Catatan Dari Meja Nusa Dua Dan Café Bandar [29]
 
 
KE KATINGAN!   
KATINGAN : PANGGILAN PULANG DARI SEORANG  IBU KEPADA ANAKNYA.  
 
11

 
 
Katunen, pada masa kanakku dahulu adalah kawasan hutan rimba tak tembus 
matahari dan juga kebun buah: durian, manggis, duku, rambutan dan segala macam 
buah.  Semuanya tumbuh subur dan berbatang tinggi rimbun. 
 
Apabila ikut ibu bermalam di gubuk ladang,  seperti menyambut fajar terdengar 
nyanyi rupa-rupa burung sahut-menyahut dengan pekik siamang yang bergayutan 
dari dahan-kedahan dengan lincah. Suara itu masih  jelas mengiang di ingatanku 
yang masih di rantau seperti suara menyeru pulang.
 
Membelah hutan tropis ini mengalir Sapatau,  sebuah sungai kecil berair bening 
berarus deras. Di sungai inilah dahulu aku sering menceburkan diri mencoba 
kekuatan arus, menguji siapa unggul: arus atau aku. Apakah arus bisa 
mengalahkan aku atau bisakah aku mengatasi arus.  Makin deras arusnya makin 
kusukai, apalagi jika ia bergelombang. Gelombang kurasakan tidak lain dari 
ayunan yang oleh orang Katingan disebut "tuyang". Dengan perasaan inilah aku 
selalu  menerjuni sungai, didahului dengan acungan tinju bocahku ke langit 
sambil berseru: Ahoi! 
 
Bersama ayah, aku pun sering mencari ikan di Sapatau ini. Saat lapar, akulah 
yang memasak nasi dan memangg ikan untuk kami berdua, sementara ayah 
melanjutkan pekerjaannya menangkap ikan dengan sistem "hépéng",  memagari lebar 
sungai dengan bambu. Biasanya penangkapan ikan dengan sistem "hépéng" dilakukan 
pada malam hari. Jika lelah dan mengantuk, dihangati oleh api unggun aku 
membaringkan tubuh kecilku di tanah sambil menunggu ayah selesai bekerja.
 
Sering aku dan ayah  tidak pulang ke kampung dan tidur di gubuk ladang agar 
untuk keesokannya, pagi-pagi buta kembali dengan menggunakan perahu,  supaya  
aku bisa hadir di sekolah.   Ketergantungan kami pada sungai,  waktu itu sangat 
terasa dan kusaksikan.  Sungai adalah batang kehidupan manusia Katingan 
sehingga dinyanyikan dalam sansana,  bentuk puisi yang paling populer sampai 
sekarang. 
 
Suatu ketika ayah mengantarku ke kampung dari ladang melalui Sapatau untuk 
sekolah. Celakanya , sungai ini tohor. Pas-pasan hanya untuk bisa lewat perahu. 
 Kesulitan lewat menjadi luarbiasa ketika di permukaan sungai melintang batang 
kayu sepemeluk lebih.  Satu-satunya jalan adalah menenggelamkan perahu itu ke 
bawah batang pohon tersebut. Setelah berhasil sampai ke sisi lain pohon tumbang 
tersebut, ayah nampak sangat lelah. Sambil mendayung dari buritan, seperti 
berkata pada diri sendiri guna menawar kelelahannya, kudengar dari haluan ayah 
berkata:
 
"Besar kelak apakah kau akan ingat aku"?
 
Aku menoleh sejenak, kaget oleh kalimat tersebut. Kalimat yang tidak 
kuduga-duga keluar dari mulut ayah. Aku diam dengan perasaan campur-baur. 
Ketika berada di Yogya, ucapan ayah ini kuangkat dalam yang disebut "puisi" 
berjudul "Katingan". Sekarang pertanyaan tersebut bisa kujawab dengan pasti:
 
"Aku ingat selalu ayah dan aku mencintai ayah, walau pun ayah pernah berbuat 
salah sampai tidak mengakuiku anak oleh pencarianku serta melarangku pulang 
rumah".
 
Sejak itu aku menyadari benar arti "ingat" dan "lupa" walau pun aku belum bisa 
pada waktu itu memberi penjelasan teoritisnya. Sungai dan hutan jugalah yang 
sejak dini mengajarku akan arti dua kata itu. Jika kurenung-renung sekarang, 
terpentalnya aku dari kampung kelahiran pun tidak lepas dari masalah "ingat" 
dan "lupa" juga dalam skala lebih luas.
 
Di hutan Katunen ini jugalah ,baru belakangan kuketahui berdasarkan keterangan 
ayah, ayah telah menyembunyikan pasukan gerilya yang dipimpin oleh Tjilik 
Riwut.  Pada waktu bocah, aku masih ingat akan keherananku menyaksikan Tjilik 
Riwut, yang kami panggil "Mama Pang Enon, tiba-tiba datang dan tiba-tiba 
menghilang.  Datang terutama untuk makan lalu pergi lagi. Pada waktu itu aku 
menjawab keheranan bocahku dengan jawaban:
 
"Wajar karena Mama memang orang yang banyak aji-ajinya". 
 
Ketika kemudian aku kembali ke kampung, ayah menunjukkan sebuah gedung:
 
"Gedung itu dibangun oleh Pamanmu untuk mengenang bahwa  di situlah dahulu ia 
dan pasukannya kusembunyikan . Oleh terlibat langsungnya seluruh keluarga pada 
kegiatan gerilya, kakekmu disiksa dan dipenjara".
 
Saat ayah meninggal untuk menghormati jasanya, satu regu tentara menembakkan 
salvo melepaskan beliau dan di pambak [kuburan permanen]nya bersama ibu, sebuah 
bendera Merah Putih dipajangkan dengan tulisan pada dasar di mana bendera itu 
tertancap: "Pejuang Revolusi ". Bagian dari penghargaan kepada ayah, sebuah 
jalan diberikan nama menggunakan nama ayah.
 
Pambak ini sudah disiapkan ayah selagi ia masih hidup. Ia sadar bahwa suatu 
hari ia akan meninggal dan ia menyiapkan sejak dini tibanya hari itu.
 
"Masih hidup khoq sudah memikirkan mati", gumamku ketika ia mengajakku ke 
pambaknya.
 
"Kau bodoh, seakan tidak tahu bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak bisa 
dielakkan". Sambil ketawa ia kujawab:
 
"Kalau begitu aku pun akan membuat pambakku sendiri".
 
"Mengapa tidak? Ini namanya sikap gagah menghadapi kematian, nak", ujarnya lagi.
 
"Gagah?"
 
"Ya".
 
"Tapi ayah kan  juga pernah  tidak gagah dan bahkan takut sampai 
terkencing-kencing di celana", aku mengingatkan ayah akan peristiwa ketika ia 
pulang malam dan dicegat dua orang dengan mandau di pinggang.
 
Ayah tertawa dan kami berdua tertawa ngakak. Ketakutan adalah saudara kembar 
kegagahan.  Bagian dari hidup. Masalahnya bagaimana kemudian kita mengatasi 
secara sadar ketakutan itu agar kita tidak merosot lebih jauh hingga melecehkan 
kemanusiaan. Setia adalah proses mengatasi ketakutan untuk menjadi gagah.
 
Katunen yang dulu hutan belantara sekarang sudah menjadi bagian dari Kasongan, 
ibukota kabupaten Katingan. Jalan raya beraspal merentang menyambung kampung 
dan kota. Jaringan telepon dan wartel memutuskan keterpencilan kampung.***
 
Paris, Oktober 2005.
---------------------------
JJ. Kusni


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 New and Improved Yahoo! Mail - 1GB free storage!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke