http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=2705


Kenapa Harus Bersedih Sarjana Agama?
Oleh Martians Tanjung
By adminpadek
Rabu, 05-Oktober-2005, 05:47:1211 clicks


"Nak, kamu harus raiin belajar dan jangan lupa ibadah kepada Allah, agar kamu 
di tempat orang bisa sekolah dengan baik. Kamu harus pandai bergaul, supaya 
disenangi siapa saja. Kelak nasib kamu jangan seperti kami, sekolah tidak 
sampai, karena dililit kemiskinan dan apalagi kondisi zaman waktu itu yang 
serba sulit. 


Oleh karena itu, bertekadlah kamu mengubah nasib mu. Kami berharap, setelah 
menjadi sarjana kamu bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk daerahmu. 
Sekaligus berbakti kepada orang tua, berguna bagi bangsa dan memelihara sangat 
agama." Kata si orang tua saat melepas anaknya pergi ke kota menuntut ilmu 
diiringi do'a, agar anaknya sukses. 

Beberapa tahun kemudian, ayah dan bunda yang sudah mulai tua terlihat letih 
dari pekerjaan untuk mengumpulkan uang, demi anaknya bisa sekolah. Tapi, masih 
bisa tersenyum ketika prosesi wisuda dilangsungkan. Sambil berucap, akhirnya 
hilang semua letih kam1, karena si anak jadi sarjana. Apalagi Sarjana Agama 
lagi, dengan satu harapan sambil mengabdi untuk negeri, juga mengabdi untuk 
agama. 

Namun sang orang tua tak habis akal, agar anaknya yang bertitel tidak kecewa, 
diberi kabar gembira. Bahwa menjadi pegawai yang sedikit kerja dan banyak duit 
itu, bukanlah akhir dari semua impian. Rezki Allah ini bertebaran di muka bumi, 
hanya tinggal bagaimana untuk mendapatkanya. Papar sang orang tua memberi 
hiburan kepada anaknya yang berwajah sedih. 

"Nak, sekalipun kamu sudah meraih sarjana, kamu harus cerdas berpikir, bahwa 
pekerjaan itu tidak hanya disektor pegawai pemerintah raja. Kan, rezki itu 
dimana saja ada, asal kamu mau usaha dan tidak lupa berdo'a kepada Tuhan. Masih 
banyak pekerjaan halal lain. Untuk apa kamu bersusah payah kuliah, jika kamu 
tidak mampu mencerahkan isi otakmu. Apalagi Pasaman Barat ini subur dan luas. 
Ayo... bangkit kamu dari mimpimu jadi pegawai. Sebab, pegawai itu hanya untuk 
orang yang punya nasib balk. Ya... mungkin suratan nasibmu belum ada." Tandas 
si orang tua menghibur anaknya yang kecewa melihat pengumuman, bahwa bidangnya 
tidak dibuka. 

Analog di atas merupakan gambaran nasib sebagaian generasi anak negeri yang 
bertitel Sarjana Agama di Pasaman Barat. Sekalipun semula kelahiran Pasaman 
Barat sangat diharapkan dengan satu keyakinan, kelak nasib baik berpihak 
kepadanya. Namun sanjungan dan pujian berubah jadi umpatan, karena harapannya 
sima ditelan oleh sebuah kebijakan yang tidak berpihak. 

Pada hal sebagai sebuah daerah stretegi untuk mewujudkan kemakmuran. Hal itu 
terlihat ketika jabang bayi masih dalam rahim Pasaman. Banyak generasi 
berharap, kelak setelah lahir bisa menjadi penghibur duka lara anak negeri yang 
terlunta. Apalagi terhadap sang bunda yang sudah capek membesarkan dan sang 
babak sibuk banting tulang untuk mengais rezki, demi anaknya menjadi orang 
baik. 

Sehingga terharu oleh sate kesimpulan bahwa Sarjana Agama sebagai satu titel 
yang tidak 'disukai' bila dibanding sarjana lain. Karena diprediksi bahwa 
kemampuannva hanya tinggal di Masjid atau Mushala sebagai tukang azan ketika 
datang waktu shalat dan tukang do'a jika di undang dalam hajatan. Akibatnya 
terjadi semacam pendapat yang kurang segar dan bersahabat terhadap Perguruan 
Tinggi pencetak Sarjana Agama. Lebih lagi, bagi orang tua yang idealis dan 
tidak komit dengan ajaran syariat, sehingga cenderung menyekolahkan anaknya ke 
tempat lain. 

Soal mau sekolah (baca kuliah) di tempat umum atau di bidang agarna (baca 
Perguruan Tin. ggi Agama), balk negeri atau swasta, sebenarrnya urusan 
individu. Tapi, haruskah preseden 'buruk' ini dikemas oleh satu alasan untuk 
meningkatkan mutu dan pembangunan ke depan? Sehingga dengan kebijakan leluasa 
tanpa mempertimbangkan makna dan keberadaan orang-orang yang hidup di negen 
subur ini. Lalu,1adi 'korban'? 

Kejadian yang menimpa negeri yang luas perkebunannya, banyak perusahaan yang 
bakal meliriknya untuk berinvestasi. Yang nota benenya akan sejahteraa penduduk 
sekitar. Secara sadar menggelitik syaraf pikiran penulis, sehingga tercurahlah 
ide itu dalam bentuk pertanyaan yang perlu dijawab dengan kenyataan. Apalagi di 
tengah Bulan Suci Ramadban, dengan harapan para pemilik kekuasaan dapat i1ham, 
agar fenomena yang tengah teriadi ini segera diakhiri. Tujuannya para 
penyandang gelar akademis Sarjana Agama punya inofasi untuk kreatif Ya.. paling 
tidak eksekutif dan legislatif yang duduk mau menerobos peluang ke pihak 
investor, agar dengan kerendahan hati mau mengajak kerja di perusahaannya, 
misalnya. 

Penulis yakin kebijakan Pemenntah Kabupaten Pasaman Barat tentu sudah sangat 
hati-hati mempertimbangkannya. Maka untuk tahap pertama memberikan peluang bagi 
kalangan intelektual much non Sarjana Agama, dengan dalih tenaga kependidikan, 
tenaga medis dan tenaga administrasi yang sangat minus, sangat mendesak untuk 
memacu mute pendidikan dan mutu pemerintahan, sehingga belum perlu melibatkan 
Sarjana Agama. Sebab, Sarjana Agama itu adalah gawenya orang Departemen Agama. 
Sementara sebagai daerah yang baru belum memiliki lembaga tersebut. 

Diakui kekecewaan para lulusan Perguruan Tinggi Agama, seperti Institut Agama 
Islam Negeri (IAIN), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) adalah satu 
kewajaran. Hal Ml sebagai bukti kecintaannya terhadap Pasaman Barat, makanya 
terpanggil hati nuraninya untuk membangun daerahnya. Ya... semacam tanggung 
jawab moral juga, sebut saja begitu. 

Untuk itu, tulisan ini mengajak para Sarjana Agama, Anda adalah intelektual 
muda yang masih jenius dan punya pemikiran jitu. Bahwa pengabdian Anda untuk 
membangun kampung halaman bukan hanya di sektor pegawai (baca PNS). Masih bisa 
ikut andil dalam bentuk memperbaiki tatanan diri melalui sektor perkebunan, 
misalnya mengolah lahan tidur menjadi lahan produktif dan bisa menjadi sumber 
in corm bidang ekonomi. Ajak para ahli yang berpengalaman untuk nara sumber, 
karena pengalaman pertaman Anda sedikit. Walau diakui latar belakang 'anak 
kampung' petani ml skin. Tapi, dengan satu keyakinan Anda akan sukses. 

Sekali lagi pegawai bukanlah harga mati untuk menghidupi diri dan keluarga. 
Peluang lain terbuka. Misalnya Anda tidak suka sektor pertanian, guru dan Taman 
Pendidikan Alqur'an terlunta, karena tidak ada guru mengaji. Bukankah santriwan 
dan santriwati yang tengah mengaji itu cikal bakal generasi Pasaman Barat'? 

Memang diakui berkecimpung di lembaga pendidikan swasta seperti Madrasah, 
Pondok Pesantren dan Taman Pendidikan Alqu'an fulusnya (uang) tidak seberapa. 
Jika dibanding di sektor lain, misalnya wiraswasta. Tapi, bukankah semua rezk] 
dijamin oleh Allah, asal mau berusaha dan di]ringi do'a. Kembal] buka kitab 
Anda. Firman Allah dalam surat Azariat: 56: TidakAKUjadikan jin clan manusia, 
kecuali untuk mengabdi kepada KU. Lalu cobalah merenungi din, bukankah sebagai 
guru Madrasah yang mengajar ilmu agama dan mengajar mengaji sebagai pengabdian 
selaku hamba Allah? 

Lewat tulisan ini penulis ingin berbagi ide, kiranya b]sa dijadikan penawar 
hati yang rusuh Pertama: Semaikan bibit iman supaya tumbuh budaya mental 
antisipasi. Artinya harus ada program hidup yang dilandasi iman. Sehingga 
menyadari identitas din' bahwa manusia sebaga] pengabdi kepada Allah. Dan tidak 
ada salahnya Anda yang Sarjana Agama membuka lapangan kerja sendir], contohnya 
mendirikan Taman Pendidikan Alqur'an. Atau kalau sudah ada di tempat Anda 
tinggal, tentu tinggal melanjutkannya, misalnya coba dimenej menjadi sebuah 
lembaga pendidikan yang bermutu. 

Artinya Anda harus mencari gagasan untuk menumbuhkan keyakinan diri, bahwa 
Allah itu Maha Kaya- Sehingga jiwa keberagamaan yang dibenihkan sejak kecil dan 
kin] tumbuh subur, bahwa bertuhan itu tidak hanya di waktu sempit, tapi juga di 
waktu lapang. Intinya kapan saja. Sekalipun kaum materaslis ingat Allah dan 
rajin mengerjakan ibadah saat terdesak. Tapi, waktu lapang, lupa diri dan lupa 
Tuhan. 


Ingat teguran Allah : Surat Taha: 124: Siapa berpaling dari perintah KU, maka 
untuknya kehidupan yang sempit. Bisa berarti sempit cara berpikir, sempit dalam 
mendapat rezki, sempit dalam pergaulan, dll. Langkah yang ketiga adalah Bila 
sudah ada sikap mental antipisa], tumbuh subur ide kreatif Maka langkah kedua: 
tumbuhkan sikap mental inofatif Artinya Anda harus berupaya membuka mata dan 
membuka telinga untuk maju. Jangan Anda berpikiran sempit, dan berharap kepada 
yang tidak mungkin zaman sekarang. Contohnya masih terngiang dalam benak j]ka 
tidak pegawa] khawatir mati kelaparan. Na'uzubillah. 

Penulis mengajak agar akal sehat Anda itu digunakan supaya melahirkan pendapat 
benar dan tidak keliru. Coba motivasi diri untuk berusaha di sektor lain. Insya 
Allah Anda memiliki budaya mental unggul. Pacu prestasi Anda sebagai salah 
seorang intelektual muda yang kreatif Apalagi Anda berlatar belakang Agama. 
Tentu kekuatan batin karena iman Islam yang Anda tanamkan dalam jiwa Anda dapat 
terkendali. Sehingga Anda tidak perlu sed]h waha] Sarjana Agama. Semoga Anda 
tetap tegar dan bergairah dalam menapaki kehidupan, rezki itu tidak hanya lewat 
satu pintu, tapi, banyak. Maka kejarlah peluang tersebut, jika Anda mau. 

* Penulis Alumni IAINPadang dan Kepala SD Muhammadiyah Rambah Kinali.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke