Sebenarnya, lesbianisme, polyandri, dan fenomena macam ini bukan hasil produk barat. lesbianisme ataupun homoisme (kalau kata ini ada, ha ha), adalah produk sejarah manusia. Katakanlah sudah dari zaman Jahilyah. Di-mana-mana. Bukan idee Barat.
Sri Paus, yang adalah panutan 1000% umat katholik, mengutuk perkawinan dengan lebih dari satu partner. Dan Vatican adalah bagian dari budaya Barat. Polyandrie, adalah system kemasyarakatan yang ditemukan dibeberapa pedesaan terpencil, misalnya di Himalaya, dan di beberapa pulau di Pacific Selatan. Juga disebuah pemukiman diperbatasan Tiongkok. Polyandrie sebagai system, tak dikenal di Barat, karena agama Kristen melarang psangan lebih dari satu. Berpasangan liar, adalah kenyataan, yang ada di-mana mana. Tak di Barat tak Di Timur. Dan bukan Polyandri atau Polygami. Polygami adalah system kekeluargaan yang disyahkan, juga oleh negara. Jadi bukan liar. Jadi, saya tak dapat membayangkan, kalau gerakan feminisme menginginkan polyandri. Mungkin sekali, kalau gerakan feminisme menginginkan system polygami, juga bagi masyarakat Islam. Mungkin. Tetapi, apakah system polygami ini layak dihapus atau tidak, tergantung dari kepentingan kaum wanita juga. Bukan dengan cara mengkritik akidah Islam, yang memang mengakomodasi kemungkinan ini. Kalau kaum wanita menolak di-polygami, apakah yang dapat dibuat kaum pria bukan? Saya juga yakin, ideologi feminisme yang murni, pasti sejajar dengan ajaran agama, karena ini adalah tujuan mulia. Terutama dalam penekanan kesamaan hak wanita dengan pria, sebagai manusia. Tanpa mengaburkan peran wanita dan pria dalam keluarga dan masyarakat. Salam danardono --- In [email protected], "Ari Condro" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > 1. kalo menurut saya kelompok nomer dua itu feminisme yang berusaha > melokalkan diri dengan komunitasnya. tapi sayangnya komunitasnya rada rada > paranoid, jadi dianggap kesusupan ide asing. > > 2. nggak tahu mbak lina copy paste darimana, tapi saya heran dengan tuduhan > lesbianisme, poliandri, dan disusupi ide ide baratnya. setahu saya, kata > kata itu banyak keluar kalo lagi bantah bantahan. namun bukanlah tujuan. > jeleknya lagi ada tuduhan kalau kaum feminis kelompok kedua ini adalah > lemahnya mereka dengan sumber-sumber asasi Islam. seperti saya bilang, > seringkali mbak lina membuat uraian kontradiktif semacam ini. di satu saat > bangga kalau ada wanita jadi mufassir, namun ketiak ada yang ebrproses ke > arah itu, belum belum sudah dihujati hujatan. :( > > salam, > Ari Condro > > ----- Original Message ----- > From: "tylla subiyantoro" <[EMAIL PROTECTED]> > > Mbak Lina tersayang.. > > he he he mbak..:D > > Saya masuk golongan yang kedua tuh..kami nggak pernah menuntu poliandri lho > mbak..:D Asli, nggak pernah..hehehe..karena dasar penggugatan poligami bukan > karena peremopuan tidak boileh poliandri..hehehe..KAlau mbak baca Beyoond > The Veil nya Mernissi, mungkin bisa keliatan apa yang sebenarnya jadi > persoalan..Sumpah..bukan karena iri kita nggak boleh Poliandri..:D > dan saya juga udah baca bukunya Edward Said, lha wong skripsi saya tentang > orientalism kok.. he he he.. > anyway, makasih banyak untuk referensi dan penjelasan yang mbak sampaikan. > Bermanfaat sekali untuk saya..:) > > Cheers Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kedua: Kelompok kedua: Feminisme yang lahir dari kebodohan ummat > dengan "mempersoalkan" ayat2 dalam AlQur'an. Kelompok ini umumnya > datang dari kaum wanita muslimah kelas menengah yang mengalami > pencerahan dari sistem edukatif sekuler. Mengapa ada poligami tetapi > tidak ada poliandri? Ini kan namanya ekspoitasi. Dalam bahasa sehari- > hari kita pernah dengar, "Ala jeng, suami di mana--mana juga sama. > Suka jajan di luar. Kalau kita sekedar jalan-jalan sama dik Andri > ini kan wajar." Kata Tante Ira merayu Mba Ria. Mulanya memang cuma > jalan-jalan di mall, mengantar ke salon, menamani coffee morning, > menjadi pasangan standing party dan menjemput sehabis arisan, tetapi > lama-lama wallahua'lam. > > Di tataran akademis, kelompok ini diwakili oleh beberapa tokoh. > Misalnya, Fatima Mernisi (Maroko), Riffat Hassan (Pakistan) dan > Nawwal al-Sa'dawi (Mesir). Mernissi, umpamanya, mempertanyakan > sejumlah ajaran Islam yang menyangkut hak-hak wanita. Antara lain, > ia keberatan dengan pembagian hukum waris yang menurutnya sangat > patriatis. Hadits-hadits yang "memojokan" wanita, kata Mernissi, > adalah produk politik dari zaman Bani Ummayyah. Sementara Riffat > Hassan menggugat tafsir Al-Qur'an karena, katanya, banyak sekali > dipengaruhi "mufassir laki-laki." > > Inti dasar dari kaum feminis kelompok kedua ini adalah lemahnya > mereka dengan sumber-sumber asasi Islam, dan secara sadar atau > tidak, akhirnya dimanfaatkan musuh-musuh Islam untuk mempengaruhi > wanita muslimah lain. Di Indonesia, banyak cendikiawan wanita yang > sudah mulai terserang virus "feminisme" semacam ini. > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now. http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

