Tadinya sebelum membaca artikel di bawah, saya kira kejadian seperti itu
hanya
terjadi di sektor swasta. Banyak perusahaan yang menerapkan sistem sub-con
kepada perusahaan lain (kadang bernama 'Yayasan' penyalur tenaga kerja).
Gak tahunya ada contohnya toh? :-(

Ada yang gajinya hanya 250-280 ribu PER BULAN. Dan hanya dapat 'uang lembur'
bahkan belum tentu cukup untuk ongkos naik ojek, apalagi untuk menjaga
kesehatan
akibat lembur. Padahal mereka harus kerja lebih lama dan di luar ketentuan
Depnaker -
40 jam seminggu.

Ironis.. Gubernur saja menetapkan yang namanya UMR. Percaloan tenaga kerja
sejenis memang mencekik dan menghisap darah wong cilik. Masa sih pihak
Istana
(Pres dan WaPres) tidak tahu soal ini? Yang ada malah harapan mereka
diabaikan..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

Pada tanggal 9/27/05, Ambon <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/27/Politikhukum/2081735.htm
>
> Perhatikan Kami Dulu yang di Dalam
>
> Tata, salah seorang cleaning service, bekerja di lingkungan Istana
> Kepresidenan.

Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan nomor telepon
> pribadinya,

Juni lalu, Tata termasuk rakyat yang langsung mengirim pesan layanan pendek

(short message service/SMS) ke nomor Presiden 9949, lewat telepon bekas yang
>

dibelinya sangat murah sekali.
>
> Isi SMS-nya meminta agar Presiden memerhatikan nasib pekerja harian di
> lingkungan

Istana Kepresidenan. "Saya ingin Presiden memerhatikan nasib kami sebelum
> Presiden

memerhatikan nasib mereka yang ada di luar Istana. Kalau Presiden bisa
> menyejahterakan

kami, tentu Presiden juga bisa menyejahterakan rakyatnya dari Sabang sampai
> Merauke,"

ujar Tata.
>
> Menurut anggota staf khusus Presiden Yudhoyono bidang hukum dan
> pemberantasan

korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), yang juga merangkap pengelola PO Box
> dan SMS,

Sardan Marbun, SMS Tata termasuk kategori yang tidak bisa ditanggapi.
> Presiden Yudhoyono

hanya menanggapi isi SMS yang terkait pada kepentingan nasional dan
> kesejahteraan

banyak orang.
>
>
> "Kebijakan yang akan diambil Presiden bukan hanya untuk kesejahteraan
> secara individual

orang per orang dan kelompok, tetapi secara menyeluruh dan bersifat
> nasional. Karena itu,

Presiden tidak menjawabnya. Seperti halnya Presiden juga tidak menanggapi
> SMS yang

meminta uang dan meminta diberikan handphone," kata Sardan ketika ditanya
> soal SMS

tersebut hari Jumat (23/9) lalu di Kantor Presiden.
>
> Tata boleh saja kecewa. Namun, memang, Presiden tak boleh hanya memikirkan
> kepentingan

segelintir orang. Maka, pekerja harian yang dikontrak PT Tri Sejahtera dan
> tak mau disebutkan

namanya secara lengkap ketika diwawancarai Kompas itu tak bisa berbuat
> apa-apa.

Harapannya mengirim SMS akan mendapat perbaikan penghasilan pupus. Ia kini
> harus menjalani

rutinitasnya kembali sebagai cleaning service dengan honor yang amat kurang
> di tengah-tengah

kehidupan metropolitan.
>
> Perusahaan tempatnya bekerja adalah salah satu perusahaan jasa kebersihan
> yang dikontrak

Sekretariat Negara (Setneg) untuk mengerjakan kebersihan dan pelayanan umum
> di Istana Merdeka,

Istana Negara, dan Kantor Presiden. Setidaknya ada tiga perusahaan jasa
> cleaning service yang

disewa Setneg, yakni Tri Sejahtera, PT Wikumas, dan satu perusahaan lainnya.
>
> "Saya sudah bekerja tiga tahunan lebih, tetapi honor saya masih Rp 250.000per 
> bulan. Kalau ada

lemburan, saya bawa pulang sekitar Rp 300.000 hingga Rp 350.000 setiap
> bulan. Boro-boro tunjangan

kesehatan, transportasi aja kagak ada," ujar Tata, yang rumahnya di pelosok
> Bekasi.
>
> Menurut Tata, nasibnya lebih beruntung karena dia baru bekerja tiga
> tahunan. "Masih ada teman-

teman saya yang kerjanya sudah puluhan tahun di sini, tetapi honornya sama,
> masih Rp 250.000

per bulannya. Paling besar mereka terima Rp 350.000," ujar Tata.
>
> Tata memang tidak sendirian. Di tempat Wakil Presiden Muhammad Jusuf
> Kalla, banyak juga

karyawan honorer Sekretariat Wapres yang gajinya seperti Tata. Honornya Rp
> 280.000 per

bulan. Sedangkan honor cleaning service jauh lebih kecil lagi, yaitu hanya
> Rp 150.000 per bulan.
>
> "Kalau di Wapres ada acara besar dan kami harus bantu, honornya ditambah
> Rp 10.000 per hari.

Jadi, kadang-kadang kami bawa pulang untuk anak istri Rp 200.000-Rp
250.000per bulan,"

ujar Ujang-sebutlah begitu-cleaning service PT Jakarta Service Company (JSC)
> yang disewa

Sekretariat Wapres. Selain JSC, perusahaan jasa kebersihan yang disewa
> Sekretariat Wapres

adalah PT Kurnia.
>
> Suka atau tidak suka, tentu mereka harus menjalaninya. Di tengah lapangan
> pekerjaan yang

sulitnya setengah mati, pekerjaan sebagai cleaning service apa boleh buat
> harus dilakukan.

Orang-orang seperti Tata dan Ujang memang hanya tamatan sekolah menengah
> umum (SMU)

yang tidak mampu meneruskan sekolah lebih lanjut. Masih jutaan orang yang
> nasibnya seperti

Tata dan Ujang.
>
> Bekerja di lingkungan Istana Kepresidenan hanyalah salah satu pilihan
> pekerjaan. "Orang kampung saya

tahunya saya kerja di Istana. Dikira gajinya gede, tetapi nyatanya susah
> banget. Kalau Presiden rapat

berjam- jam atau ada acara hingga larut malam, saya terpaksa harus keluar
> ongkos lebih mahal lagi

karena kendaraan umum sudah tak ada. Yang ada hanya ojek," ujar Tata, yang
> jika lembur mendapat

tambahan Rp 10.000 per hari.
>
> Jika dibandingkan dengan penghasilan orang-orang baru yang notabene bukan
> pegawai negeri sipil,

tetapi kini tiba-tiba mempunyai tanda pengenal bintang yang dikeluarkan
> Setneg dan bekerja di

Istana Kepresidenan dan Wapres-setelah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf
> Kalla menjadi Presiden

dan Wapres-tentu tidak sama.
>
> Di Istana Presiden, orang- orang baru yang mengenakan tanda bintang itu
> minimal mendapat honor

Rp 2,5 juta per bulan-belum tunjangan transportasi dan handphone
> lainnya-sedangkan di Istana Wapres

minimal Rp 1 juta.
>
> Kalau Presiden Yudhoyono dalam hal pemberantasan KKN pernah menyatakan
> akan memulainya dari

lingkungan "rumah"-nya sendiri, tentu juga beralasan jika para cleaning
> service dan pegawai honorer

lainnya di Istana berharap Presiden dan Wapres itu memulainya juga dengan
> menyejahterakan

lingkungan "rumah"-nya sendiri, khususnya bagi pegawai kecil dan pekerja
> harian seperti Tata dan

Ujang. (SUHARTONO)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/j2WM0C/PbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke