The Death of Daliyem and Other Stories Nyonya Daliyem sedianya sudah meninggal pada Kamis siang pekan lalu. Janda tua itu, warga Desa Bangunrejo, pinggiran Yogyakarta, nekad terjun ke Sungai Pleret yang melintas di kampungnya. Tapi percobaan bunuh diri digagalkan para tetangganya. Dia berhasil ditarik keluar dari air.
Tapi, akhirnya dia meninggal juga, pada Jumat dini hari, karena luka menganga di kepalanya. Dia tak punya uang untuk berobat. Sebelum meninggal, perempuan tua berusia 75 tahun itu sempat menceritakan kenapa dia nekad mengakhiri hidupnya. "Dia mengeluh bingung dan merasa diperlakukan tidak adil," kata Sutopo, petugas keamanan desa itu, kepada Kantor Berita Antara. "Meski miskin, namanya tidak terdaftar dalam penerima dana kompensasi pencabutan subsidi minyak. Dan dia tak tahu harus mengurus kemana." "Dia mengaku tak punya uang sama sekali," kata Nugroho Basuki, seorang tetangganya. Itu sebabnya Nyonya Daliyem menolak dibawa ke rumah sakit. Nyonya Daliyem Kirno Notorejo, nama lengkapnya, hidup sendirian setelah suaminya meninggal beberapa tahun lalu, dan anaknya merantau ke Medan, Sumatera. Jenasahnya dikubur dalam sunyi di pemakaman umum Tegalrejo, tak jauh dari desa kelahiran Pangeran Diponegoro. *** Nyonya Daliyem hanya satu saja yang dalam beberapa pekan terakhir mencoba bunuh diri karena tekanan ekonomi. Pada hari ketika Nyonya Daliyem nekad terjun ke sungai di Yogyakarta, seorang pria berumur 42 tahun, warga Pisangan Baru, Jakarta Timur, membunuh istrinya sebelum memotong urat nadinya sendiri dengan pisau. Para tetangga memergokinya dan membawanya ke rumah sakit. Nyawa pria itu bisa diselamatkan. Tapi, istrinya tewas dengan beberapa luka tusukan di dada dan leher. Mengumpulkan kesaksian para tetangga, polisi yang menyidik peristiwa ini mengatakan, pria itu diduga stres karena sering cekcok dengan istri akibat kekurangan uang untuk biaya hidup. Di Cirebon sepuluh hari sebelumnya, suami muda usia (20 tahun), nekad menenggak racun serangga setelah gagal memperoleh modal usaha dari orangtuanya dan biaya persalinan istrinya yang sedang hamil. Dia berhasil diselamatkan. Ponco Jokosusilo (21), warga Desa Sawahbesar, pinggiran kota Semarang, juga berhasil diselamatkan nyawanya. Pada 6 Oktober lalu, dia nekad memanjat menara saluran listrik tegangan tinggi dekat rumahnya. Dan terjun dari situ. Tapi, tubuhnya tersangkut besi menara. Dia ditemukan kakaknya dalam keadaan pingsan. Sarjinem, ibu Ponco, mengatakan putranya menderita stres karena faktor ekonomi dan ketidakharmonisan rumah tangga. Di Bandung, nyawa Fitri Aprianti (14) tak bisa diselamatkan. Siswi kelas dua SMP ini nekad menggantung diri dengan kain di kusen pintu kamar rumahnya, Kampung Babakan Bojong, pinggiran kota Bandung. Nyonya Nunung, ibunya, bermaksud mengajaknya berbuka puasa, tapi menemukan anaknya sudah tewas. Dalam secarik kertas yang ditinggalkan, Fitri menulis dalam tinta hitam: "Fitri sudah tak layak jadi anak ibu karena selalu banyak permintaan." Nyonya Nunung mengatakan, sehari sebelum meninggal, Fitri sempat merengek minta baju lebaran, karena lebaran sudah dekat. Tapi, sang ibu belum bisa memenuhi karena tak punya uang. "Kalau kami orang kaya mungkin anak itu tak akan gantung diri," kata Nyonya Nunung. "Kami ini orang susah untuk makan saja sulit apalagi beli baju baru buat lebaran."* ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

