Sejak saya di Eropa, sebagai mahasiswa dahulu, dan kini sebagai 
anggauta masyarakat dalam proses ekonomi, saya dikelilingi oleh 
sebagian besar manusia Eropa, kulit putih, yang agnostiker. 

Hanya sedikit dari manusia yang mengelilingi saya, dikantor ini, 
misalnya, yang merupakan pengunjung gereja. Dari 60an orang pegawai 
department, yang ke gereja, hanya 3, maximal.

Kalau kebetulan ngobrol, dan mereka tahu, saya regularly minggu ke 
gereja, meraka malah terpesona, dan tanya "haaah? benar? "memang kamu 
lalu jadi manusia yang lebih baik"? "problem-mu teratasi"? dan 
seperti itu.

Seorang kenalan baru, pensiunan lawyer kawakan, baru saja nikah 
dengan wanita Bali, yang sangat remaja (beda ada sihh 20an tahun).
Dia tanya saya: "kalau kamu Hindu atau Buddha, saya mengerti, itu 
adalah budaya leluhurmu, tetapi Kristen?"

"Apa urusanmu dengan agama orang orang Yahudi ini?"

Dan, mereka adalah warga yang taat, dermawan, sosial, dan serious 
dalam bekerja, dan dikeluarga. Sayang pada keluarga, taat sebagai 
warganegara, ramah sebagai tetangga. Kalau diajak bicara mengenai 
keprcayaan, mereka jawab? "Ah, kamu banyak waktu? gak ada kerjaan? 
berspekulasi tentang awang awang?".

kalau diceritakan, di KTP kita ada tulisan "agama", mereka 
terbelkalak, tanya: Hahh, apa urusan orang dengan apa yang kita 
percaya atau tak percaya?

Untuk bermasyarakat teratur rapi (dan ini mereka buktikan, dalam 
negara negara yang makmur tertata rapi ini),  kita butuhkan norma 
perundangan, yang rapi, tidak tumpang tindih, dikontrol 
pengamalannya, dan dipatuhi semua. Ini semua, ofcourse, peraturan 
manusia. Bukan jatuh dari langit. Tetapi, dampaknya: wuaahhh

Bus bus, tram tram disini tepat waktu, bersih, tak ada maling. Bersih 
dan terpelihara, kita dapat duduk dilantai bus atau stasiun 
underground tanpa baju kita kotor.

Ini semua, dari pagi buta sampai tengah malam, dikelola oleh manusia 
yang tak suka bicara mengenai langit, Tuhan, dosa dan hal hal seperti 
itu.

kemarin malam, ada acara TV Jerman, hiburan, sambil kumpulkan dana. 
pelaksana adalah "die Deutsche Welthungerhilfe" (Bantuan kelaparan 
dunia dari Jerman). Mereka kumpulkan derma, sumbangan, bagi gempa di 
Pakistan, Darfur. Mereka laporkan misi mereka bantu korban Tsunami di 
Aceh. Mereka perlihatkan, ketika mereka digandeng tangan oleh bocah 
kecil, yang tunggu kedatangan ayah, ibu, saudara, yang takkan datang 
lagi, karena mati.

Mereka ini, tak sepatah katapun bicara tentang kepercayaan, agama, 
atau demikian. Mereka tak mempersoalkan, agama apa bangsa yang 
dibantu. Pokoke manusia.

Mungkin, sulit bagi manusia Indonesia membayangkan hal ini. Kita 
terbiasa berfikir, orang yang tak beragama, adalah jahat. PKI, lalu 
di pulau Buru-kan..

Monggo ke Eropa.

Salam

danardono




--- In [email protected], tylla subiyantoro 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> dearest mbak lina :D
>  
> he he..sepertinya , karena referensi dan dasar logika yang kita 
gunakan berbeda,lama kelamaan diskusi kita menjurus pada debat kusir..
>  
> Mbak percaya sama logika formal-Idealis, saya percaya sama logika 
material-Dialektis. Mungkin setelah menyelesaikan research paper 
saya, Insha Allah, akan saya send beberapa artikel yang mendasari 
pendapat2 saya di diskusi ini, termasuk insha Allah, Summary The 
Origin Of the Family.
>  
> Ehm, tetapi, kalau arti agama, mungkin bisa mbak liat sendiri 
definisinya di kamus bahasa Indonesia, atau English Dictionary, atau 
beberapa ensiklopedi sosiologi dan/atau Antropologi :)
> Dari situ mungkin mbakl bisa memaklumi, mengapa saya sangat bisa 
menghargai dan memaklumi pilihan orang untuk jadi Agnostik/atheis.
>  
> O iya, satu lagi, kalo dari teori sosiologi yang saya pelajari sih, 
Atheis dan Agnostik itu konsep..:D hehehe..makannya saya 
membahasakannya konsep..mungkin bisa dibaca di bukunya Parsoons ; 
Tata, perubahan dan ketimpangan, nah disana kalau nggak salah ada deh 
teori soal Agnostik dan Atheis, karena seperti agama, keduanya 
menurut Paresons juga merupakan  bagian dari 'sistem kepercayaan' 
dalam tata struktur sosial masyarakat ..;)
>  
> Cheers
> Tylla
>  
> Cheers
> -Tylla
> Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> --- In [email protected], tylla subiyantoro 
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > 
> > 
> > Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > ---Mbak Tylla,
> > Saya pikir temenmu itu tidak mengerti soal agama, meski dia punya 
> > pesantren whatever deh. Ini sama saja dengan orang yang ngaku 
> > beragama (ada gelar kiyai) tapi kelakuan (kasat mata)nya minus. 
> > Sedang temanmu mengaku agnostik tapi kelakuan (kasatmata)nya 
> > positif. Betul, tidak perlu menjadi orang beragama kalau mau 
> > menekuni apapun. 
> > ##Tylla
> > Wah..lagi lagi ini calim (atau boleh dibilang pemaksaan) apa apa 
> yang dianggap layak, tidak layak, patasa tidak pantas,ngerti tidak 
> ngerti...hehehehe..kalau mbak merasa bahwa mbak yang paling ngerti 
> soal agama..ya..saya ngakat tangan dah..hehehehe..cuma pertanyaan 
> saya mbak..ehm, sebenernya, standar ngerti nggak ngertinya itu ap 
ya 
> measurementanya..kalau ukuran ilmiah, dan latar belakang soasial 
> nggak dianggep..hehehehe..kayaknya nggak relevan deh sama analogi 
> kyai yang mbak bilang..hehehe
> 
> Lina: Saya tidak memaksa siapa-siapa. Orang kan bebas berpendapat.
> Measurmentnya gampang: dia tak mengakui sebagai orang beragama 
> berarti dia tidak mengerti agamanya.
> 
> Sama saja dgn seorang kiyai yang mengaku sangat beragama tapi 
> kelakuannya tidak menunjukkan dia mengerti agama.
> 
> Bajunya: beragama/tidak beragama, kelakuannya: tidak beragama dan  
> beragama
> > 
> > Kalau dia percaya Tuhan dan konsisten kpd agnosticnya, cara mana 
> > yang akan dia tempuh kalau dia mau menikah atopun meninggal. 
> Apakah 
> > 
> > ## Lha mbak..sebelum agama ada, orang kan udah 'kawin'..sekarang 
> banyak kok perkawinan yang'hanya' dicatatkan secara hukum, tanpa 
> tradisi agama..intinya perkawinan kan pelembagaan relationship 
antar 
> dua jenis kelamin toh ? hehehe..dari jaman masyarakat berburu 
meramu 
> yang belum mengenal 'agama', itu udah ada kok mbak..sekali lagi 
saya 
> rekomendasikan bukunya Engels..the origin of the 
> family..hehehe..Soal meninggal..ya dikubur bisa, dikremasi 
> bisa..dimumi juga bisa..sekali lagi, sebelum ada 'agama', udah ada 
> kok sistem pengelolaan hal hal macam itu..hehehehe
> > kalo temen saya sih bilang, dia mau yang 'praktis praktis aja 
> kalau mati nanti..di kekremasi, biar nggak susah ngurus 
administrasi 
> kuburannya..hehehe"
> 
> Lina: Nah kan Tylla dah baca bukunya, bisa gak di summarize aja 
> kapan sih agama itu ada menurut buku tsb? karena saya pikir ada 
> perbedaan sudut pandang ttg apa itu agama.
> 
> Kalau dia bilang dikremasi, itu kan berarti (mau tidak mau) 
> mengikuti sistem agama tertentu. Berarti dia butuh suatu sistem. 
> Tetapi sombongnya dia, dia tak mau mengakui bhw agama itu sistem 
> hidup. 
> 
> Agama itu memang hanya untuk orang yang mau berfikir. Kalau gak 
mau, 
> ya terserah saya toh tidak bisa memaksa. Saya tidak perduli dengan 
> pilihan apa yang dipilih temanmu. Saya hanya ingin memberikan 
> paradigma berfikir lain di milis ini ttg masalah temenmu.
> > 
> > Soal kekecewaan.. hmm, saya rasa nggak ada relevansinya bikin 
> justifikasi itu, karena sekali lagi..hak orang bukan, memutuskan 
apa 
> yang dia ambil dalam hidup, berdasarkan apa yang dia alami dia 
> rasakan, selama nggak 'maksa' orang lain meyakini apa yang dia 
> yakini..hehehe
> 
> Hak orang untuk memutuskan tapi hak orang lain pula untuk menilai.
> Saya tidak maksa siapa-siapa. Take it or leave it.
> 
> itu adalah tendensi 'perintah' atawa keharusan ?
> > 
> > Mbak Tylla,
> > Pada hal diatas..saya bertanya itu kan pada konteks " Hak memilih 
> > manusia yang mau berdasarkan apa: agama, non agama, agnostic, 
> > ateis". Itu jelas tak bisa dipaksa, terserah manusia.
> > 
> > Sedang pada hal yang kedua ini kan kesimpulan ato yang pada 
> dasarnya 
> > manusia harus kembali kpd agama sbg tolok ukur. Toh nyatanya juga 
> > feminisme itu juga merujuk kpd agama, meski hanya pada tatanan 
> > global yang menyeluruh. Karena pada tatanan pribadi feminis 
atopun 
> > bukan, agamapun tlh mengatur bhw laki dan pere gak usah saling 
> > dengki krn masing2 punya kelebihan spt yg saya kutipkan ayat 
> > AlQur'annya tsb. 
> > > 
> > > . 
> > 
> > ##Tylla : Wah..untuk yang ini tanggapan saya sederhan aja..buat 
> apa ada konsep agnostik dan Atheis kalau mempercayai adanya Tuhan 
> harus di idemkan dengan beragama..:D o iya, ada novel bagus yang 
> menguraikan persoalag agnostik ini..judulnya Tuhan Tiri.Coba kalau 
> mbak sempat, mbak baca deh..Menarik novelnya, nggak membosankan..
> 
> Agnostik dan atheis itu bukan konsep. Dia tidak punya konsep apa-
apa 
> karena tidak punya dasar apa-apa kok. Baca deh artikel yang saya 
> postingkan dgn judul Definisi Tuhan. 
> > 
> > 
> > > Justru Justifikasi atas kecongkakan sesorang yang menolak 
> > mengamini sebuah keyakinan (soal theis/atheis, Gnostik/Agnostik), 
> > merupakan manifestasi claim kebenaran yang..(bisa kasih saran 
> nggak, 
> > apakah ada  bahasa yang lebih tepat dan representatif  
> > selain 'congkak'?) hehehehe...
> > 
> > Lina:
> > Whatever bahasanya, saya terima saja kok karena ada penjelasannya 
> > kan? bukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
> >  
> > 
> > ##Tylla : Nah sama mbak..para atheists dan agnosticts itu punya 
> penjelasan seperti yang mbak bilang saat ini ..sekali hehehe..
> 
> Ya gpp kalau mereka mengatakan saya congkak. Apa dasarnya? kan gitu.
> Kalau saya kan jelas dasar dan landasan saya AlQur'an. Jadi saya 
> selalu berusaha menghubungkan nalar saya dengan AlQur'an biar gak 
> kesasar (meski kadang terpeleset). Kalau mereka mau dilandaskan 
apa? 
> akal2annya dan nafsunya saja? AlQur'an mengatakan orang seperti itu 
> bagaikan binatang ternak (masih mending saya bilang mereka 
congkak). 
> Tentu ini dalam arti akidahnya yang menuhankan akal dan nafsu, 
> meninggalkan syariat agama.
> 
> wassalam,
> 
> 
> wassalam,
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://www.ppi-india.org
> 
**********************************************************************
*****
> 
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi 
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS 
> 
> 
>     Visit your group "ppiindia" on the web.
>   
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
>   
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
> 
> ---------------------------------
> 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
>  Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.  
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke