** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** ** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** ** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com ** http://www.indomedia.com/bpost/092005/26/opini/opini3.htm
Kado Istimewa Yudhoyono SUKA tidak suka, kita semua harus menghadapi kenyataan pahit bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) sudah dipastikan bakal naik pada 1 Oktober mendatang. Inilah 'kado istimewa' pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada rakyat Indonesia, menjelang setahun menakhodai republik ini. Tentunya, kita meyakini dalam situasi seperti ini, Yudhoyono dan Kabinet Indonesia Bersatu-nya, tidak memerlukan banjir ucapan selamat. Dan, kita bersama yakin para pengambil kebijakan di republik ini, tentunya merasa belum mampu memberikan yang terbaik selama mendapat mandat mengelola negeri ini. Kita memahami naiknya Yudhoyono bersama Jusuf Kalla ke tampuk kekuasaan melalui pemilihan presiden langsung, Oktober tahun silam, telah membawa konsekwensi politik. Realitas yang kita saksikan selama ini bahwa masih adanya rasa 'sakit hati' di antara elit kita --khususnya pasca pemilihan presiden lalu. Betapa, dukungan mayoritas rakyat terhadap Yudhyono-Kalla ternyata belum mampu menekan 'arogansi' para elit politik --yang secara tersirat merasa dirinya jauh lebih baik ketimbang penguasa saat ini. Itu pula sebabnya, mereka kini lebih suka ceriwis ketimbang memberikan jalan keluar dalam mengatasi persoalan bangsa. Dalam situasi seperti ini, mestinya kita tidak perlu saling menyalahkan dan merasa paling hebat atau pintar. Yang dibutuhkan dalam kondisi saat ini adalah bagaimana kita memahami dan mencari akar persoalan bangsa ini. Tidak ada kata yang paling tepat, selain mari bersama berpegangan tangan mengatasi persoalan bangsa ini. Kenaikan BBM, memang keputusan pahit yang harus diambil pemerintah. Mengapa harian ini bersikap seperti seperti ini, karena memang kita harus menghadapi kenyataan --yang tidak bisa diatasi dengan hanya dengan hitung-hitungan. Ada banyak faktor mengapa kebijakan tidak populis itu harus diambil. Namun, sebuah gambaran sederhana bahwa jumlah subdisi BBM yang ada saat ini mencapai Rp113 triliun. Jika ini tetap dipertahankan, seperti argumen pemerintah, jelas negara ini akan kolaps. Apalagi, angka subsidi BBM sebesar gajah itu, yang lebih banyak menikmatinya adalah mereka yang berpunya. Dan, ini kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Mereka yang berkecukupan dan memiliki banyak mobil mewah ikut menikmati subdisidi --yang mestinya menjadi 'jatah' golongan menengah-bawah. Kalau kemudian elit berbicara ketus tentang kenaikan harga BBM kedua kalinya oleh Yudhoyono dalam kurun waktu enam bulan terakhir, tentunya perlu dipertanyakan atas nama siapa sebenarnya dia bicara. Kalau untuk sebuah kepentingan politik, persoalan jelas menjadi sangat lain, ketika persoalan BBM ditarik dalam wacana tersebut. Di sini mestinya elit politik harus bisa memberikan pemahaman, tidak hanya mencekoki rakyat dengan jargon-jargon kerakyatan. Hendaknya para elit juga memberikan pemahaman bahwa sudah saatnya bangsa bisa belajar hidup dalam suasana 'ketidaknyamanan'. Persoalan nilai tukar rupiah, BBM adalah sebuah mata rantai yang tidak berhenti pada satu titik. Ada banyak titik simpul yang memang harus kita sikapi dengan nalar yang logis dan rasional. Kita hidup dalam sebuah bangsa dunia bukan hanya sebuah kata Indonesia semata. Adanya banyak peran dari bangsa-bangsa di dunia ini yang menentukan dan menjadikan sebuah isu kecil menjadi sebuah problem global. Itu sebabnya, kita semua jangan hanya berpola fikir sektariantal, namun juga harus melihat akar persoalan sebenarnya. Kenaikan harga BBM, sangat terkait dengan fenomena harga minyak dunia. Dan, ini tidak terbantahkan. Kalaupun ada banyak alternartif yang ditawarkan dari kaum cendekia agar harga BBM tetap pada tingkat saat ini, bukan berarti tidak ada konsekwensi ekonomis-politis. Bagaimanapun semua ini memiliki titik simpul yang tidak hanya bisa berhenti kala sampai pada satu titik simpul. Kalaupun akhirnya harga BBM memang akhirnya naik pada 1 Oktober nanti, yang perlu kita sikapi ke depan, apakah pemerintah Yudhoyono masih tetap 'loyo'. Kalau itu tetap terjadi, pertanyaannya, siapa sebenarnya yang salah. Pemerintah atau rakyat pemilih? Kalau kedua-duanya salah, sudah saatnya kita anak bangsa ini melakukan tobat nasuha! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Website resmi http://www.ppi-india.org ** ** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

