wartawannya rada sinis seh ... tapi ya gimana, wong indonesia lagi acakadut
...  :(

salam,
Ari Condro

===================

14 Oct 2005 09:34:42
Pesta untuk Sang Kaisar

Liem Sioe Liong menggelar pesta ulang tahunnya yang ke-90 di
Singapura. Wartawan Tempo Metta Darmasaputra menyusup dalam resepsi
berbiaya Rp 20 miliar itu.

TENGGELAM di antara kerumunan perempuan harum dan lelaki bertuksedo,
saya terpaksa melakukan pekerjaan menyebalkan itu. Beberapa orang
datang dan bertanya di mana toilet. Please, over there, Sir, kata saya
berulang-ulang. Posisi saya di ruangan yang megah itu memang tak
menguntungkan: di pojok dan berdiri kaku empat jam penuh tanpa
sedikitpun ada kesempatan duduk. Saya merasa bagai Santa Klaus di
toko mainan anak-anak pada sebuah malam Natal tersenyum, berusaha
gembira meski sesungguhnya dipaksakan.

Malam itu, Sabtu dua pekan lalu, saya memang tidak berada di toko
mainan anak-anak. Saya tercagak di The Island Ballroom Hotel Shangri-
La Singapura. Bagian depan ballroom disulap menjadi taman istana yang
dipenuhi lukisan dekoratif bergambar deretan pohon bambu. Panggung
berarsitektur istana Kaisar Cina dinasti Ming dan Ching di Kota
Terlarang (Forbidden City) dihadirkan di satu sisi dalam ruangan.
Malam itu terasa istimewa: Liem Sioe Liong, mantan taipan nomor wahid
Indonesia kelahiran Fujian, Cina, berulang tahun yang ke-90. Buat
orang Cina, sembilan merupakan simbol peruntungan, karena merupakan
angka terbesar dalam deret desimal. Penghitungan hari ulang tahun
Liem didasarkan pada penanggalan kalender Cina. Dalam tarikh Masehi,
umur Om Liem sebetulnya baru 89 tahun. Ia lahir pada 16 Juli 1916.

Di pintu masuk hotel, puluhan wanita cantik berpakaian cheongsam merah
menyala berjejer rapi menyambut lebih dari seribu tamu yang datang.
Sebagian besar konglomerat papan atas Indonesia hadir. Di sana tampak
antara lain Prajogo Pangestu (Grup Barito), Sofjan Wanandi (Gemala),
Mochtar Riady (Lippo), Ciputra, Murdaya Poo beserta istrinya Siti
Hartati Murdaya (Berca), Budi Hartono (Djarum), dan Sukanto Tanoto
(Raja Garuda Mas). Juga datang tiga putri mantan Presiden Soeharto:
Siti Hardijanti Rukmana, Siti Hediati Harijadi, dan Siti Hutami
Endang Adiningsih. Sejumlah mantan pejabat Orde Baru pun tak
ketinggalan. Moerdiono, Harmoko, Fuad Bawazier, dan Akbar Tandjung
termasuk diantaranya. Pesta yang berlangsung dua malam itu,Sabtu dan
Minggu, diperkirakan dihadiri 2.500 undangan dari Indonesia,
Singapura, dan Cina.

Semua tamu diterbangkan dari daerah asal dengan Singapore Airlines. Di
Singapura mereka menginap di Shangri-La dan di Hotel Meritus Meridien.
Semua biaya terbang dan menginap ditanggung Om Liem. Servis serupa
juga pernah diberikan Liem ketika ia merayakan pesta ulang tahun
perkawinan ke-60, April tahun lalu. Pesta kawin emas Liem dan istri
di hotel yang sama pada 1994 ditaksir menghabiskan dana US$ 650 ribu
(Rp 6,5 miliar). Pesta ulang tahun Om Liem ke-90 diperkirakan koran
berbahasa Cina, Lianhe Wanbao, menelan biaya US$ 2 juta (Rp 20
miliar).

* * *
BERJUBELNYA tamu penting membuat panitia pesta jauh-jauh hari sudah
mendata ketat nama para tamu. Kartu undangan yang disebar dilengkapi
bar code dan wajib dibawa saat datang untuk dicocokkan dengan data
dikomputer panitia. Setelah dipastikan bukan penyusup, para tamu
mendapat cendera mata berupa huruf kanji kuno berlapis emas murni
lima gram. Oleh panitia mereka diantar menuju meja makan sesuai
dengan nomor yang telah ditentukan. Tak kurang dari 120 meja bundar
masing-masing berkapasitas 10 orang disiapkan untuk menjamu para tamu.

Saya tak membawa undangan dan karenanya tak begitu yakin bisa masuk ke
pesta itu. Tapi selalu saja ada jalan di saat-saat genting. Dalam
antrean, menjelang pos pemeriksaan, saya terpikir untuk mencari
toilet yang terletak di bagian dalam ballroom. Beruntung, petugas
malam itu sangat ramah: mereka mempersilakan saya ke kamar kecil
meski dengan demikian melewati pos sekuriti.

Jadilah saya tamu tak diundang yang menyaksikan pesta megah itu dari
ruang sempit di sekitar pintu keluar ruang utama. Sesekali saya
mendekat panggung utama untuk menyaksikan beberapa detail untuk
kemudian menyingkir kembali ke pojok itu. Di sana bergerombol pelayan
hotel dan tujuh juru foto dari Moreno Studio yang khusus diterbangkan
dari Jakarta.

* * *
LIMA belas menit menjelang pukul delapan malam, perhelatan dimulai.
Suara tambur menderu. Pintu utama ballroom dibuka. Liem Sioe Liong
masuk dipapah oleh beberapa kerabatnya. Lagu "Nan Erl Dang Zi Qiang",
sound track film Kung Fu Master, segera menggema. Dimainkan oleh
aktor Jet Li, Kung Fu Master bercerita tentang pahlawan legendaris
rakyat Cina, Wong Fei Hung. Lebih dari seribu tamu yang hadir malam
itu sontak berdiri memberikan hormat kepada Liem Sang Kaisar bershio
naga. Tepuk tangan membahana.

Ditemani istrinya, Lie Shu Zen, Liem beringsut naik ke panggung dengan
bantuan sebilah papan hidrolik. Keempat anaknya Albert, Andree,
Anthoni, dan Mira berdiri di sampingnya. Dengan jas hitam berdasi
kupu-kupu warna merah marun, ia tampak sehat meski matanya kerap
menatap kosong. Alunan musik dari Keat Hong Chinese Orchestra
membahana. Bait-bait lagu Nan Erl bercerita tentang kesejatian
seorang laki-laki.

Hanya sedikit kata yang disampaikan Liem dalam bahasa Mandarin saat
memberikan sambutan. Sebentar kemudian, ia mengajak para tamu
bersulang. Gaaan beei..., terdengar aba-aba panjang. Gan bei adalah
bahasa Cina untuk bersulang. Para tamu pun menyambut hangat ajakan
itu. Acara kemudian dilanjutkan dengan santap malam.

Artis serba bisa asal Singapura, Kit Chan, khusus didatangkan dari
Amerika Serikat negeri tempatnya kini tinggal untuk menghibur para
tamu. Para undangan bernostalgia dengan beberapa lagu lama yang
pernah dipopulerkan Teresa Teng, penyanyi top yang tak asing bagi
warga keturunan Cina di seluruh dunia.

Selain makanan dan musik, para tamu juga disuguhi film dokumenter
tentang kehidupan Liem melalui enam layar lebar yang terpampang didua
sisi ruangan.

Dalam film itu dikisahkan bagaimana Liem muda, saat itu 21 tahun,
memulai kariernya sebagai pembuat krupuk dan tahu di Kudus, Jawa
Tengah, setibanya ia dari tanah leluhurnya, Tiongkok.

Di kota itulah, Liem bertemu dengan gadis asal Lasem, Jawa Tengah, Lie
Shu Zen, yang kini jadi istrinya. Menurut Mira Salim, putri Liem,
ibunya sempat tak diizinkan orang tuanya untuk dinikahi Liem. Mereka
khawatir, anaknya dibawa ke Tiongkok, katanya. Tapi Liem berhasil
meyakinkan calon mertuanya. Pesta perkawinan selama 12 hari pun
dilangsungkan.

Liem kemudian hijrah ke Jakarta dan bisnisnya dari tahun ke tahun
menggurita. Tak hanya di Indonesia, sayap bisnisnya melebar hingga
Arab Saudi dan Nigeria. Ia pernah masuk dalam jajaran 100 orang
terkaya versi majalah Fortune. Liem pernah menerima penghargaan dari
pemerintah Spanyol. Ia juga pernah dinobatkan oleh Wharton School,
University of Pennsylvania, AS, sebagai legenda dari Asia Tenggara.

Tapi terpaan badai krisis ekonomi 1997 membuat bisnisnya ringsek. Ia
berutang kepada negara hingga Rp 52 triliun. Akibatnya, sejumlah aset
emasnya, termasuk Bank Central Asia, harus lepas dari genggaman. Meski
begitu, kerajaan bisnis Liem sepertinya tak pernah benar-benar pudar.
Ia tetap menjadi pusat magnet dijagat bisnis Indonesia. Indofood dan
Bogasari, dua dari sekian perusahaan Liem yang tersisa, tetap merajai
bisnis makanan di Indonesia. Bisik-bisik menyebutkan, Liem sebenarnya
masih punya banyak bisnis di Indonesia meski namanya secara formal tak
tercatat sebagai pemilik.

Buat masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, menurut Sofjan
Wanandi, jasa Om Liem tak bisa dibilang kecil. Dia pernah membiayai
500 ribu warga Tionghoa mendapatkan kewarganegaraan Indonesia semasa
Soeharto dulu, ujarnya.

Wibawa Liem sebagai pebisnis memang belum tertandingi. Itu sebabnya
para taipan dan tamu undangan lainnya rela antre satu jam untuk bisa
bersalaman dengan Om Liem sebelum meninggalkan pesta yang berakhir
pukul 11 malam itu. Liem menjabat erat satu per satu tamunya dengan
ramah. Sesekali Liem tertegun jika lupa siapa orang yang ia hadapi.
Anthoni Salim, anaknya, lalu membisikkan nama tamu yang tak diingat
ayahnya.

Liem tampak menikmati pesta itu. Meski kini bermukim di Singapura
rumahnya di Jakarta dibakar massa pada 1998 ia tak pernah kehilangan
pengaruh. Tamu membludak. Orang-orang penting tak melupakannya. Tiga
putri Soeharto, menjelang pesta usai, mendatangi Liem dengan khidmat.
Mereka menatap, menjabat tangan lelaki tua itu, lalu tersenyum mesra.
Liem membalas jabatan itu. Ia tersenyum, memandang ketiganya satu per
satu seperti mengingat sebuah masa keemasan yang baru beberapa tahun
silam ia tinggalkan.






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke