http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/28/opini/2083138.htm

 
Genealogi Politik Energi 

Oleh: YASRAF AMIR PILIANG



Kelangkaan bahan bakar minyak tanah, solar, bensin, dan energi listrik 
akhir-akhir ini telah menimbulkan kecemasan, keputusasaan, dan paranoia yang 
hebat di masyarakat, yang menggiring pada berbagai tindakan panik dan rush 
(menimbun, memborong, mengantre), bahkan berakhir dengan kekerasan dan 
kerusuhan (membajak, menyandera, mencuri, dan membakar).

Kondisi kelangkaan yang berlangsung dalam waktu lama dapat menggiring pada 
"krisis energi" yang parah, yang mencerminkan ketidakmampuan berbagai institusi 
terkait melakukan "normalisasi energi", berupa jaminan ketersediaan energi 
nasional-misalnya melalui upaya penemuan energi pengganti-sehingga tidak 
mengganggu berbagai proses ekonomi, industrialisasi, produksi, dan konsumsi 
pada umumnya.

Bahkan, ketidakmampuan menyelesaikan krisis energi secara sektoral telah 
menggiring pada situasi "mundur" ke keadaan primitif (regression), disebabkan 
ketidaksiapan melakukan proses inovasi, perubahan, reformasi atau transformasi 
energi, akibat tidak mampunya dikembangkan kesadaran dan politik energi yang 
bersifat visioner dan komprehensif, dengan kesiapan mengantisipasi berbagai 
kemungkinan krisis jauh hari sebelumnya-the politics of energy.

Dalam ketiadaan visi ke depan, politik energi yang berkembang adalah politik 
energi yang dipenuhi aneka korupsi, pemalsuan realitas, simulasi, penipuan, 
penyalahgunaan otoritas, penyelundupan, dan pengayaan diri yang tanpa etika. 
Semua kebobrokan itu disembunyikan dari pengetahuan dan domain publik, dengan 
mengemasnya secara apik atas nama "kepentingan energi nasional"-the 
hyperreality of energy.

Ironisnya, dalam kondisi kepanikan bangsa menghadapi krisis energi yang 
mencemaskan, orang-orang tertentu yang tidak memiliki sama sekali rasa 
nasionalisme justru menimbun, menggelapkan, menyelundupkan dan menjual bahan 
bakar minyak (BBM) ke luar negeri, demi keuntungan. Mereka semua layak dicap 
sebagai "teroris energi", yang berperan besar dalam menciptakan kepanikan dan 
kegalauan bangsa-terrorism of energy.

Genealogi institusional

Michel Foucault, dalam Power/Knowledge (1986) menjelaskan mengenai konsep 
"genealogi institusional" (institutional genealogy), yaitu cara membongkar 
relasi konstruktif antara pengetahuan (teknologi, ekonomi, legal) dan kekuasaan 
(power) dalam aneka institusi sosial-termasuk institusi energi nasional-untuk 
melihat bagaimana politik kekuasaan menentukan model wacana (tentang energi), 
serta pengetahuan yang berkembang tentang itu-the discourse of energy.

Politik energi sejak Orde Baru adalah politik sentralistik, bahkan totaliter, 
yang di dalamnya berbagai kebijakan tentang energi nasional ditentukan oleh 
elite kekuasaan, yang mempunyai otoritas tunggal menentukan produksi, 
distribusi, dan konsumsi energi. Mereka tidak hanya mempunyai otoritas mengatur 
energi, tetapi sekaligus juga menjadikannya sebagai lahan pengayaan diri, 
dengan mengabaikan kepentingan publik sebagai subyek pembangunan energi-the 
subject of discourse.

Dalam politik energi totaliter itu, "energi" kehilangan dimensi "manusia" dan 
"sosial"-nya. Manusia sebagai subyek tidak pernah diberi kesempatan untuk 
memberi "makna" pada energi itu sebagai sebuah wacana, misalnya wacana 
pengetahuan dan kesadaran tentang energi tak terbarukan (unrenewable energy) 
beserta ancaman masa depannya. Energi diproduksi sebagai "murni komoditas", 
sehingga berbagai problem manusia dan sosial yang ditimbulkannya diabaikan.

Sebagaimana dikatakan Donella H Meadow (et.al) dalam Beyond the Limit: Global 
Collapse or Sustainable Future (1995), disebabkan politik energi tidak pernah 
melibatkan publik-yang justru dikondisikan menjadi konsumen murni energi-maka 
yang berkembang adalah gaya hidup "konsumerisme energi", yang dalam jangka 
panjang menimbulkan kondisi konsumsi yang melampaui batas (overshoot), 
seakan-akan energi itu tak berbatas- consumerism of energy.

Ironisnya, dalam ketiadaan visi itu, politik energi nasional justru menjadi 
"hamba" dari politik energi global, yang di dalamnya ketimbang berperan aktif 
menentukan wacana energi global, justru menjadi obyek politik energi itu. 
Krisis energi global saat ini sebenarnya bukan disebabkan habisnya cadangan 
minyak bumi, tetapi lebih disebabkan politik energi global, yang berbagai efek 
politiknya-seperti perang-telah mengganggu ketersediaan energi global.

Wacana energi baru

Kelangkaan aneka bahan bakar akhir-akhir ini telah menciptakan sebuah situasi 
diskontinuitas, yaitu terputusnya rantai produksi, distribusi, dan konsumsi 
energi nasional, yang-seperti efek domino-menyebabkan pula diskontinuitas dalam 
proses pembangunan bangsa dan dunia kehidupan pada umumnya, dengan terganggunya 
berbagai proses kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kultural-discontinuity 
of energy.

Diskontinuitas energi nasional tidak saja menimbulkan aneka situasi panik, 
tetapi sekaligus menumbuhkan formasi wacana baru tentang energi (new discourse 
formation), yaitu berkembangnya wacana tentang aneka kemungkinan pengetahuan 
baru (sains, teknologi, industri) tentang energi, misalnya wacana pengembangan 
aneka energi alternatif, seperti bio-diesel, energi angin, energi air, briket 
batu bara, dan berbagai energi terbarukan lain.

Wacana baru tentang energi melibatkan pengetahuan praproduksi (budidaya tanaman 
atau hewan sebagai bahan baku energi), produksi (penyulingan, penyaringan, 
rifenement) distribusi (sistem pengemasan dan pengiriman) serta konsumsi 
(penggunaan secara individual). Wacana baru energi ini menuntut berbagai 
perubahan formasi wacana, baik pada tingkat relasi sosial, kekuasaan, 
institusional, dan gaya hidup, melalui politik energi baru-new energy politics.

Politik energi baru akan menentukan kebijakan makro dan mikro tentang produksi 
dan konsumsi energi di masa depan: apakah produksi energi bersifat sentralistik 
atau desentralistik, berskala besar/terkonsentrasi atau berskala 
kecil/tersebar, padat modal atau padat karya, berbasis kapital (kapitalisme) 
atau komunitas (koperasi), bersifat elitis atau populer, berbasis jender atau 
patriarki?

Genealogi politik energi masa lalu yang korup, penuh tipuan, kepalsuan, 
simulasi, dan hyper-real hendaknya dapat menjadi pelajaran berharga dalam 
menyusun agenda politik energi di masa depan, yang di dalamnya rakyat hendaknya 
tidak lagi dijadikan sebagai obyek pasif, tetapi menjadi subyek aktif dari 
politik energi sehingga dapat berperan di dalam aneka kebijakan energi 
nasional-the subject of discourse.

Yasraf Amir Piliang Ketua Forum Studi Kebudayaan (FSK) FSRD, Institut Teknologi 
Bandung


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke