From: "turino yulianto" <[EMAIL PROTECTED]>
Benar Pak Jasman, sesungguhnya problem kita yang lebih
parah dari kemiskinan adalah KESENJANGAN. Baik dari
sisi budaya, pendidikan apalagi ekonomi. Indonesia
mempunyai rakyat dari 3 zaman/budaya seperti zaman
batu di suku-suku pedalaman papua, zaman
industrialisasi di kota-kota dan zaman informasi di
kota besar. Begitu jauh senjang kemajuan budaya antar
rakyat Indonesia dan itu selaras dengan kesenjangan
tingkat pendidikan.
Kalau kesenjangan "The Have" and "The Have Not" tentu
lebih lebih parah lagi. Misal saja, gaji resmi dirut
pertamina Rp 150 juta (bisa lebih), sedangkan gaji
office boy hanya Rp 1 juta (mungkin kurang). Kalau di
dalam korporate saja ada kesenjangan 150 kali,
bagaimana dengan di masyarakat dimana masih banyak
orang dengan take home pay di bawah 500 rb per bulan
tetapi sebaliknya tak sedikit kalangan dengan
penghasilan lebih dari 500 juta per bulan.
Struktur kesenjangan ini jarang dibedah oleh para
ekonom yang "text book thinking" dan mengandalkan
indikator2 ekonomi semata. Misal saja, export textile
disebutkan naik sebesar X Milyar Dollar per tahun,
tetapi tidak pernah diulas siapa saja pelaku expor
tersebut. Apakah itu dilakukan oleh ribuan pengusaha
tekstil kecil atau hanya oleh 3-5 konglomerat tekstil
saja. Akibatnya peningkatan nilai expor tsb dinilai
sebagai kemajuan ekonomi, padahal di sisi lain
struktur yang tidak sehat mengakibatkan PHK besar2an
di industri tekstil rakyat. Banyak contoh lain di
industri CPO, ritel, automotif, dll.
Pun ketika itung2an kenaikan BBM dilakukan dengan
mengandalkan indikator2 ekonomi tanpa membedah
struktur ekonomi masyarakat secara lebih jauh.
Hasilnya memang masuk "rasionalitas intelektual" para
petinggi dan para cendikiawan negeri ini, tetapi jelas
tidak masuk "rasionalitas perut" rakyat kebanyakan.
Terlalu naif kalau dikatakan pencabutan subsidi BBM
untuk menolong rakyat miskin. Yang terjadi adalah
pergeseran secara massal orang yang pas-pasan menjadi
miskin dan orang yang miskin menjadi "mati" secara
ekonomi.
Ajakan untuk bersama-sama menghadapi krisis dari
pemerintah pasca kenaikan BBM justru lebih parah lagi.
Bagaimana mungkin ada kebersamaan kalau yang mengajak
bergaji 100 juta perbulan plus fasilitas dan yang
diajak "dihina" dengan kupon senilai 100 ribu per
bulan ? Ditambah lagi ajakan ulama (sayang
sekali.....) dan para cendikiawan agar masyarakat
bersabar dan memahami keputusan ini. Bagaimana mungkin
ada kesepahaman kalau ajakan itu dilakukan di hotel
berbintang oleh kalangan berdasi klimis dan bersorban
mahal setelah bercuap-cuap dalam "seminar hemat
energi", sedangkan yg diajak mamahami adalah kalangan
yang bisa makan sehari sekali pun sudah alhamdulillah.
Saya khawatir ada persoalan "kelas" yang parah di
Indonesia, sementara text book dan ayat suci dijadikan
pelipur lara (candu) oleh kelompok yang mapan kepada
rakyat jelata. Padahal sepengetahuan saya, hanya Islam
agama yang paling radikal menghancurkan kelas dan
kasta dalam kemanusiaan.
salam, turino
----- Original Message -----
From: "JASMAN SAMSU" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [ekonomi-syariah] Ekonom: Antara Ekonomi
Makro dan Nasib Raky at Kecil
Date: Thu, 13 Oct 2005 08:30:37 +0700
>
>
> Kita adalah bangsa yang "Paradoks". Coba kita lihat
di daftar orang-orang
> kaya di Dunia (di Majalah Forbes), akan kita temukan
lebih dari 1 atau 2
> orng Indonesia di sana. Tapi mari lihat bangsa
miskin yang ada di dunia,
> Indonesia pun termasuk di dalamnya.....:( Whatta
pitty !
>
> -----Original Message-----
> From: A Nizami [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, October 11, 2005 12:46 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [ekonomi-syariah] Ekonom: Antara Ekonomi
Makro dan Nasib Rakyat
> Kecil
>
>
> Saya sering membaca pernyataan sebagian ekonom yang
> kurang realistis (mis: terlalu fokus pada
angka-angka
> makro ekonomi), sehingga lupa realita yang terjadi
di
> masyarakat. Akhirnya ketika mayoritas rakyat
menderita
> karena berbagai kenaikan harga barang sementara
> penghasilan tetap, mereka dengan bangga menunjukkan
> angka perkembangan ekonomi Indonesia sebesar 6-8%.
>
> Sebagai contoh, LPEM-UI melakukan riset dan sampai
> pada kesimpulan bahwa kenaikan harga BBM akan
> mengurangi jumlah penduduk miskin. Ketika harga BBM
> naik dan ada berita2 tentang busung lapar serta
> puluhan balita tewas akibat penyakit tersebut,
muncul
> joke di masyarakat bahwa ternyata riset tersebut
> benar. Jumlah penduduk miskin berkurang. Tapi bukan
> berkurang karena mereka jadi makmur, tapi karena
mati
> kelaparan.
>
> Kemudian ada juga ekonom yang terlalu
> mengecil-ngecilkan angka inflasi akibat kenaikan
harga
> BBM. Sebagai contoh ada yang menyatakan bahwa untuk
> setiap 10% kenaikan harga BBM akan menimbulkan
inflasi
> sebesar 0,3-0,5%. Artinya, jika harga BBM dinaikan
> hingga 100%, maka angka inflasi hanya 3-5% saja.
> Ternyata perkiraan tersebut tidak sesuai di
lapangan.
>
> Untuk bis angkutan umum saja paling tidak naik 33%
> (dari Rp 1.500 jadi Rp 2.000). Kemudian dari
berbagai
> berita di media massa (mis:Kompas) ternyata kenaikan
> harga barang kebutuhan hidup sehari2 mencapai
> rata-rata 35%.
>
> Ketika ada yang meramalkan Indonesia akan mengalami
> Stagflasi, ada ekonom (mis: Chatib Basri) yang
dengan
> enteng menyanggahnya sambil mengatakan bahwa
> pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat sebesar
> 6% pada tahun 2006.
>
> Menurut saya, seandainya angka perkembangan ekonomi
> Indonesia mencapai 1.000% pun tidak akan berarti
jika
> ternyata mayoritas rakyatnya hidup semakin susah.
>
> Pada kenaikan harga BBM yang mencapai sekitar 150%
> jika kita hitung dari bulan April 2005, biaya
> transportasi meningkat sekitar 67% (dari Rp 1.200
> menjadi Rp 2.000). Ada keluarga yang pengeluaran
> transportnya mencapai hingga 70% dari pendapatannya
> (baca Kompas 8 Oktober 2005). Kemudian harga
kebutuhan
> hidup sehari2 meningkat hingga 35%. Kenaikan harga
> barang bisa lebih dari 100% dalam setahun. Padahal
> pada krisis ini, jarang ada warga yang gajinya naik
> 10% dalam setahun.
>
> Jika sebelumnya pengeluaran cukup Rp 700 ribu/bulan,
> setelah kenaikan jadi Rp 945 ribu/bulan.
>
> Walhasil keluarga yang penghasilannya Rp 800
ribu-900
> ribu yang sebelumnya tidak termasuk miskin, sekarang
> jadi miskin. Jadi ada penambahan jumlah penduduk
> miskin. Dan dana kompensasi yang hanya Rp 100
> ribu/bulan itu tidak dapat menutupi selisih kenaikan
> harga tersebut.
>
> Kenaikan harga BBM akan mengakibatkan nasib sebagian
> kecil rakyat (mis: pegawai pemerintah dan pegawai
> perusahaan minyak) akan meningkat. Di sisi lain,
> mayoritas warga akan termiskinkan secara massal
karena
> pendapatan mereka tidak bertambah tapi pengeluaran
> bertambah. Bahkan ada yang terpaksa menganggur
karena
> ada pabrik yang tutup gara-gara tidak bisa
beroperasi
> akibat biaya operasional bertambah tinggi.
> Salam
>
Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/