Republika Jumat, 11 Nopember 2005
Misteri Al-Faruq dan Azahari
*Irfan Junaidi
Wartawan Republika
Dua kabar penting yang senantiasa terkait dengan
serangkaian aksi teror,terjadi dalam sepekan terakhir.
Keduanya adalah kabar soal terungkapnya 'pelarian'
Umar Al-Faruq dari penjara Bagram (Afghanistan) dan
kabar matinya Dr Azahari bin Husin. Kedua kabar
tersebut membuka sedikit tabir yang selama
ini menyelubungi isu-isu terorisme.
Tanda petik yang mengapit istilah pelarian memberi
makna bahwa sampai saat ini belum bisa dikatakan bahwa
Al-Faruq benar-benar melarikan diri. Bisa jadi dia
sengaja dilepas atau dinyatakan melarikan diri. Bagram
adalah penjara yang diawasi sangat ketat. Setiap hari,
siang dan malam, tak kurang dari 12 ribu tentara
pilihan Amerika Serikat (AS) mengawal penjara ini.
Mukjizat apa gerangan yang mambuat Faruq mampu
meloloskan diri dari pengawalan yang seketat itu?
Selama ini, Al-Faruq dan Azahari adalah dua tokoh yang
selalu disebut aparat kepolisian sebagai orang yang
berperan sangat penting dalam serangkaian aksi teror.
Pria berkebangsaan Kuwait ini dikabarkan ditangkap
oleh agen CIA di Bogor pada 5 Juni 2002. Polri sempat
menyatakan tidak tahu adanya penangkapannya.
Setelah ditangkap secara misterius, Al-Faruq yang
kemudian dibawa keluar dari Indonesia itu dijadikan
'sumber informasi' untuk membawa pimpinan Majelis
Mujahidin Indonesia (MMI) Ustadz Abu Bakar Ba'asyir ke
penjara. Dalam berita berjudul Confessions of an
Al-Qaeda Terrorist, majalah Time edisi 23 September
2002, menulis pengakuan Al-Faruq, bahwa Ba'asyir
terkait
dengan Jamaah Islamiyah.
Tim pengacara yang membela Ba'asyir di persidangan
sempat meminta Al-Faruq dihadirkan ke Indonesia untuk
didengar kesaksiannya di pengadilan. Namun pemerintah
AS tak pernah mengizinkannya. Pada 16 Juli 2003, jaksa
penuntut umum (JPU) dalam persidangan Ba'asyir di
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Hasan Madani,
mengungkapkan penolakan itu disampaikan dalam surat
yang
ditandatangani Wakil Dubes AS, J Pattrick Truhn.
Lama tak terdengar kabarnya, tiba-tiba muncul berita
bahwa Faruq telah 'melarikan diri' sejak Juli 2005
dari penjara Bagram. Meski peristiwa itu terjadi pada
Juli 2005, beritanya baru muncul pada November 2005.
Ada apa? Setelah Al-Faruk, sekarang tinggal kita lihat
sosok Dr Azahari bin Husin. Dia adalah 'tokoh idola'
yang selalu disebut polisi setiap terjadi ledakan bom
besar. Doktor statistik lulusan Reading University,
Inggris, ini pun,
selalu dijadikan sebagai buron besar oleh polisi untuk
hampir seluruh kasus pengeboman di Indonesia.
Namanya mulai mencuat setelah seorang terpidana bom
Bali I, Ali Imron, ketika masih menjadi tersangka
menyebut nama Azahari dalam persidangan. Beberapa kali
polisi mengaku sempat hampir menangkapnya, namun
Azahari selalu berhasil lolos. Polisi juga beberapa
kali menangkap orang yang mirip Azahari.
Janggal
Kini, Azahari maupun Al-Faruq telah dinyatakan
'lenyap'. Padahal, keduanya merupakan tokoh yang
dianggap sebagai penggerak utama dalam serangkaian
aksi terorisme. Mereka juga dianggap sebagai kaki
tangan Usamah bin Ladin yang memimpin jaringan
Alqaidah. Keduanya pun selalu disebut-sebut punya
motif
melawan AS dan sekutunya dalam berbagai aksi
pengeboman.
Anggapan ini tentu saja terlihat sangat janggal. Jika
pihak yang mereka jadikan musuh bersama adalah AS,
maka korban yang menjadi sasaran dalam setiap aksi
pengeboman itu seharusnya adalah pejabat AS, warga AS,
atau segala hal yang berkaitan erat dengan AS. Namun,
dalam kenyataan, pihak yang
banyak menjadi korban dalam rangkaian aksi pengeboman
adalah warga
Indonesia, dan sebagian besar mereka beragama Islam.
Lebih janggal lagi, mereka menjadikan Indonesia
sebagai 'wilayah kerjanya'. Padahal, mayoritas
penduduk bangsa ini adalah Muslim. Bahkan Indonesia
selalu disebut-sebut sebagai negara berpenduduk Islam
terbanyak di dunia. Serangkaian aksi pengeboman yang
mereka gerakkan, jelas sekali sangat merugikan umat
Islam secara luas.
Secara material, umat Islam di Indonesia banyak
dirugikan oleh aksi mereka. Aksi-aksi pengeboman di
Tanah Air, telah banyak mengganggu roda perekonomian
bangsa ini. Rangkaian pengeboman yang disebut banyak
terkait dengan kedua tokoh tersebut, juga membuat
sebagian pesantren di Indonesia dicurigai
sebagai tempat penggemblengan calon teroris. Aksi
tersebut juga membuat pemerintah punya alasan untuk
menyusun UU Antiterorisme yang dalam perjalanannya
membuat sebagian aktivis Muslim selalu diawasi gerak
langkahnya.
Jadi, di mana nilai perlawannnya terhadap AS, jika
ternyata yang banyak dirugikan justru umat Islam?
Adakah umat Islam memiliki dosa terhadap mereka,
sehingga mereka perlu menjadikannya sebagai sasaran
aksi teror? Luruskah pemahaman mereka tentang ajaran
Islam?
Semestinya, Azahari dan Al-Faruq adalah sosok yang
bisa menjelaskan berbagai kejanggalan ini. Mereka
ditempatkan sebagai tokoh kunci yang seharusnya bisa
ditanya soal kekuatan yang senantiasa mendukung
berbagai aksi pengeboman
yang mereka jalankan. Kecil sekali kemungkinannya
mereka bergerak atas nama pribadi. Aksi-aksi
pengeboman bukanlah aksi yang berbiaya murah. Selain
perlu banyak dana, aksi tersebut juga memerlukan
pelaku-pelaku yang bermental kuat.
Karena keduanya telah dinyatakan 'lenyap', berbagai
kejanggalan di balik serangkaian aksi teror pun
menjadi lebih sulit untuk diungkap. Penjelasan soal
motif dan jaringan terorisme di Indonesia berhenti
hanya pada pelaku-pelaku lapangan serangkaian
pengeboman. Hanya Amrozi dan rekan-rekannya yang
terungkap berada di balik pengeboman-pengeboman yang
banyak merugikan umat Islam itu. Konspirasi besar yang
menggerakkan mereka semua menjadi terus tersembungi
dengan 'lenyapnya' Azahari dan Al-Faruq.
Hambali
Sebenarnya ada satu lagi sosok yang juga disebut
sebagai tokoh kunci dalama aksi-aksi pengeboman di
Indonesia, yakni Hambali. Pria yang aslinya bernama
Riduan Isamuddin ini disebut asli dari Cianjur.
Pemerintah AS menjadikannya sebagai buron penting.
Sumber militer Thailand menyebutkan Hambali ditangkap
Selasa, 12 Agustus 2003 di sebuah apartemen di
Ayutthaya, Thailand, dan sempat dibawa ke Jakarta,
Kamis (14/8). Namun Jenderal Da'i Bachtiar yang saat
ini menjadi Kapolri membantah Hambali dibawa ke
Jakarta.
Sehari setelah ditangkap, keberadaan Hambali tidak
diketahui. Namun yang jelas Pesawat Kepresidenan AS,
Air Force One, menjadi tempat pengumuman kabar soal
tertangkapnya Hambali itu. Kabar tersebut disampaikan
langsung oleh Juru Bicara Gedung Putih, Scott
McClellan, di pesawat tersebut. Belakangan memang
kemudian diketahui Hambali berada dalam 'genggaman'
pemerintah AS.
Hingga kini, pemerintah Indonesia tidak pernah
mendapatkan akses untuk bertemu Hambali. Padahal, dia
orang Cianjur, dan sebagian aksinya dilakukan di
Indonesia. Tapi mengapa Pemerintah AS tidak juga
bersedia membuka pintu bagi Indonesia untuk menemui
secara langsung sosok tersebut. Sebenarnya ada apa?
Adakah hal ini sengaja dilakukan sebagai bagian dari
upaya untuk
membungkus konspirasi besar di balik aksi-aksi
terorisme?
'Lenyapnya' Al-Faruq dan Azahari, seperti dikatakan
pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM),
Prof Dr Sunyoto Usman, tidak lantas menghabisi
aksi-aksi terorisme di Indonesia. Namun boleh jadi,
semua itu menjadi penutup isu terorisme. Sebab, kini
kampanye melawan terorisme yang dipelopori AS mulai
disamakan dengan kampanye melawan Islam. Dalam
kenyataannya juga terlihat seperti itu. Isu melawan
terorisme telah banyak
membawa kerugian bagi dunia Islam.
Apa yang dikatakan Anggota Komisi III DPR, Patrialis
Akbar, cukup menarik untuk disimak. Menurut dia, boleh
jadi memang 'larinya' Al Faruq dan 'matinya' Dr
Azahari itu berkaitan. ''Semua itu tampaknya memang
berjalan berdasarkan skenario-skenario,'' kata
Patrialis. Cuma, pihak yang menjadi pemilik skenario
itu tetaplah misterius. Yang kita dengar selama ini,
skenario tersebut banyak melibatkan campur tangan
pihak asing. Karena itu,
Patrialis menyeru masyarakat untuk lebih berhati-hati
dalam memandang 'lenyapnya' kedua tokoh tersebut.***
__________________________________
Yahoo! FareChase: Search multiple travel sites in one click.
http://farechase.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/