http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/14/nas14.htm
Jual Beli Genderuwo di Desa Besowo (1)
Sang Dukun Biasa Mensyaratkan Amplop
SM/Mulyanto Ari W PINTU MASUK: Di bawah pohon beringin besar di tengah
pekuburan tua yang terletak di sebelah timur Desa Besowo dipercaya menjadi
pintu keluar masuk genderuwo yang diperdagangkan. Sebelum mengambil genderuwo
tersebut, mereka melakukan ritual di bawah pohon itu. (57v)
SORE itu areal persawahan di Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban
cukup semarak. Di areal persawahan yang melingkupi desa berpenduduk 628 kepala
keluarga tersebut memang tengah memanen hasil bumi berupa kacang. Pria, wanita,
tua dan muda tumpah ruah turun ke sawah, memungut hasil panenan. Kehidupan
pertanian di Besowo memang cukup maju. Sayangnya, kehidupan damai masyarakat
tani di Desa Besowo itu tertutup mitos genderuwo yang telah melingkupinya
selama bertahun-tahun.
Ritual pembelian genderuwo, menurut sebagian warga, seringkali dilakukan oleh
dukun desa di tempat-tempat seperti kuburan, tanah yang dikeramatkan, bahkan di
tengah hutan yang cukup jauh dari desa. Ritual untuk mengambil genderuwo yang
paling dekat adalah di kuburan tua yang terletak di sebelah timur desa. Di
tempat yang memiliki pohon beringin besar tersebut, konsumen biasanya diajak
dukun setempat untuk melakukan pengambilan makhluk (konon) setengah manusia
setengah demit itu, dengan cara mempersembahkan sesaji, membakar dupa, dan
bersemadi semalam suntuk. Hanya, cara yang dilakukan oleh dukun-dukun genderuwo
yang ada saat ini menurut penduduk desa sudah sangat menyimpang dibandingkan
dengan dukun yang terdahulu.
Dukun terdahulu, katanya, tidak perlu melakukan ritual di tempat-tempat seperti
itu. Mereka cukup memanggil ''Mbah Ireng'' (begitu penduduk desa menyebut
genderuwo) dari rumah mereka, tanpa harus datang ke tempat-tempat yang wingit
tersebut.
Selain di kuburan desa, ada dua tempat lainnya, yaitu tanah Karangan dan Hutan
Kalang yang menjadi tujuan dukun Desa Besowo untuk ngunduh genderuwo. Karangan
merupakan sebuah gundukan tanah yang lebih tinggi dari areal persawahan.
Tempatnya berada di sebelah timur desa. Sementara itu, Hutan Kalang jauh dari
desa dan terletak di tengah-tengah areal hutan miliki Perhutani. Hutan Kalang
sangat dikeramatkan oleh penduduk. Warga desa juga percaya, hutan tersebut
merupakan kerajaan dari genderuwo.
Menurut penduduk, di hutan yang juga biasa disebut hutan larangan itu
mengandung mitos jalma mara jalma mati (siapa yang berani datang akan tewas).
Banyak cerita penduduk Besowo yang mengatakan orang terutama dari luar daerah
yang masuk ke hutan itu akan meninggal. Trisno (35), salah satu kemenakan dukun
genderuwo Rasmadi menuturkan, pernah ada mandor hutan yang masuk ke hutan
tersebut. Namun setelah beberapa hari, mandor tersebut tidak keluar dari hutan.
Oleh penduduk kemudian dicari bersama-sama dan mandor itu telah ditemukan
meninggal di hutan tersebut. ''Hewan ternak yang masuk ke hutan tersebut
biasanya banyak juga yang mati. Kata sesepuh, hewan ternak tersebut mati
dimakan penunggu hutan,'' tuturnya.
Tasman (37), salah satu penduduk setempat yang mengaku pernah mengantarkan
seorang konsumen dari Surabaya untuk melakukan ritual pemanggilan genderuwo
bersama salah satu dukun, mengatakan, sebelum melakukan ritual di tempat-tempat
tersebut, dukun genderuwo biasanya mengajukan beberapa syarat yang harus dibawa
oleh konsumen.
Rokok Tertentu
Menurut Tasman, syarat yang harus dibawa oleh konsumen yang meminta genderuwo
adalah rokok dengan merek tertentu, kembang boreh, menyan, mori satu meter
serta ayam satu potong untuk brokohan atau selamatan. ''Tapi setelah ritual
tersebut, saya juga tidak pernah melihat wujud dari Mbah Ireng. Mereka yang
minta genderuwo itu oleh dukun hanya diberi sebuah bungkusan kain kecil yang
katanya berisi Mbah Ireng. Bungkusan itu oleh dukun disarankan ditanam di
tempat yang akan dilindungi oleh genderuwo,'' jelas Tasman.
Selain memberikan bungkusan yang katanya berisi genderuwo itu, konsumen juga
diberikan sebuah bungkusan penangkal, agar genderuwo tersebut tidak bisa masuk
ke dalam rumah. Bukan lagi rahasia jika makhluk yang bernama genderuwo tersebut
bisa berubah wajah sesuka hatinya. Selain itu, genderuwo sering menyaru rupa
menjadi orang dan meniduri istri orang. ''Kalau tidak minta penangkal tersebut,
biasanya genderuwo masuk ke dalam rumah dan menganggu istri orang. Jika yang
meminta genderuwo tersebut tidak memiliki penangkal, dia bisa berubah wajah
mirip seperti pemilik rumah. Setelah itu genderuwo masuk ke rumah dan meniduri
istri orang tersebut saat terlena,'' kata Munasir (43), warga lainnya yang
mengaku belum pernah sekalipun melihat wujud genderuwo Besowo.
Hanya, semakin hari ritual genderuwo tersebut tidak hanya mengandalkan syarat
''standar'' seperti yang dituturkan oleh penduduk desa. Kini, dukun desa juga
memodifikasi syarat tersebut dengan mengunakan uang sebagai salah satu
syaratnya.
Winarti (25), penduduk desa yang berprofesi sebagai ledhek menuturkan,
seringkali dia melihat orang yang melakukan ritual, diminta oleh dukun
genderuwo untuk menempatkan uang yang dimasukan ke dalam amplop ke salah satu
makam pepunden desa. Bahkan dia juga pernah menyaksikan aksi salah satu dukun
yang mensyaratkan, setiap patok kuburan diberi amplop uang dalam jumlah
tertentu. ''Tentu saja dukun seperti itu adalah dukun yang tidak benar. Akan
tetapi di desa ini memang ada dukun yang seperti itu,'' cerita dia yang
memiliki rumah di dekat kuburan tua desa itu.
Winarti sendiri saat ini sudah tidak lagi mempercayai kebenaran dari ritual
genderuwo tersebut. Pasalnya, dia melihat sendiri bagaimana dukun-dukun
tersebut sudah menerapkan tarif tertentu kepada orang-orang yang meminta jasa
mendapatkan genderuwo. ''Saya yang warga desa sendiri tidak habis pikir,
bagaimana orang yang datang ke dukun mau melakukan hal itu. Masak, untuk
mendapatkan genderuwo harus menyediakan uang hingga Rp 2 juta segala. Tentu
saja tidak masuk akal,'' paparnya.
Terlepas dari masuk akal atau tidak, tapi hingga saat ini ritual pembelian
genderuwo tersebut masih saja dilakukan oleh sejumlah orang.
''Jarang sekali orang yang sudah datang ke salah satu dukun, kembali lagi.
Entah apa mereka tidak datang lagi karena sudah mendapatkan genderuwo atau
malahan tertipu karena tidak mendapatkan apa-apa selain bungkusan,'' tandas
Winarti sembari tertawa. (Mulyanto AW/
++++
http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/15/nas19.htm
Jual Beli Genderuwo di Desa Besowo (2-Habis)
Ada Konsumen yang Berani Bayar Jutaan Rupiah
KUBURAN TUA: Kuburan Mbah Honggowongso ini juga sering dipergunakan untuk
ritual pemanggilan genderuwo. Dukun dari desa biasanya mengajak konsumen mereka
ke tempat ini.(57) - SM/Mulyanto Ari W
DESA Besowo, konon dulunya merupakan gudang ledhek (penari joget). Kata-kata
Besowo sendiri berasal dari beso atau beksa yang artinya berjoget/menari.
Adapun ''wo'' artinya di-gowo (dibawa). Menurut para penduduk desa sekitar,
penari joget dari Besowo dulunya gampang ''dibawa'' setelah menari.
Entah benar entah tidak, kini Besowo lebih terkenal sebagai desa genderuwo
daripada desa ledhek. Di desa itu sendiri, kini cuma Winarti seorang yang masih
bertahan sebagai ledhek.
Dalam kepercayaan Jawa, sosok setan atau makhluk halus memiliki banyak nama dan
bentuk. Wewe, sundel bolong, banaspati dan genderuwo hanyalah sebagian nama
dari sosok makhluk halus. Namun sepertinya hanya sosok genderuwo yang memiliki
pamor khusus. Sosok genderuwo digambarkan berbadan besar, hitam dan memiliki
bulu lebat di sekujur tubuhnya.
Sosok genderuwo ini konon bisa diperintah oleh sebagian manusia. Karena sosok
ini bisa diperintah, maka seringkali muncul kabar jual beli genderuwo dengan
mengganti sejumlah rupiah. Layaknya jual beli, konsumen seharusnya melihat
barang yang akan dibelinya terlebih dahulu. Akan tetapi, dalam jual beli
genderuwo di Besowo, konsumen seringkali tidak melihat bentuk dari barang yang
akan dibelinya tersebut. Kebanyakan dari mereka pulang ke rumah tanpa pernah
melihat bagaimana bentuk dan wujud dari genderuwo yang mereka pesan.
Meski tidak pernah terbukti bagaimana bentuk barang yang diperjualbelikan,
namun masih juga ada orang yang kepincut datang dengan maksud membeli genderuwo
tersebut. ''Adalah mustahil memperdagangkan mahkluk halus seperti genderuwo.
Apalagi memakai sejumlah uang. Genderuwo bukanlah hewan ternak yang bisa
diperjualbelikan seperti di pasar,'' kata Alwi Sasongko, Pimpinan Padepokan
Spiritual Papan Kencono Semarang yang menyertai Suara Merdeka ke Desa Besowo.
Mendengar penuturan penduduk Desa Besowo, jual beli genderuwo tersebut
sebenarnya baru marak pada beberapa tahun belakangan ini. Sebelumnya, penduduk
terutama golongan tua tidak pernah mendengar aksi jual beli genderuwo tersebut.
''Kalau tidak salah, dulu yang pertama kali bisa memanggil genderuwo dengan
imbalan sejumlah uang itu adalah Sanusi (sudah meninggal-Red).
Sebelum-sebelumnya, tidak pernah ada dukun yang memperjualbelikan genderuwo,''
kata Mbah Siyem (67), ibu dari Winarti.
Dia juga menuturkan, generasi dukun tua Besowo yang telah meninggal memang
terkenal bisa memanggil genderuwo untuk menjaga ladang ataupun sawah saat
memasuki musim panen. Tak dipungkiri, ujarnya, saat itu areal persawahan adalah
daerah yang sering disatroni pencuri. ''Genderuwo tersebut dimintai tolong
untuk menjaga panenan saja. Setelah itu oleh sang dukun, genderuwonya
dikembalikan lagi ke tempat semula. Hanya, sekarang kok katanya
diperjualbelikan,'' terangnya.
Menurut cerita penduduk setempat, nama yang pertama kali berhubungan erat
dengan mitos genderuwo adalah sosok pendiri desa Mbah Palu. Mitos penduduk
sekitar mengatakan bahwa Mbah Palu ini pertama kali membangun Desa Besowo
dengan memindahkan genderuwo ke Hutan Kalang. Oleh penduduk, Mbah Palu memang
dianggap sebagai cikal bakal yang menurunkan generasi dukun genderuwo di
Besowo.
Setelah Mbah Palu meninggal, predikat dukun genderuwo tersebut disandang oleh
satu-satunya anak murid Honggo Wongso. Setelah Honggo Wongso meninggal dan
dimakamkan di sebelah timur desa, dukun genderuwo Besowo berada di tangan Mbah
Joyo Yusuf yang juga merupakan murid dari Mbah Palu. Joyo Yusuf kemudian
memiliki dua murid bernama Sanusi dan Paijo yang pada akhirnya meneruskan jejak
petualangan dukun genderuwo dari Besowo pada tahun 80-an. ''Dari Sanusi ini
saya pernah dengar kalau untuk mendapatkan genderuwo harus membayar dengan
jumlah tertentu. Katanya ada yang memberi hingga jutaan rupiah untuk
mendapatkan genderuwo,'' kata Mbah Siyem.
Tasman yang saat itu mengantarkan konsumen dari Surabaya menuturkan, uang yang
diberikan pada saat itu berjumlah kira-kira Rp 2 juta. ''Saya bahkan diajak
mengantarkan bungkusan dari salah satu dukun di sini hingga ke Surabaya,''
katanya mengenang peristiwa tahun 2004 silam.
Setelah era Sanusi dan Paijo meninggal, keberadaan genderuwo Besowo yang telah
moncer itu oleh penerusnya dijadikan bahan komoditas yang diperjualbelikan.
Namun permasalahan penjualan hingga jutaan rupiah ini dibantah keras oleh salah
satu dukun Rasmadi. Dia mengutarakan, jika mereka memasang tarif sebegitu
tinggi, pasti mereka telah memiliki kekayaan yang melimpah. ''Tapi lihat saja
rumah saya dari kayu.''
Terlepas dari bantahan Rasmadi, ritual memanggil genderuwo dengan memakai uang
tersebut memang banyak dilakukan oleh dukun-dukun genderuwo masa sekarang.
Meski tidak pernah terbuktikan secara kasat mata hasil kerja dukun-dukun
tersebut, namun mereka tetap berani memasang tarif yang cukup tinggi untuk jasa
yang mereka berikan.
Memang Ada
Sementara itu, berdasarkan penelitiannya, Alwi Sasongko menjelaskan, di Desa
Besowo ini memang banyak terdapat genderuwo, seperti di tempat-tempat lain.
Menurutnya, genderuwo itu bisa kawin, beranak dan umurnya panjang, lebih
panjang dari manusia. Dengan demikian, populasinya lebih dahsyat dari manusia.
Namun, manusia adalah makhluk paling sempurna. Jadi secara logika, sangat
menggelikan kalau ada orang memperjualbelikan genderuwo hanya untuk menjaga
rumah atau tanah pertanian. ''Secara nalar saja, kan lebih baik menyewa satpam
daripada menyewa atau membeli genderuwo untuk menjaga rumah. Karena satpam bisa
kelihatan sosoknya, lagi pula bisa diperintah secara lisan. Kalau ada genderuwo
bisa dibeli, saya mau beli sepuluh, asal yang menjual bisa mewujudkan bentuk
genderuwonya,'' ujar Alwi. (Mulyanto AW,Djito Pati-29v)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/