yoshi murti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:From: "yoshi murti" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "danu primanto" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 11 Nov 2005 07:10:13 -0500
Subject: Re: Fwd: Re: [lsai] Kota, Informalitas, dan Konflik Ruang (Ekonomi)

Dab Danu Primanto, tolong kirimkan tanggapanku untuk rekan Atoni Pah Meto, yang 
aku hampir yakin ia lahir di Yogyakarta. Salam Lebaran, mohon maaf lahir dan 
batin.

MEMBACA KOTA: RELATIVITAS DAN FRAGMENTASI, 
PENEGASAN BATAS DAN KABURNYA RUANG
Sebuah tanggapan balik atas perspektif dialektis fungsional (ekonomi-politik) 
tulisan rekan Atoni Pah Meto

Desain merupakan bahasa perencanaan dan perancangan, sedangkan pembangunan 
merupakan bahasa politik (ekonomi). Keduanya sama saja, yaitu berakar dari 
warisan mentalitas modern pencerahan Eropa: sebuah nalar yang memperlakukan 
alam sebagai ‘bahan’ dan calon bagi sesuatu yang lain. Sebuah nalar 
perekayasaan. Maka, ketika kita memperbincangkan ruang kota dengan pertanyaan: 
Bagaimana dan oleh siapa ruang kota didesain dan dibangun? Mau tidak mau, suka 
tidak suka, kita berada diatas posisi nalar seperti itu. Dan itu sungguh 
celaka! Karena segera kita ketahui dan kita temui melalui representasinya, 
bahwa spidol para perencana kota diatas meja gambar dan lobi-lobi proyek para 
birokrat dan para pemodal, selama ini justru dianggap sebagai mekanisme maupun 
sebagai pihak yang mempunyai hak, legitimasi serta kuasa untuk mendesain dan 
membangun ruang kota. Asumsi ini akan salah pada suatu hari kelak, jika 
peristiwa penggusuran atas nama desain dan pembangunan kota sudah tidak terjadi 
lagi di
 negeri (kota) ini, ataupun sebaliknya, jika yang namanya RUTRK atau RDTRK atau 
‘masterplan’ atau peraturan tata kota, dsb, bisa dilaksanakan dengan 
sebaik-baiknya oleh semua pihak, teori maupun praktek. Bukan berarti 
mengabaikan ‘peran’ dan ‘posisi’ orang-orang seperti Pak Jumo, Pak Adi Hatmoko, 
Mas Revianto, dll, dalam relasinya dengan ruang kota, namun memberi tekanan 
pada keberulangan bahwa selama masih ada penggusuran dan kesenjangan 
teori-praktek, selama itu pula yang namanya desain dan pembangunan kota 
merupakan milik kaum perencana kota, birokrat dan pemodal! Disinilah, pada kali 
lain kelak, kita akan berjumpa dengan persoalan bahasa politik dan politik 
bahasa dan kuasa pengatasnamaan terhadap ‘yang lain’ (the other). Meskipun 
bukan berarti kita cuek dan menyerah pada keberulangan itu, tetapi mencari 
celah untuk bergerak keluar.

Barangkali Pak Jumo di Stasiun Tugu tidak akan pernah berpikir tentang desain 
dan pembangunan ruang kota ketika mendirikan kiosnya. Meskipun Pak Adi Hatmoko 
maupun Mas Revianto (ini barangkali juga lho!) sebagai orang yang punya ‘akar’ 
belajar ilmu desain dan tata kota secara mumpuni, tentu akan berpikir dengan 
komprehensif dan integral tentang desain dan pembangunan ruang kota ketika 
melihat Stasiun Tugu. Demikian juga, pendirian lima buah mall di Kota 
Yogyakarta yang sekarang memasuki tahap penyelesaian, dengan logika sederhana 
dapat dikatakan; tentu juga tidak ambil pusing dengan soal desain dan 
pembangunan kota. Meskipun para antropolog, sosiolog, arkeolog, senimanlog dan 
arsiteklog berseru-seru tidak sepakat dengan pembangunan mall tersebut, salah 
satunya dengan mengingatkan akan desain dan pembangunan kota Yogyakarta yang 
‘baik dan benar’. Lalu, untuk apakah pernyataan (bukan pertanyaan) tentang 
bagaimana dan oleh siapa ruang kota didesain dan dibangun, diperbincangkan? 
Jika di
 dalam kenyataan sehari-hari – baik oleh Pak Jumo yang dianggap representasi 
dari ‘grassroots’ maupun oleh ‘konglomerat’ pemilik mall – justru tidak pernah 
berpikir ataupun melakukan pengabaian terhadap desain dan pembangunan kota? 
Bukan berarti pertanyaan ini ingin memberangus pertanyaan kritis dari rekan 
Atoni Pah Meto, namun justru ingin menempatkan kembali dan mengkritisi mengenai 
pijakan nalar yang berjalan dan dipakai pada pernyataan, pertanyaan, uraian, 
berikut konsekuensi yang harus ditanggung masing-masing.

Sampai di titik ini, saya akan menunjukkan bahwa apa yang diuraikan secara 
panjang lebar oleh rekan Atoni Pah Meto sebagai ‘dialektika ruang kota’, 
meskipun mencoba berpijak dari apa yang disebutnya ‘fenomena yang riil’ ruang 
kota, ternyata mengandung konsekuensi yang cukup ‘riskan’ dalam cara berpikir 
maupun konsekuensi yang ‘kontra produktif’ dalam tindakan. 

Pertama, uraian rekan Atoni Pah Meto mengenai tesis-antitesis-sintesis dalam 
melihat perjalanan sebuah ‘proses’ cara berdagang dari pedagang angkringan yang 
dianggap representasi ‘grassroots’ di wilayah Tugu, di-antitesis-kan dengan 
pedagang restoran, lalu kelompok pedagang angkringan yang ‘sudah berubah’ 
disandingkan dengan warung tenda sebagai sintesisnya, dan seterusnya hingga 
fenomena franchise di mall maupun fenomena munculnya Restoran Sendang Kapitu 
ataupun Moro Ledjar,... yang lalu disebutnya sebagai sebuah proses dialektika, 
menurut saya, tidak lain hanyalah ‘sebuah istilah’ yang berakar pada pandangan 
yang deterministik. Pandangan ruang kota sebagai representasi ruang ekonomi 
memang membawa konsekuensi terjadinya perebutan kapital oleh semua pihak. 
Bukankah hakekat modal adalah menggandakan dirinya sendiri? Perebutan terjadi 
tidak saja antara yang tak punya modal tetapi juga antara yang bermodal besar. 
Persaingan dan perebutan yang melahirkan inovasi dan strategi (ekonomi
 politik) untuk melipatgandakan modal, meskipun disisi lain, di dalam kenyataan 
sehari-hari tidak menutup kemungkinan ia juga melahirkan ruang-ruang negosiasi 
secara sosial budaya. Dalam nalar konstelasi perebutan inilah, pemilik modal 
kecil apalagi yang tak bermodal akan terpinggirkan terus-menerus. Cara-cara 
berdagang yang dulunya ‘dianggap informal’ kalaupun itu bisa melipatgandakan 
modal dengan cepat, ia akan dipakai oleh siapapun juga. Contohnya, selain 
angkringan, perusahaan nasional-multinasional seperti teh botol, coca cola, ... 
juga melakukan cara-cara berdagang dengan armada gerobak-gerobak dorong di 
trotoar dan jalan. Ya, sudah saatnya kita tinggalkan cara pandang yang 
dualistis, karena siapapun juga, baik yang besar maupun yang kecil, yang resmi 
ataupun yang tidak resmi, yang formal maupun tidak formal,... pasti (pernah) 
berpikir dan bertindak secara informal, ilegal, ‘tidak senonoh’, tidak resmi, 
dll.

Kedua, jika hakekat modal adalah melipatgandakan dirinya sendiri, benarkah ada 
dialektika ruang kota? Menurut saya, sekarang, kota dan kekotaan kita, entitas 
dan identitas, sudah kabur batas-batasnya, pecah kosmologinya. Menjadi bagian 
dari respon tak-terelakkan dan terus-menerus terhadap modernisasi, 
‘keterputusan’ (dissolution), dan jaringan (globalisasi). Setiap saat, kita 
dikagetkan oleh perubahan geografi fisik yang tiba-tiba, tetapi juga diserbu 
oleh cepatnya perubahan geografi imajinasi akibat lalu-lalang konsumsi image 
yang melintasi batas apapun dan wilayah manapun. Perumahan mewah, kota satelit, 
pusat bisnis, jasa, dan perbelanjaan, terus bermunculan berdiri angkuh dalam 
kehidupan dan makna-nya sendiri. Demikian pula kampung, slum, permukiman padat, 
pasar-pasar jalanan, gubug-gubug ‘liar’, berkembang biak melalui 
ledakan-ledakan yang tidak teratur, sporadis, dan dengan sendirinya pula. Di 
wilayah citra, setiap saat bayangan kita dijejali dengan ribuan gambar yang 
berbeda
 melalui iklan dan tayangan media massa tentang konsep ruang (misalnya; hunian, 
taman, kamar, arena belanja, dll) yang nyaman, kota ideal, piranti teknologi 
yang mempermudah hidup, ..., berselang-seling dengan potret-potret kejadian 
kriminalitas, bencana, kemacetan, polusi, dan lain sebagainya. Dari sudut 
pandang keruangan seperti ini – baik dalam pengertiannya yang material maupun 
abstrak, perkembangan (ruang) kota dalam kenyataannya adalah enclave demi 
enclave. Kota adalah keragaman. Kota merupakan dis-kontinuitas 

Ketiga, kalaupun benar ada dialektika ruang kota seperti yang diuraikan rekan 
Atoni, yang menurut saya masih deterministik, konsekuensi yang terjadi adalah 
dibuangnya dimensi ruang (dan waktu) di dalam menjelaskan fenomena ruang kota. 
Seperti kata Atoni sendiri: “...Persoalannya, ruang kota atau ruang lain yang 
meluas menjadi ajang penerima akibat dari proses dialektika itu… “ Disini 
terlihat ketumpang-tindihan dalam berpikir ketika ruang dilepaskan dari proses 
dialektika. Sedangkan, mengacu pada Giddens (1984), yang disebut ruang bisa 
berarti setting of interaction, dan karena itu kita jadi memahami bahwa 
sosialitas selalu terkonstruksi secara spasial. Demikian juga sebaliknya, ruang 
bisa berarti sebuah konstruksi sosial, dan karena itu kita memahami bahwa 
spasialitas selalu terkonstruksi secara sosial. Sehingga, spasialitas dan 
sosialitas akan selalu berubah, dinamik, dipengaruhi dan mempengaruhi 
relasi-relasi (baik sosial maupun spasial). Konsekuensi dari pemahaman ini, 
tidak
 mendahulukan bertanya tentang apa peran ‘aktor’, tetapi bagaimana pola 
kerjasama dan dinamika konflik yang mempengaruhi sosialitas dan spasialitas. 
Bukan mendahulukan bertanya, apa peran dan posisi Pak Jumo sebagai pedagang 
kecil, apa peran dan posisi tukang becak, pegawai Stasiun, dsb, tetapi melihat 
bagaimana pola kerjasama dan dinamika konflik Pak Jumo sebagai personal maupun 
sebagai pemilik kios secara sosial maupun spasial. Cara bertanya semacam ini, 
mencoba keluar dari (determinisme) peran dan posisi agen dilihat dari 
perspektif ekonomi politik yang biasanya; fungsional, sektoral, formal,... 
Konsekuensinya, ‘etnografi pelaku’ seperti dalam pengertian rekan Atoni mesti 
terus dibarengi pertanyaan: apa yang membuat seseorang disebut pelaku?

Yap. Kita memang harus keluar dari ‘dikotomisasi’, tetapi bagaimanakah caranya? 
Bahwa desain dan pembangunan ruang kota selalu datang dari pemahaman ruang yang 
abstrak (sebab dibayangkan dalam benak), meskipun kenyataannya setiap orang 
merespon, berinteraksi, dan membentuk ruang kota melalui pemahaman ruang yang 
kongkrit dalam hidup sehari-hari. Tetapi, siapakah para pakar dan siapakah 
pelaku? Benarkah setiap pelaku harus direlasikan? Benarkah kita harus 
memulainya dari pelaku? Walahuallam …

Salam, 
Yoshi 




----- Original Message -----
From: "danu primanto" 
To: "kang yoshi" , "yoshi murti" 
Subject: Fwd: Re: [lsai] Kota, Informalitas, dan Konflik Ruang (Ekonomi)
Date: Thu, 3 Nov 2005 05:07:06 -0800 (PST)

> 
> kang...ada respon dr koncomu ki...
> iki tulisanmu yg kukirim neng milise lsai
> 
> --- Atoni Pah Meto wrote:
> 
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > From: Atoni Pah Meto 
> > Date: Thu, 3 Nov 2005 04:03:17 -0800 (PST)
> > Subject: Re: [lsai] Kota, Informalitas, dan Konflik
> > Ruang (Ekonomi)
> >
> > Bung Danu Primanto, tolong disampaikan tanggapan
> > saya ini kepada rekan Yoshi yang kayaknya semakin
> > matang aja, trims.
> >
> >
> > DIALEKTIKA RUANG KOTA
> >
> > (Sebuah reaksi atas titik tertentu dalam tulisan
> > Yoshi)
> >
> >
> >
> > Kata Yoshi: “Ruang kota sebagai representasi ruang
> > ekonomi……” dan ”Celakanya, kota justru dibangun dan
> > didesain dari pemaknaan kota yang abstrak dari atas
> > meja gambar para perencana kota dan lobi-lobi proyek
> > para birokrat dan para pe-bisnis”. Pertanyaan
> > spontan muncul, lantas dimana para pelaku ruang yang
> > lain ? Apa peran mereka ? Sengaja dihilangkan atau
> > memang tidak ada sejak dalam pikiran ? Apakah pelaku
> > ruang kota yang jenisnya puluhan itu tidak
> > menyumbangkan sesuatu apapun ?
> >
> >
> >
> > Menurut hemat kami, salah satu bagian dari
> > pernyataan diatas ini menarik untuk ditanggapi.
> > Apakah benar “kota dibangun dan didesain dari
> > pemaknaan kota yang abstrak, dari atas meja gambar,
> > hanya oleh para perencana kota dst” ? Kalau Pak Jumo
> > melihat sepetak ruang kota di pojok Tugu kota Jogja
> > adalah ruang yang bernilai ekonomis untuk menjual
> > rokok bagi bisnis dirinya dan keluarganya, apakah
> > itu abstrak ? Atau kalau seorang Adi Hatmoko atau
> > Revianto B Santoso yang terkenal dan melihat hal
> > yang sama dengannya, juga dikatakan pemaknaan yang
> > abstrak ? Barangkali sistem pikirannya yang abstrak
> > tetapi substansi pikirannya sungguh konkrit !
> >
> >
> >
> > Dalam uraian ini, saya ingin menyandingkan cara
> > berpikir yang agak lain dalam melihat fenomena ruang
> > kota, supaya agak fokus dan menarik untuk didalami
> > lebih lanjut, meski mungkin derajat abstrak(si)nya
> > kurang memuaskan. Yah sekedar berbagi ceritera untuk
> > menjembarkan jagad cilik pemikiran ini biar menjadi
> > agak lebih luas sedikit. Fenomena ruang kota memang fenomena yang riil dan
> > bertolak dari substansi pemikiran yang riil pula,
> > begitulah pandangan dasar coretan ini. Dasar yang
> > lain adalah, ruang kota sangat dinamis dan
> > berubah-ubah mengikuti proses dialektika
> > (tesis-antitesis-sintesis) secara terus menerus
> > tiada henti-hentinya. Oleh karenanya, banyak ahli
> > yang melihat fenomena perubahan ruang kota sebagai
> > sebuah sejarah kota, sejarah dialektika suatu ruang
> > kota.
> >
> >
> >
> > Riwayat angkringan di Jogja, misalnya, konon dimulai
> > dari usaha personal kalangan pengusaha grassroots
> > berasal dari sebuah desa kluthuk eeeh Klaten yang
> > bertujuan memenuhi kebutuhan makan-minum golongan
> > grassroots juga. Menurut laporan Tim Kompas (th ?)
> > plot awal mulanya sampai sekarang masih hidup yakni
> > di sekitar stasiun Tugu, Yogyakarta. Semula usaha
> > kecil ini bermanfaat bagi kalangan kuli-kuli
> > setasiun dan para tukang becak disana atau para
> > pekerja bergaji kecil atau bahkan para mahasiswa
> > perantauan yang kirimannya cupet. Pada waktu itu,
> > sebagian masyarakat kota Yogyakarta yang ekonominya
> > lebih tinggi telah memenuhi kebutuhan makan minum di
> > restoran-restoran yang sudah banyak muncul, bahkan
> > ada fenomena yang berkembang, menjual gudeg-pun
> > dengan pola restoran (Gudeg Juminten atau Ayam
> > Goreng Mbok Berek). Kalau fenomena restoran dilihat
> > sebagai tesis, dalam hal ini, fenomena angkringan
> > (mungkin) dapat dilihat sebagai anti-tesis dari
> > fenomena restoran yang elitis kala itu.
> >
> >
> >
> > Dengan bergulirnya waktu, angkringan berkembang
> > menjadi jamur bak musim hujan, bahkan ternyata
> > akhir-akhir ini berkembang menjadi “industri” yang
> > berpola “juragan – anak buah” dengan “markas” yang
> > relatif mapan. Angkringan yang semula grassroots
> > berskala individual modal kecil bahkan telah
> > mengilhami (generate) munculnya berbagai model
> > sektor informal yang “berpola industri kaki lima”.
> > Pola ini pada dasarnya usaha ekonomi yang menggurita
> > meski bergerak pada skala pasar grassroots karena
> > konsumennya memang disana dan relatif besar.
> > Fenomena elitisasi atau industrialisasi sektor kaki
> > lima ini tidak terelakkan dan ditandai lebih lanjut
> > dengan berkembangnya “industri asongan empek-empek
> > atau bakwan malang atau gerobak roti Holland Bakery”
> > yang berkeliaran di seluruh sudut kota dan dikelola
> > oleh “pemodal” kuat. Akibatnya, definisi pedagang
> > kaki lima sebenarnya mengalami kekaburan dan mungkin
> > perlu ditinjau kembali, sebab di lapangan terjadi
> > fenomena “serupa tetapi tak sama”; sama-sama
> > berwajah angkringan atau asongan tetapi skala modal
> > dan manajemen di belakangnya berbeda. Ada sebagian
> > sektor informal yang masih murni seperti esensi
> > awalnya namun ada juga sebagian yang lain telah
> > mengalami elitisasi atau industrialisasi; satunya
> > keong ekonomi yang lain gurita ekonomi.
> >
> >
> >
> > Pada saat itulah, angkringan yang industrial dan
> > fenomenal itu mengilhami lahirnya warung-warung
> > tenda sebagai sintesisnya, yang juga berpola
> > industrial. Cak Ali, misalnya, punya beberapa warung
> > tenda yang menjual jenis makanan sama di beberapa
> > sudut kota Jogjakarta. Fenomena Cak Ali “pengusaha
> > kaya namun low-profile” ini cukup banyak dan menjadi
> > rahasia umum, bahwa tampilan sederhana versi warung
> > tenda hanyalah wajah sebuah bisnis “skala besar yang
> > low-profile”. Pola warung tenda memang unik, bukan
> > angkringan dan bukan restoran namun memiliki sifat –
> > sifat dasar dari keduanya. Akibatnya banyak pebisnis
> > tertarik dan kemudian ruang kota penuh dengan
> > tebaran angkringan dan warung-warung tenda yang
> > hidup berdampingan memenuhi setiap jengkal ruang
> > sisa (lost space) yang ada, termasuk okupansinya
> > terhadap ruang-ruang publik yang menjadi salah
> > fenomena penting abad ini di kota-kota kita, yakni
> > privatisasi ruang publik. Kalkulasi para ekonom (pemodal) terus bergerak,
> > mereka berusaha melakukan “perlawanan” atau mencari
> > peluang (sebutan gaulnya: mencari inovasi) untuk
> > menyaingi mereka dalam kerangka tujuan bisnis
> > (kapitalisasi). Fenomena ekonomi kerakyatan yang
> > sudah tidak murni grassroots ini kebetulan saja
> > berkembang dalam era menjamurnya pembangunan mal-mal
> > di kota-kota kita. Lambat-laun, situasinya menjadi
> > kondusif dan mematang, sehingga melahirkan tesis
> > baru yakni masuk dan berkembangnya fenomena
> > franchise yang eksis di mal-mal kota-kota kita.
> > Berjualan ayam goreng bukan lagi dengan “resep mbok
> > berek” dari Kalasan melainkan dari “resep Kolonel
> > Sanders” yang berasal dari sebuah kota besar di
> > Amrik. Sintesis ini bersifat bukan warung tenda
> > industrial dan bukan industri angkringan tetapi
> > memiliki sifat-sifat dasar dari keduanya: berjualan
> > makanan dan bersifat industrial bahkan skala dan
> > jaringannya mendunia ! Seandainya skenario dialektika ini benar, tentulah
> > akan dapat ditemukan fenomena bisnis yang baru
> > sebagai sebuah sintesis dari tesis dan antitesis
> > yang berkembang saat ini. Misalnya KFC atau McD atau
> > Texas FC dilihat sebagai sebuah tesis, yang bertema
> > “makan makanan elitis sambil rekreasi di tengah kota
> > (di dalam mal)” maka fenomena “makan makanan
> > non-elitis di sawah atau makannya sambil rekreasi di
> > alam terbuka” seperti Moro Lejar atau Sendang Kapitu
> > yang menjual udang galah bakar di gubug tengah
> > sawah, dapat dilihat sebagai anti-tesisnya.
> > Barangkali yang menjadi sintesisnya adalah Restoran
> > Ikan Bakar Jimbaran, yang dimiliki oleh elit
> > industri (perhotelan) namun bersuasana agak pedesaan
> > atau alamiah, berpola restoran taman, kokinya dari
> > hotel elitis, sehingga harga makanannya berskala
> > internasional !
> >
> >
> >
> > Begitulah, barangkali, rangkaian fenomena yang
> > muncul dalam kacamata dialektika. Persoalannya,
> > ruang kota atau ruang lain yang meluas menjadi ajang
> > penerima akibat dari proses dialektika itu. Selain
> > itu, problem yang perlu diatasi adalah: apakah
> > dialektika itu mengorbankan kualitas ruang kota atau
> > lingkungan yang menjadi wadahnya ? Mungkin
> > satu-satunya fokus perhatian yang perlu semakin
> > disadari adalah bagaimana menjaga “keutuhan” atau
> > “kelestarian” wadah alam yang dimiliki dengan
> > berbagai cara yang mungkin dapat dilakukan.
> >
> >
> >
> > Benar, bahwa kemunculan fenomena-fenomena ruang kota
> > antara lain diinisiatifi oleh para pemikir ekonomi
> > alias para pemodal, maka tak heran yang terjadi
> > adalah ekonomisasi ruang kota atau komodifikasi
> > ruang kota yang menguntungkan para pemodal dan
> > kurang memperhatikan kepentingan masyarakat luas
> > dalam aspek-aspek non ekonomi (sosial-budaya,
> > misalnya).
> >
> >
> >
> > Namun, dalam kacamata dialektika, aktor-aktor yang
> > bermain di dalam ruang kota sungguh banyak jenis dan
> > jumlahnya dan memainkan skenario masing-masing
> > dengan penuh kesungguhan. Meskipun dalam
> > kenyataannya mereka bermain seperti tanpa skenario
> > atau sutradara, mereka pada hakikatnya adalah
> > aktor-aktor pembentuk ruang kota yang aktif dan
> > otentik.
> >
> >
> >
> > Mungkin, agak kurang tepat seandainya “desain ruang
> > kota” dinilai hanya ditentukan oleh imajinasi atau
> > abstraksi atau pemaknaan para pakar di belakang meja
> > gambar. Para pakar memang menyodorkan “bagan garis
> > besar” namun di lapangan dan seterusnya toh
> > mengalami personalisasi oleh berbagai kalangan atau
> > aktor unik, mengalami penyesuaian dengan life styles
> > mereka dan yang terjadi adalah “perubahan desain”
> > oleh “masyarakat” dan akhirnya yang muncul adalah
> > desain baru dan desain unik baru dan desain
> > unik-unik baru terus menerus tiada henti.
> >
> >
> >
> > Mungkin peran setiap jenis aktor, bahkan setiap
> > sosok aktor, memang perlu semakin disadari oleh
> > kalangan manapun berkaitan dengan penataan ruang
> > kehidupan di kota. Mereka adalah aktor yang sangat
> > serius ketika menjalankan peran yang disandang,
> > bahkan memakai seluruh naluri dan eksistensinya.
> > Mereka adalah pelaku-pelaku ruang yang perlu
> > dikenali secara mendalam hingga alam pikirannya,
> > dapat dibantu kalau perlu atau dikoreksi kalau
> > memang berbuat salah. Pada titik inilah, etnografi tentang para pelaku
> > ruang kota sangat bermanfaat bagi penataan ruang
> > kota itu sendiri dalam untaian waktu yang terus
> > berjalan. Langkah itu (kalau ada hasilnya) akan
> > menjawab pertanyaan, apakah dalam setiap tindakan
> > penataan ruang kota para pelaku ruang kota sudah
> > terlibat atau dilibatkan ? Oleh karenanya, mungkin
> > etnografi setiap jenis pelaku ruang kota perlu
> > dipahami mendalam dan dapat bermanfaat (substansial)
> > dalam setiap penataan ruang kota di Indonesia.
> >
> >
> >
> > Selain itu, mereka bukanlah para pelaku ruang kota
> > yang harus didikotomikan dengan golongan pakar,
> > melainkan direlasikan dengannya, sehingga terjadi
> > sinerji yang berdampak positif.
> >
> >
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> >
> >
> > Wong Timor
> > alias Atoni Pah Meto
> > 
> > ---------------------------------
> > Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in
> > one click. [Non-text portions of this message have been
> > removed]
> >
> >
> 
> 
> 
> 
> __________________________________
> Start your day with Yahoo! - Make it your home page!
> http://www.yahoo.com/r/hs


-- 
_______________________________________________

Search for businesses by name, location, or phone number. -Lycos Yellow Pages

http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10



                
---------------------------------
 Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.  

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke