(panas mata membacanya, inilah potret Negaraku saat ini..)
Suara PembaruanMaaf, Arisannya Nggak Pakai Camilan...Tanggal Masuk: 10 October
2005 (12 menit yang lalu)
SORE itu, giliran Keluarga Mintaryo (47) mendapatkan giliran menjadi tempat
arisan rutin warga Kampung Prayan Sleman, Yogyakarta. Tepat pukul empat sore,
Selasa (4/10) itu, ibu-ibu mulai berdatangan. Biasanya sambil arisan, ibu-ibu
itu mengambil kesempatan untuk menjual barang dagangan. Ada yang jual
perlengkapan sekolah anak seperti baju- baju seragam, celana jin, atau
alat-alat rumah tangga, yang semuanya bisa dikredit.
Namun sore itu, tampaknya tak satu pun dari para ibu yang membawa bekal
dagangannya. Hari ini saya prei (libur, Red), bingung menentukan harga, soalnya
ambilnya saja sudah naik. Bagaimana menjualnya? ucap Isnah, yang saban arisan
kampung membawa hem, kaus, dan celana berbahan jin.
Begitu 20 ibu mulai berkumpul, kini giliran pemilik rumah yang berbicara untuk
menyambut tamu, seraya menunggu pembawa undian. Ny Mintaryo tampaknya sedang
memikirkan kata-kata yang bijak. Tiba-tiba ia menyatakan, Maaf, bukannya saya
pelit, tapi arisan saat ini tanpa camilan, saya hanya bisa menyuguh teh, dan
itu juga kurang manis, ucapnya terbata-bata.
Para ibu yang hadir juga sempat terdiam. Tetapi, tak lama kemudian, serentak
seperti dikomando, mereka menyahut, Tidak apa-apa, kami maklum. Kami juga tidak
ingin merepotkan, beberapa ibu berkata bersahut-sahutan.
Terkejut
Ny Mintaryo, yang biasa dipanggil Ibu Neni, karena anak pertamanya bernama Neni
itu, tampak merasa lega. Ia menceritakan, ketika akan berbelanja di Pasar
Demangan, ia terkejut bukan kepalang. Harga-harga membubung. Untuk menggoreng
satu sisir pisang, harganya minta ampun. Jadi, saya sekali lagi minta maaf,
ucapnya lagi.
Ibu empat anak itu lantas menceritakan, tepung terigu sekarang Rp 4.500 per
kilonya. Telur ayam Rp 9.000 per kilonya, minyak goreng curah kualitas rendah
sudah Rp 6.500. Selain itu, ia juga menyebutkan kalau harga beras yang paling
jelek sekalipun sudah naik menjadi Rp 4.000. Waduh, orang miskin seperti saya,
hampir nggak bisa bernapas, ujarnya.
Tak ada yang keberatan. Semua maklum. Mintaryo, suami Ibu Neni, membuka kios
berjualan bensin dan membuka usaha tambal ban.
Uangnya pas-pasan. Ini rumah peninggalan mertua, kami cuma numpang, ia
melanjutkan. Lalu, seorang ibu yang menyeletuk, apakah ia sekeluarga mendapat
Kartu Kompensasi. Bu Neni bukannya menjawab, malah bertanya, Kartu apa? Saya
baru dengar. Ibu itu lantas menjelaskan, kartu itu adalah Program Kompensasi
Pengurangan Subsidi BBM yang diberikan kepada orang miskin dan diberikan dalam
bentuk uang tunai senilai Rp 100 ribu per bulan.
Ibu Neni menggeleng. Bagaimana dapat? Waktu itu suami saya ditanya, gajinya
atau uang pendapatannya berapa, ya dia jawab apa adanya, rata-rata Rp 250 ribu
sampai 300 ribu per bulan. Lalu, yang bertanya menjelaskan bahwa bantuan itu
hanya untuk yang pendapatannya di bawah
Rp 175 ribu per bulan. Artinya kami tidak berhak mendapatkannya, ia bercerita.
Tetapi, seperti pengakuannya, dengan pendapatan sebesar itu pun, rasanya tidak
sebanding dengan seluruh pengeluaran yang harus ia keluarkan. Belum untuk makan
sehari-hari, untuk biaya anak sekolah, transpor kendaraan yang juga naik
menjadi Rp 1.500.
Ibu Neni lantas menggambarkan, sehari, tiga anaknya, masing-masing harus
membawa uang Rp 3.000. Kalau tiga anak, sudah Rp 9.000. Untuk satu bulan, sudah
Rp 234.000, hanya untuk biaya transpor. Jelas uang pendapatan suami hanya bisa
untuk bayar bus, ucapnya, sedih.
Sebelumnya, ia cuma membantu suami menjaga kios. Namun, sekarang tentu tidak
cukup. Ia harus mendapatkan penghasilan lebih. Ia mengatakan hendak membuka
usaha mencuci pakaian untuk anak-anak kos di sekitar tempat tinggalnya.
Si bungsu tahun depan harus masuk TK. Padahal uang masuk TK itu lebih mahal
daripada uang sekolah anak saya yang SMP. Ini bagaimana? katanya.
Semua ibu yang hadir pun terdiam, tanpa mampu menjawab pertanyaan itu. Nasib
mereka tak jauh berbeda. Kemudian salah satu ibu berbicara untuk memecah
keheningan. Yah, kayaknya kita tidak akan pernah makan daging. Lebaran nanti
saya tidak bisa masak rendang atau opor ayam. Bayangkan, sekarang daging sapi
sudah Rp 45.000 per kilo. Daging ayam potong Rp 12.000, ayam kampung Rp 20.000.
Kacang tanah naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 7.500. Lombok Rp 20.000 per kilo,
bawang merah Rp 10.000. Emping tadi saya lihat sudah Rp 20.000 per kilo. Nggak
tahu nanti Lebaran jadi berapa? ujar Sulastri (37).
Dua puluh ibu yang berkumpul itu langsung terdiam kembali. Seorang ibu kemudian
angkat bicara. Kok nasib wong cilik kayak kita ini tidak pernah berubah.
Katanya kompensasi itu bisa kita dapatkan, nyatanya, jangankan jaminan
kesehatan yang digembar-gemborkan, uang Rp 100 ribu itu kalau dipikir-pikir
juga tidak bisa menutup kenaikan harga seperti sekarang ini, ucap ibu itu. Enak
yang pegawai negeri ya? ujarnya lagi.
Tetapi pendapat itu langsung dibantah Wanti, yang kebetulan suaminya PNS
golongan III B. Gaji suami saya memang Rp 1,4 juta. Tapi potongannya Rp 200
ribu lebih. Setiap bulan saya hanya terima Rp 1 juta. Sisanya buat transpor
suami. Nah, segitu dibagi tiga anak. Ada yang kuliah, ada yang SMA, dan SMP.
Saya juga pusing. Mau bisnis, bisnis apa? ujarnya.
Setelah puasa bulan Ramadhan, kita tetap harus puasa. Jangan-jangan rakyat
banyak yang mati muda karena stressss, Wanti pun mendesis.
Pembarua/Fuska Sani Evani
---------------------------------
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/