Surat Kembang Kemuning:
"YANG MENOLONG SENIMAN ADALAH PARA SENIMAN ITU SENDIRI".
Terobosan Dan Tradisi
Kata-kata yang aku jadikan judul "Surat Kembang Kemuning"ku kali ini kuambil
dari tulisan Manaek Sinaga Pemred Majalah budaya-sastra "Aksara" dan salah
seorang pimpinan Komunitas Matabambu --komunitas sastra-seni yang mulai
memperlihatkan elannya dengan tawaran konsep pluralitas budaya. Barangkali
mendekati konsep "sastra-seni kepulauan" yang menolak sentralisme nilai dan
mendorong lahir dan untuk berkembangnya ide "seniman patut mampu mengelola
hidup kesenimanan mereka", termasuk secara ekonomi -- konsep yang menolak
bahwa seniman identik dengan kepapaan ekonomi. Bahwa seniman itu adalah
ketidakberdayaan secara finansil sehingga sering dipaksa kompromi dalam
berkarya. Dengan kata lain terpaksa "melacurkan diri" dan karya-karya mereka.
Ide Manaek Sinaga bahwa "yang menolong seniman adalah para seniman itu sendiri"
dituangkannya dalam sepucuk surat kepada Silvi yang juga seorang seniman dan
baru saja dirawat di rumah sakit. Dalam surat itu Manaek Sinaga antara lain
menulis:
"Sesungguhnya, hidup kita di dunia ini hanya sementara, persoalannya bagaimana
kita dapat mengisi waktu yg diberikan kepada kita masing-masing melakukan hal
terbaik bagi keluarga, teman-teman dan negeri kita tercinta ini".
Secara singkat ide ini oleh Chairil Anwar dirumuskan sebagai "sekali berarti
sudah itu mati".
Sesuai dengan semangat ini dan konsep Komunitas Matabambu, Manik dan
teman-teman , bekerja sama dengan berbagai komunitas sastra-seni di Jakarta
seperti Meja Budaya, Jakarta, berencana melakukan kegiatan untuk menggalang
dana solidaritas kepada sastrawan Maroeli Simbolon yang sekarang sedang
menderita sakit keras dan dirawat di rumah sakit.
Rencana menggalang dana untuk Maroli, juga merupakan anggota Komunitas
Matabambu ini bertolak juga dari keyakinan:
" bahwa sesungguhnya kita punya kekuatan bila bersatu, bahwa kita mampu
menolong dan mengasihi sesama seniman, bahwa selayaknya kita hidup dekat/
berdampingan dan saling mendukung"
dan
"karena memang tidak ada lagi yang akan menolong seniman, selain para seniman
itu sendiri. Orang-orang dunia lain, sibuk dan asyik dengan dunia/ bidang
mereka masing-masing".
Melalui penggalangan dana solidaritas untuk Maroeli Simbolon ini, agaknya
Matabambu ingin menjadikan tolong-menolong, saling bantu dan saling
memperhatikan ini sebagai suatu tradisi , paling tidak di kalangan komunitas
sendiri. Syukur jika bisa berkembang menjadi tradisi seluruh sastrawan-seniman
di negeri ini. Jika semangat ini bisa berkembang, aku kira para seniman akan
makin bisa bekerja dengan lebih mantap dan rasa tenang tanpa galau akan
kesulitan-kesulitan yang sering datang tanpa diduga sehingga mereka bisa
memberikan sumbangan-sumbangan manusiawi melalui bidang mereka. Dalam kerangka
ini pula maka Komunitas Matabambu ingin memadukan kerja kesenimanan dengan
usaha-usaha produktif guna menciptakan basis ekonomi stabil bagi kegiatan
berkesenian. Tentu saja hal begini tidak gampang karena dunia usaha dan
berkesenian merupakan dua dunia yang lain, tapi juga tidak terpisah sangat.
Bahkan punya kaitan. Jika usaha Komunitas Matabambun dan para anggotanya ini
berhasil maka bisa
dibayangkan bahwa dunia sastra-seni Indonesia bisa mendapatkan elan baru. Para
sastrawan-seniman bisa bebas dari kungkungan monopoli yang terkadang
memerosotkan taraf kesenian demi memenuhi kepentingan mendesak. Apabila usaha
Komunitas Matabambu ini berjalan baik, maka kita pun barangkali bisa
menyaksikan tumbuhnya kemajemukan alami dalam sastra-seni kita, dan tegaknya
sastra-seni sebagai republik berdaulat yang tidak melacurkan diri pada republik
uang atau politik. Sastra-seni sebagai republik berdaulat bisa menjadi bagian
dari kekuatan social-control [pengawasan sosial] demi pemanusiawian masyarakat,
kehidupan dan manusia itu sendiri. Sangatlah konyol jika sastra-seni hanya
menjadi bagian dari "his master's voice"republik politik yang sering memilih
politik represif.
Dalam usaha ini kukira akan banyak dampaknya jika antara komunitas-komunitas
sastra-seni di berbagai daerah bahkan di luar negeri ada suatu kerjasama.
Dengan kerjasama begini tercipta suatu jaringan pemasaran karya, bisa
menggalakkan usaha tukar-menukar ide dan pengalaman serta usaha meningkatkan
taraf diri. Jaringan akhirnya jadi suatu kunci pemberdayaan dan pengembangan
kesenian yang majemuk dengan tingkat kadar yang menjanjikan.
Dampak ini akan lebih bergema dan menjadi melakukan lompatan jauh lagi jika
ada kerjasama dengan penerbit-penerbit sepaham seperti Penerbit Ombak,
Yogyakarta, misalnya.
Adanya usaha melakukan penggalangan dana untuk Maroeli Simbolon selain
mempunyai arti kongkret bagi Maroeli, ia juga membuka suatu tradisi baru kalau
bisa dijadikan tradisi tanpa menghiraukan perbedaan pandangan dan aliran
kesenian yang dianut sang seniman alias terciptanya toleransi manusiawi.
Terlalu bercorak universalkah sikap begini? Apa salahnya saling tolong dan
tidak mengurung diri dalam keseragaman atau keikaan? Mengapa hanya membantu
orang yang sealiran sementara kebudayaan yang sehat memang memerlukan
kemajemukan dan kemanusiaan itu tunggal? Apa yang sedang dilakukan oleh
Komunitas Matabambu ini dilihat dari kacamata lain adalah usaha melawan
diskriminasi di kalangan para sastrawan-seniman --satu prinsip yang dijadikan
dasar oleh komunitas muda usia ini. Universalitas ide Komunitas Matabambu, aku
kira, memang terletak pada tunggalnya kemanusiaan -- kemanusiaan ini justru
yang masih diinjak-injak di negeri ini. Usaha menggalang dana bagi Maroeli
Simbolon, kukira, mempunyai nilai universal ini . Penggalangan dana solidaritas
oleh para seniman kepada Maroeli hanyalah salah satu ujudnya saja, dan kepada
Maroeli tidak lain dari suatu kebetulan serta Maroeli adalah kasus saja.
Adanya usaha penggalangan dana solidaritas untuk Maroeli oleh para seniman,
aku lihat juga sebagai pentingnya ide dalam menerobos kebekuan , lebih-lebih
pada saat kemanusiaan dilecehkan. Ide yang tepat, dalam artian tanggap dan
aspiratif, kukira tak tertahankan oleh kesulitan apapun, akan berkembang dan
terus berkembang.
Aku hanya bisa menyatakan kegembiraan atas prakarsa terobosan yang dilakukan
oleh Komunitas Mambu dan komunitas-komunitas lainnya. Ini kukira merupakan
tanda adanya keberanian berpikir dan bertindak yang memanjg diperlukan oleh
negeri ini agar bisa benar-benar menjadi republik dan Indonesia secara hakiki.
Berani berpikir dan bertindak masih belum kadaluwarsa yang terjadi sering ia
langka saja di dalam lingkup suasana pola pikir dan mentalitas budakisme yang
diciptakan oleh nilai dominan paternalistik, no-feodal dan militeristik.
Bisakah sastra-seni berkembang tanpa berani berpikir dan bertindak?
Paris, Oktober 2005.
---------------------------
JJ.Kusni
---------------------------------
Meet your soulmate!
Yahoo! Asia presents Meetic - where millions of singles gather
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/