sebagai sesama manusia, humanis, 
 
ingin saya men-sarankan kpd anda semua (yang pro pki) yang pada 1965 masik 
anak2 atau belum lahir, pelajarilah informasi mengenai hal yg anda persoalkan 
itu dari dua pihak yg waktu itu berseberangan, supaya anda2 tidak salah 
kalkulasi dan terjebak dalam "front" anda dan lalu kalah lagi untuk yg ke dua 
kalinya.
 
jangan apriori bahwa cerita ortumu sebagai sumber informasi utama itu 100% 
benar, tidak kecil kemungkinan bahwa sumber infomu itu bersifat subyektip, 
salah sisi pandang, sentimen, dendam, berat sebelah, tidak lengkap dsb.
 
pramudya ananta tur adalah contoh positip menurut saya, yg dapat mengisi sisa 
hidupnya dengan makna, tanpa membiarkan jiwanya ikut beringas membalas dendam 
sejarah yg mungkin sama2 palsunya. 
 
 


Arif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

    30 September 2005


Coup '65: Pembunuhan Atas Demokrasi
Oleh :  Wilson


"Kemenangan dengan memakan korban besar adalah kekalahan dalam bentuk lain".
Demikian ucapan M.R Siregar pengarang buku "Tragedi Manusia dan Kemanusiaan"
di Amsterdam  ketika bertemu penulis ditahun 1996. Ucapan itu untuk
mengambarkan bagaimana peristiwa Gestok 1965 tidak  saja mengkibatkan
pembantaian  terkejam dalam sejarah Indonesia atas kemanusiaan, tapi lebih
dalam lagi, terjadi suatu pembunuhan atas demokrasi.

Menjelang 40 tahun peristiwa Gestok, maka selayaknya, kita  juga menuntut
para pelaku utama yang melakukan 'pembunuhan atas demokrasi' secara
berantai, sistematis dan berdarah-darah tersebut untuk dimintai keterangan
tentang 'motif' atau 'ideologi' apa, siapa saja yang terlibat, untuk
kepentingan siapa, dan siapa sekutu-sekutunya untuk melakukan suatu
'skenario pembunuhan' berantai atas demokrasi.

Pembunuhan demokrasi tahun 1965 dapat dilihat sebagai suatu awal dari
pembunuhan berantai atas  berbagai sendi demokrasi, karena sesudah itu,
pembunuhan demokrasi dilegalisir  dengan serangkaian undang-undang,
kebijakan, peraturan, Tap MPRS serta di institusionalkan dengan berbagai
institusi seperti TNI, BIA,  Bakin, Bakorstanas, Dwi Fungsi ABRI,
pengadilan, kejaksaaan, pemenjaraan, pembunuhan politik dan bahkan kamp
kerja paksa  di Pulau Buru.

Sekarang ini, setelah 7 tahun transisi demokrasi, semakin terlihat bahwa
para pelaku pembunuhan demokrasi ditahun 1965 tersebut sudah tidak lagi
secara' fisik'  menguasai alat-alat kekuasan politik. Tapi ideologi,
gagasan, prilaku dan watak  dari pelaku utama  tersebut  masih hidup dan
'dialih oper' kedalam isi kepala dan praktek para pemegang kekuasan di
eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Praktek dan gagasan yang  merupakan revitalisasi para pelaku politk yang
dulu membunuh demokrasi di tahun 1965 dapat kita lihat misalnya dari
fakta;Kalahnya gugatan  para korban 65 di PTUN; Upaya kriminalisasi ideologi
dalam  rencana revisi KUHP; Penolakan pencabutan Tap MPRS No 25 tahun 1966;
dan  UU KKR  yang  ujungya akan memberikan impunitas dan amnesti pada para
pelanggar Ham kelas berat. . Dan masih banyak lagi perilaku, kebijakan dan
gagasan anti demokrasi yang dipertahankan dengan  memanfatkan peristiwa
Gestok. Sebetulnya  upaya penghancuran PKI hanyalah  sasaran antara, sasaran
utamanya adalah membunuh demokrasi. Sasaran utama itu  sudah terbukti selama
32 kekuasan Soeharto.

Sekarang ini tampak  jelas terjadi upaya revitalisasi  untuk  kembali
'membunuh' bayi demokrasi yang baru lahir dengan cara-cara yang
'pseudo-konstitusional'. Revitalisasi dan regenerasi para 'pembunuh
demokrasi'  difase transisi demokrasi sudah jelas tujuanya; menjadikan
transisi demokrasi menjadi jalan buntu; Membunuh demokrasi dengan mendorong
dan membiarkan anarkisme; Membunuh demokrasi dengan jalan membiarkan  milisi
sipil meneror gagasan pluralisme dan institusi yang mendukungnya'; membunuh
demokrasi dengan membiarkan institusi demokrasi menjadi busuk.

Tentu saja, kita tidak akan membiarkan demokrasi dinegeri ini dibunuh dua
kali. Dari proses revitalisasi kekuatan 'anti demokrasi' didalam negara,
tampak jelas salah satu sumber kekuatan mereka adalah karena 'menguasai
ruang politik seoptimal mungkin'. Dengan menggunakan partai-partai yang ada,
birokrasi, DPR, DPD, DPRD dan berbagai prosedur dan  mekanisme politik
elektoral.  Karena itu adalah sebuah ilusi besar bila kita keliwat banyak
menggantungkan harapan  pengungkapan kasus Gestok dan memberikan keadilan
pada 'para korban 1965' pada institusi-institusi politik yang kita tahu
hanya berpura-pura demokratis dan tidak dibawah pengaruh, kontrol atau
berpikir dibawah gagasan-gagasan  demokrasi dan kepentingan para korban.

Karena Gestok 1965 adalah pembunuhan atas demokrasi maka tugas untuk
mengungkap, mengadili dan meminta keterangan dari para pelaku dan institusi
politik yang terlibat dalam kejadian tersebut ADALAH TUGAS SELURUH UNSUR
GERAKAN DEMOKRASI.

Selama ini  ada kesan  gerakan demokrasi melihat peristiwa 1965 secara
sempit sebagai persoalan para korban Gestok atau PKI dan negara orba (baca
tentara). Gagal memahami bahwa kejadian gestok adalah sebuah perang terbuka
antara demokrasi dan kekuatan anti demokrasi.

Setelah 40 tahun  tragedi Gestok, sudah saatnya bagi kaum demokrat kita
untuk keluar dari 'selubung sempit', bahwa urusan Gestok dan korban 65
adalah  urusan antara  rejim Orba/negara Orba dan para korban. Marilah kita
berpikir labih maju lagi  bahwa bahwa soal korban 65 dan Gestok adalah soal
pertarungan demokrasi versus  anti demokrasi. Dengan  berpikir seperti ini,
maka SUDAH MERUPAKAN KEWAJIBAN bagi segenap kekuatan demokratis untuk
memulai transisi demokrasi dengan meminta pertanggungjawaban  PADA PARA
PELAKU  yang terlibat, terutama pada jajaran  pengambilan keputusan politik,
baik di sipil maupun militer.

Tentu saja tidaklah mudah untuk melakukan upaya itu semua, selain adanya
ruang demokrasi ada syarat-syarat lain yang belum dipenuhi yaitu, belum
adanya 'kekuatan riil'  yang teroganisir dari elemen demokrasi dan belum ada
'alat-alat politik riil' yang dibentuk dan dikuasai oleh kekautan demokrasi
yang masih terserak.

      ***


---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


    Visit your group "nasional-list" on the web.
  
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------



                
---------------------------------
Yahoo! for Good
 Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke