yoshi murti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:From: "yoshi murti" <[EMAIL PROTECTED]> To: "danu primanto" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Fri, 11 Nov 2005 07:10:13 -0500 Subject: Re: Fwd: Re: [lsai] Kota, Informalitas, dan Konflik Ruang (Ekonomi)
Dab Danu Primanto, tolong kirimkan tanggapanku untuk rekan Atoni Pah Meto, yang aku hampir yakin ia lahir di Yogyakarta. Salam Lebaran, mohon maaf lahir dan batin. MEMBACA KOTA: RELATIVITAS DAN FRAGMENTASI, PENEGASAN BATAS DAN KABURNYA RUANG Sebuah tanggapan balik atas perspektif dialektis fungsional (ekonomi-politik) tulisan rekan Atoni Pah Meto Desain merupakan bahasa perencanaan dan perancangan, sedangkan pembangunan merupakan bahasa politik (ekonomi). Keduanya sama saja, yaitu berakar dari warisan mentalitas modern pencerahan Eropa: sebuah nalar yang memperlakukan alam sebagai bahan dan calon bagi sesuatu yang lain. Sebuah nalar perekayasaan. Maka, ketika kita memperbincangkan ruang kota dengan pertanyaan: Bagaimana dan oleh siapa ruang kota didesain dan dibangun? Mau tidak mau, suka tidak suka, kita berada diatas posisi nalar seperti itu. Dan itu sungguh celaka! Karena segera kita ketahui dan kita temui melalui representasinya, bahwa spidol para perencana kota diatas meja gambar dan lobi-lobi proyek para birokrat dan para pemodal, selama ini justru dianggap sebagai mekanisme maupun sebagai pihak yang mempunyai hak, legitimasi serta kuasa untuk mendesain dan membangun ruang kota. Asumsi ini akan salah pada suatu hari kelak, jika peristiwa penggusuran atas nama desain dan pembangunan kota sudah tidak terjadi lagi di negeri (kota) ini, ataupun sebaliknya, jika yang namanya RUTRK atau RDTRK atau masterplan atau peraturan tata kota, dsb, bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh semua pihak, teori maupun praktek. Bukan berarti mengabaikan peran dan posisi orang-orang seperti Pak Jumo, Pak Adi Hatmoko, Mas Revianto, dll, dalam relasinya dengan ruang kota, namun memberi tekanan pada keberulangan bahwa selama masih ada penggusuran dan kesenjangan teori-praktek, selama itu pula yang namanya desain dan pembangunan kota merupakan milik kaum perencana kota, birokrat dan pemodal! Disinilah, pada kali lain kelak, kita akan berjumpa dengan persoalan bahasa politik dan politik bahasa dan kuasa pengatasnamaan terhadap yang lain (the other). Meskipun bukan berarti kita cuek dan menyerah pada keberulangan itu, tetapi mencari celah untuk bergerak keluar. Barangkali Pak Jumo di Stasiun Tugu tidak akan pernah berpikir tentang desain dan pembangunan ruang kota ketika mendirikan kiosnya. Meskipun Pak Adi Hatmoko maupun Mas Revianto (ini barangkali juga lho!) sebagai orang yang punya akar belajar ilmu desain dan tata kota secara mumpuni, tentu akan berpikir dengan komprehensif dan integral tentang desain dan pembangunan ruang kota ketika melihat Stasiun Tugu. Demikian juga, pendirian lima buah mall di Kota Yogyakarta yang sekarang memasuki tahap penyelesaian, dengan logika sederhana dapat dikatakan; tentu juga tidak ambil pusing dengan soal desain dan pembangunan kota. Meskipun para antropolog, sosiolog, arkeolog, senimanlog dan arsiteklog berseru-seru tidak sepakat dengan pembangunan mall tersebut, salah satunya dengan mengingatkan akan desain dan pembangunan kota Yogyakarta yang baik dan benar. Lalu, untuk apakah pernyataan (bukan pertanyaan) tentang bagaimana dan oleh siapa ruang kota didesain dan dibangun, diperbincangkan? Jika di dalam kenyataan sehari-hari baik oleh Pak Jumo yang dianggap representasi dari grassroots maupun oleh konglomerat pemilik mall justru tidak pernah berpikir ataupun melakukan pengabaian terhadap desain dan pembangunan kota? Bukan berarti pertanyaan ini ingin memberangus pertanyaan kritis dari rekan Atoni Pah Meto, namun justru ingin menempatkan kembali dan mengkritisi mengenai pijakan nalar yang berjalan dan dipakai pada pernyataan, pertanyaan, uraian, berikut konsekuensi yang harus ditanggung masing-masing. Sampai di titik ini, saya akan menunjukkan bahwa apa yang diuraikan secara panjang lebar oleh rekan Atoni Pah Meto sebagai dialektika ruang kota, meskipun mencoba berpijak dari apa yang disebutnya fenomena yang riil ruang kota, ternyata mengandung konsekuensi yang cukup riskan dalam cara berpikir maupun konsekuensi yang kontra produktif dalam tindakan. Pertama, uraian rekan Atoni Pah Meto mengenai tesis-antitesis-sintesis dalam melihat perjalanan sebuah proses cara berdagang dari pedagang angkringan yang dianggap representasi grassroots di wilayah Tugu, di-antitesis-kan dengan pedagang restoran, lalu kelompok pedagang angkringan yang sudah berubah disandingkan dengan warung tenda sebagai sintesisnya, dan seterusnya hingga fenomena franchise di mall maupun fenomena munculnya Restoran Sendang Kapitu ataupun Moro Ledjar,... yang lalu disebutnya sebagai sebuah proses dialektika, menurut saya, tidak lain hanyalah sebuah istilah yang berakar pada pandangan yang deterministik. Pandangan ruang kota sebagai representasi ruang ekonomi memang membawa konsekuensi terjadinya perebutan kapital oleh semua pihak. Bukankah hakekat modal adalah menggandakan dirinya sendiri? Perebutan terjadi tidak saja antara yang tak punya modal tetapi juga antara yang bermodal besar. Persaingan dan perebutan yang melahirkan inovasi dan strategi (ekonomi politik) untuk melipatgandakan modal, meskipun disisi lain, di dalam kenyataan sehari-hari tidak menutup kemungkinan ia juga melahirkan ruang-ruang negosiasi secara sosial budaya. Dalam nalar konstelasi perebutan inilah, pemilik modal kecil apalagi yang tak bermodal akan terpinggirkan terus-menerus. Cara-cara berdagang yang dulunya dianggap informal kalaupun itu bisa melipatgandakan modal dengan cepat, ia akan dipakai oleh siapapun juga. Contohnya, selain angkringan, perusahaan nasional-multinasional seperti teh botol, coca cola, ... juga melakukan cara-cara berdagang dengan armada gerobak-gerobak dorong di trotoar dan jalan. Ya, sudah saatnya kita tinggalkan cara pandang yang dualistis, karena siapapun juga, baik yang besar maupun yang kecil, yang resmi ataupun yang tidak resmi, yang formal maupun tidak formal,... pasti (pernah) berpikir dan bertindak secara informal, ilegal, tidak senonoh, tidak resmi, dll. Kedua, jika hakekat modal adalah melipatgandakan dirinya sendiri, benarkah ada dialektika ruang kota? Menurut saya, sekarang, kota dan kekotaan kita, entitas dan identitas, sudah kabur batas-batasnya, pecah kosmologinya. Menjadi bagian dari respon tak-terelakkan dan terus-menerus terhadap modernisasi, keterputusan (dissolution), dan jaringan (globalisasi). Setiap saat, kita dikagetkan oleh perubahan geografi fisik yang tiba-tiba, tetapi juga diserbu oleh cepatnya perubahan geografi imajinasi akibat lalu-lalang konsumsi image yang melintasi batas apapun dan wilayah manapun. Perumahan mewah, kota satelit, pusat bisnis, jasa, dan perbelanjaan, terus bermunculan berdiri angkuh dalam kehidupan dan makna-nya sendiri. Demikian pula kampung, slum, permukiman padat, pasar-pasar jalanan, gubug-gubug liar, berkembang biak melalui ledakan-ledakan yang tidak teratur, sporadis, dan dengan sendirinya pula. Di wilayah citra, setiap saat bayangan kita dijejali dengan ribuan gambar yang berbeda melalui iklan dan tayangan media massa tentang konsep ruang (misalnya; hunian, taman, kamar, arena belanja, dll) yang nyaman, kota ideal, piranti teknologi yang mempermudah hidup, ..., berselang-seling dengan potret-potret kejadian kriminalitas, bencana, kemacetan, polusi, dan lain sebagainya. Dari sudut pandang keruangan seperti ini baik dalam pengertiannya yang material maupun abstrak, perkembangan (ruang) kota dalam kenyataannya adalah enclave demi enclave. Kota adalah keragaman. Kota merupakan dis-kontinuitas Ketiga, kalaupun benar ada dialektika ruang kota seperti yang diuraikan rekan Atoni, yang menurut saya masih deterministik, konsekuensi yang terjadi adalah dibuangnya dimensi ruang (dan waktu) di dalam menjelaskan fenomena ruang kota. Seperti kata Atoni sendiri: ...Persoalannya, ruang kota atau ruang lain yang meluas menjadi ajang penerima akibat dari proses dialektika itu Disini terlihat ketumpang-tindihan dalam berpikir ketika ruang dilepaskan dari proses dialektika. Sedangkan, mengacu pada Giddens (1984), yang disebut ruang bisa berarti setting of interaction, dan karena itu kita jadi memahami bahwa sosialitas selalu terkonstruksi secara spasial. Demikian juga sebaliknya, ruang bisa berarti sebuah konstruksi sosial, dan karena itu kita memahami bahwa spasialitas selalu terkonstruksi secara sosial. Sehingga, spasialitas dan sosialitas akan selalu berubah, dinamik, dipengaruhi dan mempengaruhi relasi-relasi (baik sosial maupun spasial). Konsekuensi dari pemahaman ini, tidak mendahulukan bertanya tentang apa peran aktor, tetapi bagaimana pola kerjasama dan dinamika konflik yang mempengaruhi sosialitas dan spasialitas. Bukan mendahulukan bertanya, apa peran dan posisi Pak Jumo sebagai pedagang kecil, apa peran dan posisi tukang becak, pegawai Stasiun, dsb, tetapi melihat bagaimana pola kerjasama dan dinamika konflik Pak Jumo sebagai personal maupun sebagai pemilik kios secara sosial maupun spasial. Cara bertanya semacam ini, mencoba keluar dari (determinisme) peran dan posisi agen dilihat dari perspektif ekonomi politik yang biasanya; fungsional, sektoral, formal,... Konsekuensinya, etnografi pelaku seperti dalam pengertian rekan Atoni mesti terus dibarengi pertanyaan: apa yang membuat seseorang disebut pelaku? Yap. Kita memang harus keluar dari dikotomisasi, tetapi bagaimanakah caranya? Bahwa desain dan pembangunan ruang kota selalu datang dari pemahaman ruang yang abstrak (sebab dibayangkan dalam benak), meskipun kenyataannya setiap orang merespon, berinteraksi, dan membentuk ruang kota melalui pemahaman ruang yang kongkrit dalam hidup sehari-hari. Tetapi, siapakah para pakar dan siapakah pelaku? Benarkah setiap pelaku harus direlasikan? Benarkah kita harus memulainya dari pelaku? Walahuallam Salam, Yoshi ----- Original Message ----- From: "danu primanto" To: "kang yoshi" , "yoshi murti" Subject: Fwd: Re: [lsai] Kota, Informalitas, dan Konflik Ruang (Ekonomi) Date: Thu, 3 Nov 2005 05:07:06 -0800 (PST) > > kang...ada respon dr koncomu ki... > iki tulisanmu yg kukirim neng milise lsai > > --- Atoni Pah Meto wrote: > > > To: [EMAIL PROTECTED] > > From: Atoni Pah Meto > > Date: Thu, 3 Nov 2005 04:03:17 -0800 (PST) > > Subject: Re: [lsai] Kota, Informalitas, dan Konflik > > Ruang (Ekonomi) > > > > Bung Danu Primanto, tolong disampaikan tanggapan > > saya ini kepada rekan Yoshi yang kayaknya semakin > > matang aja, trims. > > > > > > DIALEKTIKA RUANG KOTA > > > > (Sebuah reaksi atas titik tertentu dalam tulisan > > Yoshi) > > > > > > > > Kata Yoshi: Ruang kota sebagai representasi ruang > > ekonomi dan Celakanya, kota justru dibangun dan > > didesain dari pemaknaan kota yang abstrak dari atas > > meja gambar para perencana kota dan lobi-lobi proyek > > para birokrat dan para pe-bisnis. Pertanyaan > > spontan muncul, lantas dimana para pelaku ruang yang > > lain ? Apa peran mereka ? Sengaja dihilangkan atau > > memang tidak ada sejak dalam pikiran ? Apakah pelaku > > ruang kota yang jenisnya puluhan itu tidak > > menyumbangkan sesuatu apapun ? > > > > > > > > Menurut hemat kami, salah satu bagian dari > > pernyataan diatas ini menarik untuk ditanggapi. > > Apakah benar kota dibangun dan didesain dari > > pemaknaan kota yang abstrak, dari atas meja gambar, > > hanya oleh para perencana kota dst ? Kalau Pak Jumo > > melihat sepetak ruang kota di pojok Tugu kota Jogja > > adalah ruang yang bernilai ekonomis untuk menjual > > rokok bagi bisnis dirinya dan keluarganya, apakah > > itu abstrak ? Atau kalau seorang Adi Hatmoko atau > > Revianto B Santoso yang terkenal dan melihat hal > > yang sama dengannya, juga dikatakan pemaknaan yang > > abstrak ? Barangkali sistem pikirannya yang abstrak > > tetapi substansi pikirannya sungguh konkrit ! > > > > > > > > Dalam uraian ini, saya ingin menyandingkan cara > > berpikir yang agak lain dalam melihat fenomena ruang > > kota, supaya agak fokus dan menarik untuk didalami > > lebih lanjut, meski mungkin derajat abstrak(si)nya > > kurang memuaskan. Yah sekedar berbagi ceritera untuk > > menjembarkan jagad cilik pemikiran ini biar menjadi > > agak lebih luas sedikit. Fenomena ruang kota memang fenomena yang riil dan > > bertolak dari substansi pemikiran yang riil pula, > > begitulah pandangan dasar coretan ini. Dasar yang > > lain adalah, ruang kota sangat dinamis dan > > berubah-ubah mengikuti proses dialektika > > (tesis-antitesis-sintesis) secara terus menerus > > tiada henti-hentinya. Oleh karenanya, banyak ahli > > yang melihat fenomena perubahan ruang kota sebagai > > sebuah sejarah kota, sejarah dialektika suatu ruang > > kota. > > > > > > > > Riwayat angkringan di Jogja, misalnya, konon dimulai > > dari usaha personal kalangan pengusaha grassroots > > berasal dari sebuah desa kluthuk eeeh Klaten yang > > bertujuan memenuhi kebutuhan makan-minum golongan > > grassroots juga. Menurut laporan Tim Kompas (th ?) > > plot awal mulanya sampai sekarang masih hidup yakni > > di sekitar stasiun Tugu, Yogyakarta. Semula usaha > > kecil ini bermanfaat bagi kalangan kuli-kuli > > setasiun dan para tukang becak disana atau para > > pekerja bergaji kecil atau bahkan para mahasiswa > > perantauan yang kirimannya cupet. Pada waktu itu, > > sebagian masyarakat kota Yogyakarta yang ekonominya > > lebih tinggi telah memenuhi kebutuhan makan minum di > > restoran-restoran yang sudah banyak muncul, bahkan > > ada fenomena yang berkembang, menjual gudeg-pun > > dengan pola restoran (Gudeg Juminten atau Ayam > > Goreng Mbok Berek). Kalau fenomena restoran dilihat > > sebagai tesis, dalam hal ini, fenomena angkringan > > (mungkin) dapat dilihat sebagai anti-tesis dari > > fenomena restoran yang elitis kala itu. > > > > > > > > Dengan bergulirnya waktu, angkringan berkembang > > menjadi jamur bak musim hujan, bahkan ternyata > > akhir-akhir ini berkembang menjadi industri yang > > berpola juragan anak buah dengan markas yang > > relatif mapan. Angkringan yang semula grassroots > > berskala individual modal kecil bahkan telah > > mengilhami (generate) munculnya berbagai model > > sektor informal yang berpola industri kaki lima. > > Pola ini pada dasarnya usaha ekonomi yang menggurita > > meski bergerak pada skala pasar grassroots karena > > konsumennya memang disana dan relatif besar. > > Fenomena elitisasi atau industrialisasi sektor kaki > > lima ini tidak terelakkan dan ditandai lebih lanjut > > dengan berkembangnya industri asongan empek-empek > > atau bakwan malang atau gerobak roti Holland Bakery > > yang berkeliaran di seluruh sudut kota dan dikelola > > oleh pemodal kuat. Akibatnya, definisi pedagang > > kaki lima sebenarnya mengalami kekaburan dan mungkin > > perlu ditinjau kembali, sebab di lapangan terjadi > > fenomena serupa tetapi tak sama; sama-sama > > berwajah angkringan atau asongan tetapi skala modal > > dan manajemen di belakangnya berbeda. Ada sebagian > > sektor informal yang masih murni seperti esensi > > awalnya namun ada juga sebagian yang lain telah > > mengalami elitisasi atau industrialisasi; satunya > > keong ekonomi yang lain gurita ekonomi. > > > > > > > > Pada saat itulah, angkringan yang industrial dan > > fenomenal itu mengilhami lahirnya warung-warung > > tenda sebagai sintesisnya, yang juga berpola > > industrial. Cak Ali, misalnya, punya beberapa warung > > tenda yang menjual jenis makanan sama di beberapa > > sudut kota Jogjakarta. Fenomena Cak Ali pengusaha > > kaya namun low-profile ini cukup banyak dan menjadi > > rahasia umum, bahwa tampilan sederhana versi warung > > tenda hanyalah wajah sebuah bisnis skala besar yang > > low-profile. Pola warung tenda memang unik, bukan > > angkringan dan bukan restoran namun memiliki sifat > > sifat dasar dari keduanya. Akibatnya banyak pebisnis > > tertarik dan kemudian ruang kota penuh dengan > > tebaran angkringan dan warung-warung tenda yang > > hidup berdampingan memenuhi setiap jengkal ruang > > sisa (lost space) yang ada, termasuk okupansinya > > terhadap ruang-ruang publik yang menjadi salah > > fenomena penting abad ini di kota-kota kita, yakni > > privatisasi ruang publik. Kalkulasi para ekonom (pemodal) terus bergerak, > > mereka berusaha melakukan perlawanan atau mencari > > peluang (sebutan gaulnya: mencari inovasi) untuk > > menyaingi mereka dalam kerangka tujuan bisnis > > (kapitalisasi). Fenomena ekonomi kerakyatan yang > > sudah tidak murni grassroots ini kebetulan saja > > berkembang dalam era menjamurnya pembangunan mal-mal > > di kota-kota kita. Lambat-laun, situasinya menjadi > > kondusif dan mematang, sehingga melahirkan tesis > > baru yakni masuk dan berkembangnya fenomena > > franchise yang eksis di mal-mal kota-kota kita. > > Berjualan ayam goreng bukan lagi dengan resep mbok > > berek dari Kalasan melainkan dari resep Kolonel > > Sanders yang berasal dari sebuah kota besar di > > Amrik. Sintesis ini bersifat bukan warung tenda > > industrial dan bukan industri angkringan tetapi > > memiliki sifat-sifat dasar dari keduanya: berjualan > > makanan dan bersifat industrial bahkan skala dan > > jaringannya mendunia ! Seandainya skenario dialektika ini benar, tentulah > > akan dapat ditemukan fenomena bisnis yang baru > > sebagai sebuah sintesis dari tesis dan antitesis > > yang berkembang saat ini. Misalnya KFC atau McD atau > > Texas FC dilihat sebagai sebuah tesis, yang bertema > > makan makanan elitis sambil rekreasi di tengah kota > > (di dalam mal) maka fenomena makan makanan > > non-elitis di sawah atau makannya sambil rekreasi di > > alam terbuka seperti Moro Lejar atau Sendang Kapitu > > yang menjual udang galah bakar di gubug tengah > > sawah, dapat dilihat sebagai anti-tesisnya. > > Barangkali yang menjadi sintesisnya adalah Restoran > > Ikan Bakar Jimbaran, yang dimiliki oleh elit > > industri (perhotelan) namun bersuasana agak pedesaan > > atau alamiah, berpola restoran taman, kokinya dari > > hotel elitis, sehingga harga makanannya berskala > > internasional ! > > > > > > > > Begitulah, barangkali, rangkaian fenomena yang > > muncul dalam kacamata dialektika. Persoalannya, > > ruang kota atau ruang lain yang meluas menjadi ajang > > penerima akibat dari proses dialektika itu. Selain > > itu, problem yang perlu diatasi adalah: apakah > > dialektika itu mengorbankan kualitas ruang kota atau > > lingkungan yang menjadi wadahnya ? Mungkin > > satu-satunya fokus perhatian yang perlu semakin > > disadari adalah bagaimana menjaga keutuhan atau > > kelestarian wadah alam yang dimiliki dengan > > berbagai cara yang mungkin dapat dilakukan. > > > > > > > > Benar, bahwa kemunculan fenomena-fenomena ruang kota > > antara lain diinisiatifi oleh para pemikir ekonomi > > alias para pemodal, maka tak heran yang terjadi > > adalah ekonomisasi ruang kota atau komodifikasi > > ruang kota yang menguntungkan para pemodal dan > > kurang memperhatikan kepentingan masyarakat luas > > dalam aspek-aspek non ekonomi (sosial-budaya, > > misalnya). > > > > > > > > Namun, dalam kacamata dialektika, aktor-aktor yang > > bermain di dalam ruang kota sungguh banyak jenis dan > > jumlahnya dan memainkan skenario masing-masing > > dengan penuh kesungguhan. Meskipun dalam > > kenyataannya mereka bermain seperti tanpa skenario > > atau sutradara, mereka pada hakikatnya adalah > > aktor-aktor pembentuk ruang kota yang aktif dan > > otentik. > > > > > > > > Mungkin, agak kurang tepat seandainya desain ruang > > kota dinilai hanya ditentukan oleh imajinasi atau > > abstraksi atau pemaknaan para pakar di belakang meja > > gambar. Para pakar memang menyodorkan bagan garis > > besar namun di lapangan dan seterusnya toh > > mengalami personalisasi oleh berbagai kalangan atau > > aktor unik, mengalami penyesuaian dengan life styles > > mereka dan yang terjadi adalah perubahan desain > > oleh masyarakat dan akhirnya yang muncul adalah > > desain baru dan desain unik baru dan desain > > unik-unik baru terus menerus tiada henti. > > > > > > > > Mungkin peran setiap jenis aktor, bahkan setiap > > sosok aktor, memang perlu semakin disadari oleh > > kalangan manapun berkaitan dengan penataan ruang > > kehidupan di kota. Mereka adalah aktor yang sangat > > serius ketika menjalankan peran yang disandang, > > bahkan memakai seluruh naluri dan eksistensinya. > > Mereka adalah pelaku-pelaku ruang yang perlu > > dikenali secara mendalam hingga alam pikirannya, > > dapat dibantu kalau perlu atau dikoreksi kalau > > memang berbuat salah. Pada titik inilah, etnografi tentang para pelaku > > ruang kota sangat bermanfaat bagi penataan ruang > > kota itu sendiri dalam untaian waktu yang terus > > berjalan. Langkah itu (kalau ada hasilnya) akan > > menjawab pertanyaan, apakah dalam setiap tindakan > > penataan ruang kota para pelaku ruang kota sudah > > terlibat atau dilibatkan ? Oleh karenanya, mungkin > > etnografi setiap jenis pelaku ruang kota perlu > > dipahami mendalam dan dapat bermanfaat (substansial) > > dalam setiap penataan ruang kota di Indonesia. > > > > > > > > Selain itu, mereka bukanlah para pelaku ruang kota > > yang harus didikotomikan dengan golongan pakar, > > melainkan direlasikan dengannya, sehingga terjadi > > sinerji yang berdampak positif. > > > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > Wong Timor > > alias Atoni Pah Meto > > > > --------------------------------- > > Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in > > one click. [Non-text portions of this message have been > > removed] > > > > > > > > > __________________________________ > Start your day with Yahoo! - Make it your home page! > http://www.yahoo.com/r/hs -- _______________________________________________ Search for businesses by name, location, or phone number. -Lycos Yellow Pages http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10 --------------------------------- Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

