CATATAN DARI MEJA NUSA DUA & CAFE BANDAR: [3].
ANUGERAH SASTRA  BORNEO-KALIMANTAN



Masalah pokok yang diajukan oleh Ailin Nor melalui tulisan di atas adalah 
bagaimana diadakannya suatu award untuk karya-karya sastra yang dihasilkan oleh 
para sastrawan Borneo-Kalimantan dan Brunei.Menurut Ailin Nor , ide Award ini 
mula pertama dilontarkan oleh Jasni Matlani. Ailin melalui artikelnya di atas 
dengan demikian lebih banyak menggarisbawahi usulan Jasni yang telah 
dikemukakannya dalam berbagai artikel.

Alasan Ailin menggarisbawahi usulan Jasni dikatakannya bahwa:

"Memang perlu Anugerah Sastera Borneo (ASB) diwujudkan dengan tujuan memberi 
pengiktirafan kepada golongan sasterawan di Borneo. Sama ada anugerah itu 
setaraf dengan anugerah S.E.A Write Award ataupun sebaliknya, setidak-tidaknya 
ASB berupaya memberi dorongan atau pengiktirafan kepada golongan sasterawan 
dari Sabah serta Labuan, Brunei, Sarawak dan juga Kalimantan. Hakikatnya ASB 
merupakan satu anugerah yang amat penting untuk dibanggakan".



Kecuali itu, menurut penglihatan Ailin, layaknya Award tersebut disediakan 
karena secara kuantitas dan kualitas, penulis-penulis  di pulau raya 
Kalimantan/Borneo ini menelurkan karya-karya.Kualitas dan kwantitas patut 
diberi penghargaan dan didorong.

Ketika berbicara soal Award ini, Ailin juga mengusulkan agar dari Kalimantan 
[Indonesia] diikutsertakan dalam sekretariat bersama penilaian di mana 
ditetapkan patokan pemberian Award.

Di samping itu hal penting lain yang diingatkan oleh Ailini adalah masalah 
karya sastra sebagai suatu komoditi. Ailin melihat bahwa kita tidak perlu cemas 
akan pemasaran komiditi karya sastra ini, karena seluruh pulau merupakan pasar 
yang menjanjikan.

Soal ketiga yang diingatkan oleh Ailin bagaimana dalam pemberian Award sastra 
ini, bagaimana ia tidak didominasi oleh angkatan tua yang diistilahkannya 
sebagai "veteran" sastra. Ailin mengharap agar angkatan muda pun patut mendapat 
tempat dan perhatian. Ailin mengusulkan  agar:  

"apa yang harus diutamakan ialah penerima ASB nanti adalah seorang penulis yang 
menghasilkan karya terbaik dalam wilayah Borneo" dan Kalimantan. Standar tidak 
ditempatkan pada veteranisme tetapi pada "mutu" karya.

Lebih tandas Ailin berkata:

"Tentunya kita mengharapkan penulis veteran yang dicalonkan adalah penulis yang 
berupaya menghasilkan karya kreatif yang bermutu, jadi sebutan dan seterusnya 
diangkat sebagai karya terbaik. Kita tidak mahu penulis veteran itu hanya 
dinilai dari segi penglibatannya dalam dunia sastera dan mengetepikan pula 
keupayaan menghasilkan karya".

 

"Pada saya syarat harus diutamakan ialah penghasilan karya yang benar-benar 
bermutu dan karya yang berupaya untuk menghangatkan sastera di Borneo. Karya 
yang mendapat tempat di Borneo, sehingga mendorong ianya diperbicarakan. Kita 
tidak mahu karya itu hanya hangat diperbicarakan di tempat sendiri atau usaha 
pihak tertentu untuk menjadikan karya itu diperbicarakan. Kita tidak mahu 
adanya paksaan seumpama itu dan syarat inilah pula harus diberikan keutamaan 
dan bersikap terbuka".

Ketika Ailin mengatakan bahwa "kita tidak mahu karya itu hanya hangat 
diperbicarakan di tempat sendiri atau usaha usaha pihak tertentu untuk 
menjadikan karya itu diperbicarakan", aku melihat bahwa standar yang diusulkan 
oleh Ailin adalah patokan sastra internasional, patokan setinggi mungkin. Aku 
kira tuntutan begini sudah pada tempatnya jika kita memang benar ingin 
mendorong pengembangan sastra-seni pulau raya Borneo-Kalimantan. Jika kita 
menetapkan standar rendah maka hasil yang kita capai pun akan rendah pula. Mutu 
dan bukan veteranisme serta kongkalingkong atau kasak-kusuk atau "usaha pihak 
tertentu untuk menjadikan karua itu diperbicarakan", diharapkan menjadi patokan 
dalam pemberian Award sastra di pulau bersama ini. 

Dalam hal ini, kembali aku melihat arti penting strategis dari pertemuan 
periodik para penulis se Borneo-Kalimantan, baik dalam menetapkan standar 
maupun dalam menyusun panitya atau sekretariat penilai. Di sinilah lagi-lagi 
aku melihat perlunya pertemuan periodik mengikutsertakan semua potensi sastra 
yang ada dalam masyarakat di pulau dan keluar dari lingkup kecil para mereka 
yang kebetulan menangani secara formal masalah kebudayaan sehingga pertemuan 
penulis se Borneo-Kalimantan sungguh-sungguh representatif dan mampu 
membicarakan soal kebudayaan, khususnya sastra di kawasan ini. Dengan cara ini, 
maka pertemuan bisa luput dari jeratan elitisme dan lepas dari soal-soal nyata. 

Masalah pasar untuk karya-karya sastra sebagai suatu komiditi, aku kira memang 
layak dipertimbangkan karena dengan terjualnya karya-karya itu maka secara 
finansil, para penulis akan terbantu. Masalah ekonomi para sastrawan sudah pada 
tempatnya dipermasalahkan dan dipecahkan. Terpecahkannya masalah ekonomi 
penulis akan membantu pengembangan produksi karya-karya. Dengan menggunakan 
komunitas-komunitas sastra-seni yang tersebar di pulau raya kita ini saja, aku 
kira karya-karya itu akan bisa dipasarkan secara layak. Jaringan dan kerjasama 
antar komunitas sastra akan membentuk suatu jaringan distributor alternatif 
menghadapi kekuasaan monopoli. Apabila cara ini berhasil diujudkan maka peluang 
untuk berkembangnya sastra-seni kepulauan dan melawan dominasi nilai yang 
besifat sentris akan menjadi kian mungkin dan realis. Barangkali apa yang 
diajukan oleh Jasni dan ditopang oleh Ailin ini layak dijadikan salah satu mata 
acara pembicaraan dalam pertemuan penulis se Borneo-Kalimantan di Brunei kelak. 
Adanya milis seperti kemsas, matabambu, lembaga studi dayak21, institut 
dayakologi, dayak, kaltengnet,dan lain-lain bisa memberikan kemungkinan dan 
syarat menguntungkan bagi kita menyuguhkan masukan demi masukan dini bagi 
pertemuan tersebut.Dengan demikian bisa diharapkan pula bahwa  pertemuan 
penulis Borneo-Kalimantan adalah benar-benar suatu kesempatan tukar-pengalaman 
antar penulis sepulau ini dan juga peluang mengerahkan segala potensi yang ada 
di pulau. Barangkali! Dan soal-soal ini kutaruh di meja-meja Nusa Dua dan Café 
Bandar untuk diperbincangkan bersama di bawah alunan merdu grup musik Jamal 
dkk. dihangati oleh sambutan sangat penuh pengertian dan partisan dari keluarga 
Bung Suwarno pemilik Nusa Dua.***



JJ.Kusni

Perjalanan, Agustus 2005.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke