"NASIB YANG TERBAIK ADALAH TIDAK PERNAH DILAHIRKAN".....SOE HOK GIE
HANHAN HAERUMAN, adalah alumni FEUI'93
Kisah yang akan saya (Hanhan) tulis ini adalah "true story" yang 
dialami dan 
diketahui sendiri selama 4 kali Sabtu terakhir ikut menjadi 
sukarelawan 
mengajar sebuah sekolah SD gratis buat menampung anak-anak jalanan 
dan juga buat anak yang orang tuanya menyandang masalah sosial dan 
tidak punya biaya buat menyekolahkan anaknya.

PROFIL SEKOLAH, ORANG TUA MURID DAN MURID SD AL-USWAH

Sekolah tersebut terletak di daerah Petamburan Jakarta Barat, dari 
bunderan 
Slipi masuk ke kanan ke arah Tanah Abang, tepatnya di Jl. Petamburan 
III, 
namanya SDS Al Uswah. Statusnya sudah resmi sebagai sekolah Swasta 
sejak 2 
tahun lalu dan lulusannya ada yg diterima di SMP negeri, berbeda 
dengan 
sekolah anak jalanan lainnya yang kebanyakan tidak ada formal 
legalnya, 
seperti sekolah terbuka yang dipelopori oleh Ibu Kembar di Tanjung 
Priok. 
Pendanaan SDS ini mengandalkan swadaya masyarakat dan bantuan LSM 
PKBI 
(Persatuan Keluarga Berencana Indonesia). Muridnya berjumlah 128 
anak, 
terdiri dari kelas 1 sampai kelas 6. Penerimaan murid sekolah ini 
tidak dimulai dari kelas 1, tapi dibuka untuk semua kelas, hal ini 
untuk menampung pindahan dari sekolah yang lain dari kelas berapa 
saja karena alasan tidak punya biaya. Bangunan SD tersebut dulunya 
adalah madrasah yang sekarang tidak aktif lagi, jadi SDS AL Uswah ini 
sebetulnya memanfaatkan bangunan dan nama yayasan yang tidak terpakai 
milik masyarakat Petamburan.

Pertama kali mengenal SD itu, ketika diajak seorang teman untuk 
menyerahkan 
sumbangan berupa uang dan pakaian-pakaian bekas yang berhasil 
dikumpulkan 
dari teman-temannya. Setelah menyerahkan sumbangan, saya diajak 
keliling ke 
sebagian rumah-rumah murid. Dari sini saya melihat dengan mata kepala 
saya 
sendiri bahwa di Jakarta ini banyak sekali masyarakat yg sangat 
kekurangan, 
ada rumah yang hanya satu kamar sempit dan satu ruangan tengah sempit 
yang 
dihuni oleh nenek, anak-anaknya sampai cucu-cucunya, keadannya 
pengap, gelap 
dan hanya berlantaikan tanah. Kemudian diajak lagi keliling ke rumah 
murid yang lain, ternyata ada yang lebih menyedihkan lagi, bahkan 
saya ditunjukkan ke salah satu "rumah" murid yang terletak di bawah 
jembatan pintu air dekat Shangrila, saya pikir ini dia "the lowest 
level people in the world".

Selama keliling, Pak Dedi, kepala sekolah SD tersebut, bercerita 
bahwa orang 
tua murid-muridnya kebanyakan berprofesi sebagai pemulung/pengepul 
sampah, 
tukang asongan, pengemis dan "profesi lainnya". Sebagian dari mereka 
nggak 
jelas profesinya, sehingga mereka nggak jelas juga "besok apa 
makan ?", hal ini tentu beda dengan kita yang nggak jelas 
adalah "besok makan apa ?" atau "besok makan dimana ?". Pernah salah 
satu dari orang tua muridnya yang mungkin sangat terpaksa (stomach 
can not wait), dia terpaksa mencopet dan hampir dibakar masa di pasar 
Palmerah....sungguh tragis, tapi itulah realitanya. Namun walaupun 
keadaan yang sangat memprihatinkan para orang tua murid tersebut 
tetap punya keinginan agar anaknya bisa sekolah, itulah mungkin yang 
mengetuk hati Pak Dedi untuk mendirikan SD gratis ini.

Disela-sela obrolan, Pak Dedi menunjuk salah satu muridnya yang 
pernah dalam 
suatu malam dipergoki keliling-keliling dari gang ke gang, padahal 
sudah larut malam, ternyata ketika ditanya kenapa, jawabnya adalah 
karena LAPAR belum makan, seharian cuma sekali makan, sehingga dia 
tidak bisa tidur, rupanya mungkin untuk menghilangkan rasa laparnya 
anak kecil itu jalan-jalan 
supaya lupa akan rasa laparnya dan mungkin kalau sudah cape barulah 
dia bisa 
tidur. Setelah diberi makan oleh pak Dedi barulah anak itu pulang dan 
bisa tidur. Hari-hari berikutnya anak tersebut kalau lapar keliling-
keliling di sekitar rumah Pak Dedi, berharap betemu dengan Pak Dedi 
agar ditawari makan, dan Pak Dedi pun memakluminya dan akan 
memberinya makan, memang beliau menyuruh anak itu agar datang ke 
rumahnya kalau lapar. Setelah kejadian itu bukan hanya anak itu saja 
yang ditawarin makan, tapi kepada murid yang lain juga kalau lewat 
depan rumahnya, khawatir kalau-kalau mereka pada belum makan juga.

Dalam satu kesempatan yang lain Pak Dedi juga pernah memergoki 
muridnya 
menjadi pengemis di jalan Kwitang dekat patung tani, dan ternyata 
mereka tidak sendirian melainkan bareng-bareng dengan teman-teman 
sekelasnya, ketika ditanya kepada mereka lagi ngapain, mereka pada 
nggak mau jawab, tapi 
mereka menghampiri Pak Dedi dan rame-rame mencium tangannya satu-
persatu 
seperti kebiasaan di kelas. Kata Pak Dedi dia sangat malu melihat 
tingkah 
muridnya itu, soalnya mungkin saja orang sekitarnya menyangka dia 
sebagai 
"koordinator lapangan" pengemis anak jalanan itu.

PENGALAMAN SELAMA MENGAJAR DI KELAS

Saya diberi kesempatan mengajar di kelas 3 tiap hari Sabtu, untuk 
mengajar 
matematika dan bahasa inggris dari jam 07.00 s.d 11.00, muridnya kira-
kira 
25 orang. Kali pertama masuk kelas, ternyata di dalam kelas sudah ada 
seorang ibu guru yang sedang mengajar yang tidak lain adalah istrinya 
Pak 
Dedi. Saya duduk di belakang kelas dan sambil mengamati bagaimana bu 
guru 
tersebut mengajar murid-muridnya. Ternyata tidak mudah mengajar anak-
anak 
tersebut, mereka susah diatur, di kelas suasananya sangat ribut. Tiba-
tiba 
bu guru teriak "ARE YOU READY.." , teriakan bu guru sangat keras, 
membuat 
saya kaget dan heran, karena jauh dengan sosok ibu kepala sekolah 
yang saya 
kenal ketika di rumahnya, yang suaranya lembut. Serta-merta anak-anak 
yang 
sedang ribut tersebut menjawab "YES" dengan suara keras pula sambil 
duduk ke 
kursinya masing-masing. Dari kejadian itu saya tahu ternyata teriakan 
yel 
tersebut adalah taktik untuk menghentikan keributan dan mengembalikan 
anak-anak ke kursinya.

Setelah sekitar 30 menit menyaksikan bagaimana bu guru itu mengajar, 
kini giliran saya tampil ke depan. Ketika itu saya melanjutkan 
mengajar matematika tentang nilai tempat bilangan, ada kejadian yang 
lucu waktu saya memberikan materi ini, yaitu ketika menggambar alat 
peraga matematika, perlu diketahui bahwa perlengkapan sekolah ini 
sangat minim dan mungkin tidak ada alat peraga satu pun. Ketika 
menggambar alat peraga, saya menyebut alat peraga tersebut sebagai 
sate, karena mirip sate yang ditancapkan di atas balok, lagi pula 
saya tidak tahu apa nama alat peraga tersebut. 
Tetapi ketika saya sebut alat peraga itu sebagai sate, salah seorang 
anak ada yang nyeletuk dari belakang, "Pak itu bukan gambar sate tapi 
KECREKAN", saya 
tidak menyalahkannya karena kemiripannya dan mungkin saja anak itu 
terbiasa 
ngamen dengan kecrekan. Ternyata betul saja kata Pak Dedi beberapa 
muridnya 
ada yang suka ngamen dan di kelas saya ada yang suka ngamen di lampu 
merah 
perempatan dekat Shangrila. Selain menjadi pengamen mereka juga ada 
yang 
berprofesi sebagai joki three in one, nyemir sepatu dll.

Sifat unik murid SD ini yang tidak akan ditemukan di sekolah lainnya 
adalah 
kebanyakan mereka pemberani, tidak punya rasa malu atau sungkan. 
Kalau saya 
tawarkan untuk maju ke depan mengerjakan soal, serta-merta anak-anak 
itu 
berlarian ke depan, berebut kapur tulis yang saya pegang. Di kelas 
mereka 
susah diatur, saya sering teriak-teriak dengan keras supaya mereka 
tidak ribut dan memperhatikan ke depan, saking seringnya teriak-
teriak selesai mengajar suara saya jadi habis.

Keributan di kelas disebabkan oleh macam-macam kelakuan, misalnya 
karena 
ngobrol sesama temennya, nyanyi-nyanyi sambil menabuh meja (mungkin 
latihan 
ngamen), ribut karena mereka saling pinjam alat tulis dengan temennya 
yang 
kadang temen yang lainnya nggak mau ngasih pinjam. Selain itu ada 
juga yang ribut karena ketahuan mencuri bekal makanan temannya. Namun 
ada lagi keributan yang lebih serius, yaitu berkelahi di kelas. 
Pernah pada saat mengajar ada yang berkelahi sekaligus dua pasang, 
sepasang laki-laki dan sepasang perempuan, alasan berkelahinya nggak 
jelas kenapa. Cara mereka berkelahi sangat berbahaya, yang laki-laki 
selain pukul-pukulan juga mencekik lawannya, kalau tidak dilerai 
mungkin yang dicekik akan kehabisan nafasnya..oh serammm, tapi 
anehnya yang kalah nggak nangis seperti anak cengeng biasanya, dia 
cuma keluar air mata sedikit dan diam sambil mengambil nafas dalam-
dalam, it seems happen as usual not only that time. Sedangkan yang 
perempuan pukul-pukulan dan saling menjambak rambut lawannya.tapi 
lain halnya dengan anak cowok, anak perempuan yang kalah menangis 
sejadi-jadinya. 
Saya sangat kaget melihat mereka berkelahi. Kemudian hal ini saya 
laporkan 
ke Pak Dedi, kata beliau hal demikian sudah biasa, bahkan kalau cowok 
yang 
berkelahi kadang susah dilerai, nanti akan berkelahi lagi karena 
nggak puas, 
cara menyelesaikannya adalah "diaduin di luar 
kelas"........ya..diaduin ?, 
it's sound rediculous but that's the solution, selain supaya mereka 
puas 
mengeluarkan amarahnya, kata beliau kadang kalau ditantangin diluar 
kelas mereka nggak jadi berkelahi karena malu ditontonin dan 
disorakin temen 
sekelasnya. Tapi untung saja perkelahian mereka waktu itu sudah 
selesai di 
dalam kelas dan ironinya ternyata yang berkelahi adalah ketua 
kelasnya. Saya 
menyimpulkan dari tingkah laku mereka ini adalah akibat dari 
kehidupan 
sehari-hari mereka yang keras, nggak ada aturan, "the rule is no 
rule", nggak ada bimbingan orang tua, oleh karena itu pendidikan 
adalah mutlak sebelum mereka berubah menjadi brutal ketika beranjak 
dewasa. Dan hal inilah yang menjadi concern kita semua karena dengan 
membimbing mereka berarti akan 
mengurangi angka kriminalitas di masa depan. At least mereka di 
sekolah ini 
tahu mana yang baik dan mana yang buruk, dan kenapa harus ikuti yang 
baik.

MASALAH YANG DIHADAPI
Kesejahteraan guru adalah hal yang paling penting ditingkatkan dan 
didahulukan, saat ini ada 12 guru, diantaranya ada 1 orang yang 
sukarelawan, yang lainnya adalah sehari-harinya guru di situ dan 
digaji seadanya dari donatur. Kadang-kadang gajiannya diutang dulu 
kalau pas nggak ada donatur yang ngasih, atau sekolah pinjam dulu ke 
siapa saja. Mereka digaji sebulan rata-rata 150 ribu sampai 200 ribu 
rupiah, jumlah ini jauh dibawah UMR DKI yang mencapai sekitar 630 
ribu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, sebagian guru, ada 
yang nyambi jadi tukang ojeg dan sebagian lagi mengajar di tempat 
kursus atau les privat. Kenapa kesejahteraan guru yang pertama harus 
ditingkatkan, karena guru juga manusia punya rasa punya hati jangan 
samakan dengan robot, dikhawatirkan semangat dan idealisme mereka 
akan luntur dan hilang karena tuntutan ekonomi mereka tidak tercukupi.

Pak Dedi meminta saya untuk membantu memikirkan masalah ini, kemudian 
saya 
mencoba mengirimkan proposal ke beberapa LSM termasuk yang menjadi 
penyalur Zakat, Infaq dan Shodaqoh, tapi setelah menunggu beberapa 
minggu 
mereka tidak bisa membantu, karena katanya dananya terkuras ke ACEH, 
LSM 
yang lain tidak bisa membantu karena sudah mempunyai binaan sekolah 
terbuka. 
Saya bisa memahami hal tersebut. Karena anak jalanan di Jakarta ini 
banyak 
sekali. Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan 
Pusat 
Statistik Republik Indonesia tahun 1998 memperlihatkan bahwa anak 
jalanan 
secara nasional berjumlah sekitar 2,8 juta anak.  Dua tahun kemudian, 
tahun 
2000, angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 5,4%, sehingga 
jumlahnya 
menjadi 3,1 juta anak.  Pada tahun yang sama, anak yang tergolong 
rawan menjadi anak jalanan berjumlah 10,3 juta anak atau 17, 6% dari 
populasi anak di 
Indonesia, yaitu 58,7 juta anak (Soewignyo, 2002).  Anak jalanan di 
DKI 
Jakarta, sebagai salah satu kasus, berjumlah 31.304 anak, sedangkan 
Panti 
Pemerintah yang memberikan pelayanan sosial terhadap mereka hanya 
berjumlah 
9 panti, yaitu : 4 Panti Balita Terlantar, 4 Panti Anak Jalanan dan 1 
Panti 
Remaja Putus Sekolah.  Daya tampung keseluruhannya adalah 2.370 anak. 
Sementara itu, Panti Sosial Asuhan Anak yang diselenggarakan 
masyarakat 
berjumlah 58 Panti dengan daya tampung 3.338 anak dan pelayanan 
sosial kepada anak di luar panti sebanyak 3.200 anak.  Secara 
akumulatif jumlah 
yang  yang mendapat pelayanan Panti dan non-Panti adalah 8.908 anak 
dan yang 
belum tersentuh pelayanan pemerintah maupun organisasi sosial atau 
LSM 
adalah 22.396 anak (Profil Dinas Bina Mental Spiritual dan 
Kesejahteraan 
Sosial Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, 2002).  Persebaran anak 
jalanan di 
DKI Jakarta juga cukup merata.  Data yang diterbitkan oleh Dinas Bina 
Mental 
Spiritual dan Kesejahteraan Sosial DKI Jakarta menyebutkan bahwa 
setidaknya 
ada 18.777 orang anak jalanan di DKI pada tahun 2003 saja. Adapun 
jumlah 
pada tahun 2005 saya yakin lebih banyak lagi, kalau tidak percaya 
jalan-jalan deh sekali-kali pake metromoni atau bis kota, kira-kira 
ada 1 sampai 3 kali pengemen anak jalanan yang singgah di bis kota 
dalam sekali jalan, apalagi kalau menjelang lebaran, biasanya bukan 
hanya di angkutan umum tetapi di depan mesjid-mesjid umum sudah 
menanti anak jalanan yang menjadi pengemis. Kalau tidak kita tarik ke 
sekolah-sekolah atau panti-panti mereka akan memenuhi Ibu kota 
Jakarta ini, sehingga jalanan kota Jakarta ini akan menjadi lautan 
ANJAL (Anak Jalanan).

Diantara bagian proposal yang saya sebar tersebut di atas saya 
tuliskan juga di akhir tulisan ini, diantaranya kebutuhan bulanan 
operasional SDS Al Uswah. Angka tersebut adalah angka minimal yang 
diimpikan oleh sekolah, yaitu minimal gaji guru sama dengan UMR DKI, 
ini adalah ideal minimal, karena kalau 150-200 ribu sebulan kata Pak 
Dedi takut mendzalimi guru, mengingat stress mengajar mereka di 
kelas, belum lagi harus teriak-teriak dan mengejar-ngejar murid nakal 
yang suka lari-lari di atas meja serta tingkah lainnya yang bikin 
adrenalin naik.

Selama ini pemasukan uang SDS Al Uswah adalah dari  LSM PKBI dan 
lembaga 
beasiswa yang jumlah seluruhnya hanya mencapai 1,7 juta (satu juta 
tujuh ratus ribu rupiah) sebulan, namun pemasukan ini terancam putus 
karena dananya sudah menipis. Adapun kebutuhan dana yang mendesak 
adalah untuk melunasi pesenan kaos olahraga untuk 30 murid baru 
sebesar 750 ribu, katanya sudah berkali-kali tukang kaos telpon 
supaya pesanannya diambil karena sudah 2 bulan belum diambil-ambil, 
statusnya sudah S-O-S. Jadi sekalian saja dengan tulisan ini saya 
mengetuk hati nurani para pembaca yang budiman, bila ingin berinfaq 
untuk kaos tersebut bisa dititipkan ke saya langsung atau ditransfer 
ke rekening saya di BCA No. 869-0130-743, atau Mandiri 129-000-113-
0653 atau BSM 003-7026-242 a.n. Hanhan Haeruman, please confirm jika 
sudah mentransfer via HP : 0812-87-154-20, atau kantor 840-3878 ext 
114, email [EMAIL PROTECTED], dan saya ucapkan terimakasih sebesar-
besarnya, Jazakallah. Adapun apabila uang yang diperoleh lebih dari 
cukup untuk kaos tersebut, maka akan digunakan untuk keperluan 
lainnya, misalnya untuk buku-buku/alat tulis dan perlengkapan lainnya 
serta menambah koleksi buku perpustakaan yang sekarang hanya selemari 
kecil di belakang meja kantor kepala sekolah. Dan uang tersebut akan 
ada laporan pertanggung jawabannya yang akan disebar via email. 
Sebagai catatan kaos tersebut akan dipakai selama murid bersekolah di 
SD tersebut jadi bukan untuk 1 tahun saja dan pihak sekolah tidak mau 
membebani muridnya sepeser pun karena takut muridnya pada kabur. 
Sebab kalau kabur mereka akan dimanfaatkan oleh preman yang akan 
dipekerjakan sebagai pengamen atau pengemis yang dituntut setoran 
tiap harinya. Sedangkan dalam rangka mendidik orang tua mereka agar 
menghargai pendidikan bahwa pendidikan itu perlu biaya, kalau 
kenaikan kelas 
baru mereka dimintai sumbangan, itu pun secara sukarela dalam bentuk 
kotak amal yang tidak memaksa, itu hanya sekedar kesadaran mereka.

Para pembaca yang budiman, akhirnya sampai juga pada bagian akhir 
tulisan saya ini. Dalam sebuah ceramah, ada usatadz yang menceritakan 
pengalaman 
salah satu jamaah mesjidnya seperti ini : pada suatu hari dia 
mengendarai 
kendaraan (BMW) di daerah Senen, ketika sampai di perempatan jalan, 
kebetulan lampu merah pas menyala, maka dia pun berhenti, lagi nunggu 
lampu merah berganti, tiba-tiba ada suara seperti benturan kecil di 
sebelah kirinya, ternyata itu bukan suara benturan tetapi orang yang 
dengan innocent-nya mencongkel kaca spion BMW-nya. Tapi mungkin 
karena sudah terkendali emosinya, si pengendara mobil tersebut tidak 
bergeming, dia hanya tertegun sambil berpikir kenapa orang itu 
berbuat demikian. Setelah lama merenungkan hal tersebut, dia berkesim-
pulan "Jangan-jangan saya juga ikut berkontribusi sehingga 
menyebabkan orang tersebut berbuat kriminal seperti itu". Karena dia 
pikir penyebabnya adalah mereka tidak punya sesuatu yang bisa dimakan 
karena mereka tidak ada peker-jaan, tidak ada pekerjaan karena tidak 
punya ilmu atau keterampilan, hal ini disebabkan karena mereka tidak 
mengenyam pendidikan, dan pendidikan tang-gung jawab kita semua, 
sehingga mungkin karena dia tidak concern dengan nasib mereka, maka 
dia berkesimpulan "Jangan-jangan saya juga ikut berkontribusi 
sehingga menyebabkan terjadinya kriminalitas tersebut". Maka 
diikhlaskanlah sebelah kaca spion BMW-nya itu, dan dia menganggapnya 
sebagai infaq buat me-nyelamatkan perut si pencuri tersebut.

Nah, dari cerita tadi saya mengajak saudara-saudara sekalian, untuk 
concern 
terhadap masalah pendidikan anak jalanan ini, karena kalau bukan kita 
lantas 
siapa lagi, pemerintah sudah kebanyakan masalah, tidak mampu lagi. 
Apapun 
dan sekecil apapun sumbangsih saudara sekalian adalah merupakan 
secercah 
harapan bagi mereka, jangan sampai nasib terbaik bagi mereka adalah 
nasib 
tidak terlahir ke dunia ini, padahal mereka sudah kadung terlahir ke 
dunia ini. Saya berharap selain ada yang memberikan sumbangan materi 
ada juga yang 
memberikan referensi kepada siapa atau ke institusi apa saja agar SDS 
Al Uswah ini mendapat dukungan, karena setahu saya ada institusi atau 
company yang punya dana atau program yang menyangkut social 
responsibility, seperti EMPATI BI, CITIBANK PEKA dan mungkin yang 
lainnya. Perlu diketahui bahwa SDS AL-Uswah ini juga ikut memberikan 
pendampingan ke sekolah-sekolah non formal 
anak jalanan lainnya di wilayah Jakarta ini, sehingga membantu SDS 
ini berarti membantu SD yang  lainnya.

Sekian..

Hanhan Haeruman.
DATA GURU DAN KEPALA SEKOLAH SDS AL USWAH


1.   A. DEDI ROSADI, SE     Kepala sekolah S I Ekononi

2.   AIDA NASUTION            Guru Kelas I D II

3.   ADE HUSNUL KH.           Guru Kelas II S I Ekonomi

4    EEN ELFIANA                 Guru Kelas III D III
 
5.   MULYANI                       Guru Kelas IV D II

6.   H HARIS DAMRAH          Guru Kelas V D II

7.   PUJA BASUKI                 Guru Kelas VI D II

8.   ZULKIFLI                       Guru Olah Raga Kelas I s/d VI D 
III

9.   TARUDDIN                     Guru Agama Islam kelas I s/d VI D II

10. SUBUR                           Guru Bhs. Inggris Kelas IV s/d VI 
D II

11. HANHAN  H.                    Guru Bidang Studi S I Ekonomi

12. M. NASIR                         Penjaga Sekolah SLTP

BIAYA OPERASIONAL SEKOLAH SETIAP BULAN     :

1.   Honor Guru 11 orang x Rp. 630.000,-    = Rp.   6.930.000,-

2.   Laporan bulanan....                             = Rp.        
25.000,-

3.   Iuran PKG ..127  siswa x Rp. 10.000,-   = Rp.      127.000,-

4.   Iuran Pramuka 127 siswa x  Rp. 500,-   = Rp.        63.500,-

5.   Iuran PGRI                                         = Rp.        
17.000,-

6.   Transport rapat koordinasi Kepsek, guru= Rp.      100.000,-

7.   Kapur                                                 = 
Rp.        20.000,-

8.   Foto copy                                           = Rp.        
50.000,-

9.   Listrik dan Air`                                    = Rp.        
75.000,-

10. Uang sampah                                      = Rp.        
10.000,-

11. ATK                                                    = 
Rp.        25.000,-

12. Pemeliharaan alat- alat (lampu, buku-buku, karbol,alat 
kabersihan ) 
                                                               = 
Rp.        50.000,-
                                                              
       
                                                        Total=  Rp.   
7.456.500,-
                                                                  
       
                       = = = = = = = = =
(Terbilang = Tujuh Juta Empat Ratus Lima Puluh Enam Ribu Lima Ratus 
Rupiah).
=====================================================================
Z:Saya hanya copy-paste dr milis sebelah


Get your Free E-mail at http://balita.zzn.com
___________________________________________________________
Get your own Web-based E-mail Service at http://www.zzn.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke