Boleh nimbrung nihh...
-- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Masarcon...kenapa contoh di Italy seperti ini tidak pernah dijadikan > contoh bahwa mayoritas masyarakat Italia yang katolik (ajaran yang > penuh kasih)menjadi pusat gengster or mafia narkoba ato maling yg > seabrek dan brutal?. Selalu yang dijadikan contoh negara yang > mayoritas Islam lalu dihubungkan dengan ajaran Islamnya? > Kalo buat saya kan jelas, ajaran/hukum/sistem sebagus apapun itu tidak > akan pernah dikatakan berhasil selama tidak didukung dengan moral2 > baik manusia pelaksananya. Ini kalau kita mau bicara soal suatu > ajaran/sistem/hukum yang berhasil dalam suatu negara: kedua faktor itu > harus diperhitungkan. DH: ini jelas. Banyak masyarakat berantakan, dengan beragam agama. That's correct. Italy (catholic), Latin America (catholic), negara negara Arab, Asia selatan (Islam), India (HIndu), etc. TETAPI, sebaliknya, ada banyak negara yang berhasil, West Europe (Protestant and Catholic), Canada, Australia, NZ (Protetsant), Japan (Shinto/Buddhism), Korea (Buddhism), etc. Tetapi sedikit masyarakat Muslim diantaranya. Apakah konklusinya? Kemampuan memakmurkan negara tergantung dari kemampuan manusia ya warganya MENJABARKAN ajaran yang dianutnya, menjadi norma yang diberlakukan dalam kehidupan sehari hari, menjadi sendi kehidupan negara. Atau dengan kata lain: bukan ajarannya, yang an sich bagus atau tak bagus. ------------------ LINA: > > Kalo selama ini saya bicara soal ajaran/konsep disini..saya tidak > pernah menghubungkan dengan penerapannya dalam suatu tempat. Ini > sangat personal karena dalam memilih suatu ajaran untuk hidup, saya > ingin memilih suatu ajaran yang komplit (sehingga saya tak perlu cari > kemana-mana lagi) dan universal (bisa dipake dimanapun) bukan karena > manusia-manusia sekitar saya (ortu, pacar, suami, sahabat) tapi hanya > pada pencarian suatu konsep saja. DH: Ini menarik. Kalau kita pelajari sejarah agama agama, maka agama agama ini didirikan oleh para pendiri agama untuk satu KELOMPOK masyarakat, bukan untuk individu. Dalam ajaran Theologi, kita kenal bahwa setiap agama mempunya DUA aspekt: vertikal, yang mengatur hubungan manusia dengan sang Khalik, dan horisontal, yang mengatur antar manusia seagama. Agama adalah selalu masalah massal, bukan individu. Karena itu, kala Islam masuk ke Jawa, maka sak abrek manusia Jawa yang Hindu dan Buddha itu beruntun menjadi Islam, bukan satu satu manusia Jawa. Jadi, jangan kita abaikan dampak agama bagi masayarakat secara menyeluruh. Mengenai ke-universal-an sebuah ajaran, ini mirip hukum IPTEK. Makin general hukumnya (dalilnya), makin luas daya pemakaiannya, makin universal. Agama Yahudi, misalnya, sangat TIDAK universal, karena setiap peraturan dan ajaran, sampai ritualnya, semua berhubungan dengan sejarah bangsa Yahudi sejak keluar dari Tanah Mesir. Jadfi bangsa bangsa yang tak ada urusan dengan sejarah Yahudi ya keteteran kalau mau memeluk agama ini. Yang lain, misalnya agama Shikh. Aturan hidup dan busana, terutama bagi kaum laki lakinya, sangat sulit dijalankan oleh bangsa lain. Agama Islam sangat general dalam aturan aturan, membuat agama ini dapat meluas kemanapun. bahkan masalah kiblatpun tak ada masalah, karena siapapun dapat menggunakan kompas. Juga puasa dimusim dingin atau summer tak ada masalah. Demikian juga dengan agama Kristen, terutama Protestant. Pohon Natal dapat dibeli di-mana mana. Yang saya kedepankan, adalah dalih, bahwa suatu ajaran keagamaan, dalam aspekt kemasyarakatan, selalu terlkait dengan pemahaman dan pengamalan oleh masyarakat itu. Contoh: di Eropa, dan didunia Barat, generasi muda, makin tak mentaati 100% peraturan gereja, karena benturan dengan masalah keseharian manusia. Misalnya birth control dan larangan bercerai. Kenyataan adalah, bahwa di Austria dan Jerman angka perceraian sudah melebihi 50% setahun! Saya juga perhatikan, bahwa generasi muda Islam disini (Marokko, Tunisia, Turki, Albania, Kosovo, dan Iran), sudah tak lagi mengikuti aturan sebagaimana orangtua ataupun generasi kakek nenek mereka. 75% tak lagi memakai jilbab, mereka memakai baju yang sama dengan generasi muda Eropa, juga tak lagi shalat. Tidak lima waktu, tidak samasekali. Banyak diantara mereka yang menjadi pegawai kami. Jadi, keuniversalan agama, sering terbatas pada wilayah dimana perkembangan hidup agak jauh meninggalkan kehidupan tradisonal. Masyarakat Turki di Anatolia yang sangat saleh, hidup 1000% berbeda dengan masyarakat Turki di Barat ataupun di Ankara. Ini tak saja menimpa agama Kristen dan Islam, juga Buddha. Hindu dll. Masyarakat India di Eropa akan keteteran hidup secara aturan traditional sebagaimana di India. Juga masyarakat Sikh (yang sak abrek abrek di Inggris). salam dan selamat berbuka Danardono ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org! http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

