Intelligent Design = pencampur aduk sains dan agama - Re: BA (Before Adam)
 
 
Mas Harlan dan teman-teman yth,
Sebelumnya pernah saya posting tentang siapa Harun Yahya. Saya sebut
Harun Yahya karena dialah yang secara terang-terangan mengklaim telah berhasil
meruntuhkan Teori Evolusi - walau cuma lewat tulisan di salah satu 
bukunya. Ia sendiri (dan tim kerjanya) tak menciptakan teori baru untuk 
menyanggahnya,
tapi cukup mencari celah dan titik-titik kelemahan dari temuan para 
evolusionis plus berbekal kitab suci saja. Teori lama yang sudah diperbarui 
oleh ilmuwan lainnya pun masih mereka perdebatkan. Seolah meruntuhkan 
teori ilmiah yang sudah berusia ratusan tahun lamanya itu  bagai mencomot 
durian gratisan yang runtuh dari pohonnya saja. Langkahnya lazim disebut 
'science berbungkus agama'.  
 
Saya tampilkan sosok Harun Yahya karena Anda pernah menyebut tentang 
"Intelligent Design", dan juga dipostingan sebelumnya sekilas pernah menyebut 
tentang "dari kera jadi manusia", "missing link", dan majalah 
"Scientific America". Terkait dengan statement "dari kera jadi manusia",
pertanyaan saya: "Apakah Anda sudah membaca buku The Origin of Species"?
Kalau belum, maklum ada pernyataan seperti itu. Kalau sudah, di bab mana
dan di halaman berapa kalimat itu tercantum? Intinya, teori evolusi 
(Darwinisme) 
cuma menduga bahwa nenek moyang species manusia dan species 
kera/monyet itu adalah sama, bukan dari berwujud kera lalu dalam prosesnya
menjadi manusia.
 
Lalu tentang majalah "Scientific America". Kalau tak salah, Anda 
pernah studi di AS kan? Atau sekarang masih mukim disana? Coba cek di toko buku 
sebelah, bentuknya seperti apa majalah "Scientific America" tersebut. Atau 
kalau Anda sudah mengoleksinya, coba buka halaman demi halaman. Lalu simpulkan, 
redaksionalnya condong ke arah mana. Majalah itu adalah salah satu publikasi 
milik kaum kreasionis, 
tak bisa disejajarkan dengan "Nature" dan lainnya. Mungkin majalah
itu bisa disejajarkan dengan majalah "Dharmais" terbitan kroni Soeharto
yang dulu sempat terbit di Indonesia. Isinya ya mau tidak mau musti memuji 
langkah-langkah Soeharto di masa lalu. Terbukti majalah itu lalu mati berkalang 
kubur, karena ya jumlah 
pembacanya amat-amat terbatas. Mana mau sih masyarakat kita yang sudah 
cerdas - namun dengan kantong cekak - mau membeli 'kemasan propaganda'? 
 
Linknya kok tidak disertakan? -> Anda menulis: "Selain itu silakan  baca 
tulisan Prof. Jeff Harwell (cari di homepage beliau). Dia juga  ilmuwan yang 
kebetulan beragama kuat."
 
Kreasionis vs Evolusionis (tolong jangan dibaca Science vs Religion)
 
Kembali ke Harun Yahya. Sebagaimana kita tahu, Harun Yahya hanyalah satu dari 
sekian ribu   kreasionis yang rajin merecoki temuan para ilmuwan. Mereka boleh 
dibilang sebagai "kelompok pengganggu" temuan-temuan dari para ilmuwan murni, 
bukan ilmuwan gadungan. 
Mereka inilah kelompok yang suka mencampur adukkan antara sains dan agama. 

Mereka juga hobi mencomot 'nama' untuk menjustifikasi suatu kebenaran 
saintifik. Ini kebiasaan buruk para kreasionis, yang suka mencantumkan 
nama-nama terkenal dan deretan gelar akademis (bahkan sering tidak 
punya kaitan) untuk 'pamer' bahwa kreasionisme juga bagian dari sains.
'Tokoh kreasionis' lainnya bisa disebut nama Michael Behe, Duane T. Gish, 
Ken Ham dan lainnya. Mungkin profesor yang Anda sebut itu termasuk dalam 
kelompok ini.
 
Beragam publikasi untuk membentuk opini masyarakat mereka terbitkan dalam 
berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Tak cuma media massa konvensional, 
mereka 
juga merambah ke internet dengan berbagai situs web-nya yang 'penuh 
keajabiban'. 
Bahkan di AS, para kreasionis mendirikan sebuah museum berkonsep sesuai
dengan apa yang dia mau tentang penciptaan manusia. Tak heran kalau di 
salah satu etalasenya bertengger patung Adam Hawa yang dikelilingi dinosaurus, 
seolah mereka pernah hidup sezaman. Juga  ada patung Noah lagi naik kapal untuk 
menghindari banjir bandang yang  melanda. Mereka juga rajin 'mengilik-ilik' 
pemerintah federal agar 
mengajarkan teori penciptaan di sekolah-sekolah sesuai kitab suci bukan
menurut teori evolusi. Lalu terciptalah istilah  'creationism vs evolutionist'. 

Lalu dari mana duitnya? Tentu saja para kreasionis ini punya pendana - mereka
yang punya kepentingan (Alangkah indahnya andai dana itu disalurkan ke
orang-orang papa yang bertebaran dimana-mana, biar tak mubazir tentu saja). 
 
Biarkan sains dan agama berjalan di relnya masing-masing
 
Jangan heran kalau saya pernah tuliskan "Biarkan sains dan agama berjalan
di relnya masing-masing, tak perlu dicampuradukkan". Kalau kita bicara
soal spiritual yang menyemangati hidup kita semua okelah, tak sebatas 
pada ajaran agama saja. Kalau Anda bilang, "Agama seharusnya tidak boleh 
bertentangan dengan sains. Jika saat  ini tampak bertentangan, kitanya yang 
masih belum cukup pandai". 
 
Saya pribadi tak setuju dengan pendapat itu. Ini sama saja mengatakan, "Sains
tak boleh bertentangan dengan agama." Seperti kita tahu, klaim ini 
berakibat serius, dimana pada masa lalu ada ilmuwan dihukum gantung, 
dibantai, atau minimal dikucilkan karena temuannya dianggap bertentangan dengan 
dogma agama. 
 
Dulu dipercaya bumi itu datar atau mirip topi, tapi kenyataannya bumi 
itu bulat. Namanya juga relnya berbeda, antara sains dan agama tak perlu 
dicampur adukkan, apalagi dipertentangkan. Untuk apa? Kecuali kalau sains dan 
agama dipaksakan berjalan di rel  yang sama. Kalau pada zaman kini isue itu 
dimunculkan, amat bertentangan dengan kebebasan berekspresi. 
 
Belum lagi kalau kita bicara soal temuan kloning yang oleh otoritas Vatikan 
sudah buru-buru dilarang. Ada pihak yang sudah mengkomersialkan jasa kloning, 
seperti kloning anjing dan kucing dengan tarip sekian dollar. Dan tak lama lagi 
bakal ada manusia yang hidup di 
bumi karena hasil kloning, dimana para ilmuwan sedang membuat genome 
makhluk sebanyak-banyaknya dalam proyek 'Noah Ark'. Mirip seperti film 
Schwartzenegger "6 Days". Apakah kelak MUI juga akan mengeluarkan 
fatwa haram untuk kloning? 
 
Terbukti apa yang dilakukan kaum kreasionis ini berupaya menubrukkan 
gerbong sains dan agama, namun langkahnya sia-sia belaka. Para ilmuwan 
tak peduli dan tak menanggapi apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka 
perbuat. Bukannya mereka sok atau angkuh, tapi kenyataannya walau berbau-bau 
ilmiah, karya para kreasionis dianggap sama sekali tak ilmiah, karena mencampur 
adukkan sains dan agama. Kecuali kalau  artikel karya Harun Yahya dan lainnya 
termuat di majalah NATURE,
baru mereka tanggapi secara ilmiah. Mungkin saja para kreasionis pernah
mengirimkan seonggok artikel ke meja redaksi NATURE, tapi oleh 
redaksinya dibuang ke tong sampah karena tak layak muat.
 
Serangan Harun Yahya
 
Menurut Harun Yahya, teori evolusi tidak mempunyai dasar ilmiah. Namun 
kebanyakan orang di dunia tidak menyadarinya, dan menganggap evolusi sebagai 
fakta ilmiah. Indoktrinasi dan propaganda sistematis melalui media adalah kunci 
keberhasilan penipuan ini. 

Singkatnya, media dan kalangan akademisi yang menjadi pusat-pusat kekuatan
anti agama, mempertahankan pandangan evolusionis dan memaksakannya kepada
masyarakat. Pemaksaan ini begitu efektif sehingga akhirnya evolusi menjadi
sebuah gagasan yang tidak pernah ditolak. Penolakan terhadap teori evolusi
dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan mengabaikan
realitas-realitas mendasar. Karenanya, meski banyak kelemahan telah
tersingkap (terutama sejak 1950-an), dan kenyataan ini diakui ilmuwan
evolusionis sendiri, mustahil menemukan kritik terhadap evolusi dalam
lingkungan ilmiah atau dalam media.
 
Kaum evolusionis mendapat banyak keuntungan dari program "cuci otak" media.
Banyak orang percaya begitu saja pada evolusi tanpa merasa perlu bertanya
"bagaimana" dan "mengapa". Ini berarti evolusionis dapat mengemas
kebohongan-kebohongan mereka sedemikian rupa sehingga mampu meyakinkan orang
dengan mudah.
 
Seperti dikatakan seorang ilmuwan terkemuka, teori evolusi adalah
dongeng untuk orang dewasa. Evolusi adalah skenario yang sangat tidak masuk
akal dan tidak ilmiah, yang menganggap benda mati memiliki kekuatan dan
kecerdasan ajaib untuk menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang kompleks.
Kisah panjang ini mengandung fabel menarik tentang beberapa subjek. 
Beberapa media yang ia tuding diantaranya adalah Nature, Time, National
Geographic, Scientific American, dan Focus. Harun Yahya menuduh bahwa
deretan media massa prestisius yang dibaca jutaan umat manusia di berbagai
belahan bumi itu mengambil teori evolusi sebagai ideologi.
 
Rangkuman dari forum diskusi
 
Karena menyangkut isue kreasionis vs evolusionis, wilayah diskusi saya 
persempit tidak sains secara keseluruhan, tapi tentang evolusi. Harun 
Yahya pernah menuliskan dalam bukunya bahwa teori evolusi adalah 
kebohongan yang terbungkus rapi. Nah, kebetulan, setahun lalu 
topik ini pernah dibincangkan. Ada baiknya saya sajikan rangkuman dari 
diskusi tersebut (mohon maaf buat yang sudah pernah baca):
 
Ferry RKP <[EMAIL PROTECTED]> mengaku pernah membaca 
tentang Teori Magnetik Bumi. Ilmuwan di bidang ini telah menganalisa 
kedalaman Bumi dan memperkirakan bahwa umur Bumi hanya sekitar 
30.000 tahun. Tentu saja teori ini berlawanan dengan penemuan 
fosil-fosil manusia purba yang berumur jutaan tahun - otomatis umur 
Bumi pun pasti jutaan bahkan puluhan juta tahun. "Temuan ini amat 
menarik, karena sejak pertama kali Teori  Darwin dikemukakan telah 
terjadi pertentangan antara ilmuwan yang pro dan kontra, bahkan 
perseteruan tersebut berlanjut hingga kini," ujar Ferry.
 
Ia juga pernah membaca buku berjudul "Sains, Iman dan Teknologi" - 
nama pengarangnya ia lupa. Buku itu bertutur tentang sebuah peristiwa 
di  Lousiana, AS era 70-an. Kala itu kalangan Kristen tak mengizinkan 
pengajaran Teori Darwin di sekolah-sekolah di negara bagian tersebut.
Kemudian ilmuwan pro Darwin membuat suatu konspirasi. Mereka membujuk 
seorang guru untuk mengaku mengajarkan teori tersebut. Kemudian  
Louisiana gempar, karena guru tersebut diprotes (ini memang yang 
diinginkan para ilmuwan pro Darwin). 
 
Kemudian para ilmuwan pro Darwin mengajukan kasus ini ke pengadilan. 
Mereka menyewa pengacara-pengacara tenar untuk membela guru tersebut. 
Dan akhirnya mereka menang dan teori Darwin akhirnya diajarkan 
di negara bagian tersebut dan juga negara bagian lainnya. Beberapa  
waktu setelah kejadian itu, guru itu ditanya mengenai hal tersebut, 
ia mengaku tidak yakin apa ia pernah mengajarkan Teori Darwin atau 
tidak...
 
Zhao Yun <[EMAIL PROTECTED]> coba meluruskan info dari Ferry. 
Menurutnya, pengarang buku itu pasti pro-kreasionis. "Sering saya 
temui para 'die hard creationist' yang tidak segan-segan memanipulasi 
informasi, bahkan sering tidak jujur secara intelektual serta 'licik' 
dalam berbagai hal, demi mengkampanyekan 'fundamental belief' mereka," 
ujar Zhao Yun (ZY). 
 
Tentang umur bumi yang diklaim para kreasionis, ZY bilang, "Beberapa 
website dari para kreasionis mengutak-atik fenomena peluruhan (decay) 
medan magnet bumi, kemudian secara ngawur diekstrapolasi. Dan, voila, 
didapat umur bumi kurang dari 20.000 tahun. Kesimpulannya, mereka 
ingin membentuk opini bahwa Bumi diciptakan Allah seperti tertulis di 
Kitab Genesis."
 
ZY lalu memberikan dua contoh website kreasionis yang menurutnya 
'ngawur', yaitu:
 
Crying Voice: http://www.cryingvoice.com/Evolution/AgeEarth1.html
 
Genesis Mission: http://genesismission.4t.com/emf.html
 
Menurut ZY, kedua website tersebut sebenarnya adalah pesan 
yang dibungkus dengan embel-embel sains. "Scientifically, both are 
crap!" 
 
Ejekan dan sinisme yang paling klasik terhadap evolusionis - para 
pendukung Teori Evolusi Darwin - adalah olok-olok bahwa kaum 
evolusionis itu keturunan monyet. Ejekan seperti ini - jika terus 
dilontarkan - maka sebenarnya membuka 'borok' ketidak tahuan diri 
sendiri akan Teori Darwin - yang kemudian dikembangkan menjadi Teori 
Evolusi. "Dari tanya jawab dan diskusi dengan para penentang teori 
evolusi yang pernah berdebat dengan saya, hampir semuanya belum pernah 
membaca buku 'The Origin of Species' yang boleh dibilang menjadi 
salah satu referensi utama - kalau bukan cikal bakal - teori evolusi 
modern," keluh ZY. "Kalaupun ada yang sudah membaca, umumnya sulit 
secara jernih mengambil saripati dan 'keindahan' teorinya Darwin ini. 
Saya curiga bahwa mereka terlalu banyak 'denial' dari dalam diri 
mereka sendiri akan 'kebenaran' teori ini. Sebab, saya ragu kalau 
mereka bodoh. Apalagi mengharapkan mereka membaca ulasan-ulasan yang 
lebih modern tentang teori evolusi dari para kampiun evolusionis 
seperti Richard Dawkins ataupun Stephen Jay Gould, agar diskusi lebih 
terarah," tambahnya. 
 
Menurut ZY, salah satu sumber informasi tentang evolusi yang terolah 
dengan baik adalah Talk Origins <www.talkorigins.org>. Tentang 
'Earth Magnetic Field Decay Theory' bisa diklik di:
http://www.talkorigins.org/faqs/magfields.html
 
"Di situs Talk Origins, berton-ton informasi tentang hal-hal yang 
berkaitan dengan teori evolusi bisa Anda dapatkan disini. Sanggahan 
dan analisisnya cukup baik dan terstruktur. Setelah itu Anda bisa cari 
aspek-aspek lainnya lewat search engine, misalnya: bagaimana proses  
terjadinya fosil, bagaimana prinsip radiodating, paleontologi tentang 
hominid dan sebagainya. Itu semua bisa didapat secara gratis, kecuali 
pulsa internet, tentu saja. Dan percayalah, untuk mengerti dasar-dasar 
keilmiahan teori evolusi tidaklah dibutuhkan kesarjanaan S1 ataupun 
S3, tapi cukup bermodal cara berpikir yang jernih dan tidak bias," 
ujar ZY.
 
Di akhir emailnya ia memberikan saran, "Kalau mau melihat ragam 
analisa ilmiah, tolong cari sumber-sumber yang kompeten serta tidak 
memihak. Last but not least, tolong telaah sendiri, apakah sumber 
informasi atau sanggahan yang saya sodorkan di talkorigins.org 
tersebut bermutu atau tidak. Kalau kurang bermutu, tolong tunjukkan  tidak 
mutunya dimana, dan mungkin kita bisa berdebat lebih lanjut  tentang 'Earth 
Magnetic Field Decay Theory'.
 
Kreasionis ala Indonesia
 
Handita B.M. <[EMAIL PROTECTED]> berkomentar, 
kreasionisme - sebagai lawan evolusionisme - telah berkembang cukup 
lama. Sejumlah publikasi sudah terbit tahun 1960-an, bahkan 
sebelumnya. Beberapa institut kreasionisme yang amat banyak jumlahnya 
dapat dibaca pada link website ini: 
 
http://www.creationism.org/topbar/linksWeb.htm
 
Lembaga ICR <www.icr.org> sebagai salah satu lembaga riset kreasionism 
bahkan memiliki museum kreasionisme <http://icr.org/museum/>
 
Tentang Harun Yahya, ia agak ragu kalau dia adalah pembawa gagasan 
pertama tentang 'creasionism' - seperti dicitrakan pada sejumlah 
buku - sekalipun tidak dipungkiri kompilasinya cukup banyak beredar 
di Indonesia akhir-akhir ini. Di Indonesia, tokoh kreasionisme antara 
lain Dr. Stanley Heath, dosen Teknik Kimia ITB. Ia juga menerbitkan 
buku yang menentang sejumlah pandangan kaum evolusionis di awal tahun 
70-an. Sebagai catatan, edisi pertama buku tersebut masih dicetak 
dengan stensil dan masih bisa ditemui di Perpustakaan Kalam Hidup,  Bandung.
 
"Persoalan terhadap 'kreasionisme' adalah sejauh mana klaim-klaim yang 
bersumber pada kitab-kitab agama tersebut dapat dijadikan bukti 
ilmiah. Perkembangan interpretasi teks buku agama juga banyak yang 
condong 'bukan' pada penafsiran literal. Tetapi melihat kisah 
penciptaan dan tokoh Adam-Hawa sebagai metafora yang bermakna 
relijius. Jadi lepas dari keilmiahan evolusi diteropong dari tafsir 
teks agama, tafsir terhadap teks tersebut perlu sungguh-sungguh 
dicermati. Sejauh mana tafsir itu dapat ditarik ke wilayah sains 
sebagai 'bukti'," ujar Handita.
 
Modal kaum kreasionis itu-itu saja
 
Rekan Babat Gongso <[EMAIL PROTECTED]> yang sudah 'googling' di Talk 
Origins mengiyakan pendapat ZY, "Talk Origins benar-benar menjawab 
dengan tegas 'isu gombal' teori magnetik bumi karangan para 
kreasionis." Menurutnya, sains itu logikanya tidak 'bolong-bolong' - 
tak seperti  mitologi atau legenda - karena garis besarnya sudah 
koheren, walau detailnya bisa terus diisi. Soal umur Bumi, bukti-bukti 
geologis, bukti-bukti fossil itu tidak ada yang bertentangan satu 
sama lain, walau mudah sekali terjadi pertentangan jika dipikirkan, 
karena masing-masing cabang ilmu itu tidak 'bersekongkol' - satu sama 
lain masih asyik dengan dirinya sendiri. "Berdiskusi soal evolusi 
selalu geger - karena campur tangan orang-orang yang tak tahu sama 
sekali apa yang mereka ucapkan, namun 'penuh dendam' hanya karena 
'engkong' mereka dulu bersabda untuk tidak percaya pada teori ini," 
tegas Babat.
 
"Modal kaum anti-evolusi ya itu-itu terus. Kalau muslim ya Harun 
Yahya, kalau Kristen ya kreasionis dalam berbagai bentuknya. Secara 
realistis, jika sistem pendidikan di AS saja tetap dirongrong oleh 
agamawan yang masih ngotot kalau teori evolusi itu hanya omong-kosong 
belaka - maka di negara-negara lain pasti lebih parah kondisinya. 
Plus masih banyaknya 'pseudo-science' yang saling silang." 
 
"Di Wired ada ulasan kejadian baru-baru ini di AS tentang serangan 
gegap-gempita dari kaum ID yang menghajar kurikulum SD dengan mengatakan bahwa 
teori evolusi itu baru 'work-in-progress' jadi harus diberikan 'teori 
alternatif'nya yaitu ID alias creationism alias 'bible-talk':  penemuan sains 
itu 'tidak lengkap', asumsinya isi kitab-suci itu  sudah lengkap."
 
Agama berangkat dari meyakini, sains berangkat dari menyangsikan
Menurut rekan Babat Gongso <[EMAIL PROTECTED]>, pernyataan Tular 
Sudarmadi (dosen Arkeologi UGM) tentang 'science vs faith' benar-benar 
diplomatis. "Kalau mau berdiskusi itu memang tergantung dengan lawan 
bicara. Kalau mau bicara agama ya agama lah,  kalau dicap bidaah malah 
celaka. Jika bicara kenyataan, apa yang sesungguhnya terjadi, ya lain 
lagi. Sains membahas apa yang sesungguhnya terjadi secara faktual, ya 
evolusi itu, homo sapiens adalah percabangan lanjut dari genus homo yang 
diawali dengan Homo erectus. Sedangkan Homo floresiensis adalah suatu 
cabang lain dari Homo erectus Asia - most likely - ini suatu penemuan 
penting dalam evolusi."
 
"Nah, thread yang perlu dibuka adalah debat penerjemahan alegori 
mitologi agama: seberapa jauh ajaran agama itu berguna bagi umat 
manusia? Karena 'kegunaan' ajaran agama itu bukan dalam penunjukan
 fakta kenyataan pada manusia, tetapi suatu ajaran moralitas tentang 
kehidupan - yang dibakukan berdasar pengetahuan pada saat pembakuan. 
Beda sekali tujuannya, seperti membandingkan tujuan R & D Department 
yang meriset dan mengembangkan produk yang efisien dan bermutu, dan 
tujuan Marketing Department yang merancang, mengemas, menjual 
produk/jasa dan menetapkan harga yang diterima konsumen dalam suatu 
perusahaan. Beda sekali. Dua-duanya penting, tetapi beda penekanannya." 
 
Wallacea, sumbangan Indonesia untuk Teori Evolusi
 
IGG Maha Adi, mantan wartawan Majalah TEMPO yang kini gabung di majalah
National Geographic, menyarankan agar kita harus berhati-hati untuk 
mengkaji ilmu pengetahuan apabila "alat" yang dipakai adalah agama. 
Bila kurang hati-hati, percayalah, keduanya akan tampak saling 
berlawanan. Untuk sebagian besar kasus, mungkin sulit sekali melihat 
keduanya bertemu dan "berdamai" di satu titik - entah dimana. "Jadi 
kalau membahas teori evolusi, mari kita tengok dulu bukunya Darwin, 
atau terjemahannya yang juga digarap dengan bagus, penerbitnya 
Yayasan Obor Indonesia," ujar Adi.
 
Menurutnya, sumbangan Indonesia untuk teori evolusi lumayan banyak, 
tentu saja lewat Wallacea yang saat itu verifikasinya ditunggu Darwin 
sebelum menyelesaikan bukunya. "Oleh sebab itulah, dulu saya sempat 
pusing mencari kalimat di buku itu yang menuliskan 'manusia adalah 
keturunan kera' atau sejenisnya. Apakah benar Darwin menyatakannya? 
Di buku itu tak ada sama sekali pernyataan itu. Dan kalimat pada 
diskusi lalu yang saya baca: 'Agama berangkat dari Meyakini dan Sains 
berangkat dari Menyangsikan', kurang lebih bisa menggambarkan  polarisasinya 
kan?" Jelas Adi.
 
Erich Fromm bicara
 
Rekan Robertus Budiarto aka Bobby <[EMAIL PROTECTED]> dengan 
hati-hati berpandangan bahwa bahwa filsafat dan agama itu tidak perlu 
dipertentangkan. "Sekularitas dan spiritualitas itu adalah harmoni. 
Yang selalu bertentangan biasanya ISME melawan ISME. Yang selalu  
harmoni biasanya TAS dengan TAS. Bukti bahwa agama dan filsafat bisa 
harmoni mungkin perlu menunggu perkembangan lebih lanjut dari Fisika 
Modern yang menggunakan istilah a-nihilasi dan kreasi, konsepnya mirip 
dengan transendensi dan imanensi atau apalah," ujar Bobby.
 
"Yang jelas, saya sulit menerima jika manusia tidak boleh menggunakan 
akal budi. Tuhan atau siapapun yang menciptakan kita pasti mempunyai 
maksud mulia memberikan manusia akal budi/nurani. Kadal, gajah, 
kecoa, jangkrik dan lainnya tak diberi akal budi/nurani - cuma manusia 
yang dapat keistimewaan itu. Lha kok nggak boleh digunakan? Tentu 
saja yang harus dihindarkan adalah pendapat: "akulah yang paling 
benar". Dengan meyakini akulah yang paling benar, maka aku mengambil 
posisi Tuhan. Dan ini sepertinya malah jadi dosa yang paling besar."
 
"Mengenai ajaran bahwa nenek moyang manusia adalah Adam dan Hawa, 
menurut penafsiran Erich Fromm, itu adalah bahasa Tuhan pada 
masyarakat patrilineal. Ketika umat manusia masih kanak-kanak, 
Tuhan tampak sebagai ayah yang menghukum anak nakal dan memberi 
hadiah anak yang baik. Khusus mengenai Adam dan Hawa, ini mitos yang 
menerangkan pada umat manusia bahwa manusia itu harus dewasa, tidak 
bisa kembali menjadi kanak-kanak. Manusia harus berkembang terus dan 
makin bersikap dewasa. Dan (ingat), masyarakat patrilineal dengan 
pasti lebih menonjolkan tokoh laki-laki. Laki-laki menjadi dewasa 
ketika dia telah mampu menerima "apel" dari seorang perempuan."
 
Lalu kenapa Adam diusir dari surga? "Surga adalah pangkuan Ibu dan 
perlindungan Bapak. Pengusiran itu menyimbolkan betapa berat hukumnya 
jika manusia tidak mau dewasa tapi mau kembali menjadi kanak-kanak 
lagi, mau netek terus. Kembali ke surga berarti kekacauan sosial 
bahkan kosmologis. Jagat akan 'gonjang ganjing' (atau sudah?). 
Bukankah zaman edan ini kebanyakan disebabkan oleh orang-orang 
berbadan bongsor tapi bermental kanak-kanak alias infantil? Bukankah 
anak-anak sering menangis karena Ibu tidak ada di sekitarnya? Demikian 
juga manusia fanatik. Fanatikun persis seperti anak kecil yang 
kehilangan Ibu,  makanya mereka menjadi agresif jika ada yang berani 
mengusik keyakinannya. Agresivitas itu sesungguhnya adalah manifestasi 
ketakutan, ketakutan kehilangan sesuatu." 
 
"Tidak heran teori evolusi misalnya dilihat sebagai ancaman, bukan 
karena teori ini berbeda dengan ajaran gereja atau agamanya. Tapi 
karena fanatikun memegang terlalu erat keyakinannya. Karena apa? 
Karena keyakinan bagi fanatikun adalah payudara Ibu. Payudara seorang 
Ibu adalah sebuah kepastian atau gandulan hidup. Bayi mana yang tidak 
marah jika lagi asyik menyusu terus dicabut susunya?"
 
Menurut Wishnu Sukmantoro <[EMAIL PROTECTED]>, sebuah teori 
ilmiah mengandung arti kebenaran, dan juga penyimpangan. Teori yang belum 
mengandung kebenaran mutlak, dapat saja salah atau benar secara mutlak 
di kemudian hari. Adalah hal yang bijaksana apabila mereka atau anak-anak
kita sekalipun tidak dijerumuskan dalam satu pilihan pemikiran. Biarkan
mereka memilih dan menentukan pikiran-pikirannya secara baik sehingga 
dapat menentukan pilihan yang setidaknya benar menurut mereka. 
 
Ia memberikan ilustrasi tentang teori Generatio Spontanea yang 
dikemukakan Aristoteles pada 300 SM, sampai Needhant pada abad 18. 
Teori ini sampai ribuan tahun lamanya tetap bertahan sebagai suatu 
kebenaran mutlak. Pada masa Spalanzani sampai pada eksperimen Schultz 
dan Schwann, teori Generatio Spontanea mulai goyah. Puncaknya adalah 
percobaan yang dilakukan Pasteur pada 1865. Teori Generatio 
Spontanea pun runtuh melalui suatu percobaan yang sederhana. Tetapi disini
ada proses berjalannya waktu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, 
logika berpikir dan teknologi. Kontribusi kuat terhadap runtuhnya 
generatio spontanea secara tidak langsung adalah dari penemuan 
mikroskop yang pada abad sebelumnya belum pernah diciptakan. Sama 
halnya pernyataan 'bumi itu bulat' yang dibuktikan dengan teknologi dan 
perkembangan cara berpikir manusia yang maju. 
Tumbangnya teori Darwin atau kebenaran mutlaknya teori ini terletak 
pada perkembangan teknologi saat ini dan di masa datang. 

Pada saat dimana teori tersebut hanya diperdengarkan atau diperdebatkan suatu
forum tanpa bukti konkrit, teori Darwin tetaplah menjadi teori. 
Teori kuantum yang ramai dibicarakan saat ini, ataupun studi bintang 
muda sebenarnya dapat menjawab dari kebenaran Darwin, tetapi 
terbatasnya teknologi luar angkasa saat ini, sehingga belum bisa 
menyajikan secara lebih jelas dan detail mengenai perkembangan suatu 
tata surya apalagi terhadap sebuah kehidupan. Terjadinya suatu 
'spesiasi', allopatrik dan mutasi adalah sebuah misteri yang berkenaan 
dengan perubahan material genetik yang dipengaruhi oleh lingkungannya 
dalam kurun waktu panjang. Perkembangan ras-ras manusia di dunia dan 
perkawinan diantara ras-ras (cross breeding) tersebut merupakan suatu 
hal yang luar biasa dari perkembangan kehidupan manusia. 
 
Pertentangan-pertentangan diantara manusia sendiri yang saling mengalahkan: 
yang kaya mengalahkan yang miskin, yang memiliki kekuasaan mengalahkan 
yang lemah, yang berteknologi maju membasmi bangsa yang tertinggal. 
Evolusikah itu? Mungkin iya. Karena dalam 'natural selection' hal-hal 
seperti itu mungkin alami, dimana kompetisi seperti itu akan menghasilkan 
pemenang yang 'kosmopolitan' dan unggul. Pihak yang tidak unggul 
pun dimusnahkan, atau musnah dengan sendirinya. Dan ini sedang terjadi, 
kan? 
 
Kebenaran absolut vs fakta ilmiah
 
Octa aka Angelo Shien <[EMAIL PROTECTED]> berpendapat: "Jika 
kita mengatakan bahwa sesuatu itu adalah kebohongan, tentu kita 
berpijak pada kebenaran yang kita yakini. Itu pulalah yang kita alami 
ketika mengatakan bahwa teori evolusi adalah suatu kebohongan, karena
kita berpijak pada kebenaran absolut dari kitab suci yang mengatakan 
bahwa manusia pertama adalah Adam dan Hawa."
 
"Tetapi menurut Darwinian dan ilmuwan penerus teorinya, bahwa evolusi 
adalah suatu kebenaran dengan berbagai macam fakta ilmiah yang mereka 
temukan. Ini semua tentu berdasar pada rasionalitas manusia 
yang ingin mencari jawaban atas apa yang mereka temukan."
"Kitab suci tak pernah menyinggung masalah dinosaurus dan 
makhluk-makhluk lain pada zamannya. Tetapi, ketika para ilmuwan 
itu - yang mungkin sebelumnya juga yakin bahwa manusia pertama
adalah Adam dan Hawa - mendapati bahwa ada sisa-sisa peningggalan 
biologis yang notabene berasal dari jenis makhluk mirip manusia, 
tetapi tidak persis seperti manusia pada umumnya. Mirip hewan bukan
seperti hewan-hewan yang kita ketahui saat ini. Hal ini tentu saja 
membutuhkan sebuah jawaban yang paling tidak mendekati kebenaran 
tentang apa pun itu yang mereka telah temukan dan klaim sebagai 
manusia purba, dinosaurus, dan sebagainya."
 
"Ilmu pengetahuan memang ada batasnya. Saya yakin, pada dasarnya 
ilmu pengetahuan dikaruniakan oleh Tuhan bagi manusia yang berakal budi
bukan untuk mencari kebenaran baru - karena kebenaran sudah pasti 
seperti yang kita yakini selama ini, yaitu Tuhan YME - tetapi untuk 
membantu manusia mengarahkan diri kepada kebenaran itu sendiri. Apapun 
bentuk penemuan manusia selama ini, menurut hemat saya pada dasarnya 
itu semua merupakan bagian dari rencanaNya dengan akal budi kita."
 
Periode Legenda dan Sejarah
 
Octa lalu mencoba mengklasifikasikan periode sejarah pada kitab suci.
"Mohon maaf, ini hanya sebatas yang saya tahu, mohon kritik dan 
saran Anda," ujarnya. Menurutnya, klasifikasi periode sejarah kitab 
suci terbagi dua, yaitu Periode Legenda dan Periode Sejarah. Periode Legenda
ini dimulai dari periode penciptaan manusia (Adam & Hawa) hingga zaman Nabi Nuh 
(termasuk kisah nabi Sulaiman dan 
lainnya). Sebagai catatan, kisah penciptaan manusia pada kitab suci serupa 
dengan kisah 
penciptaan manusia yang berasal dari daerah Skandinavia, hanya nama 
tokohnya saja yang berbeda. Sedangkan Periode Sejarah dimulai semenjak 
Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad SAW. "Saya membagi periode 
ini dengan dasar historis ada tidaknya catatan-catatan sejarah pada 
masing-masing periode," ujarnya.
 
"Lalu bagaimana dengan cerita mengenai manusia purba, dinosaurus, 
dan sebagainya yang saat ini saya akui memang masih kontroversial, 
terutama bagi kaum agamis? Apakah kita menyangkal teori evolusi itu dan
mengatakan bahwa fosil-fosil itu bukan dari makhluk yang menjadi nenek 
moyang kita, tetapi mungkin berasal dari spesies makhluk tertentu yang 
pernah hidup? Bisakah kita menjelaskannya dan mencari jalan tengah yang 
- paling tidak - mendekati kebenaran?"
 
"Manusia diciptakan dengan disertai akal budi. Sedangkan segala bentuk
penemuan artefak pra-sejarah tak lepas dari kerangka sains yang tentunya 
didasarkan pada akal budi manusia itu sendiri. Apakah dengan kata lain 
kita juga menganggap karunia Tuhan yang satu itu tidak benar ketika 
akal budi itu menuntun manusia kepada sebuah penemuan yang disebut evolusi?"
"Kita bisa saja memangkas perdebatan ini dengan beralih pada apa yang 
dikatakan oleh kitab suci. Tetapi cukupkah itu menjawab beberapa misteri 
yang masih tersisa? Apakah lalu kita mengarang-ngarang saja mengenai 
asal-usul suatu fosil, yang penting pokoknya manusia pertama adalah 
Adam dan Hawa. Secara iman ya, tetapi secara ilmu pengetahuan tidak.
Saya pikir biarlah masing-masing berjalan pada relnya: iman & sains. 
Tetapi pada hal yang mendasar, yaitu iman, ada sesuatu yang tidak 
mungkin kita ganggu gugat. Memang tak mungkin mempertemukan iman dan 
sains ketika muncul sebuah dikotomi dalam memandang sebuah masalah."
 
Kebenaran adalah hak prerogatif Tuhan?
 
Octa melanjutkan argumentasinya, "Secara biologis, seks merupakan 
bagian dari proses regenerasi manusia, tetapi agamalah yang membuat 
aturan main untuk hubungan seks yang benar menurut Tuhan. Dengan kata 
lain, ilmu pengetahuan mencari, merumuskan, dan menemukan jawaban bagi 
persoalan hidup manusia yang sifatnya duniawi. Tetapi agamalah yang 
menentukan aturan main bagi batas-batas antara yang benar dan yang tidak 
benar dari ilmu pengetahuan itu sendiri untuk kita terapkan. Dengan 
catatan bukan untuk memvonis bahwa ilmu pengetahuan itu salah. Salah 
atau benar hanya Tuhan yang tahu, dan tentunya dengan 
penemuan-penemuan manusia, Tuhan punya maksud atau rencana tertentu, 
yang pasti adalah untuk makin memuliakan NamaNya, bukan agar kita dapat 
menentukan apakah itu salah atau benar. Karena kebenaran 
adalah hak prerogatif Tuhan. Sama halnya ketika menentukan apakah 
seseorang berdosa atau tidak, dan seberapa berat kalau memang berdosa, 
atau seberapa bersih kalau tidak berdosa. Tanpa akal budi, kita pun 
tidak akan mungkin mengenal Tuhan."
 
Rekan Handita <[EMAIL PROTECTED]> mengaku tak memiliki persoalan 
dengan Teori Evolusi, karena teori ini terbit dari tradisi ilmiah yang 
terbuka, berlangsung sekian lama dan setiap saat bisa disanggah atau
diruntuhkan dengan temuan atau argumen-argumen baru sepanjang bisa 
dipertanggungjawabkan. "Untuk membantah teori ini, berarti kita musti 
menyiapkan argumentasi cukup komprehensif dari area evolusi yang
demikian luas, mulai dari astronomi, geologi, paleontologi sampai biologi dan 
lainnya. 
Kreasionisme justru problematik. Di satu pihak ia meletakkan kaki pada 
tradisi teks agama dengan sistem kepercayaannya, di lain pihak dia 
bersikap semi-ilmiah dengan 'menggugat' Teori Evolusi namun tidak pada
forumnya, melainkan langsung ke publik dalam bentuk 'perang-perang 
gerilya'. Bisa dikatakan 'peperangan' ini lebih bersifat politis dibanding 
ilmiah," ujar Handita. 
 
"Persoalan lain kreasionisme, sejauh mana teks tersebut dibaca dalam 
konteks zaman dan budayanya? Mengambil kesesuaian kata tetapi bukan 
makna - diluar konteks kosmogoni & teologi bangsa Israel atau pembaca 
tradisi Taurat (Pentateuch) - saya kira tidak bijaksana," jelasnya.
 
Teilhard: Memanusiakan manusia
 
Menurut Handita, Teori Evolusi kini sudah jauh lebih kompleks dari 
Darwinian. Sebuah upaya 'sintesis' yang cukup menarik 
antara iman dan evolusi dapat ditemukan dalam karya Teilhard de 
Chardin asal Perancis. Karya Teilhard cukup menarik karena sempat 
dilarang: disingkirkan dari rak dan laci para pejabat agama
di Vatikan. "Info ini mungkin punya arti penting bagi mereka yang skeptis 
dengan netralitas agama," ungkap Handita. 
 
Teilhard yang meraih gelar profesor pada usia 25 tahun, karya-karyanya 
diakui sarjana ilmu bumi, paleontologi, dan antropologi. Bersama 
paleoantropolog G.H. Ralph von Koeningswald, ia pernah berpetualang  ke 
Indonesia, menyisir tepian sungai Trinil, Ngandong dan Sangiran.  Dia pulalah 
yang menemukan fosil-fosil 'Sinanthropus' di Mesir dan karya  monumental 
lainnya.
 
Teilhard punya pandangan bahwa evolusi tidak berhenti pada visi-visi 
morfologis, tetapi antropologis. 'Memanusiakan manusia' adalah tema yang amat 
mendalam baginya, juga kesadaran-kesadaran moral, sosial dan kosmis. 
Paling tidak, terlepas sejauh mana kebenaran Teori Teilhard, gagasan 
evolusinya menepis pandangan oposisi biner: 'Jika evolusionis 
pasti atheis, jika kreasionis pasti theistis'. "Kedewasaan kita mustinya 
sudah mampu menyelamatkan kita dari simplifikasi semacam itu," tegas 
Handita.
 
Yang menarik dari gagasan-gagasan Teilhard adalah tentang evolusi 
peradaban manusia dan kemanusiaan menuju pada 'cyber consciousness'. 
Sebuah tulisan yang beranak-pinak dari gagasan Teilhard dapat ditelusur 
dari ratusan link di internet, berikut salah satunya:  
Cyberspace and the Dream of Teilhard de Chardin: 
 
http://theoblogical.org/dlature/united/ph2paper/noosph.html
 
Reny di Australia bertanya: "Kenapa ya kok cuma Darwin yang diserang teorinya? 
Biar adil, sekaligus bahas dong mengenai teori creationism (young earth 
creationism, old earth creationism yang dibagi lagi menjadi theistic 
evolution dan progressive creationism). Nah, ini baru teori creationismnya 
Kristen lho, belum yang milik Islam. Untuk Islam, memangnya hanya Harun 
Yahya yang diakui? Dan bagaimana dengan agama-agama lain atau malah 
sekte lain seperti Raelian? Tapi tolong penjelasannya 'step by step', 
biar kami yang awam ini jadi mengerti alurnya".
 
Indoshepherd <[EMAIL PROTECTED]> ikut nimbrung. Menurutnya,
teori evolusi Darwin bukan saja belum terpatahkan, melainkan teori 
itu adalah SATU2nya teori ilmiah yang ada kita miliki.  Teori2 lain, 
seperti antara lain teorinya para kreasionis, adalah omong-kosongnya mereka 
yang tidak mengerti apa itu science.  Mereka tidak 
tahu apa syarat2nya suatu science, dan bagaimana caranya menyusun 
suatu teori yang scientific.  Oleh karena itu dalam dunia 
science, teori kreasionis itu tidak digubris, sekalipun mereka 
teriak2 setinggi langit. 
 
Sebagaimana layaknya setiap teori ilmiah, teori evolusi juga terus berkembang.  
Artinya beberapa pendapat yang selama ini dianggap benar, bisa 
dibantah berdasarkan fakta-fakta yang baru diketemukan, hingga perlu 
diperbaiki. Tidak ada ilmu yang statis, melainkan setiap cabang 
ilmu itu berkembang dengan cara demikian. Demikian juga perkembangan 
teori evolusi belum pernah terputus sejak dari mula digagaskan oleh 
Darwin.  Cobalah anda kunjungi website majalah2 ilmiah profesional, 
nanti akan anda temukan bahwa (a) SEMUA karya ilmiah yang mutakhir 
tentang perkembangan makluk hidup SELALU berdiri diatas landasan 
teori evolusi, TANPA KECUALI.  (b) TIDAK ADA SATUPUN karya yang 
muncul di majalah ilmiah profesional itu didasarkan atas kepercayaan, 
misalnya menyebut-nyebut ayat2 Kitab Injil atau kitab suci lainnya, 
atau  bahkan Tuhan sekalipun.  Ini bukan disebabkan oleh karena para 
scientist dewasa ini semuanya atheist, tetapi se-mata2 sebab kita 
ini umumnya berkiblat kepada filsafat Logical Positivism (Mach, 
Bohr, Heisenberg, Einstein, Planck dll) yang mengharuskan science 
melulu membicarakan hal2 yang bisa ditangkap oleh pancaindera dan 
100% menghindari hal2 yang metafisis, seperti kepercayaan, agama 
dlsbnya.  
 
Adalah NONSENSE untuk membicarakan hal-hal yang tak bisa 
ditangkap pancaindera, sebab hal-hal demikian terbukti TIDAK SAMA bagi 
masing2 individu, hingga tidak ada kriteria apapun untuk 
objektivitas serta penilaian salah dan benar. Jika ada karya 
pseudo-ilmiah yang berani me-nyebut2 hal2 demikian, karya tersebut 
automatis akan di-diskualifikasi, sebab tidak berguna, yaitu tidak 
bisa dikonformasi/dialami oleh setiap orang.  Legitimasi buat 
filsafat Logical Positivism ini adalah hasil2 IPTEK yang gilang-
gemilang yang bisa kita nikmati sampai hari ini, yang dirintis oleh 
Newton, Leibniz dkk sekitar akhir abad ke-17 dengan berdiri diatas 
prinsip2 ilmiah yang kemudian diformulasikan oleh para filsuf Wiener 
Kreis (Vienna Circle) setelah lahirnya teori relativitas Einstein 
dan mekanika kuantum.
 
Bangsa yang dungu?
 
Sebagai penutup, saya sampaikan opini dari Jusfiq Hadjar 
<[EMAIL PROTECTED]> di Belanda. Ia menilai bahwa pengetahuan 
masyarakat Indonesia tentang Teori Evolusi sepertinya minim walau 
sekelumit diajarkan di sekolah-sekolah. "Seingat saya di Indonesia 
yang  berpenduduk lebih dari 250 juta manusia itu harusnya ada museum 
natural  history. Di Belanda saja yang cuma 'negeri selebar sapu 
tangan' dengan jumlah penduduk yang tak seberapa dibandingkan dengan 
Indonesia dan tidak punya homo wajakensis, homo soloensis atau biawak 
komodo, punya museum naturalis yang dengan jelas menunjukkan 
tahap-tahap evolusi itu terjadi," keluh Jusfiq. Menurutnya, dengan 
adanya museum natural history, anak-anak sejak dini segera tahu apa 
itu Homo neanderthal, Australopithecus afarensis dan lainnya. 
 
"Di Belanda, berita tentang ditemukannya homo floresiensis saja 
dimuat  di halaman pertama harian nasional seperti NRC-Handelsblad. 
Secara berkala BBC juga menyampaikan berita tentang penemuan terakhir 
paleontologi yang makin menunjang teori Darwin. Kalau cuma baca 
tulisan Harun Yahya ya bangsa kita akan jadi semakin dungu," tambahnya. 

Note: 
Ada laporan dari seorang wartawan yang mengikuti acara kunjungan
SBY ke NY beberapa waktu lalu,  bahwa selama di dalam pesawat SBY sibuk
membaca buku-bukunya Harun Yahya. Apakah dia juga ingin belajar jadi dungu?
 

________________________________________________________________
Harlan Isjwara" <[EMAIL PROTECTED]>  
Date: Mon, 24 Oct 2005 20:02:00 -0700 (PDT) 
Subject: Re: [mediacare] Beda rel dan keterbatasan bahasa - Re: BA (Before 
Adam) 
 
Dear Mas Radityo,
OK deh, kita sepakat untuk tidak sepakat. :-)
IMHO agama seharusnya tidak boleh bertentangan dengan ilmu. Jika saat 
ini tampak bertentangan, kitanya yang masih belum cukup pandai. (Ini 
mungkin yang anda maksud dengan FAITH - harus percaya/ber-Iman; yang
menyebabkan anda melihat dua rel berbeda).
 
Jika anda baca e-mail saya tentang gajah, saya sama
sekali tidak menyatakan, bahwa gajahnya mati di Arab.
Saya lupa dimana mereka mati. Dan juga apakah cholera
atau small-pox saya lupa (makanya saya beri tanda "?".
Terus terang saya tidak serajin anda mencari data.
Yang teringat ditulis, yang lupa apa boleh buat). :-)
(Sorry, not scientific. I treat this as discussion
between friends, not formal presentation). 
 
Nah, apakah gajah efektif atau tidak ... well, saya
pikir gajah efektif buat musuh yang belum pernah
berlatih untuk melawan gajah. Ketika Hannibal bawa
gajah lewat pegunungan Alpina di musim salju, semua
orang juga bilang mustahil (gajah 'kan bukan makhluk
udara dingin). But he did it. Tentara Romawi yang saat
itu 'the best in the world' saja kalah. Demikian juga
ketika Genghis Khan membawa ribuan kuda dalam kampanye
di Timur Tengah. Kata orang : tidak mungkin bisa
survive tanpa air dan rumput yang banyak. Toh dia
berhasil. Jadi saya sceptic tentang "mustahil"-nya
gajah dibawa perang di Arab. 
 
Jika belum ada bukti archaelogy, OK, tetapi missing
link juga belum ada buktinya, toh kita dapat terima
"its possibility". 
 
Jadi saya belum dapat menerima argumen Mas Radityo.
Mungkin Mas benar, tetapi mungkin juga salah. 
Untuk mendukung pikiran tentang kesesuaian agama dan
ilmu, silakan baca tulisan para ahli yang mendukung
"Intelligent Design". Kalau tidak salah majalah
Scientific American pernah membahasnya secara mendalam
(beberapa tahun yang lalu). Selain itu silakan baca
tulisan Prof. Jeff Harwell (cari di homepage beliau).
Dia juga ilmuwan yang kebetulan beragama kuat. 
Enjoy. Bon appetit. 
 
Dan sekali lagi, saya salut kepada Mas Radityo yang
rela membagi ilmu dengan kita semua. Thanks. 
________________________________________________________________


                
---------------------------------
 Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.  
                
---------------------------------
 Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.  

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke