Atoni Pah Meto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:To: [EMAIL PROTECTED]
From: Atoni Pah Meto <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 3 Nov 2005 04:03:17 -0800 (PST)
Subject: Re: [lsai] Kota, Informalitas, dan Konflik Ruang (Ekonomi)
Bung Danu Primanto, tolong disampaikan tanggapan saya ini kepada rekan Yoshi
yang kayaknya semakin matang aja, trims.
DIALEKTIKA RUANG KOTA
(Sebuah reaksi atas titik tertentu dalam tulisan Yoshi)
Kata Yoshi: Ruang kota sebagai representasi ruang ekonomi
dan Celakanya,
kota justru dibangun dan didesain dari pemaknaan kota yang abstrak dari atas
meja gambar para perencana kota dan lobi-lobi proyek
para birokrat dan para pe-bisnis. Pertanyaan spontan muncul, lantas dimana
para pelaku ruang yang lain ? Apa peran mereka ? Sengaja dihilangkan atau
memang tidak ada sejak dalam pikiran ? Apakah pelaku ruang kota yang jenisnya
puluhan itu tidak menyumbangkan sesuatu apapun ?
Menurut hemat kami, salah satu bagian dari pernyataan diatas ini menarik untuk
ditanggapi. Apakah benar kota dibangun dan didesain dari pemaknaan kota yang
abstrak, dari atas meja gambar, hanya oleh para perencana kota dst ? Kalau Pak
Jumo melihat sepetak ruang kota di pojok Tugu kota Jogja adalah ruang yang
bernilai ekonomis untuk menjual rokok bagi bisnis dirinya dan keluarganya,
apakah itu abstrak ? Atau kalau seorang Adi Hatmoko atau Revianto B Santoso
yang terkenal dan melihat hal yang sama dengannya, juga dikatakan pemaknaan
yang abstrak ? Barangkali sistem pikirannya yang abstrak tetapi substansi
pikirannya sungguh konkrit !
Dalam uraian ini, saya ingin menyandingkan cara berpikir yang agak lain dalam
melihat fenomena ruang kota, supaya agak fokus dan menarik untuk didalami lebih
lanjut, meski mungkin derajat abstrak(si)nya kurang memuaskan. Yah sekedar
berbagi ceritera untuk menjembarkan jagad cilik pemikiran ini biar menjadi agak
lebih luas sedikit.
Fenomena ruang kota memang fenomena yang riil dan bertolak dari substansi
pemikiran yang riil pula, begitulah pandangan dasar coretan ini. Dasar yang
lain adalah, ruang kota sangat dinamis dan berubah-ubah mengikuti proses
dialektika (tesis-antitesis-sintesis) secara terus menerus tiada
henti-hentinya. Oleh karenanya, banyak ahli yang melihat fenomena perubahan
ruang kota sebagai sebuah sejarah kota, sejarah dialektika suatu ruang kota.
Riwayat angkringan di Jogja, misalnya, konon dimulai dari usaha personal
kalangan pengusaha grassroots berasal dari sebuah desa kluthuk eeeh Klaten yang
bertujuan memenuhi kebutuhan makan-minum golongan grassroots juga. Menurut
laporan Tim Kompas (th ?) plot awal mulanya sampai sekarang masih hidup yakni
di sekitar stasiun Tugu, Yogyakarta. Semula usaha kecil ini bermanfaat bagi
kalangan kuli-kuli setasiun dan para tukang becak disana atau para pekerja
bergaji kecil atau bahkan para mahasiswa perantauan yang kirimannya cupet. Pada
waktu itu, sebagian masyarakat kota Yogyakarta yang ekonominya lebih tinggi
telah memenuhi kebutuhan makan minum di restoran-restoran yang sudah banyak
muncul, bahkan ada fenomena yang berkembang, menjual gudeg-pun dengan pola
restoran (Gudeg Juminten atau Ayam Goreng Mbok Berek). Kalau fenomena restoran
dilihat sebagai tesis, dalam hal ini, fenomena angkringan (mungkin) dapat
dilihat sebagai anti-tesis dari fenomena restoran yang elitis kala itu.
Dengan bergulirnya waktu, angkringan berkembang menjadi jamur bak musim hujan,
bahkan ternyata akhir-akhir ini berkembang menjadi industri yang berpola
juragan anak buah dengan markas yang relatif mapan. Angkringan yang
semula grassroots berskala individual modal kecil bahkan telah mengilhami
(generate) munculnya berbagai model sektor informal yang berpola industri kaki
lima. Pola ini pada dasarnya usaha ekonomi yang menggurita meski bergerak pada
skala pasar grassroots karena konsumennya memang disana dan relatif besar.
Fenomena elitisasi atau industrialisasi sektor kaki lima ini tidak terelakkan
dan ditandai lebih lanjut dengan berkembangnya industri asongan empek-empek
atau bakwan malang atau gerobak roti Holland Bakery yang berkeliaran di
seluruh sudut kota dan dikelola oleh pemodal kuat. Akibatnya, definisi
pedagang kaki lima sebenarnya mengalami kekaburan dan mungkin perlu ditinjau
kembali, sebab di lapangan terjadi fenomena serupa tetapi tak sama; sama-sama
berwajah angkringan atau asongan tetapi skala modal dan manajemen di
belakangnya berbeda. Ada sebagian sektor informal yang masih murni seperti
esensi awalnya namun ada juga sebagian yang lain telah mengalami elitisasi atau
industrialisasi; satunya keong ekonomi yang lain gurita ekonomi.
Pada saat itulah, angkringan yang industrial dan fenomenal itu mengilhami
lahirnya warung-warung tenda sebagai sintesisnya, yang juga berpola industrial.
Cak Ali, misalnya, punya beberapa warung tenda yang menjual jenis makanan sama
di beberapa sudut kota Jogjakarta. Fenomena Cak Ali pengusaha kaya namun
low-profile ini cukup banyak dan menjadi rahasia umum, bahwa tampilan
sederhana versi warung tenda hanyalah wajah sebuah bisnis skala besar yang
low-profile. Pola warung tenda memang unik, bukan angkringan dan bukan
restoran namun memiliki sifat sifat dasar dari keduanya. Akibatnya banyak
pebisnis tertarik dan kemudian ruang kota penuh dengan tebaran angkringan dan
warung-warung tenda yang hidup berdampingan memenuhi setiap jengkal ruang sisa
(lost space) yang ada, termasuk okupansinya terhadap ruang-ruang publik yang
menjadi salah fenomena penting abad ini di kota-kota kita, yakni privatisasi
ruang publik.
Kalkulasi para ekonom (pemodal) terus bergerak, mereka berusaha melakukan
perlawanan atau mencari peluang (sebutan gaulnya: mencari inovasi) untuk
menyaingi mereka dalam kerangka tujuan bisnis (kapitalisasi). Fenomena ekonomi
kerakyatan yang sudah tidak murni grassroots ini kebetulan saja berkembang
dalam era menjamurnya pembangunan mal-mal di kota-kota kita. Lambat-laun,
situasinya menjadi kondusif dan mematang, sehingga melahirkan tesis baru yakni
masuk dan berkembangnya fenomena franchise yang eksis di mal-mal kota-kota
kita. Berjualan ayam goreng bukan lagi dengan resep mbok berek dari Kalasan
melainkan dari resep Kolonel Sanders yang berasal dari sebuah kota besar di
Amrik. Sintesis ini bersifat bukan warung tenda industrial dan bukan industri
angkringan tetapi memiliki sifat-sifat dasar dari keduanya: berjualan makanan
dan bersifat industrial bahkan skala dan jaringannya mendunia !
Seandainya skenario dialektika ini benar, tentulah akan dapat ditemukan
fenomena bisnis yang baru sebagai sebuah sintesis dari tesis dan antitesis yang
berkembang saat ini. Misalnya KFC atau McD atau Texas FC dilihat sebagai sebuah
tesis, yang bertema makan makanan elitis sambil rekreasi di tengah kota (di
dalam mal) maka fenomena makan makanan non-elitis di sawah atau makannya
sambil rekreasi di alam terbuka seperti Moro Lejar atau Sendang Kapitu yang
menjual udang galah bakar di gubug tengah sawah, dapat dilihat sebagai
anti-tesisnya. Barangkali yang menjadi sintesisnya adalah Restoran Ikan Bakar
Jimbaran, yang dimiliki oleh elit industri (perhotelan) namun bersuasana agak
pedesaan atau alamiah, berpola restoran taman, kokinya dari hotel elitis,
sehingga harga makanannya berskala internasional !
Begitulah, barangkali, rangkaian fenomena yang muncul dalam kacamata
dialektika. Persoalannya, ruang kota atau ruang lain yang meluas menjadi ajang
penerima akibat dari proses dialektika itu. Selain itu, problem yang perlu
diatasi adalah: apakah dialektika itu mengorbankan kualitas ruang kota atau
lingkungan yang menjadi wadahnya ? Mungkin satu-satunya fokus perhatian yang
perlu semakin disadari adalah bagaimana menjaga keutuhan atau kelestarian
wadah alam yang dimiliki dengan berbagai cara yang mungkin dapat dilakukan.
Benar, bahwa kemunculan fenomena-fenomena ruang kota antara lain diinisiatifi
oleh para pemikir ekonomi alias para pemodal, maka tak heran yang terjadi
adalah ekonomisasi ruang kota atau komodifikasi ruang kota yang menguntungkan
para pemodal dan kurang memperhatikan kepentingan masyarakat luas dalam
aspek-aspek non ekonomi (sosial-budaya, misalnya).
Namun, dalam kacamata dialektika, aktor-aktor yang bermain di dalam ruang kota
sungguh banyak jenis dan jumlahnya dan memainkan skenario masing-masing dengan
penuh kesungguhan. Meskipun dalam kenyataannya mereka bermain seperti tanpa
skenario atau sutradara, mereka pada hakikatnya adalah aktor-aktor pembentuk
ruang kota yang aktif dan otentik.
Mungkin, agak kurang tepat seandainya desain ruang kota dinilai hanya
ditentukan oleh imajinasi atau abstraksi atau pemaknaan para pakar di belakang
meja gambar. Para pakar memang menyodorkan bagan garis besar namun di
lapangan dan seterusnya toh mengalami personalisasi oleh berbagai kalangan atau
aktor unik, mengalami penyesuaian dengan life styles mereka dan yang terjadi
adalah perubahan desain oleh masyarakat dan akhirnya yang muncul adalah
desain baru dan desain unik baru dan desain unik-unik baru terus menerus tiada
henti.
Mungkin peran setiap jenis aktor, bahkan setiap sosok aktor, memang perlu
semakin disadari oleh kalangan manapun berkaitan dengan penataan ruang
kehidupan di kota. Mereka adalah aktor yang sangat serius ketika menjalankan
peran yang disandang, bahkan memakai seluruh naluri dan eksistensinya. Mereka
adalah pelaku-pelaku ruang yang perlu dikenali secara mendalam hingga alam
pikirannya, dapat dibantu kalau perlu atau dikoreksi kalau memang berbuat
salah.
Pada titik inilah, etnografi tentang para pelaku ruang kota sangat bermanfaat
bagi penataan ruang kota itu sendiri dalam untaian waktu yang terus berjalan.
Langkah itu (kalau ada hasilnya) akan menjawab pertanyaan, apakah dalam setiap
tindakan penataan ruang kota para pelaku ruang kota sudah terlibat atau
dilibatkan ? Oleh karenanya, mungkin etnografi setiap jenis pelaku ruang kota
perlu dipahami mendalam dan dapat bermanfaat (substansial) dalam setiap
penataan ruang kota di Indonesia.
Selain itu, mereka bukanlah para pelaku ruang kota yang harus didikotomikan
dengan golongan pakar, melainkan direlasikan dengannya, sehingga terjadi
sinerji yang berdampak positif.
Salam,
Wong Timor
alias
Atoni Pah Meto
---------------------------------
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
[Non-text portions of this message have been removed]
-------------------------------------
Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia 1989 - 1999
untuk berlangganan, kirim ke [EMAIL PROTECTED];
untuk berhenti, kirim ke [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "lsai" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
---------------------------------
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/