Mas nug ketemu lagi ... 1. Gimana dengan jerman, atau banyak negara eropa yang bikin getho bagi para pendatang yahudi di masa lalu ?
2. Kisah ttg jerman dan gettho turkinya saya kirim lagi di bawah. sebelumnya sudah saya kirim dalam email ke truly. saya kira hubungan islam kristen di indonesia tidak sampai ignorance model Jerman - Turki. Toh di milis ini kita bisa sharing dan berbagi. kaluapun ada gejala macam FPI, ini bisa dihadapi bersama. terus terang saya gak rela anda bilang preck segala macam, who do you think you are ...... :D :) :)) salam, Ari Condro Terimakasih mbak Ni. Membaca uraiannya mbak seolah-olah saya jadi merasa di Eropa - di ghetto-ghetto itu. Inilah yang dari dulu saya tunggu-tunggu, bagaimana kita bercerita tentang keadaan sosial- psikologis disekeliling kita dan menginformasikannya kepada temen- temen di belahan bumi lain. Pantesan selama ini kesannya Pak Dana sama orang Arab gimana gitu...sampe dulu kan pernah mau diruwat sama temen-temen disini hahaha...Udah saya pancing-pancing, karena pingin tahu bagaimana demography sosial Muslim disana, tapi Pak Dana suka hemat cerita..hehehe... Sejujurnya baru setahun dua tahun belakangan ini saya mulai 'ngeh' dengan kondisi masyarakat Muslim di Eropa. Apalagi selama ini pandangan saya dibayangi dengan imigran Muslim di Amerika yang secara pukul rata lebih sukses, bahkan kadang diperhitungkan secara politis (termasuk Black Muslim). Kok saya jadi membandingkan ghetto Muslim Eropa dengan ghetto Black people di Amerika? Eksesnya, yang satu diasosiasikan dengan rasial agama, yang satu lagi dengan rasial kulit. Dan jadi mengasosiasikannya dengan Yahudi Eropa jaman dulu. Tentu saja setiap negara-bangsa punya persoalan lokalitas masing- masing. Karena itu hipotesa saya yang berikut patut dipertanyakan apakah relevan dan valid: "Dengan latar belakang sosio-demografi masing-masing, patut dipertanyakan apakah garis besar kebijakan negara Eropa efektif dalam mengelola imigran, dengan tolak ukur Amerika yang relatif lebih sukses?" Ini adalah pertanyaan hipotetis yang meminta jawaban yang komprehensif. Pak Dana memang mensimplifikasikan permasalahan dengan langsung saja membenturkan soal sekuler, hukum negara sekular yang berlaku dengan dinamika masyarakat terkini di ERopa. Karena blio bilang: patuhilah hukum tanpa kompromi. Iyalah, aku pikir nggak ada yang membantah ini. Tapi kan kita lagi ngomongin kebijakan publik seperti jilbab. Apa salahnya kalau ada gerakan inisiatif Pemerintah dan NGO 'mempromosikan' jilbab sebagai wilayah pribadi. Biarkan perempuan-perempuan itu memutuskan untuk dirinya sendiri setelah mendapat pencerahan, ketimbang diatur sana-sini oleh komunitasnya sendiri, eh...malah oleh negara pula. Kita mengakui simbolisme salah kaprah dari jilbab itu, namun kita harus mengambil resiko susah payah untuk meruntuhkan simbolisme itu dengan kebijakan yang persuasif dan rasional. Kurang dari pada ini, adalah sama saja dengan memerangi simbolisme itu dengan kebijakan emosional yang 'stupid'. Dan akibatnya menjurus ke arah EGP, diskriminasi bahkan clash of civilisation. Kemudian Pak Ary mengangkat soal EGP (ketidakpedulian) setiap kita dalam soal kemiskinan orang lain, Iyah emang. We are the best people, we are not guilty (or maybe feeling guilty if we are Germans), but we don't want to spend our money, we dont wanna have dirty hands, we dont wanna share our gentility (if we are British and Parisian) and we don't want to take risks! That's EGP all about. Dan jelas EGP itu nggak rasional, karena kemiskinan orang lain adalah persoalan kita semua. Ketika kita lahir ke dunia, kita nangis karena udah ngeliat resiko ke depan. Hadis yang bilang bahwa berkah Allah nggak datang pada kita selama tetangga kita itu nggak makan, kan maksudnya ini, bukannya literal ngasih makan tetangga kita itu setiap hari. Persoalan kemiskinan yang makin jadi struktural dan sikap EGP menguatirkan. Jadi mengarah ke clash civilisation terhadap Islam. DAlam hal ini jadi mengental stigma terhadap ajaran Islam itu sendiri, justru yang diyakini oleh Muslim. Walah, pantesan Jusfiq jadi koyo ngono. Kelamaan di Eropa dia. Lihatlah dampak dari stigma- stigma itu. Yang moderat jadi merasa termarjinalkan, yang miskin jadi marah, yang fundamentalis ngebom, orang lain jadi melihat Islam tambah mengenaskan. Saya nggak bicara soal bagaimana ajaran Islam itu, yang masih diyakini secara harafiah dan fiqh oriented, yaitu fiqh dari 1400 tahun lalu. Saya bukan bicara soal ini. Tapi saya bicara soal stigma pada suatu keyakinan yang dipercayai jutaan orang. Mempercayai dan mengikuti suatu stigma adalah suatu bentuk EGP dan nggak rasional. Karena stigma memarjinalkan orang lain dari lingkaran persoalan kita sendiri dan mereka, yang merupakan persoalan bersama. Saya percaya bahwa kebanyakan netter disini relatif bebas dari stigma. Tapi jangan lupa untuk mensharing pengetahuan kita pada keluarga dan temen-temen lain. Salam Mia === Pak Dana, Jerman mungkin lebih bingung lagi kalau dibandingkan dengan negara tetangganya karena masih trauma zaman Nazi, dan banyak orang Jerman takut untuk mengkritik orang asing dengan terbuka - jangan2 nanti dibilang rasis atau neonazi, yang anti-orang asing (Ausländer). Ideologi multiculturalism (yang dipraktekkan sebagai: makanan, musik dan tari2an orang asing itu bagus dan dinikmati, tetapi apa yang terjadi di balik pintu rumah tetangga orang Turki, itu bukan urusan kami, biar si pasha itu memukul istrinya dan memaksa anak perempuannya yang masih remaja untuk menikah dengan sepupunya, kami tidak ingin tahu /EGP) terlalu lama dianut tanpa kesadaran kritis terhadap realitas budaya lain yang bukan hanya terdiri dari musik dan makanan, tetapi sering juga dari norma-norma sosial yang sebenarnya tidak bisa diterima lagi pada zaman sekarang di Eropa. Tapi lama sekali sepertinya tabu untuk mengkritik situasi dalam ghetto orang Turki. Masalah2 itu baru diangkat menjadi topik wacana publik setelah terjadi pembunuhan van Gogh di Belanda tahun yang lalu. Sekarang justru banyak perempuan keturunan Turki yang paling vocal dalam mengkritik kenaifan orang Jerman dalam menghadapi keberadaan budaya asing, mereka menuduh orang Jerman sengaja tidak mau tahu kekerasan terhadap perempuan dalam banyak keluarga Turki. Baru sekarang beberapa buku otobiografi oleh perempuan Turki yang menjadi korban kekerasan yang dilegitimasi dengan "adat" dan "agama" bisa terbit. Kata mereka, mereka sudah menulis buku ttg nasib mereka pada tahun 90an, tetapi waktu itu tak ada satu penerbit pun yang berani untuk menerbitkannya, alasannya takut nanti penerbit mendapat stigma sebagai penerbit rasis, dan after all, masalah intern komunitas Turki itu tidak interesting buat pembaca Jerman. Nah baru sekarang masyarakat Jerman menghadapi masalah "Parallelgesellschaft" (masyarakat paralel, artinya di dalam negara ini terdapat "negara" lagi, a society within a society with its own rules, invisible to and unreachable by the state and the wider community), dan belum jelas bagaimana sikapnya orang Jerman yang baru sadar atas realitas itu. Yang jelas, masyarakat/negara Jerman harus mengambil sikap yang tegas, seperti kata Pak Dana, untuk menentukan di mana batasnya. Supaya jelas. Soalnya, di mana batasnya untuk beragama? Sekarang masalahnya jilbab, besok mungkin masalahnya burqa atau niqab. Kalau jilbab boleh, kenapa burqa tidak boleh? Dan kalau ada orang suku Indian dari Amazonas datang, mau sekolah di Jerman, tapi tetap telanjang seperti di rimba sana, abis itu budaya dan agamanya, kalau yang Islam boleh pakai burqa dengan alasan kebebasan beragama, kenapa dia tidak boleh telanjang masuk sekolah atau universitas? nah jadi bingung kan... memang harus ada batasnya yang jelas. Tapi kayaknya orang Jerman belum berani menunjukkan sikap yang jelas... masih bingung antara romantisme multiculturalisme, ketakutan dianggap rasis dan neonazi, dan masalah2 dalam ghetto orang Turki. Ironisnya, perempuan aktivis keturunan Turki itulah yang paling keras menuntut penegakan norma sekularisme dan ideal2 zaman enlightenment (Aufklärung bhs Jermannya, kalau Verklärung itu artinya idealisasi...). Orang Jerman sendiri mungkin sudah terlalu manja ya, semua sudah taken for granted... btw... bulan lalu saya membaca buku "Maps for Lost Lovers", karangan Nadeem Aslam ttg kehidupan orang Pakistan di Inggris... Kalau ada yang ingin tahu dilema dan masalah antarbudaya dalam salah satu komunitas imigran di Inggris, buku ini bagus. Kutipan covernya: "In an unnamed town Jugnu and his lover Chanda have disappeared. Rumours abound in the close-knit Pakistani community, and then on a snow-covered January morning Chanda's brothers are arrested for murder. Telling the story of the next twelve months, Maps for Lost Lovers opens the heart of a family at the crossroads of culture, community, nationality and religion, and expresses their pain in a language that is arrestingly poetic." salam, ni londo ----- Original Message ----- From: "preck_eteck_eteck" <[EMAIL PROTECTED]> keliatannya udah pada paham bahwa salah satu ciri negara yg biadab adalah negara [yang jelas-jelas diperintah oleh sekelompok orang dalam sebuah sistem] di mana warga negaranya membiarkan [tidak berbuat apa- apa] ketika penganut agama tertentu menganiaya penganut agama yg lainnya. ini bisa merujuk negara mana saja dan tentunya bangsa yg biadab adalah bangsa yang memberikan dukungan kepada FPI. apapun agama dari bangsa itu. apakah anda salah satu pendukung FPI? if so, you are biadab. preck! ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now. http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

