"NASIB YANG TERBAIK ADALAH TIDAK PERNAH DILAHIRKAN".....SOE HOK GIE
HANHAN HAERUMAN, adalah alumni FEUI'93
Kisah yang akan saya (Hanhan) tulis ini adalah "true story" yang
dialami dan
diketahui sendiri selama 4 kali Sabtu terakhir ikut menjadi
sukarelawan
mengajar sebuah sekolah SD gratis buat menampung anak-anak jalanan
dan juga buat anak yang orang tuanya menyandang masalah sosial dan
tidak punya biaya buat menyekolahkan anaknya.
PROFIL SEKOLAH, ORANG TUA MURID DAN MURID SD AL-USWAH
Sekolah tersebut terletak di daerah Petamburan Jakarta Barat, dari
bunderan
Slipi masuk ke kanan ke arah Tanah Abang, tepatnya di Jl. Petamburan
III,
namanya SDS Al Uswah. Statusnya sudah resmi sebagai sekolah Swasta
sejak 2
tahun lalu dan lulusannya ada yg diterima di SMP negeri, berbeda
dengan
sekolah anak jalanan lainnya yang kebanyakan tidak ada formal
legalnya,
seperti sekolah terbuka yang dipelopori oleh Ibu Kembar di Tanjung
Priok.
Pendanaan SDS ini mengandalkan swadaya masyarakat dan bantuan LSM
PKBI
(Persatuan Keluarga Berencana Indonesia). Muridnya berjumlah 128
anak,
terdiri dari kelas 1 sampai kelas 6. Penerimaan murid sekolah ini
tidak dimulai dari kelas 1, tapi dibuka untuk semua kelas, hal ini
untuk menampung pindahan dari sekolah yang lain dari kelas berapa
saja karena alasan tidak punya biaya. Bangunan SD tersebut dulunya
adalah madrasah yang sekarang tidak aktif lagi, jadi SDS AL Uswah ini
sebetulnya memanfaatkan bangunan dan nama yayasan yang tidak terpakai
milik masyarakat Petamburan.
Pertama kali mengenal SD itu, ketika diajak seorang teman untuk
menyerahkan
sumbangan berupa uang dan pakaian-pakaian bekas yang berhasil
dikumpulkan
dari teman-temannya. Setelah menyerahkan sumbangan, saya diajak
keliling ke
sebagian rumah-rumah murid. Dari sini saya melihat dengan mata kepala
saya
sendiri bahwa di Jakarta ini banyak sekali masyarakat yg sangat
kekurangan,
ada rumah yang hanya satu kamar sempit dan satu ruangan tengah sempit
yang
dihuni oleh nenek, anak-anaknya sampai cucu-cucunya, keadannya
pengap, gelap
dan hanya berlantaikan tanah. Kemudian diajak lagi keliling ke rumah
murid yang lain, ternyata ada yang lebih menyedihkan lagi, bahkan
saya ditunjukkan ke salah satu "rumah" murid yang terletak di bawah
jembatan pintu air dekat Shangrila, saya pikir ini dia "the lowest
level people in the world".
Selama keliling, Pak Dedi, kepala sekolah SD tersebut, bercerita
bahwa orang
tua murid-muridnya kebanyakan berprofesi sebagai pemulung/pengepul
sampah,
tukang asongan, pengemis dan "profesi lainnya". Sebagian dari mereka
nggak
jelas profesinya, sehingga mereka nggak jelas juga "besok apa
makan ?", hal ini tentu beda dengan kita yang nggak jelas
adalah "besok makan apa ?" atau "besok makan dimana ?". Pernah salah
satu dari orang tua muridnya yang mungkin sangat terpaksa (stomach
can not wait), dia terpaksa mencopet dan hampir dibakar masa di pasar
Palmerah....sungguh tragis, tapi itulah realitanya. Namun walaupun
keadaan yang sangat memprihatinkan para orang tua murid tersebut
tetap punya keinginan agar anaknya bisa sekolah, itulah mungkin yang
mengetuk hati Pak Dedi untuk mendirikan SD gratis ini.
Disela-sela obrolan, Pak Dedi menunjuk salah satu muridnya yang
pernah dalam
suatu malam dipergoki keliling-keliling dari gang ke gang, padahal
sudah larut malam, ternyata ketika ditanya kenapa, jawabnya adalah
karena LAPAR belum makan, seharian cuma sekali makan, sehingga dia
tidak bisa tidur, rupanya mungkin untuk menghilangkan rasa laparnya
anak kecil itu jalan-jalan
supaya lupa akan rasa laparnya dan mungkin kalau sudah cape barulah
dia bisa
tidur. Setelah diberi makan oleh pak Dedi barulah anak itu pulang dan
bisa tidur. Hari-hari berikutnya anak tersebut kalau lapar keliling-
keliling di sekitar rumah Pak Dedi, berharap betemu dengan Pak Dedi
agar ditawari makan, dan Pak Dedi pun memakluminya dan akan
memberinya makan, memang beliau menyuruh anak itu agar datang ke
rumahnya kalau lapar. Setelah kejadian itu bukan hanya anak itu saja
yang ditawarin makan, tapi kepada murid yang lain juga kalau lewat
depan rumahnya, khawatir kalau-kalau mereka pada belum makan juga.
Dalam satu kesempatan yang lain Pak Dedi juga pernah memergoki
muridnya
menjadi pengemis di jalan Kwitang dekat patung tani, dan ternyata
mereka tidak sendirian melainkan bareng-bareng dengan teman-teman
sekelasnya, ketika ditanya kepada mereka lagi ngapain, mereka pada
nggak mau jawab, tapi
mereka menghampiri Pak Dedi dan rame-rame mencium tangannya satu-
persatu
seperti kebiasaan di kelas. Kata Pak Dedi dia sangat malu melihat
tingkah
muridnya itu, soalnya mungkin saja orang sekitarnya menyangka dia
sebagai
"koordinator lapangan" pengemis anak jalanan itu.
PENGALAMAN SELAMA MENGAJAR DI KELAS
Saya diberi kesempatan mengajar di kelas 3 tiap hari Sabtu, untuk
mengajar
matematika dan bahasa inggris dari jam 07.00 s.d 11.00, muridnya kira-
kira
25 orang. Kali pertama masuk kelas, ternyata di dalam kelas sudah ada
seorang ibu guru yang sedang mengajar yang tidak lain adalah istrinya
Pak
Dedi. Saya duduk di belakang kelas dan sambil mengamati bagaimana bu
guru
tersebut mengajar murid-muridnya. Ternyata tidak mudah mengajar anak-
anak
tersebut, mereka susah diatur, di kelas suasananya sangat ribut. Tiba-
tiba
bu guru teriak "ARE YOU READY.." , teriakan bu guru sangat keras,
membuat
saya kaget dan heran, karena jauh dengan sosok ibu kepala sekolah
yang saya
kenal ketika di rumahnya, yang suaranya lembut. Serta-merta anak-anak
yang
sedang ribut tersebut menjawab "YES" dengan suara keras pula sambil
duduk ke
kursinya masing-masing. Dari kejadian itu saya tahu ternyata teriakan
yel
tersebut adalah taktik untuk menghentikan keributan dan mengembalikan
anak-anak ke kursinya.
Setelah sekitar 30 menit menyaksikan bagaimana bu guru itu mengajar,
kini giliran saya tampil ke depan. Ketika itu saya melanjutkan
mengajar matematika tentang nilai tempat bilangan, ada kejadian yang
lucu waktu saya memberikan materi ini, yaitu ketika menggambar alat
peraga matematika, perlu diketahui bahwa perlengkapan sekolah ini
sangat minim dan mungkin tidak ada alat peraga satu pun. Ketika
menggambar alat peraga, saya menyebut alat peraga tersebut sebagai
sate, karena mirip sate yang ditancapkan di atas balok, lagi pula
saya tidak tahu apa nama alat peraga tersebut.
Tetapi ketika saya sebut alat peraga itu sebagai sate, salah seorang
anak ada yang nyeletuk dari belakang, "Pak itu bukan gambar sate tapi
KECREKAN", saya
tidak menyalahkannya karena kemiripannya dan mungkin saja anak itu
terbiasa
ngamen dengan kecrekan. Ternyata betul saja kata Pak Dedi beberapa
muridnya
ada yang suka ngamen dan di kelas saya ada yang suka ngamen di lampu
merah
perempatan dekat Shangrila. Selain menjadi pengamen mereka juga ada
yang
berprofesi sebagai joki three in one, nyemir sepatu dll.
Sifat unik murid SD ini yang tidak akan ditemukan di sekolah lainnya
adalah
kebanyakan mereka pemberani, tidak punya rasa malu atau sungkan.
Kalau saya
tawarkan untuk maju ke depan mengerjakan soal, serta-merta anak-anak
itu
berlarian ke depan, berebut kapur tulis yang saya pegang. Di kelas
mereka
susah diatur, saya sering teriak-teriak dengan keras supaya mereka
tidak ribut dan memperhatikan ke depan, saking seringnya teriak-
teriak selesai mengajar suara saya jadi habis.
Keributan di kelas disebabkan oleh macam-macam kelakuan, misalnya
karena
ngobrol sesama temennya, nyanyi-nyanyi sambil menabuh meja (mungkin
latihan
ngamen), ribut karena mereka saling pinjam alat tulis dengan temennya
yang
kadang temen yang lainnya nggak mau ngasih pinjam. Selain itu ada
juga yang ribut karena ketahuan mencuri bekal makanan temannya. Namun
ada lagi keributan yang lebih serius, yaitu berkelahi di kelas.
Pernah pada saat mengajar ada yang berkelahi sekaligus dua pasang,
sepasang laki-laki dan sepasang perempuan, alasan berkelahinya nggak
jelas kenapa. Cara mereka berkelahi sangat berbahaya, yang laki-laki
selain pukul-pukulan juga mencekik lawannya, kalau tidak dilerai
mungkin yang dicekik akan kehabisan nafasnya..oh serammm, tapi
anehnya yang kalah nggak nangis seperti anak cengeng biasanya, dia
cuma keluar air mata sedikit dan diam sambil mengambil nafas dalam-
dalam, it seems happen as usual not only that time. Sedangkan yang
perempuan pukul-pukulan dan saling menjambak rambut lawannya.tapi
lain halnya dengan anak cowok, anak perempuan yang kalah menangis
sejadi-jadinya.
Saya sangat kaget melihat mereka berkelahi. Kemudian hal ini saya
laporkan
ke Pak Dedi, kata beliau hal demikian sudah biasa, bahkan kalau cowok
yang
berkelahi kadang susah dilerai, nanti akan berkelahi lagi karena
nggak puas,
cara menyelesaikannya adalah "diaduin di luar
kelas"........ya..diaduin ?,
it's sound rediculous but that's the solution, selain supaya mereka
puas
mengeluarkan amarahnya, kata beliau kadang kalau ditantangin diluar
kelas mereka nggak jadi berkelahi karena malu ditontonin dan
disorakin temen
sekelasnya. Tapi untung saja perkelahian mereka waktu itu sudah
selesai di
dalam kelas dan ironinya ternyata yang berkelahi adalah ketua
kelasnya. Saya
menyimpulkan dari tingkah laku mereka ini adalah akibat dari
kehidupan
sehari-hari mereka yang keras, nggak ada aturan, "the rule is no
rule", nggak ada bimbingan orang tua, oleh karena itu pendidikan
adalah mutlak sebelum mereka berubah menjadi brutal ketika beranjak
dewasa. Dan hal inilah yang menjadi concern kita semua karena dengan
membimbing mereka berarti akan
mengurangi angka kriminalitas di masa depan. At least mereka di
sekolah ini
tahu mana yang baik dan mana yang buruk, dan kenapa harus ikuti yang
baik.
MASALAH YANG DIHADAPI
Kesejahteraan guru adalah hal yang paling penting ditingkatkan dan
didahulukan, saat ini ada 12 guru, diantaranya ada 1 orang yang
sukarelawan, yang lainnya adalah sehari-harinya guru di situ dan
digaji seadanya dari donatur. Kadang-kadang gajiannya diutang dulu
kalau pas nggak ada donatur yang ngasih, atau sekolah pinjam dulu ke
siapa saja. Mereka digaji sebulan rata-rata 150 ribu sampai 200 ribu
rupiah, jumlah ini jauh dibawah UMR DKI yang mencapai sekitar 630
ribu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, sebagian guru, ada
yang nyambi jadi tukang ojeg dan sebagian lagi mengajar di tempat
kursus atau les privat. Kenapa kesejahteraan guru yang pertama harus
ditingkatkan, karena guru juga manusia punya rasa punya hati jangan
samakan dengan robot, dikhawatirkan semangat dan idealisme mereka
akan luntur dan hilang karena tuntutan ekonomi mereka tidak tercukupi.
Pak Dedi meminta saya untuk membantu memikirkan masalah ini, kemudian
saya
mencoba mengirimkan proposal ke beberapa LSM termasuk yang menjadi
penyalur Zakat, Infaq dan Shodaqoh, tapi setelah menunggu beberapa
minggu
mereka tidak bisa membantu, karena katanya dananya terkuras ke ACEH,
LSM
yang lain tidak bisa membantu karena sudah mempunyai binaan sekolah
terbuka.
Saya bisa memahami hal tersebut. Karena anak jalanan di Jakarta ini
banyak
sekali. Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan
Pusat
Statistik Republik Indonesia tahun 1998 memperlihatkan bahwa anak
jalanan
secara nasional berjumlah sekitar 2,8 juta anak. Dua tahun kemudian,
tahun
2000, angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 5,4%, sehingga
jumlahnya
menjadi 3,1 juta anak. Pada tahun yang sama, anak yang tergolong
rawan menjadi anak jalanan berjumlah 10,3 juta anak atau 17, 6% dari
populasi anak di
Indonesia, yaitu 58,7 juta anak (Soewignyo, 2002). Anak jalanan di
DKI
Jakarta, sebagai salah satu kasus, berjumlah 31.304 anak, sedangkan
Panti
Pemerintah yang memberikan pelayanan sosial terhadap mereka hanya
berjumlah
9 panti, yaitu : 4 Panti Balita Terlantar, 4 Panti Anak Jalanan dan 1
Panti
Remaja Putus Sekolah. Daya tampung keseluruhannya adalah 2.370 anak.
Sementara itu, Panti Sosial Asuhan Anak yang diselenggarakan
masyarakat
berjumlah 58 Panti dengan daya tampung 3.338 anak dan pelayanan
sosial kepada anak di luar panti sebanyak 3.200 anak. Secara
akumulatif jumlah
yang yang mendapat pelayanan Panti dan non-Panti adalah 8.908 anak
dan yang
belum tersentuh pelayanan pemerintah maupun organisasi sosial atau
LSM
adalah 22.396 anak (Profil Dinas Bina Mental Spiritual dan
Kesejahteraan
Sosial Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, 2002). Persebaran anak
jalanan di
DKI Jakarta juga cukup merata. Data yang diterbitkan oleh Dinas Bina
Mental
Spiritual dan Kesejahteraan Sosial DKI Jakarta menyebutkan bahwa
setidaknya
ada 18.777 orang anak jalanan di DKI pada tahun 2003 saja. Adapun
jumlah
pada tahun 2005 saya yakin lebih banyak lagi, kalau tidak percaya
jalan-jalan deh sekali-kali pake metromoni atau bis kota, kira-kira
ada 1 sampai 3 kali pengemen anak jalanan yang singgah di bis kota
dalam sekali jalan, apalagi kalau menjelang lebaran, biasanya bukan
hanya di angkutan umum tetapi di depan mesjid-mesjid umum sudah
menanti anak jalanan yang menjadi pengemis. Kalau tidak kita tarik ke
sekolah-sekolah atau panti-panti mereka akan memenuhi Ibu kota
Jakarta ini, sehingga jalanan kota Jakarta ini akan menjadi lautan
ANJAL (Anak Jalanan).
Diantara bagian proposal yang saya sebar tersebut di atas saya
tuliskan juga di akhir tulisan ini, diantaranya kebutuhan bulanan
operasional SDS Al Uswah. Angka tersebut adalah angka minimal yang
diimpikan oleh sekolah, yaitu minimal gaji guru sama dengan UMR DKI,
ini adalah ideal minimal, karena kalau 150-200 ribu sebulan kata Pak
Dedi takut mendzalimi guru, mengingat stress mengajar mereka di
kelas, belum lagi harus teriak-teriak dan mengejar-ngejar murid nakal
yang suka lari-lari di atas meja serta tingkah lainnya yang bikin
adrenalin naik.
Selama ini pemasukan uang SDS Al Uswah adalah dari LSM PKBI dan
lembaga
beasiswa yang jumlah seluruhnya hanya mencapai 1,7 juta (satu juta
tujuh ratus ribu rupiah) sebulan, namun pemasukan ini terancam putus
karena dananya sudah menipis. Adapun kebutuhan dana yang mendesak
adalah untuk melunasi pesenan kaos olahraga untuk 30 murid baru
sebesar 750 ribu, katanya sudah berkali-kali tukang kaos telpon
supaya pesanannya diambil karena sudah 2 bulan belum diambil-ambil,
statusnya sudah S-O-S. Jadi sekalian saja dengan tulisan ini saya
mengetuk hati nurani para pembaca yang budiman, bila ingin berinfaq
untuk kaos tersebut bisa dititipkan ke saya langsung atau ditransfer
ke rekening saya di BCA No. 869-0130-743, atau Mandiri 129-000-113-
0653 atau BSM 003-7026-242 a.n. Hanhan Haeruman, please confirm jika
sudah mentransfer via HP : 0812-87-154-20, atau kantor 840-3878 ext
114, email [EMAIL PROTECTED], dan saya ucapkan terimakasih sebesar-
besarnya, Jazakallah. Adapun apabila uang yang diperoleh lebih dari
cukup untuk kaos tersebut, maka akan digunakan untuk keperluan
lainnya, misalnya untuk buku-buku/alat tulis dan perlengkapan lainnya
serta menambah koleksi buku perpustakaan yang sekarang hanya selemari
kecil di belakang meja kantor kepala sekolah. Dan uang tersebut akan
ada laporan pertanggung jawabannya yang akan disebar via email.
Sebagai catatan kaos tersebut akan dipakai selama murid bersekolah di
SD tersebut jadi bukan untuk 1 tahun saja dan pihak sekolah tidak mau
membebani muridnya sepeser pun karena takut muridnya pada kabur.
Sebab kalau kabur mereka akan dimanfaatkan oleh preman yang akan
dipekerjakan sebagai pengamen atau pengemis yang dituntut setoran
tiap harinya. Sedangkan dalam rangka mendidik orang tua mereka agar
menghargai pendidikan bahwa pendidikan itu perlu biaya, kalau
kenaikan kelas
baru mereka dimintai sumbangan, itu pun secara sukarela dalam bentuk
kotak amal yang tidak memaksa, itu hanya sekedar kesadaran mereka.
Para pembaca yang budiman, akhirnya sampai juga pada bagian akhir
tulisan saya ini. Dalam sebuah ceramah, ada usatadz yang menceritakan
pengalaman
salah satu jamaah mesjidnya seperti ini : pada suatu hari dia
mengendarai
kendaraan (BMW) di daerah Senen, ketika sampai di perempatan jalan,
kebetulan lampu merah pas menyala, maka dia pun berhenti, lagi nunggu
lampu merah berganti, tiba-tiba ada suara seperti benturan kecil di
sebelah kirinya, ternyata itu bukan suara benturan tetapi orang yang
dengan innocent-nya mencongkel kaca spion BMW-nya. Tapi mungkin
karena sudah terkendali emosinya, si pengendara mobil tersebut tidak
bergeming, dia hanya tertegun sambil berpikir kenapa orang itu
berbuat demikian. Setelah lama merenungkan hal tersebut, dia berkesim-
pulan "Jangan-jangan saya juga ikut berkontribusi sehingga
menyebabkan orang tersebut berbuat kriminal seperti itu". Karena dia
pikir penyebabnya adalah mereka tidak punya sesuatu yang bisa dimakan
karena mereka tidak ada peker-jaan, tidak ada pekerjaan karena tidak
punya ilmu atau keterampilan, hal ini disebabkan karena mereka tidak
mengenyam pendidikan, dan pendidikan tang-gung jawab kita semua,
sehingga mungkin karena dia tidak concern dengan nasib mereka, maka
dia berkesimpulan "Jangan-jangan saya juga ikut berkontribusi
sehingga menyebabkan terjadinya kriminalitas tersebut". Maka
diikhlaskanlah sebelah kaca spion BMW-nya itu, dan dia menganggapnya
sebagai infaq buat me-nyelamatkan perut si pencuri tersebut.
Nah, dari cerita tadi saya mengajak saudara-saudara sekalian, untuk
concern
terhadap masalah pendidikan anak jalanan ini, karena kalau bukan kita
lantas
siapa lagi, pemerintah sudah kebanyakan masalah, tidak mampu lagi.
Apapun
dan sekecil apapun sumbangsih saudara sekalian adalah merupakan
secercah
harapan bagi mereka, jangan sampai nasib terbaik bagi mereka adalah
nasib
tidak terlahir ke dunia ini, padahal mereka sudah kadung terlahir ke
dunia ini. Saya berharap selain ada yang memberikan sumbangan materi
ada juga yang
memberikan referensi kepada siapa atau ke institusi apa saja agar SDS
Al Uswah ini mendapat dukungan, karena setahu saya ada institusi atau
company yang punya dana atau program yang menyangkut social
responsibility, seperti EMPATI BI, CITIBANK PEKA dan mungkin yang
lainnya. Perlu diketahui bahwa SDS AL-Uswah ini juga ikut memberikan
pendampingan ke sekolah-sekolah non formal
anak jalanan lainnya di wilayah Jakarta ini, sehingga membantu SDS
ini berarti membantu SD yang lainnya.
Sekian..
Hanhan Haeruman.
DATA GURU DAN KEPALA SEKOLAH SDS AL USWAH
1. A. DEDI ROSADI, SE Kepala sekolah S I Ekononi
2. AIDA NASUTION Guru Kelas I D II
3. ADE HUSNUL KH. Guru Kelas II S I Ekonomi
4 EEN ELFIANA Guru Kelas III D III
5. MULYANI Guru Kelas IV D II
6. H HARIS DAMRAH Guru Kelas V D II
7. PUJA BASUKI Guru Kelas VI D II
8. ZULKIFLI Guru Olah Raga Kelas I s/d VI D
III
9. TARUDDIN Guru Agama Islam kelas I s/d VI D II
10. SUBUR Guru Bhs. Inggris Kelas IV s/d VI
D II
11. HANHAN H. Guru Bidang Studi S I Ekonomi
12. M. NASIR Penjaga Sekolah SLTP
BIAYA OPERASIONAL SEKOLAH SETIAP BULAN :
1. Honor Guru 11 orang x Rp. 630.000,- = Rp. 6.930.000,-
2. Laporan bulanan.... = Rp.
25.000,-
3. Iuran PKG ..127 siswa x Rp. 10.000,- = Rp. 127.000,-
4. Iuran Pramuka 127 siswa x Rp. 500,- = Rp. 63.500,-
5. Iuran PGRI = Rp.
17.000,-
6. Transport rapat koordinasi Kepsek, guru= Rp. 100.000,-
7. Kapur =
Rp. 20.000,-
8. Foto copy = Rp.
50.000,-
9. Listrik dan Air` = Rp.
75.000,-
10. Uang sampah = Rp.
10.000,-
11. ATK =
Rp. 25.000,-
12. Pemeliharaan alat- alat (lampu, buku-buku, karbol,alat
kabersihan )
=
Rp. 50.000,-
Total= Rp.
7.456.500,-
= = = = = = = = =
(Terbilang = Tujuh Juta Empat Ratus Lima Puluh Enam Ribu Lima Ratus
Rupiah).
=====================================================================
Z:Saya hanya copy-paste dr milis sebelah
Get your Free E-mail at http://balita.zzn.com
___________________________________________________________
Get your own Web-based E-mail Service at http://www.zzn.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/