kamu MUI?

trúlÿsøúl <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Menyikapi Orang Awam

Memang, marah karena Allah termasuk hikmah. Bahkan,
tanda keimanan seseorang pun ditandai dengan marah dan
benci karena Allah. Yaitu, marah dan benci terhadap
kekufuran, kebid’ahan dan kemaksiatan.

Tetapi bersabarlah! Kendalikan emosi. Siapa tahu
mereka itu orang-orang bodoh yang membutuhkan
pelajaran. Kalau itu yang terjadi, ajarilah mereka
dengan lemah lembut!

Anas bin Malik radhiyallahu `anhu pernah mengatakan :
“Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam saat beliau mengenakan jubah dari
Najran yang kasar tepinya. Tiba-tiba datanglah seorang
Arab gunung dan menarik jubah beliau secara keras.
Akibat perbuatannya itu, aku melihat bekas tarikan
tersebut pada sisi pundak beliau. Kemudian dia (orang
Arab gunung itu) berucap : 'Wahai Muhammad,
perintahkanlah, bahwa harta Allah yang ada padamu
untukku.'

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melihat
kepadanya dan tersenyum seraya memerintahkan untuk
memberikan harta kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Contoh lain adalah kisah Muawiyah bin Al-Hakam
As-Sulami, yang mengatakan : “Ketika aku shalat
bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam,
tiba-tiba ada seseorang dari satu kaum yang bersin.
Maka aku mengucapkan yarhamukallah. Ketika semua orang
melemparkan pandangannya kepadaku, sehingga aku
berkata : 'Duhai ibuku yang kehilangan aku, ada apa
kalian melihatku?' Mereka lalu menepuk tangan mereka
ke pahanya. Ketika aku lihat, mereka menyuruh aku
diam, lantas aku pun diam. Setelah Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam selesai shalat --dengan
bapak dan ibuku-- sungguh aku belum pernah melihat
seorang pengajar pun yang lebih baik pengajarannya
dari beliau shallallahu `alaihi wa sallam. Demi Allah,
beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak
pula mencelaku. Beliau bersabda:

'Sesungguhnya di dalam shalat ini tidak layak sedikit
pun ada ucapan manusia. Sesungguhnya shalat adalah
tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an.' " (HR. Muslim
dalam kitab Masajid bab Tahrimul Kalam fish Shalah)

Demikian pula sikap Rasulullah shallallahu `alaihi wa
sallam terhadap seorang pemuda yang meminta ijin untuk
berzina. Seperti diungkapkan Abu Umamah :
“Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang
kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan,
‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’ Saat itu,
orang-orang yang ada di situ membentaknya seraya
mengatakan, ‘Mah, mah!’ Sementara Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu
untuk mendekat. ‘Mendekatlah,’ ajak beliau. Pemuda
itu pun mendekat. Kemudian Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam bertanya, ‘Sukakah engkau kalau hal
ini terjadi pada ibumu?’ ‘Tidak, demi Allah, aku
sebagai jaminanmu,’ jawabnya. ‘Demikian pula halnya
setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi
pada ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam kepada pemuda itu. Kemudian beliau
ajukan pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau jika hal itu
terjadi pada anak perempuanmu?’ Ia Jawab, ‘Tidak,
demi Allah, Allah menjadikan diriku sebagai jaminanmu’
Beliau jelaskan lagi, ‘Demikian pula manusia tidak
menyukai hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.’
Kemudian beliau tanya, ‘Sukakah engkau jika hal itu
terjadi pada saudara perempuanmu?’ Pemuda itu
menjawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku
sebagai jaminanmu’ Lalu beliau bersabda, ‘Tidak pula
manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara
perempuan mereka.’ ‘Sukakah engkau jika hal itu
terjadi pada bibimu (ammah / saudara perempuan
bapak)?’ Tanya beliau kembali. Dijawabnya, ‘Tidak,
demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’
Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
nyatakan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi
pada bibi mereka.’ Beliau berikan lagi pertanyaan,
‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu
(khalah / saudara perempuan ibu)?’ Jawab pemuda itu,
‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai
jaminanmu.’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
menuturkan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu
terjadi pada bibi (khalah) mereka.’ ” Selanjutnya Abu
Umamah menyatakan : “Maka Rasulullah meletakkan
tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan :

‘Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan
peliharalah kemaluannya.’ " (Kisah ini dinukil dari
HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani
dalam Silsilah no. 370)

Kelembutan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
pun ditunjukkan pula terhadap seorang Arab gunung
lainnya yang kencing di masjid. Anas bin Malik
mengisahkan : “Ketika kami berada di masjid bersama
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, tiba-tiba
datang seorang Arab kampung. Orang itu lantas berdiri
dan kencing di masjid. Maka (bangkitlah) para shahabat
Rasulullah membentaknya seraya membentak, ‘Mah, mah!’
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam lantas
mencegah para para sahabat sambil bersabda, ‘Jangan
kalian putuskan kencingnya. Biarkan dia.’

Maka para shahabat pun membiarkannya sampai ia
selesai. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa
sallam memanggilnya dan menasehatinya, ‘Sesungguhnya
masjid ini tidak patut sedikit pun untuk tempat buang
air, (begitu pula) buang untuk kotoran. Masjid ini
merupakan tempat untuk berdzikir kepada Allah, shalat
dan membaca Al Qur’an.’ 

Kemudian beliau memerintahkan untuk mengambil seember
air dan menyiramkannya.” (HR. Muslim)

Tidak hanya sampai di sini, kesabaran Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam terhadap orang-orang
bodoh. Bahkan, dalam riwayat Bukhari masih berlanjut
kisah orang Arab gunung tersebut. Yaitu, ketika
Rasulullah dan para shahabat shalat bersamanya, maka
orang tadi berdoa dalam shalatnya, “Ya Allah,
rahmatilah aku dan Muhammad dan janganlah engkau
rahmati seorang pun selain kami."

Maka ketika selesai shalat beliau bersabda, "Sungguh
engkau telah mempersempit yang luas."

Yang dimaksud adalah rahmat Allah yang luas.

Demikianlah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
menyikapi seorang yang memang bodoh, membutuhkan
pengajaran dan pendidikan. Ketika orang Arab gunung
itu setelah faqih (memahami agama) dia katakan, “Ayah
dan ibuku sebagai jaminan. Sungguh Nabi shallallahu
`alaihi wa sallam bangkit kepadaku tanpa mencela,
menghardik atau pun memukulku.”

Selain itu kita juga dapati sifat ta`anni beliau
shallallahu `alaihi wa sallam ketika para shahabat
membentak si orang gunung tersebut. Beliau malah
mengatakan, “Biarkan dia”. Hal itu karena beliau
berfikir dan melihat sisi hikmah, yaitu jika dibentak
dan diganggu ketika dia sedang buang air, akan membawa
dampak negatif yang lebih banyak. Bisa jadi najis dari
kencingnya akan berceceran di tempat yang lebih luas,
atau najis itu bisa saja mengenai pakaiannya. Bahkan,
justru akan menjadikan penyakit bagi orang tersebut
karena menahan kencing dan lainnya.

Demikianlah semestinya sikap seorang mukmin, apalagi
dia seorang da’i. Janganlah segera bersikap emosional,
bersifatlah ta`anni. Perlakukanlah orang-orang awam
dan jahil dengan sabar serta ajarilah mereka dengan
lemah lembut.

Adapun orang-orang bodoh yang tidak mau mengerti
perkataan orang, tinggalkanlah dan hindarilah dia
dengan baik dan ucapkanlah ucapan yang baik. Allah
berfirman dalam mengungkapkan sifat hamba-hamba-Nya :

“Hamba-hamba Allah yang Maha Rahman adalah orang-orang
yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati. Jika
orang-orang bodoh mengajak bicara mereka, mereka
mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.”
(Al-Furqan: 63)

Saat menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah
menyatakan, “Yaitu jika orang-orang bodoh mengganggu
mereka dengan ucapan yang jelek, mereka tidak
membalasnya dengan yang semisal. Bahkan mereka
memaafkan dan memaklumi serta tidak mengucapkan selain
kebaikan semata. Sebagaimana Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam tidak membalas kerasnya kejahilan
seseorang melainkan dengan kelembutan yang amat
sangat.”

Dikisahkan dalam sebuah riwayat, seorang mencela orang
lain kemudian orang yang dicela tersebut mengatakan
alaikas salam (semoga keselamatan atasmu). Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam yang mendengar ucapan
itu langsung menegur, “Ketahuilah, sesungguhnya
malaikat (yang menyaksikan) di antara kalian berdua
membelamu. Setiap dia mencelamu malaikat itu berkata,
‘Bahkan engkau! Engkau lebih berhak dengannya!’ Sedang
ketika engkau mengucapkan kepadanya, 'alaikas salam,'
malaikat itu berkata, ‘bahkan atasmu! Engkau lebih
berhak dengannya.' " (HR. Ahmad 5 / 445, Kata Ibnu
Katsir sanadnya hasan. Lihat Al-Hikmah hal. 61)

Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan berpaling
dari orang-orang bodoh.

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang
mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari
orang-orang yang bodoh.” (Al-A`raf: 199)

Berkenaan dengan ayat ini, kita tengok riwayat Umar
bin Khattab. Dikatakan Ibnu Abbas : “Uyainah bin Hishn
bin Huzaijah datang dan singgah di rumah saudaranya,
Al-Har bin Qais. Beliau adalah salah seorang yang
dekat dengan Umar bin Khattab. Pada waktu itu para
pembaca Al Qur’an merupakan teman-teman duduk Umar dan
tempat bermusyawarah, baik orang tua atau pun pemuda.
Berkatalah Uyainah kepada anak saudaranya itu, ‘Wahai
anak saudaraku, engkau memiliki kedudukan di sisi
khalifah. Maka mintalah ijin agar aku diperkenankan
menemuinya.’ Berkatalah Al-Har, ‘Aku akan mintakan
ijin untukmu.’ " Ibnu Abbas mengungkapkan kisah
selanjutnya : “Kemudian Al-Har bin Qais memintakan
ijin kepada Umar. Seketika itu Umar mengijinkannya.
Ketika menghadap Umar, Uyainah ucapkan, ‘Wahai Ibnul
Khattab, demi Allah, engkau tidak memberi kami banyak.
Tidak pula menghukumi kami dengan adil.’ Lantaran itu,
marahlah Umar. Nyaris dilakukan sesuatu oleh Umar
terhadapnya. Tetapi Al-Har malah mengucapkan, ‘Wahai
Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada
Nabi-Nya :

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan
yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang
bodoh.” (Al A'raf :199)

Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang bodoh.”

Demi Allah, Umar radliyallahu `anhu tidak melampaui
apa yang dikatakan dalam ayat tersebut. Beliau memang
seorang yang selalu ‘berhenti’ pada apa yang dikatakan
pada kitab Allah.” (HR. Al-Bukhari, lihat Al-Hikmah
hal. 62)

Demikianlah sikap Amirul Mukminin Umar bin Khattab
ketika diberitahu bahwa ia (yang menghadap beliau)
adalah orang bodoh. Sikap beliau tidak keluar dari apa
yang dikatakan oleh Allah :

“Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang ma’ruf dan
berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

Wallahu ‘a’lam



diambil dari tulisan: Al Ustadz Muhammad Umar As Sewwed


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links








                
---------------------------------
How much free photo storage do you get? Store your holiday snaps for FREE with 
Yahoo! Photos. Get Yahoo! Photos

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke