Sebenartnya tak sulit. Pertama definisikan, apa yang dianggap "tidak 
miskin", kemudian data saja, yang tidak miskin. Nah, kurangi jumlah 
seluruh penduduk NKRI ini, dan kurangi dengan jumlah yang dianggap 
tak miskin. yang tak miskin kan gampang kelihatan dong ya?

salam

Danardono

PS: anggauta legislatip termasuk yang miskin lho, sebab mereka minta 
naik gaji terus..




--- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mendata 15 juta kk miskin (jika benar jumlahnya
> segitu:) bukanlah pekerjaan gampang. Meski BPS serius
> dan sungguh2 pun sulit terlaksana.
> 
> Itu hanya bisa terjadi jika 15 kk itu hidup
> diperumahan yang teratur dan berdekatan. Kenyataannya
> Indonesia luasnya 2 juta km2. Terdiri dari lebih 13
> ribu pulau. Saya pernah berjalan2 di sekitar satu
> pesantren di Cianjur masih banyak terdapat rumah
> terpencil di balik bukit. Di Kalimantan atau Papua
> jarak antar rumah bisa 1 km2. Ada yang tinggal di
> pohon. Ada juga yang menggelandang atau hidup di
> kolong jembatan.
> 
> Bagaimana mendatanya?
> 
> Jadi menaikan harga BBM berikut harga barang lainnya
> serta keinginan memberi subsidi langsung ke orang
> miskin adalah tindakan yang gegabah dan terbukti tidak
> bisa terlaksana.
> 
> 
> --- Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > MEDIA INDONESIA
> > Kamis, 13 Oktober 2005
> > 
> > 
> > Begitu Sulitkah Mendata Kaum Miskin?
> > 
> > 
> >  MENGURUS orang miskin di Indonesia sama sulitnya
> > dengan memberantas 
> > korupsi. Semakin diurus, semakin menjadi-jadi.
> > Soalnya, kemiskinan dan 
> > korupsi telah bersenyawa untuk saling menjaga
> > eksistensi.
> > 
> > Lihat saja bagaimana semrawutnya pembagian uang
> > subsidi tunai langsung yang 
> > merupakan kompensasi terhadap keluarga miskin dari
> > kemahalan yang 
> > ditimbulkan akibat kenaikan harga bahan bakar
> > minyak. Di sejumlah daerah 
> > terjadi manipulasi data orang miskin dengan berbagai
> > cara.
> > 
> > Yang paling banyak dikeluhkan adalah banyak warga
> > miskin yang tidak 
> > memperoleh subsidi tunai. Tetapi di lain pihak,
> > banyak pula yang memperoleh 
> > tunjangan orang miskin sebesar Rp100.000 per bulan,
> > padahal mereka 
> > sesungguhnya bukan orang miskin.
> > 
> > Banyak penyebab dalam hal ini. Pertama, petugas
> > Badan Pusat Statistik (BPS) 
> > tidak bekerja atas dasar kategori yang ketat. Kedua,
> > desa-desa di Indonesia 
> > yang sudah merdeka selama 60 tahun tidak memiliki
> > sistem administrasi 
> > pendataan penduduk yang benar berdasarkan kemampuan
> > sosial ekonomi. Ketiga, 
> > petugas BPS hanya menerima data dari kepala desa
> > tanpa mengecek 
> > kebenarannya. Keempat, membayar tunai kepada 15 juta
> > kepala keluarga di 
> > seluruh Indonesia adalah pekerjaan raksasa yang
> > sangat terbuka bagi 
> > penyelewengan.
> > 
> > Sebagai ilustrasi, untuk membayar gaji pegawai
> > negeri sipil yang berjumlah 
> > sekitar tiga juta orang di seluruh Indonesia
> > diperlukan waktu sedikitnya 10 
> > hari melalui sistem perbankan, maka untuk 15 juta KK
> > miskin membutuhkan 
> > waktu 50 hari. Banyak orang miskin yang tidak sabar
> > menunggu 50 hari untuk 
> > memperolehnya, sedangkan mereka tahu uang itu ada di
> > kantor pos atau BRI 
> > setempat.
> > 
> > Penyimpangan data orang miskin, diakui atau tidak,
> > bukan semata kekeliruan 
> > pencatatan dan kelalaian kategorisasi. Hal itu
> > muncul akibat penyakit yang 
> > paling parah di negeri ini, yaitu korupsi.
> > 
> > Karena korupsi, hal yang sederhana menjadi rumit.
> > Karena korupsi, hal yang 
> > murah menjadi mahal. Di negeri kita, korupsi dan
> > kemiskinan telah menjadi 
> > fakta paradoksal. Kemiskinan menimbulkan korupsi
> > ketika hendak diperangi. 
> > Korupsi melihat kemiskinan sebagai lahan yang empuk.
> > 
> > Birokrasi, kemiskinan, dan korupsi telah tumbuh
> > menjadi segitiga maut yang 
> > menenggelamkan semua niat baik yang bernama
> > penyejahteraan. Itulah yang 
> > menyebabkan uang bagi orang miskin sebesar Rp4,6
> > triliun yang berada di 
> > kantong pemerintah tidak secepatnya bisa dinikmati
> > orang miskin. Nafsu 
> > korupsi telah menghalangi seluruh kemudahan dan
> > ketulusan dalam penyaluran.
> > 
> > Oleh karena itu, sekali lagi kita katakan, jangan
> > memberi ikan kepada orang 
> > miskin, tetapi berilah mereka kail. Memberi rakyat
> > uang karena pemerintah 
> > mempunyai cukup duit, tidak saja pekerjaan gampang,
> > melainkan kebijakan yang 
> > gampangan.  
> > 
> > 
> 
> 
> Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah
> Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
>               
> __________________________________ 
> Start your day with Yahoo! - Make it your home page! 
> http://www.yahoo.com/r/hs
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke