http://www.suarapembaruan.com/News/2005/10/10/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY BBM dan Bom Bunuh Diri, Pelajaran Berharga bagi Rakyat AP/Dita Alangkara BERDOA - Para pekerja kafe di kawasan pantai Jimbaran, Bali, berdoa bersama, Minggu (9/10). KENAIKAN Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan bom yang meledak kedua kalinya dan diduga bom bunuh diri di Bali, Sabtu (1/9) lalu adalah bencana beruntun yang melanda Republik tercinta ini. BBM dan bom tentu tidak ada hubungannya, kecuali sama-sama menyengsarakan rakyat Indonesia. Memang muncul banyak spekulasi, karena bom itu meledak persis ketika kenaikan harga BBM yang lebih dari 100 persen mulai diberlakukan. Tak heran jika ada rumor yang mengatakan, bisa saja bom tersebut sengaja diledakkan untuk menenggelamkan isu penolakan kenaikan harga BBM. Jelas saja, pemerintah menampik keras rumor itu. Namanya rumor, sulit dibuktikan dan kerapkali hanya kabar burung, tetapi kadang-kadang juga benar adanya. Semoga saja memang itu tidak benar, namun kalau benar demikian, alangkah teganya mereka yang berbuat demikian. Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM benar-benar mengundang kecaman dari mana-mana dengan penuh kekecewaan. Seorang pengamat ekonomi, Faisal Basri seperti dikutip sebuah harian pagi terbesar di Indonesia, bahkan menilai pemerintah keterlaluan. Mantan Sekjen DPP PAN itu mengatakan, dirinya tidak bisa mengerti siapa yang menjadi arsitek atas kenaikan harga BBM tersebut. "Saya melihat mereka itu tidak punya hati. Mereka adalah kelompok yang tega atas penderitaan rakyat''. Faisal Basri mengecam Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla berikut anggota kabinetnya sebagai pemerintahan yang tidak peduli dengan rakyat. Faisal tentu saja tidak sendiri, kecaman bertubi-tubi juga muncul dari mana-mana yang dialamatkan kepada pemerintahan Yudhoyono-Kalla. Wakil Direktur Eksekutif (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) E Shobirin Nadj dan pengamat politik dari Universitas Indonesia Arbi Sanit bahkan menilai, Pemerintahan Yudhoyono-Kalla sebagai rezim yang anti rakyat. Kebijakan menaikkan harga BBM melampaui batas kemampuan rakyat tersebut menurut keduanya, jelas-jelas bukti rezim ini tidak memiliki rasa empati terhadap penderitaan rakyat. Sedikit berbeda dengan Faisal Basri, Shobirin dan Arbi Sanit, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam kunjungannya di Solo, Jawa Tengah menilai realitas sekarang ini sebagai sebuah sebab akibat. Menurut Megawati, penderitaan panjang yang bakal mendera rakyat tersebut, akibat dari pilihan rakyat yang salah dalam pemilu lalu. Tentu saja, orang bisa melihat pernyataan Megawati sebagai pernyataan orang yang kalah dalam Pemilu lalu. Tetapi ucapan Megawati itu juga tidak salah, namun bukan berarti kalau Megawati atau calon lain yang terpilih dijamin akan lebih baik dari pemerintahan sekarang. Dalam pemilu lalu yang untuk pertama kalinya dilakukan secara langsung dan disebut paling demokratis sepanjang sejarah Indonesia, rakyat betul-betul telah menentukan pilihannya sendiri. Bisa saja, rakyat telah termakan dengan janji-janji perubahan yang digembor-gemborkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla ketika itu. Tetapi apa yang terjadi sekarang, setahun sudah usia Pemerintahan Yudhoyono-Kalla, perubahan yang dijanjikan belum juga terwujud. Janji tinggal janji dan janji itu, rupanya hanya pepesan kosong. Rakyat kecil dan miskin yang tadinya berharap bisa berubah nasibnya dengan pemimpin baru, ternyata justru lebih buruk lagi. Semboyan, ''Bersama Kita Bisa'' yang diusung Yudhoyono-Kalla saat kampanye, kini diplesetkan menjadi, ''Bersama Kita Bisa Hancur''. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berlipat-lipat membuat sebagian besar warga masyarakat menjadi kesal dan marah. Namun, mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali keluar sumpah serapah yang ditujukan kepada pimpinan negeri ini yang dianggap sudah tidak punya hati nurani lagi. ''Nyesel aku pilih SBY. Kirain mau membela kita, kalau seperti ini kenapa kita tidak di bom saja sekalian mati gak usah susah lagi menghadapi hidup ini," ujar, Wati, penyapu jalan di kawasan perumahan Graha Raya Serpong, Tangerang dengan mata berlinang. (Pembaruan,1/10) Tidak hanya Wati, Dede seorang nelayan Cituis, Desa Suryabahari, Kecamatan Pakuhaji, juga merasa sangat terpukul dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM ini. Selain harganya melangit, BBM juga sulit didapat untuk keperluan melaut bagi Dede dan nelayan lainnya. Menurut hemat Shobirin dari LP3ES, mungkin saja pilihan rakyat yang keliru dalam Pemilu lalu. Ketika itu rakyat mencari alternatif lain dari calon lain termasuk Megawati, yang belum memberikan perubahan nasib bagi rakyat. SBY dan JK (Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla) merupakan figur alternatif ketika itu yang memang menawarkan perubahan dengan segala janjinya. Rakyat terbius dengan citra SBY yang memang populer, tetapi itulah bagian dari pemilu langsung. Seperti iklan, rakyat telah terlanjur memilih produk yang diiklankan dengan segala kelebihannya, termasuk wajah dan popularitas. Tetapi pilihan rakyat itu telah menjerumuskan rakyat sendiri. Artinya, kalau pemimpin merupakan pilihan rakyat sendiri sekarang menyengsarakan rakyat sendiri, rakyat ikut memberi andil. Karena itu kata Shobirin, realitas ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi rakyat, bahwa popularitas dan rupawan bukan jaminan memberikan kesejahteraan bagi rakyat. DPR sendiri sudah kehilangan fungsi kontrol sebagai wakil rakyat, karena mereka lebih berperan sebagai tukang stempel pemerintah. Para wakil rakyat yang dipilih secara langsung 2004 lalu itu, ternyata lebih memposisikan diri sebagai wakil pemerintah dan penguasa.. Mungkin mereka sudah keenakan dengan kursi kekuasaan. Inikah yang namanya perubahan? Semoga tidak demikian adanya. Kita berharap perubahan sesungguhnya, baru akan terjadi. Kita tunggu saja. PEMBARUAN/MARSELIUS ROMBE BAAN Last modified: 10/10/05 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org! http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

