Pada setiap momen kenaikan harga BBM, para ahli ekonomi makro cenderung meramalkan angka yang indah-indah. Misalnya kenaikan harga BBM akan mengurangi jumlah kemiskinan, akan meningkatkan lowongan kerja, akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan sebagainya.
Namun mereka melupakan proses pemiskinan massal yang terjadi akibat naiknya biaya hidup hingga mencapai 67%. Para ekonom (terutama kaum neoliberalis) hanya memperkirakan harga barang akan naik antara 0,3-0,5% untuk setiap kenaikan BBM sebesar 10%. Jadi kenaikan BBM sekitar 125% akan menaikan harga barang 12,5% saja. Padahal realitanya kenaikan harga minyak tanah dari Rp 900/liter jadi Rp 3.000/liter (di pasar) naik 233%. Pertamina angkat tangan soal ini. Telur dari Rp 7.500/kg jadi Rp 11.000/kg naik sebesar 47%. Bis kota naik dari Rp 1.200 menjadi Rp 2.000, naik sebesar 67%. Harap diingat, transportasi dan makanan adalah komponen terbesar dari biaya hidup. Sebagai contoh, jika satu keluarga dengan 2 anak sebelumnya menghabiskan biaya transportasi Rp 12.000/hari dan biaya makanan Rp 15.000/hari, dalam satu bulan mereka menghabiskan Rp 264.000 untuk transport dan Rp 330.000 untuk makan. Begitu terjadi kenaikan harga BBM, pengeluaran mereka bertambah menjadi Rp 428.000 untuk transport dan Rp 425.000 untuk makan. Naik Rp 259.000 rupiah hanya dari 2 komponen saja. Belum dari Listrik, PAM, minyak tanah/gas, biaya sekolah, dsb. Oleh karena itu, angka inflasi 12% menurut saya amat dikecilkan karena angka kenaikan untuk 2 komponen saja sekitar 43%. Paling tidak angka inflasi yang real bisa mencapai 35%. Sementara gaji orang-orang tersebut sulit bertambah karena perusahaan juga sudah menanggung beban biaya operasi yang bertambah. Sekali lagi ini adalah proses pemiskinan massal. Memang pemerintah akan mendapat pertambahan pendapatan paling tidak sebesar 86% dari kenaikan harga BBM sebesar 125%. Pemerintah mendapat tambahan dana sekitar Rp 126 trilyun dari selisih harga (Rp 4.500-2.400/liter) di sisi lain rakyat harus menanggung beban akibat kenaikan harga sebesar sekitar Rp 180 trilyun/tahun dengan asumsi tiap 60 juta keluarga menanggung tambahan biaya Rp 250 ribu/bulan akibat kenaikan harga BBM. Di satu sisi pemerintah naik penerimaanya (sebesar Rp 126 trilyun) - ini yang dihitung para ahli ekonomi makro. Di sisi lain rakyat bertambah melarat karena harus mengeluarkan tambahan dana Rp 180 trilyun - ini kelihatannya tidak dihitung oleh para ekonom neoliberal tersebut. Para investor baru, khususnya perusahaan minyak seperti Shell, Chevron, Exxon, mungkin akan masuk berinvestasi untuk membangun SPBU sendiri akibat harga BBM naik di sini. Jumlah investasi mereka niscaya dicatat oleh para ekonom tersebut. Ini adalah satu "pertumbuhan ekonomi." Namun angka investasi yang hilang akibat hengkangnya perusahaan-perusahaan asing atau pun tutupnya pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan karena kenaikan biaya niscaya akan luput dari perhatian mereka. Di berbagai media massa diberitakan Menaker Fahmi Idris memprediksi akan terjadi PHK terhadap 1 juta karyawan akibat kenaikan harga BBM (padahal sebelumnya dia memprediksi lowongan kerja bertambah). Berarti 1 juta karyawan berikut 3 juta anggota keluarganya kehilangan nafkah sebesar Rp 8,4 trilyun. Oleh karena itu, angka kemajuan ekonomi sebesar 6% yang diutarakan ekonom seperti Chatib Basri itu seperti fatamorgana bagi rakyat kecil. Angka itu hanya manis bagi pemerintah dan perusahaan-perusahaan minyak, tapi pahit bagi mayoritas rakyat Indonesia dan perusahaan-perusahaan menengah bawah. Bangkrutnya ribuan perusahaan kecil, misalnya tekstil yang mempekerjakan ratusan ribu buruh meski tergantikan oleh puluan perusahaan besar dengan puluhan ribu buruh dengan omset yang lebih besar meski secara angka hebat, namun tidak bagi peluang mencari nafkah bagi rakyat Indonesia. Besarnya angka Gross Domestic Product Indonesia tak diiringi dengan pemerataan pendapatan. 200 keluarga Indonesia menguasai 80% uang yang ada di Indonesia. Kita tahu bagaimana sebagian saham keluarga HM Sampoerna dibeli sebesar Rp 60 trilyun oleh Phillip Morris. Tahun 2003 GNP per capita di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 741/tahun (http://www.studentsoftheworld.info/country_information.php?Pays=IDN). Atau tiap orang dapat Rp 617.600/bulan atau 1 keluarga dengan 2 anak dapat Rp 2,47 juta per bulan. Kenyataannya tidak demikian. Karena tidak ada pemerataan seperti di atas (200 keluarga menguasai 80% ekonomi di Indonesia), mayoritas rakyat Indonesia hanya berpenghasilan sekitar US$ 148/tahun atau Rp 494 ribu/bulan per keluarga. Detail-detail ekonomi seperti ini seperti berapa persen orang menguasai berapa persen uang atau distribusi ekonomi inilah yang perlu diperhatikan agar kesejahteraan rakyat secara keseluruhan bisa meningkat. Ekonomi Makro tanpa detail seperti itu akan menjadi penderitaan bagi mayoritas rakyat Indonesia Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] __________________________________ Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

