JIL tu didikan dari mana sih..........??? jangan-jangan bukan Islam lagi...........!!!!
----- Original Message ----- From: "A Nizami" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]>; "Indonesia Raya" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, November 30, 2005 11:59 AM Subject: [ppiindia] IAIN Dikuasasi JIL? - Dr. Daud Rasyid: Diasingkan Karena Bela Prinsip-Prinsip Islam > Assalamu'alaikum wr wb, > Benarkah berita di bawah bahwa IAIN sudah dikuasasi > JIL (Jaringan Islam Liberal) sehingga dosen yang lurus > seperti Dr. Daud Rasyid disingkirkan? > > Jika benar, seluruh komponen ummat Islam seperti MUI, > menteri agama, dsb harus berusaha menyingkirkan JIL > dari posisi rektor dan dosen di IAIN agar ajaran Islam > Liberal tidak menyebar luas di masyarakat. > > Wassalam > > Dr. Daud Rasyid: Diasingkan Karena Bela > Prinsip-Prinsip Islam > 18/11/2005 13:34 WIB > eramuslim - Sudah menjadi sunnatulah dalam berdakwah, > setiap da'i yang melawan kebatilan akan mendapat > ujian-ujian maupun fitnah-fitnah. Adalah doktor Daud > Rasyid, jebolan Universitas Kairo, Mesir, yang > dideportasi oleh pihak Institut Agama Islam Negeri > (IAIN, sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ke > IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Padahal sesuai > dengan permintaan Direktur Program Pascasarjana (PPs) > IAIN Jakarta Prof. Harun Nasution saat itu, Daud > diminta memberi kuliah di kampus yang terletak di > bilangan Ciputat, Tengerang itu. > > Melawan Liberalisme di Kampus > > "Secara logika tidak pas. Karena menurut rencana > semula, yang mendorong saya untuk menjadi PNS itu > almarhum Prof. Harun. Karena tenaga saya dibutuhkan di > IAIN Jakarta," ujarnya. > > Akibat peristiwa ini, Prof. Dr. Harun Nasution, yang > juga dikenal sebagai pembawa dan penyebar aliran > Mu'tazilah ke Indonesia, khususnya di dunia perguruan > tinggi, merasa terkejut dengan peristiwa itu. "Beliau > sendiri bingung dan kaget dengan kejadian itu. Kerjaan > siapa ini?" sambungnya. > > Maklum saja. Dalam pandangan Harun, Daud Rasyid adalah > tenaga pengajar "langka" saat itu. Alasannya, IAIN > sangat membutuhkan doktor ahli hadis untuk mengajar di > program pascasarjana. Karena itulah, ketika mendengar > Daud Rasyid pulang ke Indonesia, Harun pun memintanya > mengisi mata kuliah Ilmu Hadis. > > Menurutnya, pembuangan dirinya ke IAIN Bandung > bukanlah hal yang tiba-tiba. Tapi, jauh-jauh hari > sudah didesain oleh petinggi IAIN saat itu. "Ini bukan > tanpa rencana, tapi sengaja," katanya. > > Waktu pun terus berjalan. Selama tiga tahun menjadi > dosen di IAIN Jakarta, selama itu pula ayah tujuh anak > ini mendapat serangan balik dan "teror" dari sejumlah > dosen dan petinggi IAIN yang tak senang dengan > pemikiran dan gerakan Daud Rasyid. "Terutama dari > sarjana lulusan Barat atau AS," paparnya. > > Ia menuturkan, keberadaan Daud Rasyid rupanya telah > membuat sebagian alumni Barat/AS gerah dan gundah. > "Program pembaratan mereka di IAIN terganggu dengan > keberadaan saya. Selama mengajar di sana saya melihat > memang terjadi pertarungan pemikiran antara kelompok > Barat, yang meliberalkan pemikiran Islam. Itu saya > hadapi di perkuliahan," terangnya. > > Celakanya, ada pihak-pihak yang mengadu-domba antara > Harun Nasution dengan Daud Rasyid. Maksudnya, agar > mantan rektor IAIN Jakarta itu tak simpatik lagi > dengan laki-laki kelahiran Tanjung Balai, Sumatera > Utara ini. Tapi, syukurnya Harun tak terpengaruh > dengan wacana dan ulah nakal itu. > > Namun, di usianya yang semakin uzur, tak lama kemudian > Harun mundur dari jabatan direktur PPs, usaha > mendeportasi Daud Rasyid ke IAIN Bandung terlaksana. > Daud Rasyid menjelaskan, kondisi Harun yang melemah > itulah yang mereka manfaatkan. "Karena sejak Pak Harun > tak lagi memimpin PPs, langkah mereka lebih leluasa. > Sebelumnya mereka sungkan dengan Prof. Harun," ungkap > alumnus IAIN Sumut ini. > > "Mereka kadang mendorong mahasiswa untuk protes ke Pak > Harun. Artinya keberadaan saya tak nyaman bagi mereka. > Ketika Prof. Harun ketemu dengan saya, itu juga > disampaikannya ke saya. Ada sekelompok orang yang > mendatangi dia melaporkan tentang saya. Maka saya > tahu. Saya itu tak akan dibiarkan leluasa menyampaikan > tentang pemikiran Islam yang lurus. Mereka lalu > menunggu titik limitnya ketika Prof. Harun meninggal > dunia," sambung Daud. > > Sejak itu, aktivitas mengajar suami dari Iskamaliati > di PPs IAIN Jakarta dipangkas habis. "Satu mata kuliah > pun saya tak diberi," katanya. Selain dihabisi > gerakannya di PPs, ia juga sering dikucilkan. Tapi > bagi Daud, tidak jadi masalah, dakwah membasmi virus > liberalisme dan sekularisme di perguruan tinggi adalah > mulia dan harus dilaksanakan. > > Setelah peristiwa ini, sejumlah dosen dan pihak > di-cross- chek. Ada yang mengatakan tak tahu- menahu > masalah itu. Tapi ada juga yang menyebutkan bahwa > pemberhentian paksa dilakukan atas kebijakan rektorat, > yang kala itu dipimpin Azyumardi Azra. > > Mendengar jawaban yang berbeda-beda itu, Daud Rasyid > pun lantas menelusuri "sanad" kasus ini. Selidik punya > selidik rupanya di balik semua rekayasa tak fair itu > adalah rektor sendiri, yakni, Prof. Dr. Azyumardi > Azra, MA. "Ya, dia itu. Dia adalah otaknya, yang ingin > menyingkirkan saya dari IAIN Ciputat," urainya. > > Ia menilai, langkah para liberalis itu adalah sikap > yang tidak jujur. "Mereka tak dewasa. Apa yang mereka > gembar-gemborkan mengenai dialog dan berbeda pendapat, > semuanya itu bohong. Itu cuma di mulut saja. Mereka > itu adalah diktator. Kalau disuruh memimpin negeri > ini, wah kacau negeri ini," jelasnya. > > Daud Rasyid mengungkapkan, sebenarnya tak semua > mahasiswanya alergi dengan gagasan yang dibawanya. > Sebab, dari ceramah, diskusi dan ide-idenya itulah > para mahasiswa/i PPs tahu mana pemikiran Islami dan > mana yang bukan. "Ada mahasiswa yang mengatakan, > setelah Pak Daud di sini pemikiran Barat tidak > menghegemoni pemikiran kita," katanya mengutip > pernyataan mahasiswa(i)nya. > > Dengan larangan mengajar di PPs IAIN Jakarta, maka > secara otomatis pula, Daud Rasyid tak bisa mengajar di > program strata satu (S1). Pasalnya, ia harus hijrah ke > IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. > > Hijrah ke Bandung > > Sebagai orang yang biasa hidup dalam pertarungan > pemikiran, Daud tak pernah takut untuk menghadapi > model pemikiran apapun. Maklum saja, selain fasih > berbicara tentang Islam, dosen PPs Ibnu Khaldun ini > juga mengusai pemikiran Barat. > > Karena itu, ketika ia diasingkan ke IAIN Bandung, > baginya masalah itu adalah hal yang biasa. Ketika awal > masuk IAIN Bandung, sekitar satu tahunan ia masih > diberi kesempatan untuk mengajar di PPs IAIN Bandung. > > Namun setelah, direktur PPs-nya tahu 'bahaya' Daud > Rasyid bagi gelombang dan arus pembaratan di kampus > tersebut, akhirnya ia juga mengalami nasib serupa. > Tapi, kali ini tak separah di Jakarta. "Di sini saya > masih diberi kesempatan mengajar S1. Rektornya > mendukung. Direkturnya saja yang takut dengan > keberadaan saya," ujarnya. > > "Tapi, sambungnya, secara umum kondisinya sama. Mereka > sudah dikuasai oleh pemikiran Barat. Anehnya, mereka > belajar Islam, tapi rata-rata pengetahuan Islam dan > bahasa Arabnya rendah," tambahnya. > > Ke Mesir, Taubat dari Pemikiran Liberal-Sekular > > Semula, aku Daud, dirinya termasuk mahasiswa yang > gandrung dengan pemikiran tokoh-tokoh > liberalis-sekularis. Sebut saja, misalnya, pemikiran > almarhum Nurcholis Madjid, alias Cak Nur. "Iya, saya > pernah mengagumi pemikiran Cak Nur. Buku-bukunya saya > baca," katanya. > > Dijelaskannya, dirinya sempat menjadi peminat > pemikiran liberalis-sekularis lantaran saat menjadi > mahasiswa Fakultas Syari'ah IAIN Sumatera Utara > (Sumut), Daud adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam > (HMI). "Dulu, yang namanya anak HMI pasti membaca > buku-buku Cak Nur," akunya. > > > Namun, episode ini tak berlangsung lama. Setelah lulus > dari IAIN Sumut, Daud lantas hijrah ke Mesir. Di > negeri Sungai Nil inilah, ia mengalami perubahan > paradigma secara drastis. Melalui kegiatan membaca > karya-karya tokoh-tokoh sekular dan tokoh-tokoh > Islamis Mesir dan dunia Arab, pandangan Daud berbalik > 180 derajat. Ia tahu dan sadar benar, ternyata > pandangan hidup dan pemikiran sekular adalah keliru. > Dari situlah Daud Rasyid mengikuti jejak Sayyid Qutb. > Yakni, kritis terhadap pemikiran dan gaya hidup Barat. > > "Saya baca buku-buku tokoh sekuler yang menjadi > guru-guru mereka seperti Ali Abdul Raziq, Thaha Husein > dan sebagainya," paparnya. Selain itu, Daud, yang kutu > buku sejak kecil juga melahap karya-karya tokoh-tokoh > Islam seperti Al-Maududi, Sayyid Qutb dan lainnya. Tak > hanya itu, ia juga berdialog langsung dengan tokoh dan > pemikir dari berbagai kalangan di Mesir. > > Cerdas dan Kritis > > Banyak orang cerdas, tapi sedikit orang yang kritis > terhadap masalah. Daud Rasyid kecil termasuk anak yang > cerdas. Dari sekolah dasar (SD) sampai perguruan > tinggi, belajarnya selalu double, alias di dua tempat. > "Kebiasaan ini berlanjut sampai di perguruan tinggi," > ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Sumut (USU). > > Menurutnya, belajar di dua tempat bukanlah hal yang > berat. Karena itu, ia menikmatinya. Prestasinya selama > belajar selalu gemilang. "Alhamdulillah saya juara > satu terus," kenangnya. Prestasi membanggakan, juga ia > raih ketika menyelesaiakan program S2 dan S3 di > Universitas Kairo. "Disertasi saya meraih predikat > summa cumlaude," terangnya. > > Dituturkannya, ibunyalah yang mendorongnya untuk > belajar tekun dan sungguh-sungguh. Karena itu pula, > sejak usia SD ia sudah terbiasa membaca kitab kuning. > > Inspirasi dari sang bundanya itu, kini ia wariskan > kepada tujuh buah hatinya. Ia bersama istri tecintanya > membiasakan anak-anaknya untuk dekat dengan Al-Qur'an. > Karena itu pula membaca dan menghafal ayat-ayat Allah > itu adalah menjadi kebiasaan keluarga ini. > > Bagaimana hasilnya? sudah bisa ditebak. Putra-putri > Daud Rasyid adalah para penghafal Al-Qur'an. "Sudah > ada yang hafal 30 juz. Tapi baru satu orang, yang > bungsu. Sekarang lagi kelas III Madrasah Aliyah," > imbuhnya. (dina) > http://www.eramuslim.com/br/pr/5b/21889,1,v.html > > > > > > Tertarik masalah Ekonomi? Mari bergabung ke milis Ekonomi Nasional > Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] > > > > > __________________________________ > Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 > http://mail.yahoo.com > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://dear.to/ppi > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

