** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Catatan Laluta:
 
... "Di depan mata batin saya, saya melihat kawan-kawan itu berdiri tegak di 
tepi lobang menganga yang mereka gali sendiri... Di antara mereka terdapat 
Sukarno, Ketua Badan Penerangan DPP PESINDO, berumur 28 tahun, suamiku dan ayah 
anakku, Nilakandi Sri Luntowati, yang kini sudah almarhumah"...(PENILAIAN 
TERHADAP MASAKINI ATAS DASAR PENGALAMANKU MASALAMPAU, Oleh Francisca 
Fanggidaej; synopsis buku antologi 40 thn Tragedi 65)
 
 ... “Aku tak setuju kau berangkat ke Halim! Apalagi malam-malam begini! Aneh! 
Dan apa hak mereka memaksa kau ke sana!? ... “Aku sendiri tak mengerti...”... 
“Darurat?! Darurat apa?? Apanya yang darurat??!” Ucap Tanti mendekatkan 
wajahnya ke wajah suaminya. Heran campur marah...(BENING KACA di BOLA MATA, 
Oleh: Ilham Aidit; synopsis buku antologi 40thn Tragedi '65)

Kisah nyata pengalaman Anak Bangsa dalam Misteri Peristiwa Tragedi Berdarah 
teror putih ke II - 1948 dan Peristiwa Tragedi Berdarah teror putih ke III - 
1965 telah terukir dalam catatan ingatan sejarah perjuangan Anak Semua Bangsa 
demi menjunjung tinggi pengharapan masadepan kemerdekaan R.I. untuk mencapai 
hak penegakkan keadilan sosial dan kebenaran sejarah. Namun kenyataan 
pengalaman ketegaran jiwa anak bangsa dari generasi ke generasi pun telah pula 
dilaluinya dengan mengalami rasa pahit, getir dan manisnya hidup berbangsa dan 
bernegara. Untuk itu kusajikan Ekspresi dan refleksi diri Pak S. Utomo dalam 
uraiannya berjudul "Fakta Kebenaran Korban Tragedi Peristiwa 65"

La Luta Continua!
 
***
Ringkasan 
 
FAKTA  KEBENARAN
KORBAN TRAGEDI PERISTIWA 65
 
1.  INDONESIA JAMRUD KHATULISTIWA
 
     Indonesia yang demikian luas dengan kekayaan alam yang melimpah merupakan 
sasaran yang sangat menarik bagi negara-negara maju untuk bisa memanfaatkan 
kekayaan Indonesia, di samping juga memiliki jumlah penduduk yang demikian 
banyak sehingga sangat potensial sebagai tenaga kerja yang murah baik dalam 
proses produksi maupun sebagai tenaga cadangan diwaktu perang, di samping 
sebagai pasar yang potensial bagi hasil-hasil industri negara-negara maju. 
Karena kelemahan bangsa Indonesia sendirilah akhirnya menjadi jajahan bangsa 
lain (Belanda, Jepang dan lainnya).
 
2. INDONESIA DI TENGAH PERANG DINGIN
 
   Setelah Perang Dunia II berakhir dan Indonesia memproklamasikan 
kemerdekaannya, terjadilah era perang dingin antara blok Barat (kapitalis) dan 
blok Timur (sosialis) yang sebenarnya berlanjut sampai era saat ini (tahun 
2005) dengan kadar yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan situasinya. Era 
perang dingin ini sangat mempengaruhi rakyat Indonesia, sehingga secara garis 
besar rakyat Indonesia juga terbelah dua, yaitu yang setuju dengan paham 
kapitalis (golongan kanan) dan yang setuju dengan paham sosialis (golongan 
kiri).
 
   Kondisi ini diketahui benar oleh negara-negara maju sehingga mereka 
berlomba-lomba menanamkan pengaruhnya di Indonesia, terutama negara-negara 
kapitalis sesuai dengan kepentingan negaranya masing-masing.
 
3. PERISTIWA MADIUN 1948 (KONSPIRASI POLITIK KAUM KOLONIALIS / IMPERIALIS 
MELIKUIDASI RI)
 
      Pada tanggal 29 Januari 1948 Kabinet Hatta dibentuk dengan programnya:
Melaksanakan hasil persetujuan Renville. 
Mempercepat terbentuknya Negara Indonesia Serikat (berserikat juga dengan 
Belanda)Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang RI (RERA)Pembangunan.

   Pemerintahan Hatta inilah yang dinilai oleh kaum kiri sebagai pemerintahan 
yang paling tunduk dan akan menyerahkan kedaulatan RI kepada Belanda, sehingga 
timbul ketidakpuasan yang luas terutama karena ada rencana dari Hatta untuk 
merasionalisasi TNI kemudian membentuk tentara federal bekerjasama dengan 
Belanda.
 
-  Mulai bulan Februari 1948 Kolonel A.H. Nasution bersama Divisi Siliwangi 
hijrah dari Jawa Barat menuju Yogyakarta sebagai pelaksanaan dari perjanjian 
Renville kemudian ditempatkan tersebar di wilayah Jawa Tengah dan sebagian Jawa 
Timur khususnya di daerah yang kekuatan kaum kirinya cukup kuat seperti di Solo 
dan Madiun yang dimaksudkan untuk persiapan membersihkan kaum kiri tersebut. 
Pasukan Siliwangi tersebut segera menjadi pasukan elite pemerintah Hatta dengan 
kelengkapan tempur yang lebih baik sehingga timbul iri hati pada pasukan di 
luar Divisi Siliwangi.
 
-  Pada bulan April 1948 terjadi demonstrasi terutama dari pelajar di Jawa 
Timur menentang Rasionalisasi dan Rekonstruksi.
 
-  Pada bulan Mei 1948 di Solo tentara Divisi Panembahan Senopati melakukan 
demonstrasi menentang RERA.
 
-  Pada tanggal 2 Juli 1948 komandan Divisi Panembahan Senopati Kolonel Sutarto 
dibunuh oleh tembakan senjata api orang tak dikenal, kemudian diikuti dengan 
penculikan dan pembunuhan terhadap beberapa orang kiri antara lain Slamet 
Widjaya dan Pardio serta beberapa perwira dari Divisi Panembahan Senopati a.l. 
Mayor Esmara Sugeng, Kapten Sutarto, Kapten Suradi, Kapten Supardi dan Kapten 
Mudjono diduga kuat dilakukan oleh Divisi Siliwangi sebagai kepanjangan tangan 
pemerintahan Hatta, walaupun kemudian pembunuh Kolonel Sutarto ditangkap tetapi 
pemerintah tidak mengadilinya bahkan oleh Jaksa Agung ketika itu malahan 
dibebaskan dengan alasan tidak dapat dituntut secara hukum (yuridisch 
staatsrechtelijk).
 
-   Penculikan dan pembunuhan ini terus berlanjut terhadap orang-orang kiri 
maupun anggota Divisi Panembahan Senopati sehingga menimbulkan keresahan dan 
suasana saling curiga-mencurigai dan ketegangan tinggi.
 
-  Pada tanggal 21 Juli 1948 diadakan pertemuan rahasia di Sarangan Jawa Timur 
antara Amerika Serikat yang diwakili oleh Gerard Hopkins (penasihat urusan 
politik luar negeri) dan Merle Cochran (Wakil AS di Komisi Jasa-Jasa Baik PBB) 
dengan 5 orang Indonesia yaitu: Wakil Presiden Moh. Hatta, Natsir, Sukiman, 
R.S. Sukamto (Kapolri) dan Mohammad Rum yang menghasilkan rencana kompromi 
berupa likuidasi bidang ekonomi, politik luar negeri, UUD 45 dan juga 
Rekonstruksi dan Rasionalisasi (RERA) di bidang Angkatan Perang dengan 
menyingkirkan orang-orang (pasukan) yang dicap sebagai golongan kiri/merah, dan 
ini terkenal dengan Red Drive Proposal atau usulan pembasmian kaum kiri.
 
-  Pada tanggal 13 September 1948 terjadilah pertempuran antara Divisi 
Panembahan Senopati dibantu ALRI melawan Divisi Siliwangi yang diperkuat 
pasukan-pasukan lain yang didatangkan ke Solo oleh pemerintah Hatta.
 
-  Pada tanggal 15 September 1948 dilakukan gencatan senjata yang disaksikan 
juga oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman, petinggi-petinggi militer RI dan 
juga Residen Sudiro. Divisi Panembahan Senopati mentaati gencatan sejata namun 
lawan terus melakukan aksi-aksi yang agresif dan destruktif.
 
-  Sementara itu sebagian anggota Politbiro CC PKI yang tinggal di Yogyakarta 
memutuskan untuk berusaha keras agar pertempuran di Solo dilokalisasi dan 
mengutus Suripno untuk menyampaikan hal tersebut kepada Muso, Amir Syarifudin 
dan lain-lain yang sedang keliling Jawa. Rombongan Muso menyetujui putusan 
tersebut. Jadi dalam hal ini kebijaksanaan PKI sesuai atau sejalan dan 
menunjang kebijakan Panglima Besar Jenderal Soedirman.
 
-  Sementara itu penculikan-penculikan dan pembunuhan terhadap orang-orang dan 
personil militer golongan kiri semakin mengganas dengan puncaknya pada tanggal 
16 September 1948 markas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) di Jalan 
Singosaren Solo diserbu dan diduduki oleh kaki tangan Hatta (Siliwangi) 
sehingga pertempuran Solo semakin menghebat.
 
-   Aksi pembersihan orang-orang kiri ini tidak hanya terjadi di Solo tetapi 
meluas ke Madiun dan daerah lainnya dan hasil RERA ini TNI yang tadinya 
berkekuatan 400.000 hanya tinggal 57.000. Sementara itu ancaman Belanda masih 
di depan mata terbukti kemudian dengan Agresi Militer Belanda ke II.
 
MADIUN
 
-  Oleh pemerintah Hatta didatangkanlah ke Madiun pasukan-pasukan Siliwangi 
yang langsung menduduki beberapa pabrik gula, mengadakan latihan-latihan 
militer serta menindas para buruh pabrik gula dengan membunuh seorang anggota 
Serikat Buruh Gula bernama Wiro Sudarmo serta melakukan pemukulan-pemukulan dan 
intimidasi terhadap para buruh. Penempatan pasukan ini tidak dilaporkan kepada 
komandan Teritorial Militer setempat sehingga menimbulkan ketegangan dan 
kemudian kesatuan militer setempat yaitu Brigade 29 atas persetujuan Komandan 
Teritorial Militer setempat bergerak melucuti pasukan Siliwangi.
 
-  Dalam keadaan panas, kacau dan tak terkendali itu, karena Residen Madiun 
tidak ada di tempat dan Walikota sakit, maka pada tanggal 19 September 1948 
Front Demokrasi Rakyat (FDR) mengambil prakarsa untuk mengangkat Wakil Walikota 
Madiun Supardi sebagai pejabat residen sementara dan pengangkatan ini telah 
disetujui baik oleh pembesar-pembesar sipil maupun militer dan dilaporkan ke 
pemerintah pusat di Yogyakarta serta dimintakan petunjuk lebih lanjut. 
Peristiwa inilah yang mengawali apa yang disebut sebagai “Peristiwa Madiun”.
 
-  Pada tanggal 19 September 1948 malam hari pemerintah Hatta menuduh telah 
terjadi “Pemberontakan PKI” sehingga dikerahkanlah kekuatan bersenjata oleh 
Hatta untuk menumpas dan menimbulkan konflik horisontal dengan korban ribuan 
orang terbunuh, baik golongan kiri, tentara maupun rakyat golongan lain.
 
-  Pada tanggal 14 Desember 1948 sebelas orang pemimpin dan anggota PKI dibunuh 
di Dukuh Ngalihan Kelurahan Halung Kabupaten Karanganyar Karesidenan Surakarta 
pada jam 23.30 yaitu: 1. Amir Syarifudin, 2. Suripno, 3. Maruto Darusman, 4. 
Sarjono, 5. Dokosuyono, 6. Oei Gee Hwat, 7. Haryono, 8. Katamhadi, 9. Sukarno, 
10. Ronomarsono, 11. D. Mangku. Sementara itu lebih kurang 36.000 aktivis 
revolusioner lainnya ditangkap dimasukkan dalam penjara dan sebagian dibunuh 
tanpa proses hukum a.l. di penjara Magelang 31 anggota dan simpatisan PKI, di 
Kediri berpuluh-puluh orang termasuk Dr. Rustam, anggota Fraksi PKI dan BP 
KNIP, di Pati antara lain Dr. Wiroreno dan banyak lagi yang lainnya.
 
-  Berdasarkan fakta pada saat Amir Syarifudin menjadi Perdana Menteri dan 
memimpin pemerintahan, karena dikhianati dalam Perjanjian Renville maka secara 
kesatria dan demokratis menyerahkan kembali mandat pemerintahan kepada Presiden 
Soekarno, sehingga sangat naif menuduhnya bersama golongan kiri melakukan 
pemberontakan dan membentuk pemerintahan Soviet-Madiun.
 
-  Amir Syarifudin bekas Perdana Menteri Republik Indonesia yang juga berada di 
kota itu (Madiun) telah membantah segala sesuatu yang disiarkan dari Yogyakarta 
pada masa itu. Penjelasannya melalui radio, “Undang-Undang Dasar kami adalah 
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, bendera kami adalah Merah Putih dan 
lagu kebangsaan tidak lain dari Indonesia Raya”, seperti disiarkan pada tanggal 
20 September 1948 oleh Aneta, kantor berita Belanda di Indonesia.
 
-  Bahwa kolaborasi antara pemerintah Hatta dengan pihak kolonialis Belanda 
maupun imperialis Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya telah berhasil 
memecah belah persatuan dan kesatuan serta membelokkan jalannya revolusi 
Indonesia.
 
-  Pada tanggal 19 Desember 1948 itu pula Belanda menyerbu dan menduduki 
Yogyakarta dengan perlengkapan perang bantuan Amerika, hal itu terjadi setelah 
politik Red Drive Proposal sukses dilaksanakan oleh pemerintah Hatta demi 
tercapainnya persetujuan Roem-Royen yang merugikan RI yang dilanjukan dengan 
terselenggaranya Konferensi Meja Bunda (KMB) yang dimulai pada tanggal 23 
Agustus 1949 sampai 2 November 1949, dan kemudian lahirlah Republik Indonesia 
Serikat (RIS) dengan konstitusi RIS-nya dan hasil yang sangat merugikan 
Indonesia a.l. Irian Barat masih di tangan Belanda dan hutang Hindia Belanda 
sebesar US$1,13 milliar menjadi tanggungan RI (hutang ini antara lain adalah 
biaya untuk memerangi RI), juga terjadi penurunan pangkat dalam APRI (Angkatan 
Perang Republik Indonesia) bila menjadi APRIS (Angkatan Perang Republik 
Indonesia Serikat).
 
-  Pada tahun 1954, meskipun sudah kadaluwarsa, Aidit dihadapkan pada 
pengadilan di Jakarta mengenai Peristiwa Madiun. Dalam hal ini PKI dituduh 
mengadakan kudeta. Dasarnya adalah pidato Hatta yang menyatakan entah benar 
entah tidak bahwa PKI mendirikan negara Soviet di Madiun dengan mengangkat 
wakil walikota Supardi jadi Residen sementara untuk mengisi kekosongan. Ini 
dianggap melanggar KUHP pasal 310 dan pasal 311. Dalam persidangan Aidit, 
diminta agar Moh. Hatta tampil sebagai saksi. Jaksa menyatakan keberatan atas 
pembuktian yang akan diajukan oleh Aidit, maka jaksa harus mencabut tuduhan 
pasal-pasal tersebut di atas. Pada akhirnya keberatan jaksa dan tuduhan 
terhadap Aidit melanggar pasal 310 dan pasal 311 KUHP dicabut. Karenanya Aidit 
tak dapat dituntut dan bebas tanpa syarat.

Kesimpulan dari peristiwa Madiun
 
Pihak imperialis kolonialis pimpinan Amerika Serikat dalam menerapkan politik 
pembersihan kaum kiri (Red Drive Proposal) di Indonesia sebagai bagian makro 
politiknya untuk membendung komunisme, telah mempengaruhi pemerintah Hatta agar 
mau membersihkan orang-orang kiri (komunisme) dari pemerintahan, terutama dari 
Angkatan Perang sebagai salah satu syarat mutlak pengakuan negara Republik 
Indonesia oleh dunia internasional (pihak barat). 

Pemerintah Hatta menerima dan melaksanakan tawaran tersebut antara lain dengan 
membuat program Reorganisasi dan Rasionalisasi (RERA) di lingkungan angkatan 
perang yang kemudian menimbulkan gelombang penolakan yang luas. 
 
Untuk meredam penolakan tersebut dilakukan upaya-upaya yang sistematis, antara 
lain dengan melakukan teror berupa pembunuhan, penculikan, penahanan, dan 
intimidasi lainnya terutama kepada kaum kiri, yang kemudian dikenal dengan 
Peristiwa Solo. 

Peristiwa Madiun sama sekali bukanlah pemberontakan PKI apalagi fitnah bahwa 
PKI telah mendirikan Negara Soviet Madiun, tetapi merupakan rekayasa jahat 
pemerintah Hatta guna mendapatkan momen (kondisi dan situasi) yang tepat untuk 
dapat digunakan sebagai dalih (dasar) untuk menyingkirkan (membasmi) golongan 
kiri dari pemerintahan maupun angkatan perang, yang kemudian mendapat 
perlawanan dari rakyat yang konsekuen anti kolonialis/imperialis.
 
4. GEJOLAK DALAM PENOLAKAN RERA DAN KMB.
 
Gejolak sebagai akibat penolakan RERA dan KMB ini terjadi dimana-mana antara 
lain:
Peristiwa Batalion 426 di Kudus tahun 1950 karena menolak dilucuti dan 
diberlakukan RERA, batalion ini diserbu dan melarikan diri ke barat, sebagian 
bergabung dengan DI/TII di Jawa Tengah dan Jawa Barat. 

Peristiwa Merbabu Merapi Complex (MMC) terjadi di daerah Semarang, Solo, 
Magelang dan Yogyakarta yaitu pejuang-pejuang revolusi yang menolak RERA dan 
KMB. 
Peristiwa Barisan Sakit Hati di Cirebon (BSH), yaitu para pejuang yang menolak 
RERA dan KMB. 

Peristiwa APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) dipimpin Westerling, yaitu bekas 
KNIL yang tidak puas kepada pemerintah RIS. 

Pergolakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.
Gejolak-gejolak yang terjadi ini membuktikan keberhasilan politik pecah belah 
(devide et empera) kaum kolonialis Belanda dengan sekutunya kaum imperialis 
Amerika dan antek-anteknya.
 
5. MEMPERTAHANKAN NKRI, PANCASILA DAN UUD 1945
 
Republik Indonesia Serikat (RIS)

RIS hanya mampu bertahan bebarapa bulan dan akhirnya bubar kembali menjadi 
NKRI, ini karena pemimpin dan rakyat Indonesia telah sadar akan politik pecah 
belah dari pihak nekolim dan antek-anteknya yang akan tetap mempertahankan 
pengaruhnya di Indonesia terbukti antara lain dengan adanya pemberontakan 
Republik Maluku Selatan (RMS) dan pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil 
(APRA) pimpinan Westerling.
 
Pemberontakan-Pemberontakan

Di samping itu pihak kolonialis dan antek-anteknya tak henti-hentinya 
menggoyang Indonesia dengan adanya pemberontakan PRRI dan PERMESTA yang secara 
aktif dibantu oleh Amerika Serikat, bahkan seorang pilot CIA yang menyerang 
Indonesia berhasil ditembak jatuh di Ambon dan ditangkap yaitu Allan Pope. 
Kecuali itu pihak Amerika Serikat juga membantu DI/TII di Aceh serta mendalangi 
percobaan-percobaan pembunuhan Presiden Soekarno (a.l. peristiwa Cikini, 
peristiwa Cimanggis, peristiwa Makasar, penembakan Idul Adha, peristiwa Raja 
Madala, dll).
 
Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Pada sidang-sidang di Konstituante telah terbukti bahwa kaum Nasionalis sejati 
yaitu PKI dan PNI adalah yang mati-matian mempertahankan Pancasila sebagai 
dasar negara dan NKRI sebagai satu-satunya pilihan, sehingga Konstituante 
menemui jalan buntu sampai keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 di mana 
didekritkan kembali ke UUD 1945 dengan PKI dan PNI menjadi pendukung setiannya. 
Karena golongan lain menghendaki dasar negara yang bukan Pancasila
 
Pendukung Setia Bung Karno

PKI dan PNI merupakan pendukung setia politik Bung Karno. Dukungan ini terwujud 
antara lain dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Manipol-USDEK, perebutan Irian 
Barat, pengganyangan Malaysia. Kecuali itu keluarnya Undang-Undang Pokok 
Agraria (UUPA) dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil (UUPBH) tahun 1960 didukung 
sepenuhnya oleh PKI dan PNI, namun di lain pihak banyak yang tidak senang Bung 
Karno intim dengan PKI terutama golongan kanan dan neokolonialis termasuk 
Amerika Serikat yang ingin meluaskan pengaruhnya di Indonesia dengan 
menjanjikan bantuan namun ditolak Bung Karno. Dengan kata-katanya yang terkenal 
GO TO HELL WITH YOUR AID.
 
Bung Karno Dijadikan Presiden Seumur Hidup

Melihat besarnya kekuatan PKI yang tumbuh pesat menjadi partai terkuat, maka 
pihak nekolim khawatir bila pemilu digelar PKI akan menang mutlak dan otomatis 
presidennya juga dari orang PKI. Oleh karena itu pihak Angkatan Darat melalui 
Jenderal A.H. Nasution dengan mengajak Suwiryo (ketua PNI waktu itu) 
mengusulkan agar Bung Karno dijadikan Presiden seumur hidup, agar tidak perlu 
dilakukan pemilu, sehingga dengan demikian tertutuplah kesempatan bagi orang 
PKI menjadi Presiden, dan ini adalah sebuah akal licik dari Angkatan Darat (hal 
ini juga diakui sendiri oleh Brigjen Suhardiman).
 
Pembubaran Partai Masyumi dan PSI

Presiden Soekarno membubarkan partai Masyumi dan PSI karena antara lain banyak 
pimpinannya terlibat dalam pemberontakan DI/TII maupun PRRI, PERMESTA. Banyak 
kalangan partai tersebut menuduh bahwa ini adalah karena politik PKI, sehingga 
menambah ketegangan dan rasa permusuhan secara horisontal antara lain dengan 
timbulnya peristiwa Kanigoro di Kediri, di Jawa Tengah dan di tempat-tempat 
lainnya.
 
6. PERISTIWA 65
 
A. PROLOG
 
1.  Skenarion Pihak Nekolim
 
Dari awal memang pihak Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya telah menyiapkan 
dan melaksanakan beberapa skenario untuk menguasai Indonesia antara lain dengan:
 
a.  Mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia tetapi Indonesia harus membasmi 
komunis lebih dulu dan akan menyadarkan aliansi dengan Barat (Peristiwa 
Madiun-KMB dan RIS)
 
b.  Menghasut beberapa daerah untuk berontak agar RI lemah (PRRI, PERMESTA, 
RMS, dan DI/TII) dan menjadi boneka AS.
 
c.  Mendukung perjuangan memasukan Irian Barat ke Indonesia dengan imbalan agar 
AS bisa menguasai bahan baku di Indonesia tetapi gagal karena ditolak Bung 
Karno.

d.  Usaha menggulingkan Pemerintahan Soekarno.
Pemerintahan Soekarno yang semakin ke “kiri” dinilai banyak merugikan 
kepentingan blok Barat (Nekolim) sehingga diambil langkah untuk 
menggulingkannya dengan berbagai cara antara lain:
 
-   Tetap memberikan bantuan bagi Angkatan Darat Indonesia untuk mendukung 
peranan anti komunis dan membentuk jaringan kerja intelijen guna usaha untuk 
menggulingkan Soekarno.
 
-   Penyiaran desas-desus dan penyesatan informasi, antara lain dari koran 
Malaysia seolah-olah PKI akan menggulingkan Jenderal Nasution (KSAD) dengan 
cara menyusupkan orang ke Angkatan Darat dan lain-lain yang menambah panas dan 
ganasnya perpolitikan di Indonesia.
 
e.  Isu Dewan Jenderal.
 
Pada awalnya isu Dewan Jenderal yang akan mengambil alih kekuasaan itu dianggap 
isu fitnah dari PKI, tetapi dalam kenyataan yang terjadi Jenderal Soeharto 
telah merekayasa dan mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno, mengganti 
semua pejabat dari tingkat Menteri, Gubernur, Bupati sampai lurah dengan 
orang-orang Angkatan Darat yang setia kepadanya sedangkan pejabat-pejabat yang 
tidak loyal kepada Soeharto dicopot bahkan ditangkap, dimasukkan ke dalam 
penjara, disiksa dan dibunuh untuk dapat menegakan dan melanggengkan 
kekuasaannya.
 
Sebenarnya ada hasil rekaman rapat Dewan Jenderal oleh bekas Mayor Rudhito dan 
pengakuan Brigjen Sukendro, namun isu kesaksian tersebut tidak pernah 
dipersoalkan lagi.
 
f. Isu Dokumen Gilchrist.
 
Bersamaan dengan adanya isu Dewan Jenderal maka muncul dokumen Gilchrist yang 
menyebutkan adanya “Our Local Army Friends” yang seolah-olah memperkuat isu 
Dewan Jenderal. Tetapi ternyata kemudian bahwa isu Dewan Jenderal dan dokumen 
Gilchrist merupakan jebakan bagi kekuatan revolusioner agar memuluskan Jenderal 
Soeharto ke jenjang kepala negara (Presiden).
 
2. Kondisi Politik Dalam Negeri.
 
    Situasi panas di bidang politik menjalar ke seluruh roda kehidupan bangsa 
Indonesia, termasuk suasana saling curiga-mencurigai, rivalitas yang 
berlebihan, saling tuduh dan lain-lain, namun yang paling menonjol adanya:
 
a.  Isu Angkatan ke V dan senjata dari RRC.
 
Pada kunjungan Menlu Subandrio ke RRC, PM Chou En Lai menjanjikan untuk 
mempersenjatai 40 batalion tentara secara lengkap, penawaran ini gratis tanpa 
syarat dan kemudian dilaporkan ke Bung Karno tetapi belum juga menetapkan 
waktunya sampai meletusnya G30S. Pada awal tahun 1965 Bung Karno mempunyai ide 
tentang angkatan ke V yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI. Tetapi kalangan 
militer (AD) tidak setuju dan hal ini lebih menimbulkan nuansa 
curiga-mencurigai karena pihak militer menuduh itu ulahnya PKI. Hal ini memang 
direkayasa oleh CIA melalui pemberitaan di koran Bangkok yang mengutip berita 
dari koran Hongkong.
 
b.  Isu sakitnya Bung Karno.
 
Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G30S telah beredar isu sakit 
parahnya Bung Karno. Hal ini meningkatkan kasak-kusuk dan isu perebutan 
kekuasaan apabila Bung Karno meninggal dunia. Menurut Subandrio, Aidit tahu 
persis bahwa Bung Karno hanya sakit ringan saja, jadi tidak ada alasan sakitnya 
Bung Karno digunakan PKI untuk mengambil alih kekuasaan.
 
c.  Isu masalah tanah dan bagi hasil (aksi sepihak)
 
Pada tahun 1960 keluarlah Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Pokok 
Bagi Hasil yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari Panitia Agraria yang 
dibentuk pada tahun 1948. Panitia Agraria yang menghasilkan UUPA terdiri dari 
wakil pemerintah dan wakil berbagai ormas tani yang mencerminkan 10 kekuatan 
partai politik pada masa itu. Walaupun UU-nya sudah ada namun pelaksanaan di 
daerah tidak jalan sehingga menimbulkan gesekan antara para petani penggarap 
dengan pihak pemilik tanah yang takut terkena UUPA, melibatkan sebagian massa 
pengikutnya dengan melibatkan backing aparat keamanan. 
 
Peristiwa yang menonjol dalam rangka ini antara lain peristiwa Bandar Betsi di 
Sumatera Utara dan peristiwa di Klaten yang disebut sebagai ‘aksi sepihak’ dan 
kemudian digunakan dalih oleh militer untuk membersihkannya.
 
3.  Persiapan Pihak Jenderal Soeharto
 
a.  Dengan latar belakang kurang terpuji karena telah melakukan berbagai 
pelanggaran, antara lain:
 
-   Terlibat sebagai pelaku dalam Peristiwa Kudeta tahun 1946, tetapi begitu 
pelaku kudeta ditindak dengan cepat dan lihainya segera turut serta menangkapi 
para pelaku lainnya, sehingga tampaknya seolah-olah dia sebagai pahlawan 
penyelamat.
 
-   Terlibat sebagai dalam berbagai penjualan inventaris AD dan penyelundupan 
ekspor gula sewaktu menjabat Panglima Diponegoro berpangkat kolonel, dibantu 
oleh Letkol Munadi, Mayor Yoga Sugama dan Mayor Sudjono Humardani. Untuk 
menindaknya Mabes AD membentuk Tim dipimpin Mayjen Suprapto, dengan anggota S. 
Parman, M.T. Haryono dan Sutoyo. Sebenarnya Nasution menghendaki agar Soeharto 
cs di seret ke pengadilan militer, tetapi karena dibela oleh Gatot Subroto maka 
Presiden Soekarno memeti-es-kan perkara ini, namun Nasution tetap mencopot 
Soeharto sebagai Panglima Diponegoro dan mengirimnya belajar ke Seskoad, di 
sanalah Soeharto bertemu dan bergaul dengan Brigadir Jenderal Suwarto yang 
merupakan agen CIA dan telah berhasil menciptakan Seskoad menjadi pemikir dan 
produsen perwira-perwira calon pucuk pimpinan AD maupun pemimpin-pemimpin 
pemerintahan di kemudian hari.
 
-   Dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia pada bulan Mei 1964 dibentuk 
Komando Mandala Siaga (Kolaga) yang dipimpin oleh Men. Pangau Laksdya Omar Dani 
sebagai Wakilnya Brigjen Achmad Wiranata Kusuma, Achmad kemudian digantikan 
oleh Mayjen Soeharto yang juga merangkap sebagai Pangkostrad. Terjadi friksi 
antara Omar Dani dengan Soeharto, bahkan Soeharto menyatakan kepada Presiden 
Soekarno bahwa Omar Dani tidak cocok sebagai Panglima Kolaga. Soeharto sebagai 
Wakil Pangkolaga juga melakukan sabotase berupa penyelundupan dan menghambat 
pengiriman pasukan ke Malaysia terutama dilakukan melalui Kemal Idris. Di 
samping itu juga melakukan pengkhianatan dengan cara mengirim pasukan yang 
tidak siap (Diponegoro) dan memberitahukan kepada Inggris pasukan-pasukan yang 
diselundupkan ke Malaysia sehingga pasukan-pasukan itu dengan mudah ditangkap 
atau dihancurkan. Hal ini semua tentu sepengetahuan pimpinan AD, tetapi 
pimpinan AD tidak berbuat apa-apa karena memang mengikuti skenario nekol
 im. Dari
 546 tentara yang ditahan Malaysia hanya 21 dari AD.
 
b.  Menggalang Letkol Untung, Kolonel Latief dan Brigjen Suparjo untuk membahas 
rencana Dewan Jenderal yang akan menggulingkan Bung Karno. Dan Soeharto 
menjanjikan tambahan pasukan, yang kemudian ternyata adalah Yon 454 dan Yon 530.
 
c.  Soeharto memberi perintah dengan telegram No. T.220/9 pada tanggal 15 
September 1965 dan mengulanginya lagi dengan radiogram No. T.239/9 tanggal 21 
September 1965 kepada Yon 530 Brawijaya Jawa Timur dan Yon 454 Banteng Raider 
Diponegoro Jawa Tengah untuk datang ke Jakarta dengan kelengkapan tempur penuh. 
Ketika datang ke Kostrad diterima oleh Soeharto dan juga dilakukan inspeksi 
pasukan pada tanggal 29 September 1965. Sedangkan Yon 328 Siliwangi datang 
dengan tanpa peluru. Tanggal 30 September 1965 jam 17.00 Yon 454 diperintahkan 
ke Lubang Buaya untuk bergabung dengan pasukan lainnya guna melakukan gerakan 
pada malam harinya.
 
d.  Merekrut Yoga Sugama tanpa prosedur yang benar untuk ditarik ke Kostrad 
dari posnya di luar negeri (Yugoslavia). Begitu pengumuman RRI tentang adanya 
G30S, maka segera Yoga Sugama menyatakan bahwa PKI telah berontak dan 
memerintahkan agar gudang-gudang senjata dibuka untuk melawan PKI. Dari mana ia 
tahu bahwa itu PKI yang memberontak, kalau bukan mereka sendiri yang 
merencanakan dan merekayasanya, karena Yoga Sugama adalah anak buah setia 
Soeharto di Diponegoro (Jawa Tengah).
 
e. Melakukan kontak rahasia dengan Malaysia dan CIA. Disamping melakukan 
penyelundupan dan melakukan sabotase berupa menghambat gerakan militer ke 
Malaysia, Soeharto juga melakukan kontak-kontak dengan Malaysia, Inggris maupun 
AS (CIA), tugas ini sebagian besar pelaku lapangannya adalah Ali Murtopo dengan 
tujuan untuk mematangkan pelaksanaan rencana gerakannya. Ini juga terbukti 
dengan cepatnya pihak Soeharto melakukan perdamaian dengan Malaysia setelah 
mendapat Surat Perintah 11 Maret 1966.
 
f. Pengendalian dan pemanfaatan Syam Kamaruzaman.
 
Soeharto telah lama mengenal Syam di kelompok Pathuk Yogyakarta awal revolusi 
45. Pada tanggal 31 Desember 1947 Syam Kamaruzaman bersama lima orang dari 
kelompok Pathuk masuk ke Jakarta. Aktivitas mereka di Jakarta termasuk Syam 
mendirikan Serikat Buruh terutama Serikat Buruh Transport. Syam Kamaruzaman 
ikut serta mendirikan Serikat Buruh Pelayaran dan Pelabuhan serta menjadi salah 
seorang pengurus. Pada tahun 1951 ikut serta membantu DN. Aidit keluar dari 
kapal dan pelabuhan sewaktu Aidit datang kembali dari luar Jakarta. Sejak itu 
dia mempunyai hubungan dengan DN. Aidit.
 
Pada tahun 1964 Syam diangkat sebagai ketua Biro Khusus yaitu jaringan PKI 
tetapi diluar struktur resmi PKI dengan tugas menyampaikan informasi ke Aidit 
selaku ketua CC PKI, membina anggota ABRI dan melaksanakan tugas-tugas lain 
yang tidak diketahui oleh pimpinan formal PKI. 
 
Kedekatan Syam dengan pimpinan PKI ini dimanfaatkan dan dikendalikan sepenuhnya 
oleh Soeharto dan CIA. Informasi menyesatkan telah dimasukan ke PKI. Kondisi 
ini yang mungkin oleh Bung Karno dikatakan sebagai “Keblingernya Pimpinan PKI”.
 
4. Kondisi Pertentangan Internal Angkatan Darat.
 
   Sebenarnya telah lama terjadi pertentangan antara faksi-faksi di kalangan 
internal AD yaitu sejak rasionalisasi dan rekonstruksi Angkatan Perang dalam 
pemerintahan Hatta. Pertentangan itu terutama antara profesionalisme model 
Barat yang dibumbui oleh pembelajaran politik sebagai bagian dari 
keikutsertaannya dalam kekuasaan negara, dengan semangat revolusioner warisan 
revolusi 1945 yang masih kental di kalangan perwira menengah AD.
 
Pada tahun 1965 AD telah terpecah dalam dua kubu yaitu kubunya Jenderal Achmad 
Yani yang loyal kepada Presiden Soekarno dan kubunya Jenderal A.H. 
Nasution-Soeharto yang tidak mendukung kebijakan Presiden Soekarno tentang 
persatuan nasional terutama tentang Nasakom dan Pengganyangan Malaysia.
 
Dengan lihainya Soeharto bertindak seolah-olah loyal terhadap kepemimpinan 
Nasution maupun Yani dan sekaligus pendukung Soekarno, namun dilain pihak 
Soeharto merangkul kelompok perwira yang ingin menyelamatkan Bung Karno, dan 
kemudian kelompok tersebut diorganisasi dan dimanfaatkan untuk menghancurkan 
kelompok Yani maupun Nasution, menghancurkan PKI yang kemudian merebut 
kekuasaan.
 
5. Kondisi Pihak PKI.
 
Sebenarnya pihak PKI tidak melakukan persiapan apa-apa, persiapan PKI hanyalah 
memenuhi himbauan Presiden Soekarno guna mengirim tenaga dengan komposisi yang 
mencerminkan Nasakom untuk dididik sebagai sukarelawan mengganyang Malaysia, 
tetapi pada saat G30S meletus, latihan sedang dicutikan oleh Komodor Udara 
Dewanto sebagai penanggung jawab akhir latihan sukarelawan, jadi memang tidak 
untuk melakukan gerakan.
 
Aidit hanya menyuruh beberapa orang ke daerah untuk memonitor situasi dan 
menunggu perintah lebih lanjut yang ternyata tidak pernah diberikannya. Dalam 
surat Aidit kepada Bung Karno, Aidit menyatakan bahwa PKI tidak terlibat dalam 
G30S. G30S adalah murni gerakan militer (AD) karena adanya salah urus di antara 
militer sendiri.
 
Adapun keterlibatan Syam dalam G30S tidak bisa dipandang mewakili PKI, karena 
disamping dia seorang intel AD agen CIA, juga tidak mendapat mandat dari CC 
PKI, justru keterlibatan Syam dalam G30S bertujuan untuk memberi kesempatan 
legalitas bagi Jenderal Soeharto guna menghancurkan gerakan, juga menghancurkan 
PKI serta Bung Karno.
 
B. PELAKSANAAN G 30 S.
 
1. Fakta-Fakta Sebelum Terjadinya G30S.
 
a. Pada bulan April 1962 ketika Presiden Kenedy bertemu dengan PM Inggris 
Harold McMillan keduanya sepakat tentang kehendak untuk melikuidasi Soekarno 
pada saatnya yang tepat, untuk itu dinas intelejen (CIA dan MI6) bekerja sama 
saling isi-mengisi untuk merealisasikannya.
 
b. Dalam bulan Desember 1964 seorang Duta Besar Pakistan di Eropa melaporkan 
kepada Menlu Zulfikar Ali Bhuto tentang hasil percakapannya dengan seorang 
perwira intelijen Belanda yang bertugas di NATO yang menginformasikan sejumlah 
dinas intelijen Barat sedang menyusun suatu skenario akan terjadinya kudeta 
militer yang terlalu dini yang dirancang untuk gagal, dengan begitu terbukalah 
secara legal bagi AD Indonesia untuk menghancurkan kaum komunis dan menjadikan 
Bung Karno sebagai tawanan Angkatan Darat. Indonesia akan jatuh ke pangkuan 
Barat laksanan sebuah apel busuk.
 
c. Hal senada pun telah dilaporkan oleh wartawan Der Spiegel bernama Godian 
Troeller bahwa akan terjadi perebutan kekuasaan oleh militer dalam waktu dekat.
 
d. Dalam bulan April 1965 Elswort Bunker utusan khusus Presiden AS Johnson 
menghabiskan waktu 15 hari di Indonesia guna melakukan evaluasi AS paling tidak 
menghadapi 6 pilihan untuk membuat perhitungan terhadap Indonesia dan Presiden 
Soekarno seperti ditulis oleh David Johnson:
 
-  Tidak campur tangan dengan kemungkinan Indonesia jatuh ke tangan komunis.
 
-  Mencoba berbuat sesuatu agar Soekarno mengubah politiknya yang kian ke kiri 
tetapi tidak ada hasilnya.
 
-  Singkirkan Soekarno dengan akibat yang tidak dapat diduga.
 
-  Dukung AD untuk mengambil alih kekuasaan yang telah bertahun-tahun 
dilaksanakan tetapi belum berhasil.
 
-  Usahakan memprovokasi PKI untuk melakukan aksi yang akan membuahkan 
legitimasi untuk pembasmiannya selanjutnya bergerak untuk menghadapi Soekarno.
 
-  Sebagai varian no.5 jika PKI tidak melakukannya sendiri maka alternatif ini 
perlu dilengkapi dengan segala macam rekayasa untuk mendiskreditkan PKI hingga 
terjadi situasi untuk membasmi PKI dan Soekarno sekaligus. Pilihan terakhir 
inilah yang kemudian diambil.
 
e. Kira-kira seminggu sebelum meletus G30S seluruh tenaga ahli perusahaan 
Westinghouse (AS) ditarik dari proyek PLTU Tanjung Perak Surabaya tanpa alasan 
yang jelas dan digantikan dengan tenaga dari Jepang, karena pemerintah AS telah 
mengetahui akan terjadinya G30S.
 
f. Pada tanggal 23 April 1965 Dubes AS di Jakarta Jones membuat laporan rahasia 
kepada Wakil Menlu AS Urusan Timur Jauh William Burdy yang juga tokoh CIA 
tentang rancangan kudeta di Indonesia yang disampaikan secara pribadi dan 
langsung kepadanya. Kemudian dalam telegram No.1879 tanggal 24 Mei 1965 dari 
Bangkok Jones melaporkan bahwa rencana tersebut tertunda karena para penggerak 
tidak dapat bekerja lebih cepat lagi. Jadi rencana kudeta terhadap Bung Karno 
itu memang ada dan dikendalikan oleh pihak nekolim.
 
g. Pada tanggal 30 September 1965 malam Aidit diculik oleh militer yang 
berseragam Cakrabirawa dan tidak dikenalnya dengan dalih dipanggil ke istana, 
namun ternyata dibawa ke Halim dan diisolasi di rumah Serda Suwardi, hanya bisa 
berhubungan dengan Central Komando I di Penas melalui kurir yaitu Syam 
Kamaruzaman sendiri, sehingga praktis dia tidak bisa apa-apa semuanya 
tergantung Syam intel AD dan CIA yang berhasil menyusup ke tubuh PKI untuk 
menghancurkan PKI.
 
h. Tidak ada anggota PKI yang berada dalam pasukan G30S, melainkan hanya Syam 
Kamaruzaman sendiri.
 
i. Tanggal 30 September 1965 malam kira-kira jam 22.00 Kolonel Latief telah 
melaporkan tentang rencana G30S kepada Jenderal Soeharto di Rumah Sakit Gatot 
Subroto.
 
2. Fakta-Fakta Dalam Pelaksanaan Gerakan
 
a. Pasukan yang digunakan dalam G30S didatangkan ke Jakarta dan bergerak ke 
Lubang Buaya atas perintah Kostrad.
 
b. Naskah pengumuman tentang G30S disiapkan oleh Syam dan ditandatangani oleh 
Untung dan Brigjen Suparjo yang menyatakan penyelamatan Presiden Soekarno dari 
kudeta Dewan Jenderal. 
 
c. Naskah pengumuman II dan naskah-naskah lain dibuat Syam namun tidak diteken 
oleh Untung meski namanya disebutkan jadi tidak sah dan nama Letkol Untung 
telah dicatut oleh Syam. Justru pengumuman ke-2 ini yang isinya bertentangan 
180 derajat dengan pengumuman I yaitu mendemisionerkan kabinet Dwikora, 
kekuasaan berpindah kepada Dewan Revolusi, kenaikan pangkat bagi pelaksana 
gerakan. Isi pengumuman ini sungguh telah memojokkan G30S dan kemudian 
digunakan alasan untuk menghancurkannya.
 
d. Pembunuhan para jenderal tahanan G30S baik di Jakarta maupun Yogyakarta 
dilakukan sendiri oleh pasukan yang terlibat G30S.
 
e. Tidak ada penyiksaan, pencungkilan mata, maupun penyiletan kemaluan jenderal 
oleh Gerwani maupun anggota Pemuda Rakyat, ini sesuai dengan visum et repertum 
dari tim dokter yang mengautopsi (bedah mayat) para jenderal yaitu tim dokter 
yang diketuai oleh Brigjen TNI Dr. Rubiono Kertapati dengan visum et repertum 
nomor 103, 104, 105, 106, 107, 108, 109 (untuk tujuh korban) yang menyatakan 
tidak ada bekas penyiksaan dalam tubuh korban seperti penyiksaan, pencungkilan 
mata, dan sebagainya. Hal itu juga dinyatakan oleh Presiden Soekarno dalam 
pidato pada HUT LKBN Antara tanggal 12 Desember 1965 dan pembukaan Konferensi 
Gubernur Seluruh Indonesia tanggal 13 Desember 1965.
 
f. Pada saat gerakan yaitu tanggal 30 September 1965 maupun 1 Oktober 1965, 
Lubang Buaya menjadi tempat latihan sukarelawan pengganyangan Malaysia ini 
sedang kosong karena Sukwan dicutikan oleh Komodor Udara Dewanto.
 
g. D.N. Aidit diambil dari tempat isolasinya di rumah Sersan Suwardi di Halim 
selanjutnya dipaksa oleh Syam untuk terbang ke Yogyakarta untuk akhirnya jatuh 
dalam kekuasaan agen intel AD tamatan sekolah intel AD di Bogor bernama 
Sriharto Harjomiguno yang telah menyusup dalam Biro Khusus PKI. Awal November 
1965 Aidit ditangkap dan dieksekusi oleh Kolonel Yassir Hadibroto atas perintah 
Soeharto.
 
h. Baik pada saat gerakan tanggal 1 Oktober 1965 maupun sesudahnya tidak ada 
satupun dari pemerintahan, baik pemerintah Pusat, pemerintah Daerah Tingkat I, 
Tingkat II maupun sampai Tingkat Kelurahan yang dipaksa turun oleh orang PKI 
untuk diganti dengan orang-orangnya.
 
i. Tidak ada gerakan massa PKI dimana pun yang dikerahkan guna mendukung atau 
membantu G30S.
 
j. Pada tanggal 1 Oktober 1965 malam hari RRI diambil alih oleh pasukan RPKAD 
(Kostrad) tanpa terjadi tembak menembak (damai) dan pasukan yang tadinya 
menguasai RRI (Yon 530) bergabung ke Kostrad kembali kepada induk kesatuan yang 
memerintahkannya.
 
k. Jadi memang G30S ini dirancang oleh arsiteknya yaitu Mayjen TNI Soeharto 
untuk membunuh saingan-saingannya, untuk kemudian gagal, sehingga momen 
tersebut dapat dipakai dalih untuk menghancurkan PKI dan menggusur Bung Karno.
 
l. Pada tanggal 2 Oktober 1965 Soeharto didampingi oleh Yuga Sogama dan anggota 
kelompok bayangannya mendatangi Bung Karno di Istana Bogor meminta agar Bung 
Karno memberikan kuasa kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan. Surat kuasa 
tersebut merupakan surat kuasa pertama yang mengawali kemenangan Soeharto dan 
cikal bakal terbentuknya Kopkamtib (kemudian berubah menjadi Bakorstanas), yang 
merupakan alat palu godam rezim Soeharto untuk melibas siapa saja yang 
menentang kekuasaan rezim Orde Baru Soeharto.
 
C. EPILOG.
 
Fakta-Fakta Setelah Terjadinya Gerakan.
 
1. Fakta-Fakta Kejahatan Yang Dilakukan Oleh Jenderal Soeharto
 
a. Jenderal Soeharto mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin tertinggi 
Angkatan Darat.
 
b. Jenderal Soeharto membangkang perintah dengan cara pada waktu pada waktu 
Jenderal Amir Mahmud dan Jenderal Pranoto Reksosamodro telah dihalangi ketika 
dipanggil menghadap Presiden Soekarno ke Bogor dalam situasi genting dan sangat 
menentukan.
 
c. Melakukan pembredelan mass media sehingga yang bisa terbit hanyalah harian 
Berita Yhuda dan Angkatan Bersenjata yang merupakan corong mereka guna 
menciptakan opini luas dan memonopoli kebenaran versi Soeharto.
 
d. Melakukan penangkapan, penahanan, penyiksaan, perampasan hak asasi manusia, 
melakukan pembunuhan terhadap Aidit, Lukman, Nyoto yang berstatus menteri 
sehingga berbuatan tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai makar terhadap 
pemerintahan yang sah guna melaksanakan ambisinya menggusur Bung Karno sebagai 
Presiden RI. Dengan cara yang disebut sebagai KUDETA MERANGKAK.
 
e. Menyalahgunakan Surat Perintah 11 Maret 1966 justru untuk menggulingkan Bung 
Karno, dengan menangkapi para menteri pembantu Bung Karno, memenjarakan dan 
bahkan ada yang dibunuh.
 
f. Membubarkan PKI, yang mana Bung Karno sendiri walaupun ditahan sampai mati 
tidak pernah mau membubarkan PKI.
 
g. Mengganti secara paksa para anggota DPR dan MPR yang tidak sejalan dengan 
politiknya untuk diganti dengan orang-orangnya guna melicinkan jalan menuju 
penggantian Presiden dari Bung Karno kepadanya dan membuat produk-produk hukum 
guna mendukung kekuasaannya, diantaranya TAP MPRS No.25 tahun 1966 tentang PKI 
sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah negara RI dan larangan 
menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran komunisme/Marxisme-Leninisme 
dan TAP MPRS No.33 tahun 1967 tentang pencabutan kekuasaan pemerintah Soekarno.
 
h. Melakukan pembantaian massal terhadap para tahanan yang telah ditahan dengan 
dalih pembersihan G30S dan anggota PKI, di mana lebih dari 3.000.000 (tiga 
juta) orang dibunuh tanpa proses pengadilan dan ini merupakan pembantaian 
manusia terbesar di dunia di luar perang dan sepanjang sejarah manusia berada 
di muka bumi.
 
i. Menerbitkan aturan tidak bersih lingkungan untuk merampas hak azasi manusia 
keturunan anggota PKI untuk menduduki posisi tertentu dalam pemerintahan 
misalnya menjadi TNI, POLRI dan Pegawai Negeri maupun pegawai BUMN.
 
j. Menghasut dan merekrut massa untuk dijadikan atau dipengaruhi sebagai pelaku 
pembantaian massal terhadap orang-orang PKI.
 
k. Memalsukan sejarah seolah-olah dalam G30S adalah PKI jadi kedua-duanya 
adalah satu dalam melakukan gerakan, padahal keduannya adalah berbeda sama 
sekali.
 
l. Melakukan penangkapan dan penahanan secara semena-mena tanpa proses hukum 
serta membuangnya ke Pulau Buru, Nusakambangan, Plantungan dan lain-lain tanpa 
fasilitas kemanusiaan yang cukup sehingga banyak yang meninggal dunia.
 
2. Fakta-Fakta Kejadian Lainnya.
 
PKI dalam hal ini:
 
a. Tidak ada gerakan massa PKI untuk mendukung G30S.
 
b. Tidak ada penggantian satu pun dari kepala pemerintahan mulai Kepala Des 
(Lurah), Camat, Bupati/Walikota, Gubernur maupun Presiden oleh orang PKI.
 
c. PKI tidak menguasai gedung-gedung pemerintah maupun proyek-proyek vital.
 
d. PKI tidak mengangkat senjata untuk melawan atau pun melakukan perlawanan 
bawah tanah sebagai persiapan untuk memberontak.
 
Jadi tidak ada suatu indikasi maupun bukti bahwa PKI melakukan pemberontakan 
dan makar terhadap pemerintah yang sah baik di tingkat pusat maupun daerah.

7. KESIMPULAN.
 
a. Dari kesimpulan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:
 
-  Peristiwa 65 adalah merupakan kudeta (makar) yang dilakukan oleh Jenderal 
Soeharto dengan disponsori secara aktif oleh Amerika Serikat, Inggris, 
Australia (Blok Barat) untuk menyingkirkan Presiden Soekarno dan 
pengikut-pengikutnya dengan diikuti peristiwa pelanggaran HAM berat berupa 
penangkapan, penahanan, penyiksaan, pembunuhan (penghilangan paksa), dan 
mendiskriminasi mereka termasuk keturunannya.
 
-  Bahwa Jendera A. Yani cs dibunuh atas rekayasa dan skenario Jenderal 
Soeharto, guna melancarkan jalan upaya kudetanya.
 
-  Bahwa untuk menguasai dan membentuk pendapat umum, Jenderal Soeharto mulai 
pada tanggal 2 Oktober sampai tanggal 10 Oktober 1965 melakukan pembredelan 
(larangan terbit) tanpa hak kepada semua surat kabar kecuali harian Berita 
Yudha dan Angkatan Bersenjata yang digunakan sebagai corong propaganda mereka 
dan telah melansir dan membesar-besarkan berita bohong serta fitnah yang keji 
seolah-olah telah terjadi penyiksaan, penyiletan kemaluan jenderal-jenderal 
yang diculik ke Lubang Buaya, dicungkil matanya sambil melakukan pesta seks 
yang disebut “Pesta Harum Bangsa” oleh Pemuda Rakyat dan Gerwani.
 
-  Akibat fitnah dan berita bohong ini telah menyulut rasa antipati dan 
histeria massa untuk menghukum orang yang dicurigai sebagai PKI, dan dipakai 
landasan menfitnah bahwa orang PKI itu amoral, atheis, kafir dan lain-lainnya 
yang jelek, sehingga perlakuan apa saja dianggap halal dan boleh diterapkan 
semaunya.
 
-  Bahwa Bung Karno telah ditahan dan mengalami penyiksaan fisik dan psikisnya 
sampai beliau meninggal dunia.
 
-  Bahwa PKI sebagai kekuatan politik besar yang menang secara demokratis telah 
secara sistematis dihancurkan oleh kekuatan militer Angkatan Darat atas 
perintah Soeharto.
 
-  Bahwa untuk dapat melanggengkan kekuasaanya Jenderal Soeharto dan 
kroni-kroninya telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan yang 
cacat hukum antara lain: Tap MPRSNo.25 tahun 1966, Tap MPRS No.33 tahun 1967 
tentang Aturan Bersih Diri, Bersih Lingkungan serta aturan-aturan lain yang 
diskriminatif dan nyata-nyata tidak sejalan dengan norma agama, norma UUD 1945 
maupun norma-norma dalam Pancasila serta bertentangan dengan norma-norma yang 
berlaku universal di seluruh dunia.
 
-  Secara singkat dan tegas dapat dikatakan bahwa Jenderal Soeharto telah 
melakukan kejahatan sebagai berikut:
 
1)      Melakukan makar (kudeta) terhadap pemerintahan yang sah.
2)      Melakukan pelanggaran HAM berat.
3)      Melakukan kebohongan publik.
4)      Melakukan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
5)      Melakukan penyimpangan atas makna Surat Perintah 11 Maret 1966.
 
Semua kejahatan harus diadili dan dihukum setimpal dan korbannya harus 
direhabilitasi, diberikan kompensasi maupun restitusi, baik menyangkut harkat 
dan martabat maupun harta milik dan haknya.
 
b. Dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (UU 
KKR), maka fakta-fakta dan kebenaran seperti yang terungkap di atas harus dapat 
dijadikan bahan pelurusan sejarah nasional sehingga kebenaran bisa ditegakkan 
dan kehormatan dapat dipulihkan.
 
c. Guna lebih dapat melengkapi data yang ada maka tiap-tiap daerah harus 
berusaha untuk memiliki data yang akurat baik tentang peristiwa, korban maupun 
pelaku untuk dijadikan bahan sebagaimana tercantum di dalam UU KKR.
 
***
ps: Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65,   
Klik: http://www.progind.net/
 
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/








Informasi tentang KUDETA 65/ Coup d'etat '65, Klik: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 





                
---------------------------------
Yahoo! for Good
 Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke