Seingat saya, Anda menulis cerpen tentang teroris
untuk lomba di majalah femina tahun lalu, yang
kebetulan saya jurinya. Terus berkarya, ya..

Salam,

--- Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Teman-teman,
> 
> Saya sedang membongkar file-file lama, dan menemukan
> cerpen di bawah ini, yang saya tulis dan dimuat di
> Kompas pada tahun 2003. Cerpen ini saya share di
> sini,
> khususnya buat teman-teman yang menggemari cerpen.
> Semoga ada gunanya....
> 
> Meskipun ini cerita fiksi, sekitar separuh cerita
> ini
> berdasar fakta. Misalnya: 
> 1. Saya (waktu itu masih wartawan desk luar negeri
> Kompas) bersama Taufik Rahzen dan Rizal Mallarangeng
> memang masuk ke Baghdad menjelang perang 1991,
> bergabung dengan Gulf Peace Team. Kami mengalami
> pemboman pesawat-pesawat AS-Inggris-Italia pada
> perang
> hari pertama.
> 2. Ada affair (kami meyakini ini) antara anggota
> Gulf
> Peace Team (seorang perempuan asal Jerman, bukan
> Amerika) dengan staf pejabat Irak. 
> 3. Kami yakin ada anggota intel Amerika (CIA) yang
> menyusup di antara anggota Gulf Peace Team, melihat
> dari gaya dan tingkah lakunya, meski tak punya hard
> evidence (sebagai anggota LSM perdamaian, kamu
> merasa
> cukup bisa membedakan orang yang betul-betul cari
> damai, dengan orang yang sok cari damai).
> 4. Dll....
> 
> Thx dan salam,
> Satrio
>
======================================================
> 
> SEBUAH CERPEN:
> 
> Seorang Perempuan Amerika di Baghdad
> 
> Oleh Satrio Arismunandar
> 
>       Pertama kali aku bertemu Nancy Goodhead adalah
> ketika
> pesawat Iraqi Airways, maskapai penerbangan Irak,
> yang
> kami tumpangi baru saja mau meninggalkan bandar
> udara
> Alia di Amman, Yordania. Waktu itu Desember 1990,
> beberapa bulan sesudah tentara Irak menyerbu Kuwait,
> dan kemudian pasukan multinasional yang dipimpin
> Amerika Serikat sudah mencanangkan serangan ke Irak.
>       Ribuan orang, termasuk para diplomat dan pekerja
> asing,  meninggalkan Irak untuk menghindari perang.
> Namun, di bawah bayang-bayang serangan Amerika dan
> sekutunya, sejumlah orang justru mau masuk ke Irak.
> Salah satunya adalah aku, sebagai anggota organisasi
> perdamaian, yang berkepentingan untuk mencegah
> perang.
> Mereka yang memilih masuk ke Irak, umumnya hanyalah
> warga Irak sendiri, petugas PBB, jurnalis, atau
> aktivis perdamaian dan kemanusiaan. 
>       Dalam antrean, ketika mau memasuki pesawat, kopor
> Nancy –yang waktu itu belum kukenal-- jatuh. Aku
> membantu mengambilkannya. "Terimakasih," ujarnya,
> sambil tersenyum ramah. Ia mengenakan jeans biru,
> sweater merah jambu dan jaket kulit hitam. Rambutnya
> yang panjang sebahu berwarna kecoklatan. Kutaksir,
> umur perempuan ini sekitar 32 tahun.
>       "Apakah Anda datang ke Irak, juga sebagai anggota
> kelompok perdamaian?" ia bertanya. 
>       "Ya. Saya dari Indonesia. Saya tergabung dalam Gulf
> Peace Team, organisasi perdamaian yang berbasis di
> London dan didirikan oleh Yusuf Islam. Anda tentu
> tahu, dulu ketika masih menjadi musisi dunia,
> namanya
> Cat Stevens," sahutku.
>       "Ah, ya. Tentu saja. Salah satu lagunya sangat saya
> sukai. Judulnya, kalau tak salah Morning has broken,
> bukan?" tuturnya. "Maaf, saya belum memperkenalkan
> diri. Nama saya Nancy. Saya tergabung dalam
> organisasi
> perdamaian The Coalition for World Peace and
> Friendship. Ini organisasi Amerika, saya juga orang
> Amerika. Tetapi kami menentang perang, sama seperti
> Anda."
>       Ternyata kami dapat tempat duduk bersebelahan di
> pesawat. Maka, sepanjang penerbangan dari Amman ke
> Baghdad, ibukota Irak, kami mengobrol tentang banyak
> hal. Nancy mengaku berasal dari Ohio. Ia pernah
> menikah, tanpa dikaruniai anak, kemudian bercerai.
> Ia
> sudah bergabung dengan organisasi perdamaian dalam
> beberapa bulan terakhir, sesudah berhenti dari
> pekerjaannya di sebuah perusahaan perangkat lunak
> komputer. 
>       Pekerjaan tersebut sebetulnya cocok dengan
> bidang ilmunya, sebagai lulusan jurusan teknologi
> informasi di Columbus State University. Nancy
> berhenti
> dari pekerjaannya, dengan alasan, "ingin mencari
> pekerjaan baru yang lebih banyak berinteraksi dengan
> manusia lain." Sambil menunggu memperoleh pekerjaan
> lain, ia ikut aktif di organisasi perdamaian.
> Menurut
> Nancy, krisis Irak ini menyentuh perasaannya untuk
> terlibat lebih dalam, dengan terjun langsung dalam
> aksi menentang perang.
>       Tak terasa pesawat kami sampai di Bandara
> Internasional Saddam, sekitar 25 kilometer dari
> pusat
> kota Baghdad. Kabut tipis ditambah udara yang dingin
> --waktu itu memang sedang musim dingin di Irak--
> menambah murung suasana. Menurut rencana, kami para
> aktivis perdamaian akan segera menggelar demo
> antiperang di Baghdad, dalam dua-tiga hari
> mendatang. 
> Dan sebagai puncaknya, kami akan mengadakan kemah
> perdamaian di perbatasan Irak -Arab Saudi. 
>       Ini merupakan aksi simbolis, karena para
> aktivis
> merelakan diri menjadi "perisai manusia" di antara
> posisi dua kubu yang mau berperang. Di wilayah Arab
> Saudi, saat itu telah bercokol puluhan ribu pasukan
> multinasional yang dipimpin Amerika.
> 
> ***
> 
>      "Ah, selamat datang! Selamat datang di Irak.
> Mohon maaf atas penyambutan kami yang apa adanya
> ini,"
> sambut seorang pria Irak kepada kami, rombongan
> aktivis perdamaian. Tubuhnya tinggi, dan terkesan
> atletis. Ia kelihatan tampan, dengan kumis dan
> alisnya
> yang tebal. Namun, yang paling mengesankan bagiku
> adalah sorot matanya yang bening dan polos.
> Kelihatannya tidak pas dengan postur tubuhnya yang
> lebih garang. 
>       "Perkenalkan, nama saya Saeed Mursheed
> al-Majeed. Saya adalah staf dari Departemen Luar
> Negeri Irak. Saya ditugaskan menjadi pemandu Anda,
> sekaligus melayani berbagai kebutuhan Anda selama di
> Irak ini. Mari ikut saya. Mobil sudah menunggu,"
> ujarnya. 
>       Ada sederetan mobil sedan dan van yang sudah
> menunggu kami. Aku, Nancy, dan Saeed kebetulan
> mendapat mobil yang sama. Nancy dan Saeed duduk di
> kursi depan, aku di belakang. Bersamaku di kursi
> belakang, aktivis perdamaian asal Jepang, Miyuki
> Nakajima, dan aktivis asal India, Prabha Jagannatan.
> 
>       Mobil kami meluncur memasuki kota Baghdad,
> menyusuri pinggiran Sungai Tigris yang lebar dan
> indah
> itu. Jalan yang kami lalui lebar dan mulus.
> Benar-benar infrastruktur perkotaan yang bagus, yang
> dibangun dengan uang minyak. Baghdad adalah kota
> tua.
> Di masa kejayaannya, ketika Paris dan London masih
> desa kecil yang tak dikenal, dan Christopher
> Columbus
> belum menginjakkan kakinya di benua liar yang
> sekarang
> bernama Amerika, Baghdad sudah menjadi kota
> metropolitan yang makmur. 
>       Kami menuju ke tempat penginapan sementara di
> Baghdad, sebelum berangkat ke perbatasan Irak–Arab
> Saudi. Orang terlihat di jalan-jalan. Denyut
> kehidupan
> di kota seribu satu malam ini seolah berjalan
> normal.
> Namun ketidaknormalan akan terasa, jika kita melihat
> ke atas. Di beberapa atap gedung kulihat
> moncong-moncong ZSU-23, senjata anti-serangan udara
> buatan Rusia, kaliber 23 mm. Senjata-senjata ini
> menengadah ke langit, seolah-olah tak sabar
> menyongsong datangnya pesawat-pesawat musuh. 
>       Saeed termasuk pria menyenangkan. Sepanjang
> perjalanan, ia cepat akrab dengan para tamunya,
> terutama dengan Nancy. Saeed bercerita tentang
> macam-macam hal, mulai dari desa asalnya, kuliahnya,
> karirnya, dan keterlibatannya di tugas ini. Salah
> satu
> hal yang ikut mendorong karirnya di Departemen Luar
> Negeri adalah asal kelahirannya di Desa Tikrit, yang
> juga tempat kelahiran Presiden Irak Saddam Hussein.
> Sejauh informasi yang kudengar, Saddam memang
> menjadikan orang-orang dari kampung halamannya
> sebagai
> basis pendukung yang setia. 
>       Sebagaimana layaknya pemuda Irak lain, yang
> berdedikasi pada karir, Saeed juga jadi anggota
> Partai
> Ba'ath. Partai berideologi campuran sosialisme dan
> nasionalisme Arab ini adalah partai yang berkuasa di
> Irak. Jadi, Saeed memang di jalur karir yang tepat.
> Sayangnya, lulusan jurusan sosiologi Universitas
> Baghdad ini belum menikah, meski umurnya kuduga
> sudah
> 35 tahun. Katanya sambil tertawa, "Belum menemukan
> 
=== message truncated ===



        
                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke