Catatan Dari Meja Nusa Dua Dan Café Bandar [27]
 
 
KE KATINGAN!   
KATINGAN : PANGGILAN PULANG DARI SEORANG  IBU KEPADA ANAKNYA.  
 
10
 
 
"... kerja belum selesai belum apa-apa"
 
[Chairil Anwar -- Karawang Bekasi]

 
 
Sekarang kendaraanku mengurangi kecepatan dan menggunakan perseneling tiga lalu 
ke kedua guna memasuki sebuah jembatan besar-panjang yang menyambung dua tebing 
sungai. 
 
Inilah Katingan! Jembatan dan sungai Katinganku. Bulan dan bintang bermain di 
airnya seperti anak kegirangan mendapat harapan. Jembatan ini diresmikan oleh 
Soeharto  sendiri hampir berbarengan dengan pembredelan Tempo dan Detik. Acara 
pembukaan kuikuti dari radio di Suka Damai, Serua Indah Jakarta. Aku jadi 
teringat  akan Ibu Indang Enon, seorang perempuan Jawa yang lebih Dayak 
daripada Jawa, istri Tjilik Riwut, ketika memandang jembatan ini dengan 
bertopang pada dua kaki beliau yang sudah tidak kokoh sambil tersenyum berkata:
 
"Akhirnya kau berdiri juga jembatan Katingan". 
 
Berdirinya jembatan ini mempunyai arti sangat penting bagi penduduk Katingan 
baik dari segi ekonomi, politik dan kebudayaan. Jembatan ini mengurangi isolasi 
Katingan. Adanya jembatan ini membuat hubungan dengan ibukota propinsi dan 
pelabuhan Sampit jadi lancar. Dahulu untuk ke pelabuhan Sampit, orang Katingan 
harus melalui laut Jawa atau jalan kaki berhari-hari melalui desa Pundu.
 
Dalam perspektif ini kukira, tepat, program gubernur A.T.Narang untuk 
menggalakkan pembangunan jembatan di propinsi ratusan sungai ini, tentu saja 
juga pengembangan pelabuhan-pelabuhan laut, sungai dan udara. 
 
Jika masalah transport ini berkembang, ekonomi pun berkembang lalu dalam bidang 
kebudayaan dan bawah sadar penduduk propinsi ini pun akan mengalami perobah.an. 
Perobahan-perobahan yang perlu dihitung.  Jika manusia Dayak tidak mampu 
membaca perspektif ini, aku khawatir akan ancaman makin terpuruk dan 
frustrasinya manusia Dayak -- tanda awal dari tibanya petaka lebih besar. Lebih 
celaka lagi jika dalam frustrasi ini manusia Dayak jadi "pelupa". Lupa masa 
silam, hari ini dan hari esok. 
 
Melihat pada daun-daun kuning yang gugur dari dahan, menyaksikan dedaunan 
dirontokkan musim gugur di jalan-jalan Paris, kota di mana sekarang aku 
bermukim dan bermurah hati menampung menyambutku, aku bertanya-tanya dan 
pertanyaan yang mencemaskan aku: akankah manusia Dayak, akankah Katingan 
bernasib seperti dedaunan kuning dan daun musim gugur?!  Proses ini bisa 
terjadi dan dipercepat oleh lupa yang menyetip ingat. Lupa yang melemparkan 
ingat akan gampang jadi bejana kosong dan khianat pun bisa merasuk ke diri. 
Kita bukan diri kita lagi. Kita pun jadi seringan debu. Debu-debu kesemuan yang 
menumpulkan nurani. Nurani yang tumpul? Apakah yang akan dicapainya?
 
Katingan bagiku adalah segunung kisah dan pengalaman pahit serta manis, harapan 
dan kegagalan tapi juga keberanian  bangkit. Kisah berbagai kurun, kisah 
sungai-sungai dan telaga benua yang sudah kulalui. Kisah cintaku yang 
berdarah-darah tapi kau Katingan, masih saja tak terganti, perempuan tunggal 
yang merenggut  total seluruh cintaku. Melihat Katingan malam ini seperti saban 
kali tiba, aku seperti mendengar Chairil Anwar membisik:
 
"Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
 
Manisku jauh di pulau,
kalau kumati, dia mati iseng sendiri".
 
Tidak, Chairil! Tidak! Katingan seperti halnya manusia tidak akan 'mati iseng 
sendiri". Ia akan hidup. Lihat adanya CU. Keberadaanya di bumi Kalteng 
memperlihatkan kehidupan akan menemukan jalannya.  Kematianku adalah kematianku 
sendiri dan bukan kematian Katingan dan manusia. Akulah boleh jadi yang mati 
"iseng sendiri" dalam sunyi -- jalan yang lama kutempuh dan kupilih sebagai 
pemimpi dan pencinta. Inilah yang kunamakan "River of No Return" dan "May Way". 
Kematianku, bukanlah  pula kematian cinta sekali pun ia berdarah-darah. 
Cintaku, Katingan dan manusia tidak akan mati. Mereka sebagaimana  yang 
dinyanyikan oleh Cornel Simanjuntak seperti "Fajar" dan "yang selalu tiba" dan 
bersinar.
 
Sebelum Orba, orang Katingan masih bisa berlawan atas dasar nilai anutan 
mereka. Ketika dasar nilai dan tatanan organisasi adat mereka dihancurkan 
secara sistematis oleh Orba dengan menempatkan "uang sebagai raja" dan 
menghancurkan alam, maka yang kulihat orang Katingan menjadi bukan lagi 
Katingan Kaharingan lagi. Dalam keadaan begini mereka melupakan kenyataan 
dengan apa yang disebut oleh Paul Ricoeur sebagai "pelarian frustrasi", bukan 
"kelupaan moral".
 
Melihat sungai Katingan, melihat kepada klotok dan speed boat yang 
menggelombangi tebing-tebing Katingan,  keterupukan orang Katingan nampak 
sangat jelas. Mayoritas  pengemudi dan pemilik klotok dan speed boat adalah 
orang-orang dari luar Katingan , terutama orangBanjar [dari Kalimantan 
!Selatan].  
 
Bukan hanya itu. Yang memasarkan ke pasar Palangka Raya, bu&ah pisang yang 
terdapat di sepanjang arus tunggal,  bukanlah orangDayak, tapi adalah pedagang 
Banjar. Umumnya, hasil bumi Tanah Dayak tidak diperdagangkan olh orang Dayak 
sendiri tapi oleh etnik lain.Banyak produk-produk alam lainnya yang bernasib 
seperti pisang, durian, manggis , rambutan, dan lain-lain.... Bahkan 
sayur-mayur pun tidak menjadi perhatian orang Dayak yang anak alam dan 
dimanjakan alam tapi kemudian kaget serta bingung ketika alam dipisahkan dari 
mereka. Orang Dayak berada dalam kebingungan.  Dalam keadaan begini agaknya 
mereka latah, ikut-ikutan tapi tanpa kesungguhan menangani masalah. Orang cari 
emas, ikut cari emas, tebang hutan, ikut nebang hutan, tapi semuanya 
tanggung-tanggung. Hasil yang diperoleh pun tak bisa dikelola secara semestinya 
untuk jadi modal lanjutan sehingga penghasilan yang didapat hilang seperti debu 
dihembus angin. Di sini, masalah yang muncul adalah masalah kemampuan membina 
hari yang
 akan datang atau hari esok. Tanpa adanya pemikiran akan hari esok tidak akan 
terlintas masalah investasi kecuali pandang sejauh jari tangan. Oleh karena 
itu, sering kita saksikan bahwa berapa pun jumlah yang didapat dari usaha 
ikut-ikutan atau latah, jumlah itu pun hilang segera tanpa tentu rimbanya. 
Mudah-mudahan pengamatanku ini keliru. Hanya saja kelemahan ini kuharapak bisa 
diatasi oleh Credit Union [CU], koperasi simpan-pinjam,     yang mulai 
berkembang di Kalteng dan menurut kabar terakhir yang kudengar, asset CU 
berkembang cepat dan  sudah mencapai miliaran rupiah.  Jika keterangan yang 
kudengar ini benar, maka di Kalteng masih terdapat harapan. Benarkah gejala ini 
memperlihatkan bahwa manusia Dayak sudah mulai belajar mengelola diri dan 
belajar maju secara mandiri menggunakan kekuatan bersama? Pemaduan kearifan 
bersama dan perorangan seperti yang dulu terdapat pada budaya betang?! Hanya 
saja barangkali terlalu awal untuk menyebut adanya renaissance Dayak.  Kehidupan
 masyarakat Dayak sudah terlalu dirusaki oleh masuknya Orba. Kerusakan yang 
hampir sudah  mengena dan menggerowoti akarnya yaitu kebudayaan dan manusianya 
sendiri. Yang sedang dilakukan masih berada di taraf awal seperti yang 
dikatakan oleh Chairil Anwar dalam sanjaknya Karawang-Bekasi:
 
"... kerja belum selesai belum apa-apa"
 
 
Perasaan bahwa "kerja belum selesai belum apa-apa" inilah yang justru selalu 
mengusik diriku saban kali aku kembali ke Katingan dan ke Indonesia, membuatku 
merasa bahwa betapa hutang moral makin memberati pundak mendorong langkah 
supaya kian bergegas memacu matahari sebelum ia direnggut malam jatuh ke hulu.
 
 
Kata-kata "Welcome Home JJ. Kusni" yang dipajangkan oleh penyair-cerpenis 
Shanti, Mas Bimo dan Pak Warno di Nusa Dua ketika menyambutku di Balikpapan, 
kurasakan sebagai "welcome home" pulau yang menagih penunaian hutang moral itu. 
 "Welcome" yang menuntut dan menagih bagaimana "mengobah cawat jadi dasi!" 
seperti yang dipesankan oleh keluargaku ketika aku meninggalkan pulau  sejak 
masa bocah.  Dengan semangat ini aku menuntut hak wajarku untuk kembali menjadi 
Indonesia tanpa ditunda, tanpa syarat dan tanpa ditawar-tawar. Kembalikan hakku 
yang direnggut. Hak menjadi Indonesia formal.
 
Setelah melalui jembatan Katingan berbentuk lengkung, pada remang bulan 
menembus pepohonan rimbun sepanjang jalan,  kulihat sudah bayangan Katunen. 
Pada bayang Katunen itu sekaligus kulihat Nusa Dua dan Café Bandar yang 
menyambutku dengan kata-kata hakiki "Welcome Home JJ. Kusni" . "Welcome Home My 
Dearest Hornbil" cacat sayap. Kelap-kelip kunang-kunang nampak di antara semak 
dan di dahan-dahan. Kunang-kunang yang di Katingan pernah dinyanyikan oleh alm. 
komponis Matheus Dimel dalam kata-kata:
 
"tini-tining dandau esu
patining laut dandau tatu"
[kelap-kelip, sayang cucuku
kunang laut ,sayang datu] 
 
Patining! Masih ada patining di Katingan dan Kalteng, Adik. Patining! Masih ada 
patining di negerimu Meldiwa! Adanya patining justru menunjukkan bahwa 
 
"... kerja belum selesai belum apa-apa"
 
 
 
Paris, Oktober 2005.
---------------------------
JJ. Kusni
 










                
---------------------------------
Meet your soulmate!
 Yahoo! Asia presents Meetic - where millions of singles gather 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke