Oka widana bankir (kelas) apa dulu...tidak semua yang kerja di bank 
bisa disebut bankir....kalu dia bankir beneran pasti tidak mau BBM 
naik.



'salam


--- In [email protected], "Farid Gaban" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dede (Nugroho),
> 
> Terima kasih. Tapi, ndak papa tulisan itu dibajak... Tulisan itu
> memang dibikin supaya dibajak, kok... Dalam hal ini saya tidak
> menetapkan copyright, tapi copyleft.
> 
> Tambahan-tambahan yang lucu itu juga oke saja, dan saya setuju.
> 
> Tentang komentar sdr. Oka Widana, tolong tanggapan balik ini 
dikirim
> kepada beliau. 
> 
> Saya sebenarnya sedikit kesulitan mengomentari balik karena yang 
sdr
> Oka kemukakan cuma common sense. Tadinya, saya berharap, karena dia
> bankir, dia bisa memberi angka-angka pembanding yang lebih eksak.
> Anyway....
> 
> 1. Ekspor Migas
> 
> Data ekspor migas saya ambil dari departemen yang paling 
berkompenten:
> departemen energi dan sumber daya mineral. Sdr. Oka tak memiliki 
data
> pembanding. Dalam soal minyak memang kita net-exporter sekarang, 
tapi
> gas kita masih berkibar.
> 
> 2. Soal BLBI dan Obligasi Rekap
> 
> Diselesaikan dengan skema BPPN tempo hari? He... hee.. Jawaban khas
> bankir (no hard feeling, saya juga nasabah Bank Permata juga, 
lho). 
> 
> Secara hukum mungkin yes. Secara moral, no. (Dan tidakkah ini
> mencerminkan kolusi yang nyata antara pemerintah dan dunia 
perbankan?) 
> 
> Recovery rate BPPN kurang dari 30% (dan itu belum dikurangi fee,
> komisi dan sebagainya). Siapa membayar defisit 70% dari Rp 700
> triliun? Jin dari negeri ghaib?
> 
> Di negeri paling kapitalis pun tidak ada cerita utang swasta 
dialihkan
> menjadi utang publik. 
> 
> Bail-out perbankan di Indonesia paling besar dalam sejarah krisis
> keuangan di dunia. Dan itu kini dibebankan kepada publik, trmasuk
> orang miskin yang tak pernah berhubungan dengan bank, apalagi 
pernah
> mendapat kredit dari bank yang susah bukan main.
> 
> Costs of Financial Restructuring (% GDP) - Data IMF 2000
> Indonesia 47
> Thailand 29
> Chile 29
> Mexico 19
> Korea 17
> Sweden 4
> US 2
> 
> 3.  Sulit memperjuangkan penghapusan utang?
> 
> IMF punya kebijakan menghapus utang 100% bagi negeri-negeri yang 
masuk
> klasifikasi Heavily Indebted Poor Countries (HIPC). Yakni,
> negeri-negeri yang rasio utang terhadap ekspor lebih besar dari 
150%
> dan rasio pembayaran utang terhadap ekspor lebih dari 15%. 
> 
> Indonesia punya rasio kehutangan lebih tinggi dari itu semua. Pada
> 1998, setahun setelah krisis, rasio utang terhadap ekspor mencapai
> 251%, sementara rasio pembayaran utang terhadap ekspor mencapai 
33%.
> 
> Tapi, meski Bank Dunia menempatkan Indonesia dalam kategori SILIC
> (severely indebted low income countries)--lapis terbawah dari
> pengutang terberat di dunia--Indonesia dikeluarkan dari skema
> penghapusan utang itu.
> 
> Soalnya adalah tidak pernah ada perjuangan dari kalangan pemerintah
> untuk menegosiasikan penghapusan utang ini. 
> 
> Banyak LSM di Eropa dan Amerika, yang prihatin melihat rendahnya
> belanja sosial (untuk pendidikan dan kesehatan) di Indonesia karena
> uangnya habis untuk membayar utang, berkampanye untuk penghapusan
> utang negeri kita.
> 
> Tapi, para aktivis LSM itu seperti ditampar berulang-ulang ketika
> berkali-kali pejabat Indonesia mengatakan secara bangga: "Kami 
mampu
> membayar utang!"
> 
> 4. Subsidi vs Utang
> 
> Saya persilakan Sdr. Oka membuka-buka APBN dan RAPBN sejak 2003 
sampai
> 2006, sumber-sumber data yang saya pake. Bisa diakses dari situs
> Depkeu dan BI. Coba deh liat pos-pos pengeluaran pentingnya dan 
saya
> pengin tahu kesimpulannya. Jangan hanya common sense; lihat dan 
selidiki.
> 
> 5. Belanja Sosial yang terus Merosot
> 
> Belanja sosial di Indonesia salah satu yang terendah di dunia.
> Prosentase belanja untuk sektor pendidikan dan kesehatan kita 
terhadap
> GDP lebih rendah dari Srilanka, Bostwana dan Namibia.....
> 
> Komparasi seperti ini bisa dibaca dalam laporan UNDP dari tahun ke
> tahun. Mudah diakses di internet. Sekali lagi, bicaralah dengan 
angka
> supaya tidak terlalu abstrak.
> 
> 6. Inflasi dan Beban Pengeluaran Rakyat
> 
> Sdr Oka mengatakan: kalo harga BBM katakanlah naik 100%, apa harga2
> juga naik 100%?
> 
> Tentu saja tidak paralel seperti itu. Tapi, coba lihat sebuah 
survai
> di bawah ini yang dibuat oleh Bank Indonesia cabang Denpasar:
> 
> Hasil Survai Bank Indonesia Denpasar dampak kenaikan BBM Maret 2005
> lalu terhadap pengeluaran rumah tangga di Kabupaten Badung, 
Denpasar
> dan Gianyar (200 responden).
> 
> Secara riil beban hidup masyarakat naik hingga 43,8%, walaupun 
angka
> inflasi hanya dua persen.
> 
> Bahan makanan naik hingga 62%
> Gas dan bahan bakar naik 81%, 
> Perumahan naik 50%
> 
> (Sumber Data: Kantor Berita Antara, 29 September 2005)
> 
> 7. Kompensasi untuk Rakyat dan Kompensasi untuk Bisnis
> 
> Kompensasi untuk rakyat miskin: Rp 4,7 triliun (dibagi 60 juta 
orang)
> Kompensasi/subsidi untuk dunia usaha: Rp 20,5 triliun (dibagi
> segelintir pengusaha)
> 
> Sekali lagi coba lihat neraca APBN kita dan selidiki. Jangan cuma
> menduga-duga.
> 
> Oke. Itu dulu.
> 
> salam,
> Farid Gaban




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke