** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.indomedia.com/bpost/102005/15/opini/opini1.htm


Yudhoyono Kecolongan, Di Mana Insan Pers?
Oleh: M Taufik


PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sangat menyadari, keputusannya untuk 
tetap menaikkan harga BBM, 1 Oktober 2005 lalu, berdampak negatif pada 
popularitasnya dan akan memancing amarah seluruh rakyat Indonesia. 

Benar saja, begitu harga BBM dinaikkan, demo besar-besaran yang digelar 
mahasiswa meledak. Istana kepresidenan dikepung oleh pendemo. Yang mereka 
tuntut cuma satu; batalkan penaikan harga BBM.

Media pun tidak tinggal diam. Lewat pemberitaannya, media menghantam keras 
kebijakan penyesuaian harga BBM itu. Headline Harian Kompas edisi 1 Oktober 
2005, misalnya, secara tegas menulis "Pemerintah Keterlaluan". Koran Metro 
Banjar di halaman Dangsanak-nya juga mengupas dampak dari penaikan harga BBM 
itu dengan judul "Penderitaan Warga Bertambah." Majalah Tempo, dalam 
editorialnya menghujat lebih keras lagi. Majalah tersebut malah menyebutkan, 
pemberian subsidi BBM adalah tindakan immoral dari sisi kebijakan publik. 

Si Mr I don't care with my popularity itu, tak menggubris tuntutan pendemo dan 
hantaman media tersebut. Ia tetap yakin, putusan itu merupakan yang terbaik 
bagi bangsa Indonesia. Walaupun ia harus membayar mahal dengan keputusan itu: 
popularitasnya turun.

Padahal, menurut hasil survai Lembaga Survai Indonesia (LSI), sebelum harga BBM 
dinaikan, menunjukkan penurunan tingkat kepuasan atas kinerja Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang tajam. Penurunan itu 
mencapai 17 persen dari 80 persen pada survai September 2004 menjadi 63 persen 
pada survai September 2005. Diperkirakan persentasenya bisa lebih rendah lagi 
bila survai dilakukan setelah penaikan harga BBM yang rata-rata di atas 100 
persen. 

SBY bukanlah orang bodoh. Sebelum keputusan itu diumumkan, SBY bersama 
kabinetnya sudah menyiapkan 'obatnya'. Makanya begitu harga BBM dinaikan, SBY 
langsung meluncurkan program subsidi BBM. Salah satunya Subsidi Langsung Tunai 
(SLT) yang ditujukan bagi rumah tangga miskin.

Tapi sayangnya, dalam meramu program SLT itu SBY melupakan satu hal dan ini 
menjadi momok bagi bangsa Indonesia karena sangat sulit dihilangkan. Yakni 
mental korupsi yang sudah karatan dan mendarah-daging, sehingga apa pun 
kebijakan yang menyangkut uang, selalu tidak berjalan 100 persen.

Makanya tidak mengherankan, begitu STL pertama dicairkan muncul banyak masalah. 
Jika dikelompokan, masalah itu ada tiga yakni pertama, salah sasaran. Ini bisa 
dibuktikan dengan banyak orang yang berpunya juga menikmati STL yang besarnya 
Rp100 ribu per bulan itu. Bahkan mereka secara terang-terangan mengambil uang 
STL itu memakai mobil. 

Kedua, data yang kurang akurat. Ini terjadi pada saat menentukan keluarga 
penerima SLT. Badan Pusat Statistik (BPS) yang ditugaskan melakukan pencacahan 
orang miskin melakukan tugas tergesa-gesa. Makanya, untuk mendapat data orang 
miskin BPS melibatkan berbagai pihak/sumber. Antara lain pemerintah daerah, 
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Daftar Keluarga Miskin yang 
menerima pembebasan biaya sekolah dan perawatan kesehatan, Ketua RT/satuan 
lingkungan sosial terkecil.

Kemudian, di setiap RT, dusun atau satuan lingkungan sosial terkecil, petugas 
BPS dibantu oleh tokoh masyarakat setempat dan ketua RT dalam mengumpulkan 
daftar rumah tangga calon penerima SLT. Rumah tangga tersebut kemudian 
dikunjungi dan di data ciri-ciri sosial dan tingkat kesejahteraannya. Misalnya, 
jumlah dan kualitas makanan (kalori) dalam sehari, jenis lantai tempat tinggal, 
jenis atap, kepemilikan barang berharga dan sebagainya. Dari data ini, BPSD 
kemudian melakukan penilaian untuk menentukan golongan rumah tangga miskin, 
apakah sebuah rumah tangga termasuk dalam golongan sangat miskin, miskin atau 
hampir miskin.

Dengan melibatkan berbagai sumber yang notabene sebagian tidak profesional di 
bidangnya ditambah lagi adanya mental korupsi, akhirnya BPS menerima data yang 
tidak akurat. Padahal, pemerintah sendiri hanya menargetkan 15,5 juta dengan 
anggaran subsidi hanya Rp4,65 triliun. Namun begitu dicacah, jumlah orang 
miskin meningkat dan sekarang telah mencapai 15,6 juta. Dipastikan jumlah itu 
akan terus meningkat. Logikanya, siapa sih yang tidak ngiler melihat uang Rp100 
ribu lewat di depan mata begitu saja.

Ketiga, adanya pemotongan oleh oknum tertentu. Ini adalah hal yang sudah biasa 
terjadi. Bukan rahasia umum lagi, kalau orang-orang yang terlibat dalam 
pendataan --yang ditugaskan BPS-- menuntut balas jasa atas jerih payahnya 
menguruskan kartu SLT kepada penerima STL yang besarnya berkisar antara Rp10 
ribu sampai Rp20 ribu.

Dengan adanya permasalahan pada pencairan STL pertama ini, sama saja artinya 
SBY sudah kecolongan. Malingnya, ya itu tadi. Orang-orang berpunya tapi ikut 
menikmati uang STL dan oknum yang melakukan pemotongan terhadap jatah orang 
miskin.

Apakah ini berarti juga program STL ini gagal? Mari kita simpan dulu 
jawabannya. Kan program ini baru berjalan. Kita lihat dulu hasil evaluasinya.

Posisi Insan Pers

BEGITU penaikan harga BBM akan diumumkan, pemerintah melalui Departemen Kominfo 
menabur SMS kepada seluruh pengguna handphone yang isinya: "BBM terpaksa 
dinaikkan agar subsidi dapat dialihkan dari orang kaya kepada rakyat miskin. 
Bantu awasi Subsidi Tunai Langsung kepada rakyat miskin. Terima kasih." 

Adanya SMS ini secara tidak langsung menunjukkan, bahwa program STL itu sangat 
rawan kebocoran dan pemerintah belum mempunyai formula untuk menambalnya.

Lantas bagaimana sikap insan pers dan di mana posisi insan pers dengan adanya 
SMS itu? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, insan pers harus berpikir 
realistis bahwa selama ini subsidi BBM sudah salah arah. Data Susenas terakhir 
menunjukkan, 82 persen dari subsidi jatuh kepada kelompok 60 persen pendapatan 
teratas dan sisanya hanya 17 persen subsidi tersebut jatuh kepada kelompok 40 
persen terbawah. 

Kalau pemerintahan SBY membiarkan hal ini terjadi, maka sama juga artinya 
membiarkan Rp93 triliun (82 persen dari Rp113 triliun subsidi BBM jika harga 
BBM tidak disesuaikan) kepada kelompok yang dianggap tidak berhak menerima 
subsidi. Angka ini akan bertambah besar tahun depan, mengingat perhitungan 
subsidi BBM dalam APBN(P) 2005 masih berdasarkan asumsi harga minyak rata-rata 
US$ 54 per barrel, sementara proyeksi harga minyak tahun depan bisa melebihi 
US$ 60 per barrel. 

Insan pers yang masih memiliki hati nurani tentu tidak mau begitu saja 
membiarkan uang Rp93 triliun 'dirampok' oleh orang kaya. Lebih baik dana itu 
digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif yaitu program penanggulangan 
kemiskinan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar khususnya infrastruktur 
perdesaan, pertanian dan pertahanan keamanan. Untuk bidang pendidikan, 
misalnya, dana itu bisa dialokasikan untuk menambah biaya operasional sekolah 
dengan memasukkan program perpustakaan sekolah atau buku gratis, menambah 
cakupan beasiswa kepada siswa dari keluarga miskin bukan hanya untuk SMA tetapi 
juga perguruan tinggi, rehabilitasi besar-besaran gedung SD hingga SMA di 
seluruh Indonesia. 

Jadi, sudah sebijaknya kalau insan pers bersikap kritis dan memberantas 
habis-habis penyelewengan dana subsidi BBM tersebut. Dengan dua sikap ini bukan 
berarti posisi insan pers 'berangkulan' mesra dengan SBY. Posisi insan pers 
tetap pada rakyat miskin yang menjadi objek program STL itu. Sekali lagi bukan 
pada SBY-nya, tapi pada rakyat miskinnya.

Berpihak kepada rakyat miskin ini akan semakin mengokohkan peran insan pers 
dalam pers nasional, yakni melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran 
terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. Dan yang lebih penting 
adalah memperjuangkan keadilan dan kebenaran. 

Khusus yang terakhirnya, insan pers bisa melakukannya dengan mengontrol 
ketepatan orang-orang yang menerima SLT itu, yaitu keluarga yang tergolong 
dalam kelompok miskin.

Kelompok miskin ini terbagi tiga. Pertama, kelompok sangat miskin yaitu mereka 
yang mengonsumsi makanan sampai dengan 1.900 kilokalori per hari, senilai 
dengan Rp120.000 bila disetarakan dengan rata-rata pengeluaran seseorang per 
bulan (atau Rp480.000 per rumah tangga per bulan ).

Kedua, kelompok miskin yaitu mereka yang mengonsumsi makanan sampai dengan 
2.100 kilokalori per hari, senilai dengan Rp150.000 bila disetarakan dengan 
rata-rata pengeluaran seseorang per bulan (atau Rp600.000 per rumah tangga per 
bulan).

Ketiga, kelompok hampir miskin yaitu mereka yang mengonsumsi makanan sampai 
dengan 2.300 kilo kalori per hari; senilai dengan Rp175.000 bila disetarakan 
dengan rata-rata pengeluaran seseorang per bulan (atau Rp700.000 per rumah 
tangga per bulan).

Nah, apabila ada orang-orang berada diluar tiga kelompok itu, tapi turut 
menikmati STL, maka insan pers dapat 'membombardirnya' habis-habisan. Namun, 
dengan masih berpegang pada UU Pokok Pers dan Kode Etik Jurnalistik Persatuan 
Wartawan Indonesia.

Wartawan Metro Banjar


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke