HARI RAYA DI KAMP DELTA 

Wartawan televisi asal Indonesia di Washington, Patsy
Widakuswara, meliput Idul Fitri di pangkalan militer
AS di Guantanamo. Dia mencicipi menu Lebaran dan
sempat dihardik petinggi militer setempat. Berikut
laporannya untuk Tempo—dituliskan kembali oleh Akmal
Nasery Basral.
 
                                        ****

LAGU kebangsaan Amerika Serikat Star Spangled Banner
terdengar gemuruh, berdesakan keluar dari pengeras
suara seperti menggedor-gedor  gendang telinga. Saya
terbangun dan melirik arloji. Pukul delapan pagi
waktu... ah, di manakah saya sekarang? Dan zona waktu
apakah yang menjadi patokan? Sejenak saya termangu
memandang ke sekeliling kamar. Ada sejumput rasa asing
yang samar.

Ini bukan kamar biasa. Kesadaran saya kembali dengan
cepat. Ini Combined Bachelor's Quarters, “losmen
spesial” yang cuma terdapat di penjara Guantanamo.
Setiap suite di losmen ini terdiri dari dua kamar
tidur, masing-masing dengan dua ranjang. Karena saya
satu-satunya perempuan dalam rombongan wartawan yang
diundang Gugus Tugas Bersama (Joint Task Force [JTF])
Guantanamo, saya beruntung mendapat suite sendiri.
Jadi, bolehlah jika saat ini saya dipanggil
Guantanamera—perempuan dari Guantanamo—seperti judul
lagu beken Kuba yang liriknya ditulis penyair besar
Jose Marti.

Ini bukan tempat biasa dan saya di sini bukan pada
hari yang biasa pula. Hari ini, 3 November 2005, umat
Islam di seluruh dunia sedang merayakan Idul Fitri.
Termasuk lebih dari 500 tawanan perang Afganistan dan
tersangka anggota Al-Qaidah. Ini keempat kalinya
mereka merayakan Lebaran di sini. Jauh dari keluarga,
jauh dari liputan media, kecuali oleh segelintir
wartawan yang diundang. Seperti apakah suasana Lebaran
di penjara yang selalu menjadi topik pembicaraan dunia
dalam 2-3 tahun terakhir? 


* * *

SEBELUM mengunjungi sel tawanan, rombongan wartawan
diajak mengelilingi kompleks seluas 116 kilometer
persegi. Terletak di Provinsi Guantanamo, salah satu
daerah penghasil tebu dan benang wol terbesar di Kuba,
Gitmo—sebutan populer untuk pangkalan militer AS
ini—terletak 15 kilometer dari pusat kota yang bernama
sama: Guantanamo. Pemerintah Amerika menyewa Gitmo
dari Kuba sejak 1903.

Di Gitmo, bermukimlah 8.000 personel militer dan
pekerja sipil. Lebih dari 40 persen pekerja sipil
adalah Filipino, mulai dari resepsionis losmen sampai
koki penjara. Sisanya berasal dari Jamaika dan Haiti.
Meski terletak di wilayah Kuba, hampir tak terasa
suasana Negeri Cerutu kecuali di restoran yang
menyediakan plaintains alias pisang goreng ala Kuba.
Menu lainnya pizza, meatloaf, beef steak, lobster.…

Tur berlanjut. Di satu lokasi saya terkesima melihat
pemandangan di depan mata. Terlalu luar biasa untuk
dipercaya, tapi itulah faktanya: mal yang ditata elok,
toko-toko cendera mata, kedai kopi Starbucks,
McDonald's, deretan bar dan bioskop yang memasang
poster Jarhead, film baru garapan Sam Mendez
berdasarkan buku laris Anthony Swofford,  purnawirawan
marinir yang pernah bertempur di Kuwait.  

Ada lagi yang poster yang mengiklankan layanan
microdermabrasion sebuah salon kecantikan. Ini layanan
buat “mengampelas” muka agar licin sebening kristal.
Naluri kewanitaan saya muncul tiba-tiba, diteruskan
oleh mulut yang bertanya spontan, “Apakah setiap
pangkalan militer AS semewah ini?” Sersan Jebari
Carter, yang berkulit legam dan berusia 23 tahun,
pemandu kami, dengan sigap menjawab, “Oh yeah,
pemerintah membuat kami nyaman. Itu penting bagi
kestabilan moral prajurit.” 

Astaga! Tidak pernah terbayangkan oleh saya
sebelumnya, seorang serdadu perlu ke salon untuk
mempercantik wajah. Wartawan Rusia yang berada di
rombongan kami menyeletuk, “Di pangkalan militer kami
yang ada cuma vodka.”
        
Dua kilometer dari “pusat kota” Gitmo, suasana berubah
180 derajat. Di mana-mana terbaca slogan Joint Task
Force-GTMO: Honor Bound to Defend Freedom. Setelah
melewati check point, akhirnya saya menjejakkan kaki
di sepotong wilayah yang pernah menggemparkan dunia:
kamp X-Ray. Masih ingat gambar tawanan berbaju oranye
tergeletak di lantai, diborgol dan diberi masker gas
yang disiarkan oleh hampir semua saluran televisi di
dunia pada Januari 2002? Inilah lokasi maut itu.
Sekarang X-Ray sudah ditutup dan seperti dibiarkan
terbengkalai oleh rimbun alang-alang serta tanaman
sejenis pare setinggi paha orang dewasa. Para
penghuninya dipindahkan ke Kamp Delta.

Di kamp Delta yang dihuni seribu tawanan, kami
disambut Sersan Anthony Mendez yang menggantikan
Jebari Carter. Ia mengingatkan kami bahwa berbicara
dengan tawanan atau mengambil gambar mereka dari leher
ke atas adalah perbuatan terlarang. “Jika ada
foto-foto yang sensitif akan segera dihapus.” Suara
parau Mendez tegas tak bisa dibantah. 

Kamp Delta terdiri dari 408 blok yang terbagi dalam
lima kamp: 1, 2, 3, 4, 5.  Setiap blok ditutup terpal
hijau yang menyisakan sedikit celah untuk melihat
tawanan di dalam sel. Nomor kamp menunjukkan tingkat
kepatuhan tawanan. Kamp 1 dikhususkan bagi mereka yang
bersikap semikooperatif. Sedangkan kamp 5 merupakan
wilayah maximum security bagi tawanan paling
berbahaya. Warna seragam juga berbeda. Penghuni kamp 1
memakai warna krem, kamp 5 oranye.

Tawanan yang dinilai kooperatif mendapatkan comfort
items berupa sajadah, peci, minyak wangi, tasbih dan
Al-Quran yang harus diletakkan pada kantong putih yang
ada di dinding. Tujuannya, menurut Mendez, agar tak
disentuh penjaga. “Para penjaga tak dibenarkan
memegang Al-Quran,” katanya. “Itu aturan di sini.”
Ketika saya tanyakan berita tentang penjaga Gitmo yang
mengencingi kitab suci umat Islam itu, Mendez
menyergah. “Itu kelakuan penjaga yang tidak disiplin.
Dia kencing di luar sel dan tetesan air seninya
tertiup angin mengenai Al-Quran yang sedang dibaca
tawanan.” Penjaga itu, menurut Mendez, sudah dihukum
selain meminta maaf kepada tawanan yang bersangkutan.
Tentu saja sulit memverifikasi kebenaran kisah ini
lebih jauh lagi. Wallahu ’alam.

Tiba-tiba terdengar suara azan zuhur berkumandang.
Menurut Mendez, selesai azan tawanan diberi waktu
setengah jam untuk menunaikan salat. Ia menunjukkan
simbol kerucut seperti tanda lalu lintas berwarna
kuning dengan huruf “P” yang diletakkan di tengah
lorong. “P itu artinya prayer. Wilayah mereka untuk
salat.” 

Saya tak bisa menahan keingintahuan. “Bagaimana
caranya mereka tahu arah kiblat, Pak?” Mendez
menunjukkan gambar anak panah berwarna hitam di tempat
tidur tawanan, serta di lapangan di mana tawanan boleh
keluar selama satu jam setiap hari. “Itu arah kiblat,”
katanya. Saya mengecek arah beberapa anak panah, baik
yang di dalam sel maupun di lapangan. Semua menuju ke
arah yang sama. Sayang saya tak mendapatkan informasi,
apakah tawanan diperbolehkan melakukan salat Idul
Fitri di lapangan itu, lengkap dengan khotbah sesudah
salat yang menjadi syarat sempurnanya salat ini.

Di kamp 4, kami mendapat pemandu baru, Letnan Donna
Batiste namanya. Berbeda dengan kamp lain yang
merupakan sel terpisah, kamp 4 terdiri dari
bangsal-bangsal panjang seperti pendapa. Tiap bangsal
terdiri dari 10 tempat tidur, beberapa bangku panjang,
dan meja pingpong. Di tembok bangsal ada poster orang
sedang salat serta pengumuman dalam beberapa bahasa
seperti Arab, Pashtun, Rusia. Di kamp ini untuk
pertama kalinya saya melihat tawanan dalam jumlah
banyak. Hampir semuanya berkulit gelap, berjenggot
tebal, dan memakai seragam tahanan berwarna putih.

Ketika mata saya bersirobok dengan mata mereka, hampir
semua memalingkan pandangan lalu beringsut memasuki
bangsal. Mungkinkah karena saya perempuan? Tunggu
dulu! Ada seorang tawanan  muda yang membalas senyum
saya dengan malu-malu. Kaki kirinya terbalut, ia
berjalan pincang. Saya tanyakan kepada Batiste apakah
luka itu didapatnya dalam penjara? Batiste mendekati
pemuda itu, yang menjelaskan dengan bahasa isyarat
sambil menendang-nendangkan kakinya yang luka. Ketika
kembali mendekati saya, Batiste menjelaskan bahwa kaki
pemuda itu keseleo karena... bermain sepak bola!

Di kamp 5 yang memiliki tingkat pengamanan tertinggi,
semua tawanan diisolasi selama 24 jam penuh. Pagar
berlapis-lapis dikendalikan secara elektronik. Pemandu
kami, Kapten Eric de Forest, menyebutkan jumlah
maksimal tawanan 100 orang. Saat ini terisi lebih dari
50 persen. Sel di kamp ini istimewa karena semuanya
berpendingin udara. Terik matahari Karibia yang
mengelupas kulit tak terasa seperti di empat kamp
lainnya. Namun, dengan tempat yang begitu terisolasi
serta mengingat siklus badai Amerika yang sedang aktif
mengepung wilayah ini, satu pertanyaan lagi-lagi
meluncur spontan dari mulut saya. “Bagaimana strategi
penyelamatan tawanan jika badai datang atau kebakaran
mengancam?” Jawaban sang kapten singkat saja, “Mereka
sudah pernah berlatih evakuasi.”

* * *

Jumat 4 November 2005. Saya memasuki dapur raksasa
tempat makanan tawanan dimasak. Seorang koki wanita
paruh baya asal Filipina yang memperkenalkan dirinya
sebagai Kim menyambut ramah. Ia sibuk mengeluarkan
roti dari oven, mencacah sayur-mayur, mengaduk
lauk-pauk di penggorengan besar. Sersan Jonathan Sym
yang menjadi pemandu kali ini menunjukkan menu makanan
Idul Fitri kepada saya: nasi kebuli, shish kebab sapi,
hidangan ayam, selada tabouleh. Untuk pencuci mulut
ada manisan baklava, kurma, buah segar dan susu
cokelat. “Ini hidangan istimewa,” kata Sym. “Biasanya
tawanan tidak mendapat dua porsi protein. Untuk Idul
Fitri kali ini kami meningkatkan kuantitas dan
kualitas sesuai dengan menu Timur Tengah.” Sym lalu
meminta saya mencicipi makanan itu, yang terasa
nikmatnya.

Dengan sajian seenak ini, bagaimana menjelaskan ihwal
100 tawanan yang mogok makan pada Agustus lalu?
Sampai-sampai beredar kabar pemerintah Amerika
melakukan kekerasan dengan memasukkan selang ke hidung
mereka agar makanan bisa mencapai perut? Seorang
sersan lain yang bernama Edmonson meluruskan berita
itu. Ia mengakui masih ada 21 orang tawanan yang mogok
makan dan dipaksa menerima makanan lewat bantuan
selang. Katanya, “Selang yang digunakan adalah selang
steril lunak berdiameter 3,3 mm, bukan selang kotor
setebal jari yang menyebabkan tawanan muntah darah
seperti yang dituduhkan.” Edmonson lantas  menunjukkan
potongan selang steril itu kepada wartawan.

Selesai mengecek persiapan makanan Idul Fitri, tibalah
saat yang paling mendebarkan: wawancara dengan Mayor
Jenderal Jay Hood, otoritas militer tertinggi dan
penanggung jawab Gitmo. Pertanyaan saya tentang apakah
undisclosed location yang disebut pemerintah AS
sebagai tempat penahanan Hambali itu sebenarnya tak
lain dari Gitmo yang dipimpinnya, tak dijawab oleh
Hood. Ia juga menampik semua berita miring yang saya
tanyakan: mulai dari perlakuan cabul interogator
perempuan terhadap tawanan laki-laki, pelecehan
Al-Quran, hingga penyiksaan tawanan lewat pengaturan
jam tidur mereka (sleep deprivation). Akumulasi
pertanyaan seperti ini tampaknya mengganggu Hood.
“Bagaimana mungkin Anda mempercayai semua tuduhan itu
setelah melihat dengan mata kepala sendiri keadaan di
sini?” katanya separuh menghardik. Giliran saya yang
terkejut dengan reaksinya—dan agak tersinggung.
Wawancara tak lagi nyaman.

* * *

Kabar wawancara itu rupanya beredar cepat. Malam
harinya di penginapan, Sersan Jebari Carter
menunjukkan wajah masam kepada saya. Untunglah, malam
itu ada Clive Stafford Smith, Direktur Penyuluhan
Hukum Reprieve, organisasi hak asasi manusia yang
mewakili 40 tawanan di Gitmo, termasuk juru kamera
Aljazeera, Sami Muhy al-Din al-Hajj. 

Begitu populernya Clive Smith sekarang sehingga ia
dijadikan tokoh dalam drama teater berjudul
Guantanamo: Honor Bound to Defend Freedom, yang sedang
dipentaskan di Washington D.C. setelah sukses di
London. Menurut Smith, banyak teknik penyiksaan sadis
di Gitmo yang tak akan diakui Jenderal Hood, termasuk
mendekatkan silet dengan penis tawanan. “Perjuangan
kami ada di pengadilan opini publik. Sejauh ini kami
menang. Berkat tekanan pengacara dan sorotan media,
kondisi Guantanamo mulai membaik,” katanya. Sisa malam
kami habiskan dengan membahas rumor bahwa Badan
Intelijen Amerika, CIA, mengoperasikan 15 penjara
rahasia lain di delapan negara—sebuah tuduhan yang
tidak diakui sekaligus tidak disangkal oleh Amerika.

Yang jelas, berada di dalam Gitmo jauh berbeda dengan
citra yang tersaji di media massa selama ini. Di sini
semua serba rapi, terorkestrasi, tak ada kesan
seram—kecuali jika kita berbicara dengan pengacara
tawanan seperti Smith, atau membaca buku For God and
Country, Faith and Patriotism Under Fire tulisan
Kapten James Yee, perwira militer muslim AS yang
pernah menjadi imam Guantanamo dan diolok-olok sebagai
“Taliban Cina” oleh koleganya (lihat Derita Yusuf di
Guantanamo, Tempo 13 November 2005).

Ketika keesokan harinya Sersan Carter mengantar kami
ke bandara, ia mengajak kami mampir ke sebuah toko
cendera mata. Kepada saya ia menunjukkan sebuah kaus
dengan tulisan “The Taliban Towers at Guantanamo Bay.
The Carribean’s  Newest 5-Star Resort”. 

Saya tak tahu lagi mana yang lebih benar: selera humor
saya yang tumpul, atau kalimat itu yang tak peka pada
nilai kemanusiaan. Saya hanya bisa melongo. Selamat
tinggal, Gitmo! Tak ada lagi lagu kebangsaan yang
menggedor-gedor telinga setiap pagi.

Sumber: Tempo, 14 November 2005
                                         

minds are like parachutes, they work best when open.


        
                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke