Refleksi: Di Maluku malah ada desa yang penduduknya beragama Islam semua ramai-ramai membakar pesantren samapi hancur lebur setelah diketahui menjadi sarang teroris. Mereka bukan mengkambing hitam tetapi bikin kambing pangang.
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=200687 Senin, 05 Des 2005, Jangan Mengambinghitamkan Pesantren Oleh: Imam Muhlis * Rencana pemerintah membantasi dan mengawasi kurikulum pondok pesantren mengundang reaksi keras dari pelbagai kalangan. Isu untuk mengawasi pelbagai kegiatan pesantren sebenarnya bukan isu lama, tetapi isu yang datang berulang-ulang dalam korelasinya dengan pencegahan terorisme di Tanah Air. Isu ikutan yang terpenting adalah ide mengaktifkan kembali komando teritorial (koter) yang disampaikan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto serta membatasi gerak dan peran pesantren seperti pada era Orde Baru (Orba). Gagasan untuk mengawasi dan membatasi gerak-gerik pesantren seperti pada masa Orba bukan datang dari "sembarang orang". Ia dikemukakan oleh Wapres yang juga Ketua Umum Partai Golkar M. Jusuf Kalla. Karena itu, pernyataan tersebut sungguh mengejutkan banyak pihak, termasuk penulis sebagai alumnus pondok pesantren. Publik yang rajin menyimak informasi tidak asing lagi dengan atraksi politik Kalla dalam menanggapi pelbagai persoalan, yang di antaranya pernah dinilai oleh sebagian pengamat selalu over reactive terhadap pelbagai persoalan negeri ini. Pernyataan pemerintah, dalam hal ini Jusuf Kalla yang menyebut-nyebut bersimpati dengan pendekatan keamanan era Soeharto, mengindikasikan keinginan meniru pengalaman (sejarah). Keinginan ini memiliki pesan terselubung yang ingin menonjolkan peranan mesin politik era itu, yang tidak lain partai yang kini dipimpin Kalla. Pesan semiotis tersebut terasa konfirmasinya manakala Kalla menyebut bahwa maraknya gerakan radikal di tanah air dipicu oleh "tergulingnya Presiden H. Muhammad Soeharto". Karena itu, sangat dimaklumi jika kemudian kalangan pesantren berteriak keras menolak gagasan Wapres Jusuf Kalla itu. Sebab, arti rencana tersebut sama dengan membuka trauma masyarakat, khususnya kalangan pesantren. Kalangan pesantren merasa bakti tulus mereka mendidik tunas bangsa -sebagian besar tanpa imbalan materi yang cukup, sebagian besar tanpa peran dan dukungan negara- sama sekali tak dihargai oleh pemerintah. Bahkan, mereka dilecehkan dan dikhianati. Selain itu, kalangan pesantren khawatir rencana pemerintah hanya dijadikan alasan (justifikasi) oleh sejumlah pihak untuk benar-benar "mengganggu ketenteraman" pondok pesantren, mengobok-obok pesantren, dengan alasan mengantisipasi gerakan terorisme. Jika itu yang terjadi, pasti akan terjadi kesibukan yang luar biasa karena berapa banyak pondok pesantren di seluruh Indonesia. Jika rencana pemerintah hanya ingin mengawasi pesantren tertentu yang selama ini menjadi almamater beberapa pelaku pengeboman di tanah air justru memunculkan patologi baru berupa segregasi antarpesantren. Ada pesantren yang patut atau layak diawasi, tapi ada pula yang tidak perlu diawasi. Bila terjadi, hal tersebut hanya akan memecah kohesi sosial antarpengelola pesantren itu sendiri. Artinya, ada satu pihak yang merasa terdiskriminasi karena memperoleh perlakuan terawasi secara ketat meskipun sama-sama tidak memiliki kaitan dengan tindakan terorisme. Karena itu, pemerintah yang didukung sepenuhnya oleh Polri dan TNI perlu menyiapkan strategi yang konsisten dan berkesinambungan untuk mengantisipasi aksi terorisme. Bukan dengan stratregi dan komentar-komentar yang berkesan reaktif seperti yang belakangan ini terjadi. Rencana pemerintah untuk membatasi dan mengawasi pesantren itu jelas upaya mengambinghitamkan pesantren. Karena itu, pemerintah perlu berpikir ulang sebelum benar-benar melakukannya. Jangan terburu-buru mencurigai lembaga ilmu pengetahuan agama (tafaqqul fi al-din) sebagai "sarang teror". Alat Transformasi Diakui atau tidak, kehadiran pesantren telah nyata membantu pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Di samping itu, pesantren telah menawarkan jenis pendidikan alternatif bagi pengembangan pendidikan nasional. Sejak awal berdirinya, pesantren dikenal sebagai lembaga yang mampu menjembatani kebutuhan fisik (jasmani) dan kebutuhan mental-spiritual (rohani). Chistoper J. Lucas pernah mengemukakan bahwa pesantren menyimpan kekuatan yang sangat luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberikan informasi yang berharga dalam mempersiapkan kebutuhan yang inti untuk menghadapi masa depan." Karena itu, citra pesantren yang salama ini terbawa-bawa sebagai "sarang teroris" harus segera diverifikasi dengan cara meningkatkan open house atau aksi-aksi yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Aksi-aksi kesalehan, seni-pengetahuan, akhlak, dan sebagainya secara langsung memberi poin besar bagi pembentukan citra pesantren. Pesantren sebagai bentuk pendidikan Islam di Indonesia yang telah berakar berabad-abad silam dan mengandung makna keislaman sekaligus keaslian (indigenous) Indonesia telah mampu memainkan peran sebagai alat transformasi, motivator, dan inovator. Sebagai alat transformasi, motivator, dan inovator, sudah saatnya pemerintah melakukan pendampingan, melihat dari dekat apa yang mereka butuhkan dan membantu kesulitan mereka. Satu hal yang perlu diingat bahwa membatasi dan mengawasi pondok pesantren jelas bukan antisipasi produktif untuk mencegah aksi terorisme di masa-masa mendatang. * Imam Muhlis, sekretaris Redaksi LPM ADVOKASIA UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, alumnus PP Raudlah-Najiyah Sumenep, Madura (E-mail: [EMAIL PROTECTED]) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

