Intelligent Design = pencampur aduk sains dan agama - Re: BA (Before Adam) Mas Harlan dan teman-teman yth, Sebelumnya pernah saya posting tentang siapa Harun Yahya. Saya sebut Harun Yahya karena dialah yang secara terang-terangan mengklaim telah berhasil meruntuhkan Teori Evolusi - walau cuma lewat tulisan di salah satu bukunya. Ia sendiri (dan tim kerjanya) tak menciptakan teori baru untuk menyanggahnya, tapi cukup mencari celah dan titik-titik kelemahan dari temuan para evolusionis plus berbekal kitab suci saja. Teori lama yang sudah diperbarui oleh ilmuwan lainnya pun masih mereka perdebatkan. Seolah meruntuhkan teori ilmiah yang sudah berusia ratusan tahun lamanya itu bagai mencomot durian gratisan yang runtuh dari pohonnya saja. Langkahnya lazim disebut 'science berbungkus agama'. Saya tampilkan sosok Harun Yahya karena Anda pernah menyebut tentang "Intelligent Design", dan juga dipostingan sebelumnya sekilas pernah menyebut tentang "dari kera jadi manusia", "missing link", dan majalah "Scientific America". Terkait dengan statement "dari kera jadi manusia", pertanyaan saya: "Apakah Anda sudah membaca buku The Origin of Species"? Kalau belum, maklum ada pernyataan seperti itu. Kalau sudah, di bab mana dan di halaman berapa kalimat itu tercantum? Intinya, teori evolusi (Darwinisme) cuma menduga bahwa nenek moyang species manusia dan species kera/monyet itu adalah sama, bukan dari berwujud kera lalu dalam prosesnya menjadi manusia. Lalu tentang majalah "Scientific America". Kalau tak salah, Anda pernah studi di AS kan? Atau sekarang masih mukim disana? Coba cek di toko buku sebelah, bentuknya seperti apa majalah "Scientific America" tersebut. Atau kalau Anda sudah mengoleksinya, coba buka halaman demi halaman. Lalu simpulkan, redaksionalnya condong ke arah mana. Majalah itu adalah salah satu publikasi milik kaum kreasionis, tak bisa disejajarkan dengan "Nature" dan lainnya. Mungkin majalah itu bisa disejajarkan dengan majalah "Dharmais" terbitan kroni Soeharto yang dulu sempat terbit di Indonesia. Isinya ya mau tidak mau musti memuji langkah-langkah Soeharto di masa lalu. Terbukti majalah itu lalu mati berkalang kubur, karena ya jumlah pembacanya amat-amat terbatas. Mana mau sih masyarakat kita yang sudah cerdas - namun dengan kantong cekak - mau membeli 'kemasan propaganda'? Linknya kok tidak disertakan? -> Anda menulis: "Selain itu silakan baca tulisan Prof. Jeff Harwell (cari di homepage beliau). Dia juga ilmuwan yang kebetulan beragama kuat." Kreasionis vs Evolusionis (tolong jangan dibaca Science vs Religion) Kembali ke Harun Yahya. Sebagaimana kita tahu, Harun Yahya hanyalah satu dari sekian ribu kreasionis yang rajin merecoki temuan para ilmuwan. Mereka boleh dibilang sebagai "kelompok pengganggu" temuan-temuan dari para ilmuwan murni, bukan ilmuwan gadungan. Mereka inilah kelompok yang suka mencampur adukkan antara sains dan agama.
Mereka juga hobi mencomot 'nama' untuk menjustifikasi suatu kebenaran saintifik. Ini kebiasaan buruk para kreasionis, yang suka mencantumkan nama-nama terkenal dan deretan gelar akademis (bahkan sering tidak punya kaitan) untuk 'pamer' bahwa kreasionisme juga bagian dari sains. 'Tokoh kreasionis' lainnya bisa disebut nama Michael Behe, Duane T. Gish, Ken Ham dan lainnya. Mungkin profesor yang Anda sebut itu termasuk dalam kelompok ini. Beragam publikasi untuk membentuk opini masyarakat mereka terbitkan dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Tak cuma media massa konvensional, mereka juga merambah ke internet dengan berbagai situs web-nya yang 'penuh keajabiban'. Bahkan di AS, para kreasionis mendirikan sebuah museum berkonsep sesuai dengan apa yang dia mau tentang penciptaan manusia. Tak heran kalau di salah satu etalasenya bertengger patung Adam Hawa yang dikelilingi dinosaurus, seolah mereka pernah hidup sezaman. Juga ada patung Noah lagi naik kapal untuk menghindari banjir bandang yang melanda. Mereka juga rajin 'mengilik-ilik' pemerintah federal agar mengajarkan teori penciptaan di sekolah-sekolah sesuai kitab suci bukan menurut teori evolusi. Lalu terciptalah istilah 'creationism vs evolutionist'. Lalu dari mana duitnya? Tentu saja para kreasionis ini punya pendana - mereka yang punya kepentingan (Alangkah indahnya andai dana itu disalurkan ke orang-orang papa yang bertebaran dimana-mana, biar tak mubazir tentu saja). Biarkan sains dan agama berjalan di relnya masing-masing Jangan heran kalau saya pernah tuliskan "Biarkan sains dan agama berjalan di relnya masing-masing, tak perlu dicampuradukkan". Kalau kita bicara soal spiritual yang menyemangati hidup kita semua okelah, tak sebatas pada ajaran agama saja. Kalau Anda bilang, "Agama seharusnya tidak boleh bertentangan dengan sains. Jika saat ini tampak bertentangan, kitanya yang masih belum cukup pandai". Saya pribadi tak setuju dengan pendapat itu. Ini sama saja mengatakan, "Sains tak boleh bertentangan dengan agama." Seperti kita tahu, klaim ini berakibat serius, dimana pada masa lalu ada ilmuwan dihukum gantung, dibantai, atau minimal dikucilkan karena temuannya dianggap bertentangan dengan dogma agama. Dulu dipercaya bumi itu datar atau mirip topi, tapi kenyataannya bumi itu bulat. Namanya juga relnya berbeda, antara sains dan agama tak perlu dicampur adukkan, apalagi dipertentangkan. Untuk apa? Kecuali kalau sains dan agama dipaksakan berjalan di rel yang sama. Kalau pada zaman kini isue itu dimunculkan, amat bertentangan dengan kebebasan berekspresi. Belum lagi kalau kita bicara soal temuan kloning yang oleh otoritas Vatikan sudah buru-buru dilarang. Ada pihak yang sudah mengkomersialkan jasa kloning, seperti kloning anjing dan kucing dengan tarip sekian dollar. Dan tak lama lagi bakal ada manusia yang hidup di bumi karena hasil kloning, dimana para ilmuwan sedang membuat genome makhluk sebanyak-banyaknya dalam proyek 'Noah Ark'. Mirip seperti film Schwartzenegger "6 Days". Apakah kelak MUI juga akan mengeluarkan fatwa haram untuk kloning? Terbukti apa yang dilakukan kaum kreasionis ini berupaya menubrukkan gerbong sains dan agama, namun langkahnya sia-sia belaka. Para ilmuwan tak peduli dan tak menanggapi apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka perbuat. Bukannya mereka sok atau angkuh, tapi kenyataannya walau berbau-bau ilmiah, karya para kreasionis dianggap sama sekali tak ilmiah, karena mencampur adukkan sains dan agama. Kecuali kalau artikel karya Harun Yahya dan lainnya termuat di majalah NATURE, baru mereka tanggapi secara ilmiah. Mungkin saja para kreasionis pernah mengirimkan seonggok artikel ke meja redaksi NATURE, tapi oleh redaksinya dibuang ke tong sampah karena tak layak muat. Serangan Harun Yahya Menurut Harun Yahya, teori evolusi tidak mempunyai dasar ilmiah. Namun kebanyakan orang di dunia tidak menyadarinya, dan menganggap evolusi sebagai fakta ilmiah. Indoktrinasi dan propaganda sistematis melalui media adalah kunci keberhasilan penipuan ini. Singkatnya, media dan kalangan akademisi yang menjadi pusat-pusat kekuatan anti agama, mempertahankan pandangan evolusionis dan memaksakannya kepada masyarakat. Pemaksaan ini begitu efektif sehingga akhirnya evolusi menjadi sebuah gagasan yang tidak pernah ditolak. Penolakan terhadap teori evolusi dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan mengabaikan realitas-realitas mendasar. Karenanya, meski banyak kelemahan telah tersingkap (terutama sejak 1950-an), dan kenyataan ini diakui ilmuwan evolusionis sendiri, mustahil menemukan kritik terhadap evolusi dalam lingkungan ilmiah atau dalam media. Kaum evolusionis mendapat banyak keuntungan dari program "cuci otak" media. Banyak orang percaya begitu saja pada evolusi tanpa merasa perlu bertanya "bagaimana" dan "mengapa". Ini berarti evolusionis dapat mengemas kebohongan-kebohongan mereka sedemikian rupa sehingga mampu meyakinkan orang dengan mudah. Seperti dikatakan seorang ilmuwan terkemuka, teori evolusi adalah dongeng untuk orang dewasa. Evolusi adalah skenario yang sangat tidak masuk akal dan tidak ilmiah, yang menganggap benda mati memiliki kekuatan dan kecerdasan ajaib untuk menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang kompleks. Kisah panjang ini mengandung fabel menarik tentang beberapa subjek. Beberapa media yang ia tuding diantaranya adalah Nature, Time, National Geographic, Scientific American, dan Focus. Harun Yahya menuduh bahwa deretan media massa prestisius yang dibaca jutaan umat manusia di berbagai belahan bumi itu mengambil teori evolusi sebagai ideologi. Rangkuman dari forum diskusi Karena menyangkut isue kreasionis vs evolusionis, wilayah diskusi saya persempit tidak sains secara keseluruhan, tapi tentang evolusi. Harun Yahya pernah menuliskan dalam bukunya bahwa teori evolusi adalah kebohongan yang terbungkus rapi. Nah, kebetulan, setahun lalu topik ini pernah dibincangkan. Ada baiknya saya sajikan rangkuman dari diskusi tersebut (mohon maaf buat yang sudah pernah baca): Ferry RKP <[EMAIL PROTECTED]> mengaku pernah membaca tentang Teori Magnetik Bumi. Ilmuwan di bidang ini telah menganalisa kedalaman Bumi dan memperkirakan bahwa umur Bumi hanya sekitar 30.000 tahun. Tentu saja teori ini berlawanan dengan penemuan fosil-fosil manusia purba yang berumur jutaan tahun - otomatis umur Bumi pun pasti jutaan bahkan puluhan juta tahun. "Temuan ini amat menarik, karena sejak pertama kali Teori Darwin dikemukakan telah terjadi pertentangan antara ilmuwan yang pro dan kontra, bahkan perseteruan tersebut berlanjut hingga kini," ujar Ferry. Ia juga pernah membaca buku berjudul "Sains, Iman dan Teknologi" - nama pengarangnya ia lupa. Buku itu bertutur tentang sebuah peristiwa di Lousiana, AS era 70-an. Kala itu kalangan Kristen tak mengizinkan pengajaran Teori Darwin di sekolah-sekolah di negara bagian tersebut. Kemudian ilmuwan pro Darwin membuat suatu konspirasi. Mereka membujuk seorang guru untuk mengaku mengajarkan teori tersebut. Kemudian Louisiana gempar, karena guru tersebut diprotes (ini memang yang diinginkan para ilmuwan pro Darwin). Kemudian para ilmuwan pro Darwin mengajukan kasus ini ke pengadilan. Mereka menyewa pengacara-pengacara tenar untuk membela guru tersebut. Dan akhirnya mereka menang dan teori Darwin akhirnya diajarkan di negara bagian tersebut dan juga negara bagian lainnya. Beberapa waktu setelah kejadian itu, guru itu ditanya mengenai hal tersebut, ia mengaku tidak yakin apa ia pernah mengajarkan Teori Darwin atau tidak... Zhao Yun <[EMAIL PROTECTED]> coba meluruskan info dari Ferry. Menurutnya, pengarang buku itu pasti pro-kreasionis. "Sering saya temui para 'die hard creationist' yang tidak segan-segan memanipulasi informasi, bahkan sering tidak jujur secara intelektual serta 'licik' dalam berbagai hal, demi mengkampanyekan 'fundamental belief' mereka," ujar Zhao Yun (ZY). Tentang umur bumi yang diklaim para kreasionis, ZY bilang, "Beberapa website dari para kreasionis mengutak-atik fenomena peluruhan (decay) medan magnet bumi, kemudian secara ngawur diekstrapolasi. Dan, voila, didapat umur bumi kurang dari 20.000 tahun. Kesimpulannya, mereka ingin membentuk opini bahwa Bumi diciptakan Allah seperti tertulis di Kitab Genesis." ZY lalu memberikan dua contoh website kreasionis yang menurutnya 'ngawur', yaitu: Crying Voice: http://www.cryingvoice.com/Evolution/AgeEarth1.html Genesis Mission: http://genesismission.4t.com/emf.html Menurut ZY, kedua website tersebut sebenarnya adalah pesan yang dibungkus dengan embel-embel sains. "Scientifically, both are crap!" Ejekan dan sinisme yang paling klasik terhadap evolusionis - para pendukung Teori Evolusi Darwin - adalah olok-olok bahwa kaum evolusionis itu keturunan monyet. Ejekan seperti ini - jika terus dilontarkan - maka sebenarnya membuka 'borok' ketidak tahuan diri sendiri akan Teori Darwin - yang kemudian dikembangkan menjadi Teori Evolusi. "Dari tanya jawab dan diskusi dengan para penentang teori evolusi yang pernah berdebat dengan saya, hampir semuanya belum pernah membaca buku 'The Origin of Species' yang boleh dibilang menjadi salah satu referensi utama - kalau bukan cikal bakal - teori evolusi modern," keluh ZY. "Kalaupun ada yang sudah membaca, umumnya sulit secara jernih mengambil saripati dan 'keindahan' teorinya Darwin ini. Saya curiga bahwa mereka terlalu banyak 'denial' dari dalam diri mereka sendiri akan 'kebenaran' teori ini. Sebab, saya ragu kalau mereka bodoh. Apalagi mengharapkan mereka membaca ulasan-ulasan yang lebih modern tentang teori evolusi dari para kampiun evolusionis seperti Richard Dawkins ataupun Stephen Jay Gould, agar diskusi lebih terarah," tambahnya. Menurut ZY, salah satu sumber informasi tentang evolusi yang terolah dengan baik adalah Talk Origins <www.talkorigins.org>. Tentang 'Earth Magnetic Field Decay Theory' bisa diklik di: http://www.talkorigins.org/faqs/magfields.html "Di situs Talk Origins, berton-ton informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan teori evolusi bisa Anda dapatkan disini. Sanggahan dan analisisnya cukup baik dan terstruktur. Setelah itu Anda bisa cari aspek-aspek lainnya lewat search engine, misalnya: bagaimana proses terjadinya fosil, bagaimana prinsip radiodating, paleontologi tentang hominid dan sebagainya. Itu semua bisa didapat secara gratis, kecuali pulsa internet, tentu saja. Dan percayalah, untuk mengerti dasar-dasar keilmiahan teori evolusi tidaklah dibutuhkan kesarjanaan S1 ataupun S3, tapi cukup bermodal cara berpikir yang jernih dan tidak bias," ujar ZY. Di akhir emailnya ia memberikan saran, "Kalau mau melihat ragam analisa ilmiah, tolong cari sumber-sumber yang kompeten serta tidak memihak. Last but not least, tolong telaah sendiri, apakah sumber informasi atau sanggahan yang saya sodorkan di talkorigins.org tersebut bermutu atau tidak. Kalau kurang bermutu, tolong tunjukkan tidak mutunya dimana, dan mungkin kita bisa berdebat lebih lanjut tentang 'Earth Magnetic Field Decay Theory'. Kreasionis ala Indonesia Handita B.M. <[EMAIL PROTECTED]> berkomentar, kreasionisme - sebagai lawan evolusionisme - telah berkembang cukup lama. Sejumlah publikasi sudah terbit tahun 1960-an, bahkan sebelumnya. Beberapa institut kreasionisme yang amat banyak jumlahnya dapat dibaca pada link website ini: http://www.creationism.org/topbar/linksWeb.htm Lembaga ICR <www.icr.org> sebagai salah satu lembaga riset kreasionism bahkan memiliki museum kreasionisme <http://icr.org/museum/> Tentang Harun Yahya, ia agak ragu kalau dia adalah pembawa gagasan pertama tentang 'creasionism' - seperti dicitrakan pada sejumlah buku - sekalipun tidak dipungkiri kompilasinya cukup banyak beredar di Indonesia akhir-akhir ini. Di Indonesia, tokoh kreasionisme antara lain Dr. Stanley Heath, dosen Teknik Kimia ITB. Ia juga menerbitkan buku yang menentang sejumlah pandangan kaum evolusionis di awal tahun 70-an. Sebagai catatan, edisi pertama buku tersebut masih dicetak dengan stensil dan masih bisa ditemui di Perpustakaan Kalam Hidup, Bandung. "Persoalan terhadap 'kreasionisme' adalah sejauh mana klaim-klaim yang bersumber pada kitab-kitab agama tersebut dapat dijadikan bukti ilmiah. Perkembangan interpretasi teks buku agama juga banyak yang condong 'bukan' pada penafsiran literal. Tetapi melihat kisah penciptaan dan tokoh Adam-Hawa sebagai metafora yang bermakna relijius. Jadi lepas dari keilmiahan evolusi diteropong dari tafsir teks agama, tafsir terhadap teks tersebut perlu sungguh-sungguh dicermati. Sejauh mana tafsir itu dapat ditarik ke wilayah sains sebagai 'bukti'," ujar Handita. Modal kaum kreasionis itu-itu saja Rekan Babat Gongso <[EMAIL PROTECTED]> yang sudah 'googling' di Talk Origins mengiyakan pendapat ZY, "Talk Origins benar-benar menjawab dengan tegas 'isu gombal' teori magnetik bumi karangan para kreasionis." Menurutnya, sains itu logikanya tidak 'bolong-bolong' - tak seperti mitologi atau legenda - karena garis besarnya sudah koheren, walau detailnya bisa terus diisi. Soal umur Bumi, bukti-bukti geologis, bukti-bukti fossil itu tidak ada yang bertentangan satu sama lain, walau mudah sekali terjadi pertentangan jika dipikirkan, karena masing-masing cabang ilmu itu tidak 'bersekongkol' - satu sama lain masih asyik dengan dirinya sendiri. "Berdiskusi soal evolusi selalu geger - karena campur tangan orang-orang yang tak tahu sama sekali apa yang mereka ucapkan, namun 'penuh dendam' hanya karena 'engkong' mereka dulu bersabda untuk tidak percaya pada teori ini," tegas Babat. "Modal kaum anti-evolusi ya itu-itu terus. Kalau muslim ya Harun Yahya, kalau Kristen ya kreasionis dalam berbagai bentuknya. Secara realistis, jika sistem pendidikan di AS saja tetap dirongrong oleh agamawan yang masih ngotot kalau teori evolusi itu hanya omong-kosong belaka - maka di negara-negara lain pasti lebih parah kondisinya. Plus masih banyaknya 'pseudo-science' yang saling silang." "Di Wired ada ulasan kejadian baru-baru ini di AS tentang serangan gegap-gempita dari kaum ID yang menghajar kurikulum SD dengan mengatakan bahwa teori evolusi itu baru 'work-in-progress' jadi harus diberikan 'teori alternatif'nya yaitu ID alias creationism alias 'bible-talk': penemuan sains itu 'tidak lengkap', asumsinya isi kitab-suci itu sudah lengkap." Agama berangkat dari meyakini, sains berangkat dari menyangsikan Menurut rekan Babat Gongso <[EMAIL PROTECTED]>, pernyataan Tular Sudarmadi (dosen Arkeologi UGM) tentang 'science vs faith' benar-benar diplomatis. "Kalau mau berdiskusi itu memang tergantung dengan lawan bicara. Kalau mau bicara agama ya agama lah, kalau dicap bidaah malah celaka. Jika bicara kenyataan, apa yang sesungguhnya terjadi, ya lain lagi. Sains membahas apa yang sesungguhnya terjadi secara faktual, ya evolusi itu, homo sapiens adalah percabangan lanjut dari genus homo yang diawali dengan Homo erectus. Sedangkan Homo floresiensis adalah suatu cabang lain dari Homo erectus Asia - most likely - ini suatu penemuan penting dalam evolusi." "Nah, thread yang perlu dibuka adalah debat penerjemahan alegori mitologi agama: seberapa jauh ajaran agama itu berguna bagi umat manusia? Karena 'kegunaan' ajaran agama itu bukan dalam penunjukan fakta kenyataan pada manusia, tetapi suatu ajaran moralitas tentang kehidupan - yang dibakukan berdasar pengetahuan pada saat pembakuan. Beda sekali tujuannya, seperti membandingkan tujuan R & D Department yang meriset dan mengembangkan produk yang efisien dan bermutu, dan tujuan Marketing Department yang merancang, mengemas, menjual produk/jasa dan menetapkan harga yang diterima konsumen dalam suatu perusahaan. Beda sekali. Dua-duanya penting, tetapi beda penekanannya." Wallacea, sumbangan Indonesia untuk Teori Evolusi IGG Maha Adi, mantan wartawan Majalah TEMPO yang kini gabung di majalah National Geographic, menyarankan agar kita harus berhati-hati untuk mengkaji ilmu pengetahuan apabila "alat" yang dipakai adalah agama. Bila kurang hati-hati, percayalah, keduanya akan tampak saling berlawanan. Untuk sebagian besar kasus, mungkin sulit sekali melihat keduanya bertemu dan "berdamai" di satu titik - entah dimana. "Jadi kalau membahas teori evolusi, mari kita tengok dulu bukunya Darwin, atau terjemahannya yang juga digarap dengan bagus, penerbitnya Yayasan Obor Indonesia," ujar Adi. Menurutnya, sumbangan Indonesia untuk teori evolusi lumayan banyak, tentu saja lewat Wallacea yang saat itu verifikasinya ditunggu Darwin sebelum menyelesaikan bukunya. "Oleh sebab itulah, dulu saya sempat pusing mencari kalimat di buku itu yang menuliskan 'manusia adalah keturunan kera' atau sejenisnya. Apakah benar Darwin menyatakannya? Di buku itu tak ada sama sekali pernyataan itu. Dan kalimat pada diskusi lalu yang saya baca: 'Agama berangkat dari Meyakini dan Sains berangkat dari Menyangsikan', kurang lebih bisa menggambarkan polarisasinya kan?" Jelas Adi. Erich Fromm bicara Rekan Robertus Budiarto aka Bobby <[EMAIL PROTECTED]> dengan hati-hati berpandangan bahwa bahwa filsafat dan agama itu tidak perlu dipertentangkan. "Sekularitas dan spiritualitas itu adalah harmoni. Yang selalu bertentangan biasanya ISME melawan ISME. Yang selalu harmoni biasanya TAS dengan TAS. Bukti bahwa agama dan filsafat bisa harmoni mungkin perlu menunggu perkembangan lebih lanjut dari Fisika Modern yang menggunakan istilah a-nihilasi dan kreasi, konsepnya mirip dengan transendensi dan imanensi atau apalah," ujar Bobby. "Yang jelas, saya sulit menerima jika manusia tidak boleh menggunakan akal budi. Tuhan atau siapapun yang menciptakan kita pasti mempunyai maksud mulia memberikan manusia akal budi/nurani. Kadal, gajah, kecoa, jangkrik dan lainnya tak diberi akal budi/nurani - cuma manusia yang dapat keistimewaan itu. Lha kok nggak boleh digunakan? Tentu saja yang harus dihindarkan adalah pendapat: "akulah yang paling benar". Dengan meyakini akulah yang paling benar, maka aku mengambil posisi Tuhan. Dan ini sepertinya malah jadi dosa yang paling besar." "Mengenai ajaran bahwa nenek moyang manusia adalah Adam dan Hawa, menurut penafsiran Erich Fromm, itu adalah bahasa Tuhan pada masyarakat patrilineal. Ketika umat manusia masih kanak-kanak, Tuhan tampak sebagai ayah yang menghukum anak nakal dan memberi hadiah anak yang baik. Khusus mengenai Adam dan Hawa, ini mitos yang menerangkan pada umat manusia bahwa manusia itu harus dewasa, tidak bisa kembali menjadi kanak-kanak. Manusia harus berkembang terus dan makin bersikap dewasa. Dan (ingat), masyarakat patrilineal dengan pasti lebih menonjolkan tokoh laki-laki. Laki-laki menjadi dewasa ketika dia telah mampu menerima "apel" dari seorang perempuan." Lalu kenapa Adam diusir dari surga? "Surga adalah pangkuan Ibu dan perlindungan Bapak. Pengusiran itu menyimbolkan betapa berat hukumnya jika manusia tidak mau dewasa tapi mau kembali menjadi kanak-kanak lagi, mau netek terus. Kembali ke surga berarti kekacauan sosial bahkan kosmologis. Jagat akan 'gonjang ganjing' (atau sudah?). Bukankah zaman edan ini kebanyakan disebabkan oleh orang-orang berbadan bongsor tapi bermental kanak-kanak alias infantil? Bukankah anak-anak sering menangis karena Ibu tidak ada di sekitarnya? Demikian juga manusia fanatik. Fanatikun persis seperti anak kecil yang kehilangan Ibu, makanya mereka menjadi agresif jika ada yang berani mengusik keyakinannya. Agresivitas itu sesungguhnya adalah manifestasi ketakutan, ketakutan kehilangan sesuatu." "Tidak heran teori evolusi misalnya dilihat sebagai ancaman, bukan karena teori ini berbeda dengan ajaran gereja atau agamanya. Tapi karena fanatikun memegang terlalu erat keyakinannya. Karena apa? Karena keyakinan bagi fanatikun adalah payudara Ibu. Payudara seorang Ibu adalah sebuah kepastian atau gandulan hidup. Bayi mana yang tidak marah jika lagi asyik menyusu terus dicabut susunya?" Menurut Wishnu Sukmantoro <[EMAIL PROTECTED]>, sebuah teori ilmiah mengandung arti kebenaran, dan juga penyimpangan. Teori yang belum mengandung kebenaran mutlak, dapat saja salah atau benar secara mutlak di kemudian hari. Adalah hal yang bijaksana apabila mereka atau anak-anak kita sekalipun tidak dijerumuskan dalam satu pilihan pemikiran. Biarkan mereka memilih dan menentukan pikiran-pikirannya secara baik sehingga dapat menentukan pilihan yang setidaknya benar menurut mereka. Ia memberikan ilustrasi tentang teori Generatio Spontanea yang dikemukakan Aristoteles pada 300 SM, sampai Needhant pada abad 18. Teori ini sampai ribuan tahun lamanya tetap bertahan sebagai suatu kebenaran mutlak. Pada masa Spalanzani sampai pada eksperimen Schultz dan Schwann, teori Generatio Spontanea mulai goyah. Puncaknya adalah percobaan yang dilakukan Pasteur pada 1865. Teori Generatio Spontanea pun runtuh melalui suatu percobaan yang sederhana. Tetapi disini ada proses berjalannya waktu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, logika berpikir dan teknologi. Kontribusi kuat terhadap runtuhnya generatio spontanea secara tidak langsung adalah dari penemuan mikroskop yang pada abad sebelumnya belum pernah diciptakan. Sama halnya pernyataan 'bumi itu bulat' yang dibuktikan dengan teknologi dan perkembangan cara berpikir manusia yang maju. Tumbangnya teori Darwin atau kebenaran mutlaknya teori ini terletak pada perkembangan teknologi saat ini dan di masa datang. Pada saat dimana teori tersebut hanya diperdengarkan atau diperdebatkan suatu forum tanpa bukti konkrit, teori Darwin tetaplah menjadi teori. Teori kuantum yang ramai dibicarakan saat ini, ataupun studi bintang muda sebenarnya dapat menjawab dari kebenaran Darwin, tetapi terbatasnya teknologi luar angkasa saat ini, sehingga belum bisa menyajikan secara lebih jelas dan detail mengenai perkembangan suatu tata surya apalagi terhadap sebuah kehidupan. Terjadinya suatu 'spesiasi', allopatrik dan mutasi adalah sebuah misteri yang berkenaan dengan perubahan material genetik yang dipengaruhi oleh lingkungannya dalam kurun waktu panjang. Perkembangan ras-ras manusia di dunia dan perkawinan diantara ras-ras (cross breeding) tersebut merupakan suatu hal yang luar biasa dari perkembangan kehidupan manusia. Pertentangan-pertentangan diantara manusia sendiri yang saling mengalahkan: yang kaya mengalahkan yang miskin, yang memiliki kekuasaan mengalahkan yang lemah, yang berteknologi maju membasmi bangsa yang tertinggal. Evolusikah itu? Mungkin iya. Karena dalam 'natural selection' hal-hal seperti itu mungkin alami, dimana kompetisi seperti itu akan menghasilkan pemenang yang 'kosmopolitan' dan unggul. Pihak yang tidak unggul pun dimusnahkan, atau musnah dengan sendirinya. Dan ini sedang terjadi, kan? Kebenaran absolut vs fakta ilmiah Octa aka Angelo Shien <[EMAIL PROTECTED]> berpendapat: "Jika kita mengatakan bahwa sesuatu itu adalah kebohongan, tentu kita berpijak pada kebenaran yang kita yakini. Itu pulalah yang kita alami ketika mengatakan bahwa teori evolusi adalah suatu kebohongan, karena kita berpijak pada kebenaran absolut dari kitab suci yang mengatakan bahwa manusia pertama adalah Adam dan Hawa." "Tetapi menurut Darwinian dan ilmuwan penerus teorinya, bahwa evolusi adalah suatu kebenaran dengan berbagai macam fakta ilmiah yang mereka temukan. Ini semua tentu berdasar pada rasionalitas manusia yang ingin mencari jawaban atas apa yang mereka temukan." "Kitab suci tak pernah menyinggung masalah dinosaurus dan makhluk-makhluk lain pada zamannya. Tetapi, ketika para ilmuwan itu - yang mungkin sebelumnya juga yakin bahwa manusia pertama adalah Adam dan Hawa - mendapati bahwa ada sisa-sisa peningggalan biologis yang notabene berasal dari jenis makhluk mirip manusia, tetapi tidak persis seperti manusia pada umumnya. Mirip hewan bukan seperti hewan-hewan yang kita ketahui saat ini. Hal ini tentu saja membutuhkan sebuah jawaban yang paling tidak mendekati kebenaran tentang apa pun itu yang mereka telah temukan dan klaim sebagai manusia purba, dinosaurus, dan sebagainya." "Ilmu pengetahuan memang ada batasnya. Saya yakin, pada dasarnya ilmu pengetahuan dikaruniakan oleh Tuhan bagi manusia yang berakal budi bukan untuk mencari kebenaran baru - karena kebenaran sudah pasti seperti yang kita yakini selama ini, yaitu Tuhan YME - tetapi untuk membantu manusia mengarahkan diri kepada kebenaran itu sendiri. Apapun bentuk penemuan manusia selama ini, menurut hemat saya pada dasarnya itu semua merupakan bagian dari rencanaNya dengan akal budi kita." Periode Legenda dan Sejarah Octa lalu mencoba mengklasifikasikan periode sejarah pada kitab suci. "Mohon maaf, ini hanya sebatas yang saya tahu, mohon kritik dan saran Anda," ujarnya. Menurutnya, klasifikasi periode sejarah kitab suci terbagi dua, yaitu Periode Legenda dan Periode Sejarah. Periode Legenda ini dimulai dari periode penciptaan manusia (Adam & Hawa) hingga zaman Nabi Nuh (termasuk kisah nabi Sulaiman dan lainnya). Sebagai catatan, kisah penciptaan manusia pada kitab suci serupa dengan kisah penciptaan manusia yang berasal dari daerah Skandinavia, hanya nama tokohnya saja yang berbeda. Sedangkan Periode Sejarah dimulai semenjak Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad SAW. "Saya membagi periode ini dengan dasar historis ada tidaknya catatan-catatan sejarah pada masing-masing periode," ujarnya. "Lalu bagaimana dengan cerita mengenai manusia purba, dinosaurus, dan sebagainya yang saat ini saya akui memang masih kontroversial, terutama bagi kaum agamis? Apakah kita menyangkal teori evolusi itu dan mengatakan bahwa fosil-fosil itu bukan dari makhluk yang menjadi nenek moyang kita, tetapi mungkin berasal dari spesies makhluk tertentu yang pernah hidup? Bisakah kita menjelaskannya dan mencari jalan tengah yang - paling tidak - mendekati kebenaran?" "Manusia diciptakan dengan disertai akal budi. Sedangkan segala bentuk penemuan artefak pra-sejarah tak lepas dari kerangka sains yang tentunya didasarkan pada akal budi manusia itu sendiri. Apakah dengan kata lain kita juga menganggap karunia Tuhan yang satu itu tidak benar ketika akal budi itu menuntun manusia kepada sebuah penemuan yang disebut evolusi?" "Kita bisa saja memangkas perdebatan ini dengan beralih pada apa yang dikatakan oleh kitab suci. Tetapi cukupkah itu menjawab beberapa misteri yang masih tersisa? Apakah lalu kita mengarang-ngarang saja mengenai asal-usul suatu fosil, yang penting pokoknya manusia pertama adalah Adam dan Hawa. Secara iman ya, tetapi secara ilmu pengetahuan tidak. Saya pikir biarlah masing-masing berjalan pada relnya: iman & sains. Tetapi pada hal yang mendasar, yaitu iman, ada sesuatu yang tidak mungkin kita ganggu gugat. Memang tak mungkin mempertemukan iman dan sains ketika muncul sebuah dikotomi dalam memandang sebuah masalah." Kebenaran adalah hak prerogatif Tuhan? Octa melanjutkan argumentasinya, "Secara biologis, seks merupakan bagian dari proses regenerasi manusia, tetapi agamalah yang membuat aturan main untuk hubungan seks yang benar menurut Tuhan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan mencari, merumuskan, dan menemukan jawaban bagi persoalan hidup manusia yang sifatnya duniawi. Tetapi agamalah yang menentukan aturan main bagi batas-batas antara yang benar dan yang tidak benar dari ilmu pengetahuan itu sendiri untuk kita terapkan. Dengan catatan bukan untuk memvonis bahwa ilmu pengetahuan itu salah. Salah atau benar hanya Tuhan yang tahu, dan tentunya dengan penemuan-penemuan manusia, Tuhan punya maksud atau rencana tertentu, yang pasti adalah untuk makin memuliakan NamaNya, bukan agar kita dapat menentukan apakah itu salah atau benar. Karena kebenaran adalah hak prerogatif Tuhan. Sama halnya ketika menentukan apakah seseorang berdosa atau tidak, dan seberapa berat kalau memang berdosa, atau seberapa bersih kalau tidak berdosa. Tanpa akal budi, kita pun tidak akan mungkin mengenal Tuhan." Rekan Handita <[EMAIL PROTECTED]> mengaku tak memiliki persoalan dengan Teori Evolusi, karena teori ini terbit dari tradisi ilmiah yang terbuka, berlangsung sekian lama dan setiap saat bisa disanggah atau diruntuhkan dengan temuan atau argumen-argumen baru sepanjang bisa dipertanggungjawabkan. "Untuk membantah teori ini, berarti kita musti menyiapkan argumentasi cukup komprehensif dari area evolusi yang demikian luas, mulai dari astronomi, geologi, paleontologi sampai biologi dan lainnya. Kreasionisme justru problematik. Di satu pihak ia meletakkan kaki pada tradisi teks agama dengan sistem kepercayaannya, di lain pihak dia bersikap semi-ilmiah dengan 'menggugat' Teori Evolusi namun tidak pada forumnya, melainkan langsung ke publik dalam bentuk 'perang-perang gerilya'. Bisa dikatakan 'peperangan' ini lebih bersifat politis dibanding ilmiah," ujar Handita. "Persoalan lain kreasionisme, sejauh mana teks tersebut dibaca dalam konteks zaman dan budayanya? Mengambil kesesuaian kata tetapi bukan makna - diluar konteks kosmogoni & teologi bangsa Israel atau pembaca tradisi Taurat (Pentateuch) - saya kira tidak bijaksana," jelasnya. Teilhard: Memanusiakan manusia Menurut Handita, Teori Evolusi kini sudah jauh lebih kompleks dari Darwinian. Sebuah upaya 'sintesis' yang cukup menarik antara iman dan evolusi dapat ditemukan dalam karya Teilhard de Chardin asal Perancis. Karya Teilhard cukup menarik karena sempat dilarang: disingkirkan dari rak dan laci para pejabat agama di Vatikan. "Info ini mungkin punya arti penting bagi mereka yang skeptis dengan netralitas agama," ungkap Handita. Teilhard yang meraih gelar profesor pada usia 25 tahun, karya-karyanya diakui sarjana ilmu bumi, paleontologi, dan antropologi. Bersama paleoantropolog G.H. Ralph von Koeningswald, ia pernah berpetualang ke Indonesia, menyisir tepian sungai Trinil, Ngandong dan Sangiran. Dia pulalah yang menemukan fosil-fosil 'Sinanthropus' di Mesir dan karya monumental lainnya. Teilhard punya pandangan bahwa evolusi tidak berhenti pada visi-visi morfologis, tetapi antropologis. 'Memanusiakan manusia' adalah tema yang amat mendalam baginya, juga kesadaran-kesadaran moral, sosial dan kosmis. Paling tidak, terlepas sejauh mana kebenaran Teori Teilhard, gagasan evolusinya menepis pandangan oposisi biner: 'Jika evolusionis pasti atheis, jika kreasionis pasti theistis'. "Kedewasaan kita mustinya sudah mampu menyelamatkan kita dari simplifikasi semacam itu," tegas Handita. Yang menarik dari gagasan-gagasan Teilhard adalah tentang evolusi peradaban manusia dan kemanusiaan menuju pada 'cyber consciousness'. Sebuah tulisan yang beranak-pinak dari gagasan Teilhard dapat ditelusur dari ratusan link di internet, berikut salah satunya: Cyberspace and the Dream of Teilhard de Chardin: http://theoblogical.org/dlature/united/ph2paper/noosph.html Reny di Australia bertanya: "Kenapa ya kok cuma Darwin yang diserang teorinya? Biar adil, sekaligus bahas dong mengenai teori creationism (young earth creationism, old earth creationism yang dibagi lagi menjadi theistic evolution dan progressive creationism). Nah, ini baru teori creationismnya Kristen lho, belum yang milik Islam. Untuk Islam, memangnya hanya Harun Yahya yang diakui? Dan bagaimana dengan agama-agama lain atau malah sekte lain seperti Raelian? Tapi tolong penjelasannya 'step by step', biar kami yang awam ini jadi mengerti alurnya". Indoshepherd <[EMAIL PROTECTED]> ikut nimbrung. Menurutnya, teori evolusi Darwin bukan saja belum terpatahkan, melainkan teori itu adalah SATU2nya teori ilmiah yang ada kita miliki. Teori2 lain, seperti antara lain teorinya para kreasionis, adalah omong-kosongnya mereka yang tidak mengerti apa itu science. Mereka tidak tahu apa syarat2nya suatu science, dan bagaimana caranya menyusun suatu teori yang scientific. Oleh karena itu dalam dunia science, teori kreasionis itu tidak digubris, sekalipun mereka teriak2 setinggi langit. Sebagaimana layaknya setiap teori ilmiah, teori evolusi juga terus berkembang. Artinya beberapa pendapat yang selama ini dianggap benar, bisa dibantah berdasarkan fakta-fakta yang baru diketemukan, hingga perlu diperbaiki. Tidak ada ilmu yang statis, melainkan setiap cabang ilmu itu berkembang dengan cara demikian. Demikian juga perkembangan teori evolusi belum pernah terputus sejak dari mula digagaskan oleh Darwin. Cobalah anda kunjungi website majalah2 ilmiah profesional, nanti akan anda temukan bahwa (a) SEMUA karya ilmiah yang mutakhir tentang perkembangan makluk hidup SELALU berdiri diatas landasan teori evolusi, TANPA KECUALI. (b) TIDAK ADA SATUPUN karya yang muncul di majalah ilmiah profesional itu didasarkan atas kepercayaan, misalnya menyebut-nyebut ayat2 Kitab Injil atau kitab suci lainnya, atau bahkan Tuhan sekalipun. Ini bukan disebabkan oleh karena para scientist dewasa ini semuanya atheist, tetapi se-mata2 sebab kita ini umumnya berkiblat kepada filsafat Logical Positivism (Mach, Bohr, Heisenberg, Einstein, Planck dll) yang mengharuskan science melulu membicarakan hal2 yang bisa ditangkap oleh pancaindera dan 100% menghindari hal2 yang metafisis, seperti kepercayaan, agama dlsbnya. Adalah NONSENSE untuk membicarakan hal-hal yang tak bisa ditangkap pancaindera, sebab hal-hal demikian terbukti TIDAK SAMA bagi masing2 individu, hingga tidak ada kriteria apapun untuk objektivitas serta penilaian salah dan benar. Jika ada karya pseudo-ilmiah yang berani me-nyebut2 hal2 demikian, karya tersebut automatis akan di-diskualifikasi, sebab tidak berguna, yaitu tidak bisa dikonformasi/dialami oleh setiap orang. Legitimasi buat filsafat Logical Positivism ini adalah hasil2 IPTEK yang gilang- gemilang yang bisa kita nikmati sampai hari ini, yang dirintis oleh Newton, Leibniz dkk sekitar akhir abad ke-17 dengan berdiri diatas prinsip2 ilmiah yang kemudian diformulasikan oleh para filsuf Wiener Kreis (Vienna Circle) setelah lahirnya teori relativitas Einstein dan mekanika kuantum. Bangsa yang dungu? Sebagai penutup, saya sampaikan opini dari Jusfiq Hadjar <[EMAIL PROTECTED]> di Belanda. Ia menilai bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia tentang Teori Evolusi sepertinya minim walau sekelumit diajarkan di sekolah-sekolah. "Seingat saya di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 250 juta manusia itu harusnya ada museum natural history. Di Belanda saja yang cuma 'negeri selebar sapu tangan' dengan jumlah penduduk yang tak seberapa dibandingkan dengan Indonesia dan tidak punya homo wajakensis, homo soloensis atau biawak komodo, punya museum naturalis yang dengan jelas menunjukkan tahap-tahap evolusi itu terjadi," keluh Jusfiq. Menurutnya, dengan adanya museum natural history, anak-anak sejak dini segera tahu apa itu Homo neanderthal, Australopithecus afarensis dan lainnya. "Di Belanda, berita tentang ditemukannya homo floresiensis saja dimuat di halaman pertama harian nasional seperti NRC-Handelsblad. Secara berkala BBC juga menyampaikan berita tentang penemuan terakhir paleontologi yang makin menunjang teori Darwin. Kalau cuma baca tulisan Harun Yahya ya bangsa kita akan jadi semakin dungu," tambahnya. Note: Ada laporan dari seorang wartawan yang mengikuti acara kunjungan SBY ke NY beberapa waktu lalu, bahwa selama di dalam pesawat SBY sibuk membaca buku-bukunya Harun Yahya. Apakah dia juga ingin belajar jadi dungu? ________________________________________________________________ Harlan Isjwara" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Mon, 24 Oct 2005 20:02:00 -0700 (PDT) Subject: Re: [mediacare] Beda rel dan keterbatasan bahasa - Re: BA (Before Adam) Dear Mas Radityo, OK deh, kita sepakat untuk tidak sepakat. :-) IMHO agama seharusnya tidak boleh bertentangan dengan ilmu. Jika saat ini tampak bertentangan, kitanya yang masih belum cukup pandai. (Ini mungkin yang anda maksud dengan FAITH - harus percaya/ber-Iman; yang menyebabkan anda melihat dua rel berbeda). Jika anda baca e-mail saya tentang gajah, saya sama sekali tidak menyatakan, bahwa gajahnya mati di Arab. Saya lupa dimana mereka mati. Dan juga apakah cholera atau small-pox saya lupa (makanya saya beri tanda "?". Terus terang saya tidak serajin anda mencari data. Yang teringat ditulis, yang lupa apa boleh buat). :-) (Sorry, not scientific. I treat this as discussion between friends, not formal presentation). Nah, apakah gajah efektif atau tidak ... well, saya pikir gajah efektif buat musuh yang belum pernah berlatih untuk melawan gajah. Ketika Hannibal bawa gajah lewat pegunungan Alpina di musim salju, semua orang juga bilang mustahil (gajah 'kan bukan makhluk udara dingin). But he did it. Tentara Romawi yang saat itu 'the best in the world' saja kalah. Demikian juga ketika Genghis Khan membawa ribuan kuda dalam kampanye di Timur Tengah. Kata orang : tidak mungkin bisa survive tanpa air dan rumput yang banyak. Toh dia berhasil. Jadi saya sceptic tentang "mustahil"-nya gajah dibawa perang di Arab. Jika belum ada bukti archaelogy, OK, tetapi missing link juga belum ada buktinya, toh kita dapat terima "its possibility". Jadi saya belum dapat menerima argumen Mas Radityo. Mungkin Mas benar, tetapi mungkin juga salah. Untuk mendukung pikiran tentang kesesuaian agama dan ilmu, silakan baca tulisan para ahli yang mendukung "Intelligent Design". Kalau tidak salah majalah Scientific American pernah membahasnya secara mendalam (beberapa tahun yang lalu). Selain itu silakan baca tulisan Prof. Jeff Harwell (cari di homepage beliau). Dia juga ilmuwan yang kebetulan beragama kuat. Enjoy. Bon appetit. Dan sekali lagi, saya salut kepada Mas Radityo yang rela membagi ilmu dengan kita semua. Thanks. ________________________________________________________________ --------------------------------- Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click. --------------------------------- Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

