http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/free/utama.html
 
Tempo Edisi. 34/XXXIV/17 - 23 Oktober 2005
         
Laporan Utama

Kesaksian Seorang Teroris ’Freelance’

Generasi baru teroris menyulitkan polisi mengungkap bom Bali II: mereka 
independen dan tak selalu taat struktur organisasi. Dari kesaksian 
tersangka teroris Abdullah Sonata, terungkap rencana pembunuhan terhadap 
bekas Koordinator Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla.    

DARI Bali serta beberapa tempat di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa 
Tenggara, informasi itu berkelebatan seperti bayang-bayang. Kadang 
tegas, kadang samar—lalu menghilang. Soal pengejaran pelaku bom Bali II 
yang meledak di Jimbaran, Bali, 1 Oktober silam memang bikin pusing 
aparat. Hingga Sabtu lalu, identitas tiga pelaku bom bunuh diri belum 
juga terungkap. Juru warta hanya mendapat informasi sepotong-sepotong. 
Sebentar diungkap beberapa sumber, lalu secara resmi dibantah petugas 
hubungan masyarakat Polri.


Polisi habis-habisan mengejar pelaku bom kedua di Bali itu—yang pertama 
terjadi di Legian, Kuta, Oktober 2002, dan menewaskan 202 jiwa. ”Tak 
mungkin pelakunya cuma bertiga, pasti ada yang merencanakan, ada yang 
membiayai,” ujar Kepala Polda Bali, Inspektur Jenderal I Made Mangku 
Pastika, di Denpasar berulang-ulang. Bom Bali II sendiri menewaskan 23 
orang, tiga di antaranya diduga keras adalah pelaku.


Di Pulau Jawa, hampir setiap hari ada cerita polisi merangsek sampai ke 
kampung-kampung. Polisi juga menyisir ulang jaringan para pelaku teror 
sebelumnya, semisal Amrozi dan Ali Imron. Mereka pelaku bom dahsyat di 
Legian, Bali, tiga tahun lalu. Tapi, kata Made Pastika, dari mulut 
mereka polisi belum banyak mendapat keterangan. Di Surakarta beredar 
kabar bahwa salah satu pelaku adalah Gareng, yang kata Kepala Polwil 
Surakarta Komisaris Besar Abdul Madjid, ”Menghilang sejak pertengahan 
2004”. Belakangan, malah diketahui Gareng masih hidup meski tak lagi 
tinggal di Solo (lihat Misteri Tiga Kepala).


Polisi bermain di dua lini: memastikan identitas tiga kepala, juga 
mengejar dua buron kakap, Azahari dan Noordin M. Top. Mereka dituding 
berada di belakang bom Kuta dan Jimbaran. Puluhan polisi dari Detasemen 
Khusus AntiTeror Markas Besar Polri, plus kekuatan polisi setempat, 
dikerahkan mengejar dua buron itu. Ribuan selebaran bergambar kedua 
buron ditumpahkan aparat dari helikopter. Sepekan pengejaran, polisi 
mengendus keberadaan Noordin M. Top di Jawa Tengah. Sayangnya, dia luput 
dari tangkapan aparat di satu desa di Wonogiri, dua pekan lalu (lihat 
Mengenal Jejak Noordin-Azahari).


Jumat lalu Tim Reserse Polda Nusa Tenggara Timur dan Tim Detasemen 88 
menggelandang dua warga yang diduga Azahari dan Noordin M. Top di Pulau 
Rote, Nusa Tenggara Timur.


Dua orang itu diketahui bernama Jejen Ahmad Zaelani dan Fahrudin. 
Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kepolisian NTT, Kompol Marten 
Raja, kedua warga ini akan diambil sampel darahnya guna pemeriksaan DNA. 
Kata Marten, sekilas wajah Jejen mirip Azahari, dengan ciri-ciri berkaca 
mata, rambut lurus pendek dan berkulit sawo matang.


* * *


SATU hal yang menyulitkan polisi mengungkap bom 2005 ini, pelaku 
ditengarai generasi baru jaringan teror bom, yang dituduh masih terkait 
dengan jaringan Jamaah Islamiyah. Yang menarik, Kepala Polwil Surakarta 
Komisaris Besar Abdul Madjid mengatakan pelaku bom Bali jilid dua adalah 
generasi ketiga. Ini adalah generasi turunan di bawah Zulkarnaen, yang 
dikenal sebagai Panglima Laskar Asykari selain Dr Azahari sendiri.


Dari bom Jimbaran-Kuta, sebetulnya bisa ditarik satu pelajaran bahwa 
jaringan pelaku teror bom punya banyak sumber radikalisme yang sulit 
padam. Kantong radikalisme itu bisa tumbuh dan terpisah dari organisasi 
radikal, tapi masih berada di satu garis ideologi jihad versi Jamaah 
Islamiyah.


Satu riset yang dibuat Sidney Jones, Direktur Asia Tenggara 
International Crisis Group, menyebut ada kelompok yang disebut Thoifah 
Muqatilah—unit tempur yang masih belum jelas kedudukannya dalam Jamaah 
Islamiyah. Sidney termasuk peneliti garda depan soal gerakan radikal 
Islam di Asia Tenggara.


Menurut Sidney Jones, sayap garis keras lama kembali muncul tiga atau 
empat bulan belakangan. Mereka berusaha membentuk kembali Laskar Khos 
yang hancur karena banyak aktivisnya yang dicokok polisi. Tujuan mereka, 
kata Sidney, semacam proyek istimata, brigade pengebom bunuh diri. Meski 
begitu, informasi tentang kelompok ini masih sangat minim (lihat 
wawancara Sidney Jones, Sayap Garis Keras itu Bernama Thoifah Muqatilah).


Ada indikasi, tutur Sidney, dalam beberapa bulan belakangan mereka sudah 
merencanakan operasi. ”Tapi saya tidak tahu di mana dan siapa saja 
mereka,” ujarnya. Mengutip keterangan seorang bekas pimpinan Jamaah 
Islamiyah dari Mantiqi III, Nassir Abbas, Sidney mengatakan istilah 
Thoifah Muqatilah sudah lama dipakai Jamaah Islamiyah, persisnya sejak 
bom Bali pertama.


Penelusuran Tempo ke jaringan bekas anggota Darul Islam (DI) di Jawa 
Tengah menemukan Thoifah Muqatilah menabalkan dirinya penerus perjuangan 
Imam Samudra. ”Kelompok ini tampaknya terinspirasi pada semangat jihad 
Dr Azahari,” kata sumber yang tak ingin disebutkan identitasnya. 
Semangat itu adalah berjihad melawan nonmuslim di luar daerah 
konflik—sesuatu yang sebenarnya tak disetujui Jamaah Islamiyah.


Seorang bekas anggota JI di Jawa Tengah juga mengaku pernah mendengar 
nama Thoifah Muqatilah. Namun dia tidak mengetahui bagaimana 
strukturnya. Dia juga tidak yakin bahwa unit tempur itu berada di dalam 
struktur Jamaah Islamiyah. Meski mengaku tidak tahu persis soal Thoifah, 
di belakang unit itu berhimpun anak-anak muda dan generasi baru. 
Bedanya, kelompok ini punya semangat militan dan tak terikat dengan 
ketentuan organisasi seperti Laskar Khos.


Masih di Jawa Tengah, sumber Tempo yang lain menyebutkan Thoifah muncul 
setelah Laskar Khos atau Laskar Asykari bubar, akibat Mustofa, 
panglimanya, ditangkap polisi dua tahun lalu. Meski begitu, panglima 
brigade bom bunuh diri, Zulkarnaen alias Arif Sunarso, mengaktifkan 
kembali Laskar Khos. Karena jaringan ini sudah terbongkar aparat, 
beberapa anak muda itu membangun kelompok sendiri. ”Jaringan personelnya 
pun belum dikenal,” kata sumber itu lagi.


* * *


SELAIN Thoifah Muqatilah, ada pula kelompok lain yang tak pernah 
menyebut dirinya dengan nama tertentu. Mereka kebanyakan bergabung dalam 
kelompok cair yang percaya jihad harus dilakukan warga muslim di daerah 
konflik untuk mempertahankan Islam. Mereka orang muda yang punya 
pengalaman tempur di Filipina dan kerap mempraktekkan taktik gerilya 
militer di daerah konflik beraura pertentangan agama seperti Ambon dan Poso.


Tersebutlah Abdullah Sonata, 27 tahun, yang ditangkap polisi sekitar 6 
Juli lalu di Jakarta. Dia ditangkap karena mengirimkan sejumlah pemuda 
Indonesia ke Filipina untuk belajar militer dengan bergabung bersama 
Moro Islamic Liberation Front (MILF), gerakan bersenjata yang menentang 
pemerintah Filipina di Mindanao, Filipina Selatan. Meski masih muda, 
Sonata tampaknya punya pengaruh besar di lingkaran gerakan radikal Islam.


Lewat tangan dia, para kader mujahidin Indonesia bisa berlatih di 
Filipina. Kepada polisi, Sonata mengaku mengirimkan sepuluh orang kader 
ke Filipina atas permintaan Umar Patek alias Daud, buron kakap bom Bali 
I yang melarikan diri ke Filipina. Pengakuan itu disampaikan kembali 
oleh asisten juru bicara Mabes Polri, Komisaris Besar Polisi Saut Usman 
Nasution, kepada wartawan dua bulan lalu.


Dalam pengakuan itu, Umar Patek sangat khawatir dengan semakin 
menyusutnya kader mereka akibat tertangkap polisi antiteror. Dia meminta 
Sonata mengirimkan 10 orang ke Filipina untuk berlatih militer. Maka, 
pada Desember 2004, tiga kadernya, Faiz Saifuddin, Nasir, dan Deddi 
Resdiana, berangkat ke Filipina. Namun ketiganya tertangkap di 
Zamboanga, Filipina, sesaat setelah turun dari kapal feri. Berikutnya, 
diberangkatkan ke Filipina tiga orang lagi, namun tertangkap di Tawau 
oleh polisi Malaysia.


Dalam dokumen pemeriksaan Faiz, data tentang gerakan anak-anak muda ini 
cukup mengejutkan. Disebutkan, Faiz pergi ke Filipina untuk bertemu 
Dulmatin, buron kakap bom Bali I yang lolos dan berada di kawasan 
Filipina Selatan. Dia membawa duit sekitar US$ 21 ribu, yang dititipkan 
Sonata kepada Dulmatin guna membeli senjata. Duit itu, berdasarkan 
pengakuan Faiz, diberikan seorang Arab kepada Abdullah Sonata untuk 
diteruskan kepada Dulmatin. Pertemuan dilakukan pada November 2004 di 
sebuah restoran Mesir di Jalan Tambak, Jakarta Pusat.


Saksi lain yang diperiksa atas kasus Sonata adalah Purnama Putra alias 
Usman atau Ipung. Umurnya masih muda, 24 tahun. Warga Sukoharjo ini 
pernah kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Lima tahun lalu, 
bersama sebuah lembaga swadaya masyarakat penanggulangan krisis di Solo, 
dia sempat pergi ke Ambon. Tujuannya memerangi musuh Islam di sana.


Di Ambon, Purnama mengenal Azahari dan Noordin M. Top. Azahari memakai 
nama Zuber, sedangkan Noordin pakai nama Aiman. Mereka sempat bertemu 12 
kali dalam berbagai kesempatan, termasuk sebelum aksi bom di depan 
Kedutaan Besar Australia, Kuningan. Mereka sempat bertemu di Surabaya, 
Pekalongan, dan Wonogiri. Waktu itu, Noordin menawarkan kerja sama 
dengan Abdullah Sonata. Saat bertemu di Salatiga, Noordin sudah berpisah 
dengan Azahari. Setelah hampir tertangkap polisi di Bandung tahun lalu, 
keduanya tak lagi bersembuyi bersama.


Uniknya, Sonata tak setuju dengan gaya jihad Azahari dan Noordin yang 
melakukan aksi serangan bunuh diri di luar daerah konflik. Karena itu, 
kata Purnama, Sonata menolak bekerja sama dengan Noordin. Purnamalah 
yang menyampaikan pesan Sonata itu. ”Abdullah Sonata telah menyatakan 
putus hubungan dengan Antum (Anda),” ujar Purnama, saat terakhir bertemu 
Noordin, Januari lalu.


Meski begitu, mereka sepakat berjihad ke daerah perang. Dalam berita 
acara itu juga mereka mengakui mampu merakit rangkaian bom. Purnama dan 
Usman, misalnya, pernah menitipkan bom kepada rekan mereka, Danny, untuk 
diserahkan ke Abdullah Sonata. Pada Desember 2004, mereka menyimpan 
sekitar lima rangkaian bom berbahan potasium klorat.


Menurut sumber Tempo, Abdullah Sonata adalah tipe generasi baru di 
jaringan radikal Islam ini. Dia tak mau meledakkan bom laknat di tengah 
keramaian kota yang tak sedang berperang. ”Dia menyebut dirinya sebagai 
mujahid freelance,” ujar sumber itu. Yang membuat Sonata disegani adalah 
pengalaman tempurnya di Filipina. Di Jawa Tengah, seorang bekas anggota 
JI mengakui Sonata benar bukan anggota Jamaah Islamiyah. Sampai Juli 
lalu, polisi berhasil menggulung kekuatan Sonata. Sekitar 18 orang dari 
kelompok ”freelance” ini sudah ditahan polisi.


Satu hal yang mengejutkan adalah Sonata pernah pula merencanakan 
membunuh bekas Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar 
Abdalla. Adalah Iqbal Husaini alias Ramly yang membeberkan kisah ini 
kepada polisi, Juli 2005 lalu. Iqbal, pemuda 25 tahun asal Lampung, 
bertemu Sonata hari kedua Lebaran 2004. Dalam pertemuan itu Sonata 
meminta Iqbal mencari informasi tentang Ulil. Sebulan kemudian, Sonata 
memberi uang Rp 7 juta untuk membeli sepeda motor Yamaha RX King yang 
akan digunakan untuk operasional rencana jahat itu.


Rencana membunuh Ulil dilakukan setelah Forum Ulama Umat Islam (FUUI), 
sebuah organisasi yang berpusat di Bandung, menjatuhkan vonis mati 
kepada menantu kiai NU KH Mustafa Bisri tersebut. Selain menggerakkan 
JIL yang aktif menyuarakan sekularisasi dan liberalisasi Islam, Ulil 
juga dipandang bersalah setelah menulis kolom berjudul ”Menyegarkan 
Kembali Pemikiran Islam” di sebuah surat kabar nasional. Artikel itu 
dipandang mendiskreditkan Islam.


Setidaknya tiga kali Iqbal dengan dibantu oleh beberapa kawan melakukan 
survei di kawasan Utan Kayu, tempat JIL berkantor. Dua survei yang 
pertama dilakukan dengan memarkir motor di dekat lokasi. Iqbal tak masuk 
ke kantor JIL melainkan hanya duduk di motor yang disandarkan di pinggir 
jalan.


Dalam survei ketiga, Mei 2005, Iqbal mendatangi Masjid Sunda Kelapa. Di 
sana kala itu berlangsung diskusi tentang sepak terjang JIL. Dari 
seorang ulama yang menjadi pembicara, Iqbal mendengar bahwa eksekusi 
mati hanya boleh dilakukan oleh negara dan bukan perorangan atau 
kelompok. Iqbal tergetar. Ia kembali kepada Sonata dan melaporkan 
”temuannya” tersebut. Berdasarkan diskusi dengan Sonata, akhirnya 
disepakati, rencana pembunuhan dibatalkan.


Sayangnya, Sonata serta tersangka lain yang kini meringkuk di sel polisi 
tak dapat diwawancarai Tempo. Untuk beberapa bulan ke depan, semua tokoh 
itu adalah kunci penting bagi polisi untuk mengungkap teror bom yang 
terjadi di Tanah Air. Karena itu akses untuk mencapai mereka kini 
digembok aparat rapat-rapat.


Terseraknya orang dan organisasi yang berpotensi melakukan teror bom 
berikutnya di Indonesia inilah yang membuat polisi bekerja ekstrakeras. 
Semua orang kini harus waspada: di luar Noordin dan Azahari, masih ada 
orang lain yang bersiap menjadi ”pengantin”. Yang terakhir ini adalah 
istilah bagi mereka yang siap melumatkan diri sendiri dengan bom yang 
menggantung di punggung.


Nezar Patria, Nurlis E. Meuko, Imron Rosyid (Solo), Sohirin (Semarang), 
Rofiqi Hasan (Denpasar), Maria Ulfah (Jakarta)



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke