** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** ** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** ** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com ** Catatan laluta: "... sesaat sebelum mati tersiksa di ruangan itu sempat mengumpat seraya meludah: "Laknat kamu! Aku anggap pelindung rakyat malah jadi algojo!"...[Kisah lengkap, silahkan baca cerpen "Sang Praktis" oleh A. Kohar Ibrahim] Pada bulan Oktober 1965 Tragedi Nasional diawali oleh Peristiwa G30S, 40 thn kemudian berlanjut pada Tragedi Kenaikan BBM dan Bom Bali...karena itu kusajikan juga karya cermin diri dari pandangan matabatin Heri Latief berjudul "Pedasnya Kehidupan", karya puisinya yang akan dibacakan pada acara Sarasehan peringatan 40 tahun Tragedi Nasional 1965 (di Diemen - Belanda, 15 Oktober 2005) dengan tema: "Tragedi Nasional 1965 dan dampaknya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara".
La Luta Continua! *** Pedasnya Kehidupan berita di koran soal kebutuhan sehari-hari harga cabe merah membuat loncatan ke depan mahalnya harga adalah pedasnya kehidupan panjangnya antrian orang miskin pun direkonstruksi siapa itu yang berpendapatan di bawah 1 dolllar? mereka yang dibilang klas yang tertindas? pertanyaan atas kesadaran klas dimodifikasikan para politisi kapitalis pinggiran memalingkan muka dari kenyataan kerna ide semu bantuan sekejap itu asalnya dari istana negara yang bertugas sebagai alat untuk meredam kemarahan ide sedekahan bisa aman selama antrian itu bisa dibayarkan maka dibayarlah dengan cara menggadaikan hasil alam lambang dari kemiskinan itu aslinya berarti sang pemodal makin tajir yang lapar makin laparlah, yang kenyang makin kenyanglah sedangkan di barat katanya kita hidup serba berlebihan di lemari es daging-sayur-telor-keju berdesakan isi lemari pakaian tiap setengah tahun harus dikuras seperti menguras aquarium setelah bersih di-isi dengan yang baru begitu seterusnya kita tak pernah lagi merasa kelaparan kita tinggal di barat jék! jauh dari rasa lapar dan memiliki ide kebebasan bebas memilih apa yang mau kita makan bukan seperti ra'yat miskin di indonesia yang semakin termajinalkan jurang antara yang kaya dan yang melarat semakin supergawat si miskin dibikin semakin tergantung pada jatah dari pemerintah lalu muncul intelektual bergaya calo mempropagandakan ide sesat ilmu pembodohan dan memuja-muji ide bantuan basabasi siapa yang ngerti apa artinya permen murahan? kemudian dibagikan gratis atas nama kemiskinan? di negeri melarat anarkisme merajalela, dibiayai ketakutan dipelihara secara gotongroyong intel dan si kakibusuk sibuk kasak-kusuk teror pun menggedor jantungmu! musuh dan kawan jadi satu? oya?! bacalah berita koran tadi pagi presidenmu dalam episode soap serie bermimpi arti seribu janji janji pemilunya mengenyangkan perut ra'yat nyatanya hanya menghasilkan kentut dan perihnya maagzweer laparnya ra'yat adalah terpaksa puasa akibat kemiskinan ra'yatmu hidup susah mati tak mau urusan negara pun diatur sihirnya ideologi-korupsi teror pengadilan membantai keadilan perkara musuh dibeli kawan dijual semua untuk keagungan kekuasaan padahal, ra'yatmu merangkak kelaparan apalah artinya "dipilih secara demokratis" jika kelaparan ra'yatnya jadi alat untuk mengemis? dulu pernah terjadi jaman seribu bunga bermekaran di taman indonesia yang progresif dan aktif ikut bermain dalam gelanggang politik dunia non blok diciptakan dari hasil pertarungan sengit yang berjudul "si miskin melawan kelicikan si kaya" sejarah mencatatnya! pertumpahan darah yang paling mengerikan tumbal pun dipaksakan oleh rejim fasis jutaan anak bangsa dijadikan korban maka sejarah digelapkan, dimanipulasikan kerna sejarahnya berdarah, bernanah, terluka sampai saat ini kegelapan sejarah masih menghantui siapa yang pernah dengar tragedi kemanusiaan 1965? siapa yang pernah bicara soal enam lima? apakah telinga kita sudah tuli dan mulut kita sudah bisu? sejarah tak pernah bisa menipu matabatin kejujuran disitulah mustinya kita berkaca pada sejarah yang menegakkan keadilan sosial bagi seluruh ra'yat indonesia heri latief amsterdam, 14 oktober 2005 *** Sang Praktis Cerpen oleh A. Kohar Ibrahim HENING. Keheningan yang amat menekan ruang pengap seperti hendak meledak. Seketika itu baik sang Interogator maupun tawanan diliputi bayangan serupa: seseorang yang pandai bersilat lidah. Seorang pintar yang mendapat sebutan pakar. Beda sekali dengan yang seorang ini. Baginya pertanyaan-pertanyaan itu lebih menyiksa dari pada hujaman popor senapan atau alat penyiksa lainnya, seperti penggencet jeriji atau penyetrum kemaluan. Selama bermalam-malam dia sering tak mampu pejamkan mata. Bukan hanya lantaran badan dirasakan remuk-redam, tapi juga terutama kerna digeluti berbagai pertanyaan yang tak berjawab. Sang Interogator yang berbadan tegap dan usianya jauh lebih muda berusaha mengintai riwayat tawanan itu. Karyo. KETIKA masih muda Karyo juga berbadan tegap dan sehat. Berkumis lebat bercambang panjang. Dikenal sebagai orang yang rajin melaksanakan tugas. Kesetiaannya pada usaha yang dianggap mulia begitu luar biasa -- seperti meng-agama-kannya saja. Betapa merasuk kesetiaan dan keyakinannya itu diwujudkan dengan kepatuhan mutlak kepada atasan, instruksi dan pelaksanaannya. "Kerja!" itulah kata yang memenuhi benaknya. Akan halnya ilmu pengetahuan atau hal-ehwal yang dapat disimak dalam buku tidaklah menarik perhatiannya. Baginya membaca itu membuang-buang waktu saja. Memang selagi badan segar-bugar, motor keyakinan dan kecekatannya sangat bermanfaat. Terutama pada saat-saat kesibukan luar biasa di zaman Nasakom Bersatu Sukarno. "Saya ini orang praktis. Bukan teoretikus," ujarnya selalu dengan bangga. "Tugas apa saja saya tunaikan. Soal teori itu bukan urusan saya!" SAMPAI berusia lanjut terus saja digayuitinya pendapatnya itu. Teriring kegemarannya mengisahkan pengalaman pribadinya sendiri. Tak peduli sudah puluhan kali di depan orang yang sama. Sebaliknya setiap pertanyaan yang bersifat teori selalu dihindarinya. Diupayakannya selalu lari menghindar pertanyaan yang mudah membikin kepalanya pusing. Apalagi mengenai persoalan-persoalan yang timbul sekitar kudeta militer. Menghadapi huru-hara yang terjadi sebagai kelanjutan perebutan kekuasaan politik itu benar-benar dia merasa kebingungan. Tak tahu apa yang mesti dikerjakan. Kecuali menanti instruksi dari atasan yang tak pernah lagi kunjung datang. Kebiasaannya lalu meremas-remas rambut yang mulai banyak memutih. Atau memukul-mukul kepalanya sendiri. Kesal tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri. Sebab orang-orang atasan maupun yang dikenalnya sebagai teoretikus tak dijumpainya lagi. Entah di mana adanya. Entah di penjara, entah diam-diam tapi bergerak di bawah tanah. Atau memang telah menyatu dengan tanah sungguhan. Bila badan sudah tua semangat dan keyakinan dirinya tak mampu lagi menanggung beban kelewat berat. Apa lagi menghadapi todongan senapan berbayonet mengkilap. Dia mudah saja masuk perangkap dan diperlakukan seperti bola di kamar siksa Kopkamtib. PADA saat diinterogasi dia memang lebih sering menggelengkan kepala. Seperti ketika ditanya mengenai apa dan bagaimana kaitannya dalam "teori dua aspek", "metode kombinasi tiga bentuk perjuangan" dan sebagainya. Dia bungkam. Dihajar. Terus bungkam saja. Terus pula dihajar. Sekalipun berulang kali jatuh pingsan, tapi begitu sedar kembali jawaban yang diberikannya cuma gelengan kepala. "Saya ini orang praktis," ulang ucapnya tiap kali ditodong pertanyaan sang Interogator dan ancaman alat penyiksa dalam genggaman seorang algojo lainnya. Antara pingsan dan sadar, berulang kali dia teringat dibenaknya seorang berkepala botak yang pernah memberi kuliah sewaktu dia mengikuti Sekolah Partai. Ketika sekali dia menggumamkan nama sang guru itu tanpa disadari sang Interogator mengejarnya. Menekannya dengan ujung pistol di pelipis. Sulit baginya untuk menggelengkan kepala. Terpaksa buka mulut: "Tanyailah dia...," ujarnya gemetar, seakan-akan orang yang dimaksud -- si dia -- ada di ruangan itu. "Siapa? Bilang!" ujar sang Interogator kasar. "Itu... Pak Cahyo," ujarnya dengan nada berat. Seperti berbisik lagi menanggung rasa malu telah menyebut nama yang dipantangkan itu. "Siapa?" sang Interogator tanya balik. Penasaran. "Pak Cahyo..." "Iya, Pak Cahyo itu. Dia yang banyak tahu. Jago teori. Saya sih cuma orang praktis. Tanyailah dia." Seketika itu sang Interogator yang menggeleng-gelengkan kepala. Menghela nafas panjang sembari memejamkan mata sejenak. Dalam benak dia juga teringat seorang sarjana bernama Cahyosuarso yang sesaat sebelum mati tersiksa di ruangan itu sempat mengumpat seraya meludah: "Laknat kamu! Aku anggap pelindung rakyat malah jadi algojo!" Sang Praktis melempar pandang hampa dalam keheningan ruang yang pengap itu. Tercenung. Sang Interogator juga. Masing-masing digeluti kenangan yang menggelisahkan. (1990) *** *** * A. KOHAR IBRAHIM lahir di Jakarta, 1942. Bermukim di Brussel, Belgia. Jurnalis, Penulis, Pelukis. Anggota dewan redaksi Zaman Baru, yang Dewan Redaksinya dipimpin oleh Rivai Apin dan pemimpin umumnya S. Anantaguna. Sejak tahun 1950-an sampai sekarang karya tulisan dimuat diberbagai media massa cetak dan elektronika Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/ http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ --------------------------------- Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Website resmi http://www.ppi-india.org ** ** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

