mungkin artikel ini dah bolak balik melintas di email sodara-sodari, tp
mengulang membacanya akan membuat jiwa terasa segar, dah lupa saya dapet dr
mana ni artikel, yg dah bosan bisa meng iggynya..hihiihihih..
salam,
tr
Cinta Berpijak pada Perasaan Sekaligus Akal Sehat
Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta dengan
menggunakan perasaan belaka.
Betul, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di
kemudian hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat.
Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa
mengelak. Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi,
kebiasaan, standar, gagasan, dan ideal kelompok dari mana kita berasal.
Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta,
dan tidak bisa dimintai pertanggunganjawab bila perbuatan-perbuatan impulsif
itu berakibat buruk suatu ketika nanti. Kehilangan perspektif bukanlah pertanda
kita jatuh cinta, melainkan sinyal kebodohan.
Cinta membutuhkan proses !!! Bowman juga menolak anggapan cinta bisa berasal
dari pandangan pertama. Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi
yang kompleks, katanya. Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu.
Jadi memang tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan
asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak
juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah berhasil
melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih orang
lain sebagai titik fokus baru.
Yang mungkin terjadi dalam fenomena cinta pada pandangan pertama adalah
pasangan terserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat-bahkan sampai
tergila-gila. Kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa
menempuh masa jeda.
Dalam kasus cinta pada pandangan pertama, banyak orang tidak benar-benar
mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri.
Sebaliknya dengan orang yang benar-benar mencinta. Mereka mencintai pasangan
sebagai persolinatas yang utuh.
Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi.
Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga bukan cinta
bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang mencinta tidak
menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan, tapi sebagai pasangan untuk
berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri.
Bila kita berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya
beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau melulu mengalah (tidak
protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan), berarti
kita belum siap memberi dan menerima cinta.
Cinta itu konstruktif.
Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri
sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi
konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh cinta
impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi,
nafsu makan, dan minat terhadap masalahsehari-hari. Yang dipikirkan hanya
kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu
bisa menjadi subsitusi kenyataan.
Cinta tidak melenyapkan semua masalah.
Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta
itu obat bagi segala penyakit (panacea). Kemiskinan dan banyak problem lain
diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta tidaklah
seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi
masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa
dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang-berarti tidak
benar-benar mencinta-cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih
bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan problem.
Cinta cenderung konstan.
Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan
kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih
lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikannya,
bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali bersama, kita memandang
kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya
berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya
dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan
kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan
jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar sebanding.
Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik.
Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting. Tapi bahaya bila kita menyukai
kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak factor lainnya. Saat
jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik.
Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa menyenangkan bila kita dan pasangan
saling menyukai personalitas masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan
nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan
tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian
dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan.
Cinta tidak buta, tapi menerima.
Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan menyadari
sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan
mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik. Namun keinginan
itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar,
penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan
sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa
keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan,
hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin diperbaiki.
Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan.
Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan
kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa
mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan
memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras
menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih
menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta
menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan.
Cinta berani melakukan hal menyakitkan.
Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta
memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan
hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata
tidak saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu.
Begitulah kita semua seharusnya bersikap pada pasangan
---------------------------------
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/