REPUBLIKA Jumat, 02 Desember 2005
Bahaya Mengaitkan Terorisme dengan Ideologi Oleh : H Muhammad Ismail Yusanto Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Pernyataan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, tentang perang ideologi, menarik untuk dikaji. Saat membuka rapat koordinasi Polisi, Polsus, dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), di Mabes Polri, Selasa (22/11/2005), Wapres mengatakan yang harus dilakukan untuk memerangi terorisme di Indonesia adalah perang ideologi dan fisik. Lebih jauh dikatakan, banyak pelaku yang ditangkap, namun karena ideologi teroris tetap jalan, tetap menumbuhkan pelaku-pelaku baru. Pernyataan yang mengaitkan terorisme dengan persoalan ideologi bukan persoalan baru. Pada 2002, Sekretaris Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Paul Wolfowitz, yang sekarang menjabat direktur IMF, mengatakan hal yang sama: ''Saat ini, kita sedang bertempur melawan teror-perang yang akan kita menangkan. Perang yang lebih besar yang kita hadapi adalah perang pemikiran. Jelas suatu tantangan, tapi juga harus kita menangkan.'' Senada dengan itu, Penasihat Keamanan Nasional AS, Condoleezza Rice, mengatakan ''Kemenangan sebenarnya tidak akan muncul hanya karena teroris dikalahkan dengan kekerasan, tetapi karena ideologi kematian dan kebencian dikalahkan.'' Sementara Presiden AS, George Walker Bush, dalam pidatonya Kamis (6 Oktober 2005) di depan undangan National Endowment of Democracy, menyamakan perang melawan terorisme saat ini dengan perang melawan komunisme. Menurut Bush, ideologi pembunuh Islam radikal adalah tantangan terbesar dari abad baru kita. Kita tidak mengetahui apakah pernyataan Wapres mengandung maksud yang sama dengan yang dinyatakan oleh para pemimpin Barat tersebut. Kalau maknanya sama, pernyataan itu memiliki potensi yang berbahaya. Pernyataan perang melawan terorisme sebagai perang ideologi akan memperluas front perang melawan terorisme. Bukan sekadar terhadap kelompok-kelompok yang salah dalam menerapkan aksi jihad seperti di Indonesia, tapi bisa berpotensi sebagai bentuk perang melawan Islam dan umat Islam. Seperti yang dilansir BBC News, di depan peserta Konfrensi Nasional Partai Buruh, Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, menjelaskan ada empat kriteria 'ideologi iblis' para teroris. Yakni ingin mengeliminasi Israel; menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum; menegakkan khilafah; bertentangan dengan nilai-nilai liberal (lihat www.1924.org). Tidak berbeda dengan Blair, Bush mengatakan tujuan dari ideologi yang dia sebut Islam radikal ini adalah ingin mendirikan imperium Islam dari Spanyol sampai Indonesia. Dalam pengertian ini, berarti yang harus juga diperangi adalah umat Islam yang tidak setuju terhadap penjajahan Israel di Palestina, umat Islam yang ingin menegakkan syariah Islam dan Khilafah, termasuk umat Islam yang tidak setuju terhadap nilai-nilai sekuler Barat seperti prilaku seks bebas, dan kawin antarsesama jenis. Termasuk yang menentang kebijakan kapitalisme Barat seperti kerja sama dengan IMF, privatisasi, hutang luar negeri, kenaikan BBM akan menjadi musuh dalam perang ini. Meskipun kelompok-kelompok ini tidak menggunakan kekerasan dalam perjuangannya, tetap akan masuk dalam kategori yang harus diperangi.Perang ideologi ini juga akan meluas ke berbagai aspek termasuk pendidikan, terutama sekolah-sekolah Islam seperti pesantren. Semua ajaran Islam yang dianggap bertentangan dengan nilai Barat dan kepentingan Barat sangat mungkin akan dihapuskan. Tuduhannya, ajaran itu menyebabkan terorisme.Ajaran jihad dalam makna perang bisa jadi dihapuskan dalam kurikulum. Padahal, seruan jihad inilah yang dulu digunakan ulama-ulama Islam termasuk NU untuk memerangi Belanda yang menjajah Indonesia. Sangat mungkin ayat-ayat Alquran yang dianggap mendorong perlawanan terhadap penjajahan Barat akan direvisi, termasuk yang menentang penjajahan Israel di Palestina Implikasi lain dengan menggunakan jaring perang melawan ideologi, perlakuan terhadap kelompok-kelompok yang sebenarnya tidak menggunakan kekerasan pun disamakan dengan teroris. Sebagaimana yang dipraktikkan AS sekarang ini: para teroris dianggap sebagai musuh yang unik, super berbahaya, sehingga bagi mereka tidak berlaku prinsip-prinsip hukum dan HAM. Dengan alasan teroris, banyak yang dipenjara tanpa tahu kapan diajukan ke pengadilan dan tanpa pengacara yang membela seperti yang terjadi di penjara Guantanamo, Kuba. Metode penyiksaan yang jelas bertentangan dengan HAM pun dilegalkan. Seseorang juga bisa ditahan tanpa ada bukti yang jelas, hanya berdasarkan kecurigaan bahwa dia adalah teroris. Kalau pemerintah terjebak pada skenario seperti ini, alih-alih akan menghilangkan kekerasan, justru malah akan menimbulkan kekerasan baru. Akan muncul potensi konflik internal di tengah masyarakat seperti sikap saling mencurigai dan memata-matai. Tuduhan teroris dengan gampang dilontarkan oleh satu kelompok kepada kelompok lain yang tidak dia tidak setujui, tanpa peduli apakah kelompok itu menggunakan kekerasan atau tidak. Yang paling kita khawatirkan muncul kembali adalah kekerasan oleh negara, sebagaimana yang pernah terjadi pada rezim Orde Baru dulu. Siapapun yang bertentangan dengan kepentingan pemerintah akan dicap teroris, meskipun tidak menggunakan kekerasan. Pelarangan buku, sensor terhadap khatib, izin untuk pengajian, akan muncul kembali. Hak-hak rakyat untuk mengoreksi penguasa akan terancam, termasuk aspirasi umat Islam yang secara damai tanpa kekerasan ingin memperjuangkan syariat Islam, bisa jadi akan dihambat. Semuanya dengan satu alasan: memiliki kesamaan dengan ideologi para teroris. Seharusnya pemerintah membatasi upaya untuk menghilangkan aksi teror saat ini dengan meluruskan pemahaman terhadap aksi jihad yang keliru dilakukan di Indonesia. Tidak mengaitkannya dengan perang ideologi seperti yang dicanangkan Barat. Namun itu saja tidak cukup. Seperti pernyataan Wapres di depan peserta Kursus Reguler Angkatan ke-38 Lemhannas, terjadinya pemberontakan, konflik, sejumlah aksi terorisme di Indonesia, adalah karena masalah ketidakadilan perlakuan. Baik ketidakadilan secara ekonomi maupun sosial (Selasa 22/11). Hal yang sama juga sebenarnya menjadi alasan utama dari kelompok-kelompok yang melakukan aksi pengeboman di Indonesia. Bagi mereka, ini merupakan serangan balasan terhadap penindasan yang dilakukan oleh negara seperti AS dan Inggris terhadap Irak dan Afghanistan. Termasuk di dalamnya adalah dukungan Barat terhadap rezim-rezim yang menindas umat Islam di Palestina, Moro, dan Pattani. Wali Kota London, Ken Livingstone, secara jujur mengakui hal itu. Menurutnya, pendudukan oleh asing tanpa melihat sisi kemanusiaan, mengekang segala hak manusia, hanya melahirkan orang-orang yang akan melakukan bom bunuh diri (CNN, Kamis, 11/7/2005).Karena itu, meluruskan aplikasi jihad yang keliru tanpa menyinggung motif perlawanan kelompok-kelompok ini, tidak akan menyelesaikan masalah. Bisa-bisa pemerintah termasuk para ulama dicap sebagai pengkhianat, karena telah melegalkan penjajahan negara-negara Barat. Di samping meluruskan pemahaman aplikasi jihad yang keliru, pemerintah dan ulama perlu berperan aktif untuk melakukan pembelaan terhadap negeri-negeri Islam yang ditindas tersebut. Termasuk berperan aktif meminta agar Amerika, Inggris, dan negara-negara sekutunya menarik diri dari Irak dan Afghanistan. Juga menghentikan dukungan mereka terhadap rezim-rezim penindas di negeri Islam seperti Palestina. Kalau tidak, kekerasan akan justru menumbuhkan kekerasan baru yang tidak akan berhenti. Irak dan Afghanistan adalah contoh yang perlu jadi pelajaran. Bagaimana siklus kekerasan di sana tidak berhenti malah membesar-- sejak kedatangan Amerika dan Inggris. Tentu kita tidak berharap itu terjadi di Indonesia. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving. http://us.click.yahoo.com/BrzMLB/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

