Hidupnya tidak tenang, 
sewaktu-waktu restoran, pabrik atau tempat tinggalnya bisa digrebek po- lisi. 


Harus terdaftar 

Meski lolos dari razia, penduduk gelap juga akan mengalami kesulitan kalau 
mereka harus ke dokter atau dokter gigi. Soalnya semua biaya perawatan 
kesehatan tidak dibayar kontan, melainkan melalui perusahaan asuransi. 

Untuk bisa membayar asuransi, orang harus terdaftar dan mempunyai alamat resmi 
yang dilaporkan ke kantor Pemda. Penduduk gelap tidak bisa lapor diri, bukan? 

Sedih rasa hati jika lagi-lagi melihat orang Indonesia datang untuk mengadu 
nasib di Belanda. Sedih, karena mereka sudah membuang begitu banyak uang untuk 
datang ke Belanda, padahal peluang mendapat pekerjaan kecil sekali dan kondisi 
kerjanya buruk. 

Sedih karena membayangkan mereka suatu waktu akan terkena razia atau tidak bisa 
ke dokter atau rumah sakit kalau diperlukan. Apakah iming-iming hidup enak itu 
seimbang dengan risiko dan pahitnya hidup di Belanda sebagai imigran gelap? * 


Penulis adalah ekonom, ahli kependudukan dan pengamatproses migrasi 
internasional, yang bermukim di Negeri Belanda 


Last modified: 21/9/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke