"Akan tiba masanya islam tinggal namanya saja, Al quran tinggal tulisannya saja, masjid-masjid dibangun indah-indah dan ramai namun sepi dari petunjuk. Dan Ulama mereka (Ulama uhum) adalah sejelek jelek makhluk di kolong langit. Dari mulut mereka keluar berbagai macam fitnah yang akhirnya kembali kepada mereka. (Hadis)
TUDUHAN : Mengapa Ahmadiyah Dimusuhi? Oleh K.H. ACHIDIN NOOR, M.A. SERATUS tahun lebih, jemaat Ahmadiyah sejak lahirnya tidak pernah dan tidak akan pernah diterima dan akur dengan umat Islam di seluruh dunia. Pasang surut pergolakan dan penentangan terhadap jemaat Ahmadiyah terus terjadi, karena begitu banyak perbedaan mendasar antara Ahmadiyah dan umat Islam pada umumnya, walaupun Ahmadiyah berusaha terus meyakinkan pihak lain bahwa tidak ada perbedaan. Ahmadiyah memang jangan berharap bisa diterima oleh umat Islam non- Ahmadiyah dan jangan bermimpi bisa akur antara keduanya. Bagaimana mungkin bisa akur jika Ahmadiyah yang meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, rasul Allah, Imam Mahdi dan Nabi Isa Al-Masih; sementara umat Islam yang lain memberi cap Mirza sebagai nabi palsu, rasul palsu, Imam Mahdi palsu dan Nabi Isa Al-Masih palsu. Sungguh tidak akan bisa bertemu dan tidak akan pernah akur. Urusan Mirza sebagai nabi dan rasul Allah dengan alasan yang dibuat- buat oleh Ahmadiyah, itu memang urusan Ahmadiyah, urusan antara Allah dengan Mirza sendiri. Namun, kita bisa mengujinya secara cermat wahyu-wahyu, mimpi dan kasyaf Mirza yang ada dalam Kitab Tadzkirah (sebagai wahyu muqaddas/kumpulan wahyu suci) dengan Alquran Al-Karim dan Al-Hadis Asy-Syarif secara komprehensif dan tidak sepotong-sepotong. Apakah benar-benar isi Tadzkirah itu sebagai wahyu Tuhan? Sementara keganjilan dan kontradiksinya begitu banyak dan mencolok. Bahkan banyak sekali yang dianggap oleh Mirza dan Ahmadiyah sebagai wahyu Allah, tapi justru sebagai bukti kekufuran yang telak bagi Mirza Ghulam Ahmad. Sebagai contoh, ketika Mirza mengaku menerima wahyu dari Allah, "Anta minni bimanzilati waladi" (Tadzkirah halaman 412, 436, 636; terkadang dengan bentuk jamak, aulaadi). Artinya, "Engkau (bagian) dari-Ku dengan kedudukan (seperti) anak (anak-anak)-Ku". Apakah mungkin kata-kata itu sebagai wahyu Allah? Mahasuci Allah, Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan (Q.S. Surat Al-Ikhlas). Mirza mengaku menerima wahyu dari Allah, "Ya Ahmad, Yatimmu ismuka wala yatimmu ismi" (Tadzkirah halaman 51). Artinya, "Wahai (Mirza Ghulam) Ahmad, sempurnalah namamu dan tidak sempurna Nama-Ku". Betapa hebat Mirza, bahkan dia lebih hebat dan sempurna daripada Tuhannya sendiri. Tidak mungkin itu sebagai firman Tuhan. Mahasuci Allah dari tuduhan Mirza! Kalau wahyu-wahyu seperti itu mustahil sebagai firman Allah, secara otomatis dan tidak ada pilihan lain kecuali Mirza Ghulam Ahmad jelas sebagai pembohong, nabi palsu dan rasul palsu. Kedatangan Imam Mahdi dan turunnya kembali Isa Al-Masih adalah keyakinan dan bagian dari iman umat Islam. Namun, apakah benar Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Isa Al-Masih yang dijanjikan Allah? Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Isa Al-Masih merupakan keyakinan Mirza dan Ahmadiyah. Hal ini sebagaimana firman Allah (katanya) dan lihat Tadzkirah halaman 401, 622, 637. Sekarang coba kumpulkan secara cermat puluhan hadis yang ada dalam seluruh kitab hadis, terkait dengan Imam Mahdi dan Isa Al-masih. Terbukti bahwa Imam Mahdi dan Isa Al-Masih adalah orang yang berbeda, bukan menyatu dalam satu orang bernama Mirza Ghulam Ahmad. Adapun hadis yang ada dalam Sunan Ibnu Majah No. 4.126 "...wala Alhamdi illa Ia ibn Maryam" Artinya, "Imam Mahdi itu tiada lain adalah Isa ibnu Maryam", telah dibahas panjang lebar oleh para ulama ahli hadis, bahwa hadis tersebut sebagai hadits munkar, bertentangan dengan puluhan hadis yang lain dan dalam sanad-nya tidak beres alias hadis palsu. Sangat kerdil, berhujah dengan sepotong hadits munkar untuk masalah akidah yang sangat besar terkait dengan Imam Mahdi dan Isa Al-Masih. Kemudian kita simpulkan dari puluhan hadis tadi, sifat-sifat dan karakteristik Imam Mahdi dan Isa Al-Masih yang dijanjikan itu serta kondisi ketika dan sesudah keduanya diturunkan Allah ke muka bumi ini. Kesimpulannya, dengan turunnya Imam Mahdi dan Isa Al-Masih, dunia ini akan aman dan keadilan akan merata di seluruh dunia, sebagaimana pernah meratanya kezaliman. Keduanya akan memerangi umat manusia yang kafir, membunuh Dajjal dan memusnahkan seluruh agama dan yang tersisa agama Islam saja, kemudian Imam Mahdi memimpin dunia. Sekarang kita uji dengan mata melek, kondisi dunia ini mulai dari zaman Mirza Ghulam Ahmad hidup sampai zaman Khalifah Ahmadiyah yang ke-5 sekarang. Terbuktikah, dunia ini aman dan adil? Apakah sekarang di dunia ini yang tersisa hanya tinggal agama Islam? Apakah Yahudi dan Nasrani, juga agama-agama lain sudah musnah? Apakah Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyah pernah memimpin dunia? Malah kenyataan berbicara sebaliknya, Ahmadiyah diperangi hampir di seluruh dunia Islam. Bahkan sekadar tempat tinggal bagi khalifahnya sulit. Ia terpaksa mengungsi ke Inggris dan terusir dari negaranya, karena sistem kekhalifahan Ahmadiyah hanya Khalifah Ruhaiyah yang tidak pernah dikenal dalam sistem kekhalifahan dalam Islam. Walhasil, Mirza Ghulam Ahmad bukan Imam Mahdi dan bukan Isa Al-Masih yang dijanjikan alias pengakuan sebagai kedua-duanya adalah palsu. Rasulullah saw. bersabda, "Antara aku dan turunnya Isa Al-Masih tidak ada nabi... dan seterusnya." (Lihat Sunan Abi Daud hadis No. 4320). Nah sekarang kalau Imam Mahdi dan Isa Al-Masih belum turun dan Mirza Ghulam Ahmad bukan sebagai Imam Mahdi dan Isa Al-Masih yang dijanjikan, bagaimana dengan Mirza yang mengaku sebagai nabi dan rasul? Menurut hadis tadi, sangat meyakinkan dan secara otomatis Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi dan bukan rasul. Ketika Muhammad saw. diangkat Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya, orang-orang yang tidak percaya kepada beliau adalah kafir, sampai sekarang juga demikian. Sekarang kita tanya, bagaimana sikap Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyah terhadap orang-orang Islam yang tidak percaya kepadanya sebagai nabi, rasul, Imam Mahdi dan Isa Al-Masih? Tentu Mirza dan Ahmadiyah akan mengafirkan umat Islam yang non- Ahmadiyah bukan? Coba perhatikan Tadzkirah halaman 342, Mirza Ghulam berkata, "Bahwa Allah telah memberi kabar kepadanya, sesungguhnya orang yang tidak mengikutimu dan tidak berbaiat padamu dan tetap menentang kepadamu, dia itu adalah orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan termasuk penghuni Neraka Jahim." Dalam Tadzkirah halaman 600, Mirza berkata, "Sesungguhnya Allah telah menjelaskan padaku, bahwa setiap orang yang telah sampai padanya dakwahku kemudian dia tidak menerimaku, maka dia bukanlah seorang Muslim dan berhak mendapatkan siksa Allah." Inilah alasan yang sebenarnya, mengapa orang Ahmadiyah tidak mau salat di belakang orang non-Ahmadiyah. Ini sangat fundamental dan berbahaya, juga sebagai bukti kuat kezaliman Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyah terhadap umat Islam di seluruh dunia. Penganut Ahmadiyah perlu menyadari, mereka tertipu berat oleh segala bentuk pengakuan Mirza Ghulam Ahmad. Kehadiran Mirza yang mengaku nabi, rasul, Imam Mahdi dan Isa Al-Masih bukan menambah kuatnya umat Islam, melainkan sebaliknya, tambah runyam, kehadirannya bukan rahmatan lil 'alamin, tapi menjadi benih perpecahan baru di kalangan umat ini. Kebaikan sosial Ahmadiyah di dunia bukan jaminan Ahmadiyah benar, banyak kebaikan sosial agama lain tapi bukan jaminan kebenaran agama tersebut. Kembali kepada ajaran Islam yang asli dan benar, serta bergabung dengan umat Islam adalah jalan terbaik, supaya persatuan dan kesatuan Islam tetap terjaga dan terpelihara.*** Penulis, pimpinan Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Maniskidul, Jalaksana, Kuningan. Jawaban: http://www.pikiran- rakyat.com/cetak/2005/1005/24/teropong/lainnya04.htm Meluruskan Kesalahpahaman Tanggapan Atas Tulisan K.H. Achidin Noor, M.A. Oleh ABDUL WAHAB PIKIRAN RAKYAT tanggal 17 Oktober 2005, menurunkan artikel "Mengapa Ahmadiyah Dimusuhi?", Berikut tanggapan kami atas tulisan tersebut. Pertama, Mirza Ghulan Ahmad menerima wahyu anta minni bimanzilati walad artinya "Engkau (bagian) dari-Ku dengan kedudukan (seperti) anak (anak-anak)-Ku". Wahyu ini tercantum dalam buku Haqiqatul Wahyi hlm. 86 dan buku Tadzkirah hlm. 412. Kiai Achidin Noor hanya mengutip sebagian dari keseluruhan tulisan Mirza Ghulam Ahmad. Dalam penjelasan berikut diuraikan yaitu, "Allah SWT itu bersih dari mempunyai putra-putra". Kata walad di sini dipergunakan secara kias (Haqiqatul Wahyi hlm. 86 dan catatan pinggir dalam Tadzkirah hlm. 63). Selanjutnya, dalam buku Dafi-ul-Bala (catatan kaki hlm. 6-7), Mirza Ghulam Ahmad mengatakan, "Perlu diingat, Allah SWT itu bersih untuk mempunyai putra, tiada yang bersekutu dengan Dia dan tiada putra bagi-Nya dan tiada yang berhak untuk mengakui dirinya Tuhan atau putera Tuhan. Kalimat dalam ilham ini mengandung arti isti'arah dan majaz (kiasan)." Dalam Alquran terdapat juga ayat-ayat yang berarti kiasan bukan harfiah, sebagai contoh, "Yadullaahi fauqa aydiihim" (Al Fath: 10) artinya, "Tangan Allah di atas tangan mereka". Kata yad (tangan) digunakan untuk zat Illahi. Pertanyaannya, apakah tepat jika kata tangan di sini diartikan secara harfiah? Tiap orang yang berakal mengerti bahwa kata tangan di sini digunakan dalam arti kiasan. Wahyu kedua lain yang dipertanyakan kiai adalah, "Ya Ahmad yatimmu ismuka, wala yatimmu ismi". Wahyu tersebut diartikan oleh Kiai "Wahai Ahmad, sempurnalah namam dan tidak sempurna nama-Ku". Lagi-lagi kiai tidak melanjutkan tulisan Mirza Ghulam Ahmad. Dalam tulisan yang dipotong itu, Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan, "Wahyu tersebut berarti nama engkau (Ahmad) akan tamat/berakhir, sedang nama Tuhan tidak akan berakhir, yakni akan tetap abadi." Sungguh tidak adil kutipan kiai tersebut, sehingga mengaburkan arti sebenarnya seperti yang dimaksudkan oleh Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Dalam Tadzkirah edisi bahasa Inggris (London 1976) hlm. 33, wahyu tersebut diterjemahkan "Your name will come to an end Oo..... Ahmad, but My Name will not come to on end." yang berarti, "Wahai Ahmad, namamu akan berakhir dan nama-Ku tidak akan berakhir." Wahyu ketiga dan keempat yang dimasalahkan kiai adalah "Bahwa Allah telah memberi kabar kepadanya, sesungguhnya orang yang tidak mengikutimu dan tidak berbaiat padamu dan tetap menentang kepadamu, dia itu adalah orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan termasuk penghuni neraka jahim" (Tadzkirah hlm. 342), juga wahyu lain "Sesungguhnya Allah menjelaskan padaku bahwa setiap orang yang telah sampai padanya dakwahku kemudian dia tidak menerimaku, maka dia bukanlah seorang muslim dan berhak mendapat siksa Allah" (Tadzkirah hlm. 600). Kami sudah meneliti 2 Tadzkirah, keluaran Ta'lifu Isyaat-Qadian terbitan tahun 1935 dan Tadzkirah edisi-4, terbitan Asyirkatul Islamiya-Rabwah, tahun 1969. Di dalam kedua buku tersebut, tidak kami temukan dua wahyu yang dipersoalkan Kiai sehingga kami tidak dapat memberikan klarifikasi. Kami tidak tahu dari mana kiai memperoleh "wahyu" dimaksud? Mengenai penolakan utusan-Nya, merupakan Sunatullah jika utusan Allah datang, umat manusia tidak akan serta-merta menerimanya. Firman Allah dalam Yassin: 30, "Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidak datang seorang rasul-pun kepada mereka, melainkan selalu memperolok-oloknya." Allah Taala sendiri sangat masygul atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya. Sunatullah ini akan terus berlaku sampai kiamat tiba. Selanjutnya kiai menganggap Hadis Ibnu Majah yang berbunyi "Walal mahdiyyu illa Isabna maryyam" (Tiada Mahdi melainkan Isa), sebagai hadis mungkar karena "sanadnya tidak beres", tanpa penjelasan lebih lanjut. Kiai tentu sepakat bahwa hadis-hadis Ibnu Majah termasuk dalam shihah sittah (di samping Buchari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud dan Misykat). Jika hadist Ibnu Majah yang lain diterima, seyogyanya hadis tentang Imam Mahdi adalah Nabi Isa juga diterima. Di lain pihak, penyusun hadis Ibnu Majah tentu meneliti sanad-sanad hadisnya dan jika ada sanad yang "tidak beres", tentu dari semula hadis tersebut tidak akan dilanjutkan. Jangan-jangan penolakan kiai, disebabkan hadis tersebut tidak sesuai dengan kemauan kiai. Kiai berpendapat ketika Isa dan Mahdi turun, maka dunia akan aman dan adil. Dalam Bani Israil 90-93, diriwayatkan kaum yang menolak akan menerima Rasulullah saw. dengan syarat beliau saw. (1) bisa memancarkan mata air di daerah mereka, (2) mempunyai kebun kurma dan anggur, (3) mengalirkan sungai yang deras di celah-celah kebun mereka, (4) menjatuhkan langit berkeping-keping, (5) mendatangkan Allah dan malaikat untuk berhadapan dengan mereka, (6) mempunyai sebuah rumah dari mas, (7) beliau saw. naik ke langit, kemudian turun dengan membawa kitab. Ayat di atas memberi pelajaran bahwa kaum yang menolak selalu mengajukan berbagai keberatan dan alasan karena enggan menerima utusan-Nya. Terciptanya dunia yang aman dan adil, tentu harus melalui sebuah proses, tidak bisa dengan serta-merta. Imam Mahdi membawa missi "membunuh dajjal", makna dajjal yang diartikan Ahmadiyah adalah faham keagamaan yang bertentangan dengan Tauhid Illahi. Dalam kurun waktu 80 tahun terakhir, Ahmadiyah telah dan terus bekerja menumbuhkan Tauhid Illahi di pelosok bumi. Ratusan masjid telah dibangun di Eropa dan Amerika. Alquran (kitab Suci orang-orang Ahmadiyah) telah diterjemahkan dalam 65 bahasa utama di dunia dari terjemahan 100 bahasa yang dicanangkan.Demikian yang dapat kami sampaikan dengan harapan penjelasan di atas dapat lebih meluruskan kesalahpahaman tentang Ahmadiyah.*** Penulis, Muballigh Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Catatan Redaksi: Dengan dimuatnya tanggapan ini, polemik Ahmadiyah kami tutup. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

