Bila kader PKS cuma terpikat pada kesederhanaan HNW Rupanya para pendukung PKS masih saja menonjol-nonjolkan kesederhanaan hidup Hidayat Nur Wahid (HNW). Sementara, partainya sendiri kini masuk dalam perangkap paket SBY-JK. Banyak simpatisannya yang kecewa dengan langkah PKS yang mendukung kebijakan tak bijak pemerintah yang menaikkan harga BBM setinggi langit. Menurutku, lakon PKS sungguh anti-klimaks dan tak 'happy-ending' buat seluruh rakyat (cuma buat mereka-mereka sahaja). Nabil Almusawa adalah contohnya. Dia kader PKS yang sampai mencucurkan airmata kala bertandang ke rumah dinas HNW.
"Oh begitu sederhananya rumah seorang Ketua MPR...." Saya amati, standar rumah dinas pejabat tinggi di Widya Chandra maupun Patra Kuningan ya memang begitu. Seluruh peralatannya, termasuk sofa dan lainnya dipasok dari Sekneg. Kalau rumah Agung Laksono lebih nampak mewah dan terang benderang, ya karena dia sudah lama tinggal disitu. Kalau dibandingkan rumah dinas Bupati atau Gubernur, ya tak ada ada apa-apanya. Menanggapi komentar Ilham Malik perlu saya luruskan, bahwa penulis artikel tersebut bukan Satrio Arismunandar tetapi Nabil 'Fuad' Almusawa, kader PKS (kalau kenyataannya Satrio juga kader partai itu, saya kurang tahu). Jadi yang memuji dan menangisi HNW bukan Satrio (saya pikir Satrio tak secengeng itu). Kalau saya baca ulang, Coen Pontoh sebenarnya tak bermaksud menyepadankan HNW dengan Stalin. Dia hanya mengkritisi alangkah bahayanya bila kader-kader PKS menyanjung HNW secara berlebihan, ujung-ujungnya bisa seperti komrad-komrad Partai Komunis Uni Soviet yang "buta" atas perilaku sang pemimpin. Ia tuliskan, "seolah tak ada yang salah dari seluruh ucapan dan tindakan Stalin". Lalu baru ia sesalkan langkah PKS yang anti kebebasan berpikir dan tak mengkampanyekan agar Soeharto segera dihukum. Jadi, seolah-olah HNW cuma sibuk dengan kesederhanaannya saja, tak memikirkan langkah strategis lain yang pro-rakyat. Jadi saya setuju dengan statemement: "Menjadi pejabat publik, kejujuran dan kesederhanaan saja tidak cukup". Perlu ditambah: 'cerdas' dan 'pro-rakyat'. Apa itu 'cerdas' dan 'pro-rakyat', silakan nilai sendiri. Tentang Coen sepadan atau tidak dibandingkan dengan Jacob Oetama, saya tak bisa beri komentar, karena saya belum pernah bertemu dia. Kalau sudah bertemu, baru saya bisa menilai Coen itu sepadan atau tidak disejajarkan dengan Jacob Oetama. Siapa tahu Coen ternyata malah lebih piawai dibandingkan Jacob Oetama? "Who knows", kata SBY. Karena pada dasarnya antar sesama manusia, kurang dan lebihnya, bisa disepadankan tindak-tanduknya, walau tak mirip 100%. Saya pribadi tak begitu mempermasalahkan HNW. Saya suka melihat para pejabat negeri ini bisa hidup sederhana dan bertutur halus seperti beliau. Namun HNW bisa saja beda dengan sikap dan perilaku para kadernya. Jadi saya mungkin tak setuju dengan sikap dan perilaku para kader PKS. Pesan untuk para kader PKS, saya terus terang kurang 'sreg' pada penggunaan kata 'ana', 'antum',' 'afwan', 'ikhwah'. Seolah mereka tak lahir, hidup dan berpijak di Bumi Nusantara. Apa tidak ada kata padanannya dalam Bahasa Indonesia? Atau mereka pelan-pelan ingin membawa negeri ini agar bernuansa padang pasir? Janganlah, kasihan Ibu Pertiwi! Untuk Nabil, bagaimana dengan Tamsil Linrung yang diduga terkait kasus percaloan di DPR? Bagaimana dengan anggota DPRD DKI dari PKS yang mendukung 'take home pay' naik hingga ratusan juta per bulan? Kenapa air matamu tak menetes untuknya? Salam, Radityo Djadjoeri _________________________________________________________________ Coen Husain Pontoh e: [EMAIL PROTECTED] Membaca tulisan ini, saya jadi ingat bagaimana komrad-komrad Partai Komunis Uni Sovyet memuja Stalin tiada dua. Sampai-sampai, tak ada yang salah dari seluruh ucapan dan tindakan Stalin. Orang-orang PKS nampaknya menjurus ke sana. Mereka tak lagi kritis terhadap sepak terjang Hidayat Nur Wahid (HNW). MIsalnya, ia anti kebebasan berpikir, karena menolak penghapusan TAP MPR No. XXV/MPR/1966; tidak mengkampanyekan penuntutan hukum terhadap kejahatan ekonomi dan politik Soeharto. PKS tak sedikit pun menyinggung kejahatan besar bapak Jenderal Besar itu; dalam kasus bom Bali, HNW bikin komentar yang asbun (asal bunyi), katanya pelaku bom Bali II adalah orang-orang atheis dan juga karena persaingan bisnis pariwisata; dan seperti sudah dikemukakan bung Farid Gaban, PKS dan HNW tak bersikap tegas soal pencabutan subsidi BBM. Bahwa dia mencontohkan hidup sederhana, two thumbs up! _________________________________________________________________ Ilham Malik e: [EMAIL PROTECTED] Bung Pontoh, Dalam menilai seseorang, kita sudah selayaknya menggunakan padanan yang benar-benar sepadan. Anda tidak bisa dibandingkan dengan Jacob Oetama, Hidayat tidak bisa dibandingkan dengan Stalin, Faidz juga tak bisa dibandingkan dengan Wiranto. Saya kira, pujian yang dibuat oleh kawan Satrio, ya biarlah kita anggap sebagai pujian pribadinya saja. Kita perlu bersikap adil. _________________________________________________________________ Guntoro Soewarno (simpatisan PKS) e: [EMAIL PROTECTED] Coen benar. Kita harus kritis dengan PKS. Karena terbukti, menjadi pejabat publik tidak cukup dengan kejujuran dan kesedehanaan. Tapi juga harus cerdas. Karya PKS sepanjang kader mereka berkuasa tidaklah mendebarkan. Bahkan beberapa hal menyesatkan. Nurmahmudi Ismail ketika menjadi Menhutbun, yang dia cabut pertama kali adalah program hutan rakyatnya Habibie. Ini sungguh diluar akal sehat. Begitupun soal dukungannya ke pasangan SBY-JK (Semakin Banyak Yang Jadi Korban). Ini bukti PKS tidak bervisi ke depan. Dia sekarang kena getahnya. Nyaris tidak bunyi --dalam bahasa jawa 'pelo'-- ketika harus menolak kenaikan BBM yang sangat pro kapitalis. Begitupun ketika mereka menjadi mayoritas di DPRD DKI Jakarta. Apakah Jakarta jadi lebih baik? Tidak! Penggusuran rakyat kecil terus terjadi. Bahkan mereka sekarang ramai-ramai menaikkan gaji-nya. Subhanallah. Ini bukti bahwa jujur dan sederhana, ketika berurusan dengan negara tidak begitu penting. Cerdas dan pro rakyat. Itu yang penting, dan sekarang menjadi barang langka. _________________________________________________________________ Mimbar Untan e: [EMAIL PROTECTED] Benar, menjadi pejabat publik, kejujuran dan kesederhanaan tidak cukup. Perlu ditambah: cerdas. Namun jika kemudian dikatakan bahwa jujur dan sederhana, ketika berurusan dengan negara tidak begitu penting, saya sangat tidak setuju. Bukankah negara ini telah dipimpin oleh banyak orang yang cerdas, namun tidak jujur dan memuja keglamoran. Mereka telah membawa kehancuran bagi negara. Saya kira yang bijaksana, diperlukan orang yang jujur, sederhana, sekaligus cerdas. Hidayat Nurwahid sukses mengajarkan kejujuran dan kesederhanaan, namun itu belum cukup. Ia musti cerdas dalam mengambil kebijakan. PKS adalah sebuah partai yang begitu diharapkan bisa menjadi partai yang bersih dan bisa membawa perubahan. Saya kira banyak orang yang berharap banyak kepada PKS. Namun akhir-akhir ini, sepertinya PKS tak bisa mewujudkan harapan itu. Ambil contoh kebijakan kenaikan harga BBM dan tunjangan anggota DPR. Tidak ada sikap yang jelas yang diambil PKS yang benar-benar menyuarakan rakyat, kecuali menyangkut kepentingan mereka. Inkonsistensi, bahwa PKS akan menjadi partai oposisi telah nampak. PKS masuk ke ranah kekuasaan dan tak bisa berkutik. PKS tak seperti pada awal kampanye. Saya kira bagi semua aktivis PKS, terutama yang telah duduk pada singgasana kekuasaan, wajib untuk menjaga harapan dan amanah yang telah dibebankan ke pundaknya. Memberikan kritik dan mengingatkan pemimpin adalah satu yang baik. Kritik itu supaya pemimpin tidak salah langkah. Shalat adalah kewajiban, jujur memang seharusnya, sederhana tentu, namun bukan berarti itu cukup untuk masuk surga. Masih banyak rakyat yang semakin miskin akibat salahnya kebijakan negara. Masih yakinkah akan masuk surga? _________________________________________________________________ Faiz Manshur [EMAIL PROTECTED] Kalau mau meneladani sikap bijak pribadi sebenarnya banyak orang yang bisa dijadikan teladan. Di kampung-kampung juga banyak, tak usah nyari seorang pemimpin seperti HNW. Jangankan HNW, mbah Harto pun baik hati, asalkan kenal. Bang Akbar Tanjung pun dikenal orang-orang dekatnya sebagai sosok yang humanis. Hidup sederhana dalam situasi yang begini memang baik, tapi tak tepat kalau kemudian hanya karena itu lantas dijadikan patokan untuk menilai kesalehan politik. Nah, sebagai tokoh politik, yang paling pokok dari HNW kita nilai kesalehan politiknya, sikap-sikapnya terhadap rakyat. _________________________________________________________________ Yayat Cipasang e: [EMAIL PROTECTED] Iyalah, memang jangan dicontohkan dengan hidup sederhana. Karena banyak orang LSM yang mengaku meladeni rakyat miskin malah gelimang harta. Jadi, memang tak cocok berkomentar tentang kesedarhanaan sekarang. Sekarang semuanya dijungkirbalikkan. Saya pikir, pendapat Coen juga keluar dari konteks. Paling tidak kita bikin contoh dulu hidup sederhana biar negara gak boros. Masalahnya Indonesia boros kan karena korupsi. Kalau tidak ada korupsi dan hidup mewah pasti kenaikan BBM juga kan tidak ada. Berpikir sederhana sajalah. Ngapain rumit-rumit berpikir di zaman kiwari. _________________________________________________________________ Ahmad Su'udi e: [EMAIL PROTECTED] Astaghfirullah! Sepertinya hanya kebencian yang ada dalam benak rekan-rekan sekalian terhadap Hidayat Nurwahid, sehingga sama sekali rekan-rekan tak memiliki apresiasi positif tentang sisi kebaikan tokoh satu ini. Padahal adalah sebuah prestasi ada pejabat tinggi sekelas ketua MPR masih sanggup sederhana, suatu gaya hidup yang bisa jadi rekan sekalian tak sanggup menjalani, padahal pasti godaan yang ada pada diri rekan-rekan tak seberat Hidayat. Kalau Hidayat mau, pasti ia bisa hidup glamour. Anda kata semua pejabat negeri ini jujur dan sesederhana Hidayat, pasti tak seburam ini wajah negeri kita ini. Pasti tak kemelaratan yang mendominasi cerita negeri ini. Tersebab keculasan dan ketamakan para pemimpinlah, negeri ini diambang kehancuran. Hidayat memang tetap manusia, tak lepas dari kekhilafan, tetapi tak bijak jika kita sama sekali tak menghargai sisi kebaikannya. Lebih tak bijak lagi jika kita - sudahlah tak bisa mencontoh sisi baiknya - justru mencela. Terlebih saat ini Ramadhan man! _________________________________________________________________ Diposting oleh Satrio Arismunandar e: [EMAIL PROTECTED] Meneladani Ust. Hidayat Nurwahid: Air mata ana menetes di rumah Muhammad Hidayat Nurwahid Nabil Almusawa e: [EMAIL PROTECTED] BismiLLAAHir RAHMAANir RAHIIM, Beberapa hari yang lalu ana berkesempatan untuk ikut dalam acara buka bersama dengan Ketua MPR-RI, DR Muhammad Hidayat Nurwahid, MA di rumah dinasnya, kompleks Widya Chandra dengan beberapa ikhwah. Ketika ana masuk ke rumah dinas beliau tsb, maka dalam hati ana bergumam sendiri: Alangkah sederhananya isi rumah ini. Ana melihat lagi dengan teliti, meja, kursi2, asesori yg ada, hiasan di dinding. SubhanaLLAH, lebih sederhana dari rumah seorang camat sekalipun. Ketika ana masuk ke rumah tsb ana memandang ke sekeliling, kebetulan ada disana Ketua DPR Agung Laksono, Wk Ketua MPR A.M Fatwa, Menteri Agama, dan sejumlah Menteri dari PKS (Mentan & Menpera) serta anggota DPR-RI, serta pejabat2 lainnya. Lagi2 ana bergumam: Alangkah sederhananya pakaian beliau, tidak ada gelang dan cincin (seperti yg dipakai teman2 pejabat yg lain disana). Ternyata beliau masih ustaz Hidayat yg ana kenal dulu, yg membimbing tesis S2 ana dg judul: Islam & Perubahan Sosial (kasus di Pesantren PERSIS Tarogong Garut). Terkenang kembali saat2 masa bimbingan penulisan tesis tsb, dimana ana pernah diminta datang malam hari setelah seharian aktifitas penuh beliau sebagai Presiden PKS, dan ada 10 orang tamu yg menunggu ingin bertemu. Ana kebagian yg terakhir, ditengah segala kelelahannya beliau masih menyapa ana dg senyum : MAA MAADZA MASAA'ILU YA NABIIL? Lalu ana pandang kembali wajah beliau, kelihatan rambut yg makin memutih, beliau bolak-balik menerima tamu, saat berbuka beliau hanya sempat sebentar makan kurma & air, karena setelah beliau memimpin shalat magrib terus banyak tokoh yg berdatangan, ba'da isya & tarawih kami semua menyantap makanan, tapi beliau menerima antrian wartawan dalam & luar negeri yang ingin wawancara. Tdk terasa airmata ana menetes, alangkah jauhnya ya ALLAH jihad ana dibandingkan dg beliau, ana masih punya kesempatan bercanda dg keluarga, membaca kitab dsb, sementara beliau benar2 sudah kehilangan privasi sebagai pejabat publik, sementara beliaupun lebih berat ujian kesabarannya untuk terus konsisten dlm kebenaran dan membela rakyat. Tidaklah yg disebut istiqamah itu orang yg bisa istiqamah dlm keadaan di tengah2 berbagai kitab Fiqh dan Hadits seperti ana yg lemah ini. Adapun yg disebut istiqamah adalah orang yg mampu tetap konsisten di tengah berbagai kemewahan, kesenangan, keburukan, suap-menyuap dan lingkungan yang amat jahat dan menipu. Ketika keluar dari rumah beliau ana melihat beberapa rumah diseberang yang mewah bagaikan hotel dg asesori lampu2 jalan yg mahal dan beberapa buah mobil mewah, lalu ana bertanya pd supir DR Hidayat : Rumah siapa saja yg diseberang itu? Maka jawabnya : Oh, itu rumah pak Fulan dan pak Fulan Menteri dari beberapa partai besar. Dalam hati ana berkata: AlhamduliLLAH bukan menteri PKS. Saat pulang ana menyempatkan bertanya pd ustaz Hidayat: Ustaz, apakah nomor HP antum masih yg dulu? Jawab beliau: Na'am ya akhi, masih yg dulu, tafadhal antum SMS saja ke ana, cuma afwan kalo jawabannya bisa beberapa hari atau bahkan beberapa minggu, maklum SMS yang masuk tiap hari ratusan ke ana. Kembali airmata ana menetes. alangkah beratnya cobaan beliau & khidmah beliau untuk ummat ini, benarlah nabi SAW yang bersabda bahwa orang pertama yg dinaungi oleh ALLAH SWT di Hari Kiamat nanti adalah Pemimpin yang Adil. Sambil berjalan pulang ana berdoa : Ya ALLAH, semoga beliau dijadikan pemimpin yg adil & dipanjangkan umur serta diberikan kemudahan dlm memimpin negara ini. Aaamiin ya RABB. _________________________________________________________________ Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com http://indonesiana.multiply.com --------------------------------- Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

