http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=200696
Senin, 05 Des 2005,

Ketika Antar kelompok Islam Militan Bertemu di Satu Forum 


Tak Ada Ulama yang AntiJihat
Sebuah pertemuan yang membahas soal jihad dan mati syahid diikuti beberapa 
kelompok Islam militan di Jakarta kemarin. Kegiatan ini dipelopori Majelis 
Mujahidin Indonesia (MMI). Bagaimana awal forum ini digagas?
-----------------
Bisa dikatakan, motor pertemuan itu adalah MMI dan Hizbut Tahrir Indonesia 
(HTI). Kedua organisasi ini dikenal sebagai kelompok Islam militan. Sayang, 
dalam pertemuan ini, Front Pembela Islam (FPI) pimpinan Habib Rizieq Shihab 
tidak hadir dan mengirimkan wakilnya. 

Sebenarnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga diundang dalam pertemuan 
tersebut. Tapi, mereka tidak mengirimkan wakilnya. 

Personel yang dikirim MMI tidak main-main. MMI mengutus Abu Jibril dan Fauzan 
Al Anshori. Sedangkan HTI mengutus Achmad Junaidi Ath Thayyibi (pengurus pusat 
HTI yang dikenal pemikir konsep Khilafah Islam). 

Dalam pertemuan itu, didiskusikan tentang makna jihad yang belakangan ini 
sempat menjadi wacana hangat. Apalagi, setelah ramai diberitakan seputar 
pengakuan para pelaku bom bunuh diri yang direkam di kepingan VCD dan beredar 
secara luas di masyarakat. MUI secara tegas menyatakan bahwa bom bunuh diri 
adalah haram. 

Kemarin soal jihad ini kembali dibahas oleh beberapa wakil dari kelompok Islam 
militan dari seluruh Indonesia. Mereka berkumpul di Gedung Djoeang Menteng, 
Jakarta.

Acara yang dimulai pukul 10.00 itu berlangsung sederhana, tapi penuh nuansa 
keakraban. Bertempat di lantai III, ratusan umat Islam dengan khidmat dan 
seksama mendengar paparan para pembicara. Sesekali terdengar pekikan "Allahu 
Akbar" serentak dari kursi audiens, di sela-sela pemaparan. 

Forum ini berskala nasional. Banyak peserta dari luar Jakarta, bahkan luar 
Pulau Jawa. Peserta yang ingin bertanya diminta menyebutkan asal daerahnya. Ada 
yang dari Bandung, Serang, NTT, hingga Sumatera Barat. 

MMI dalam forum ini mengkritik habis rencana pembentukan TPT (Tim Penanganan 
Terorisme). TPT yang beranggota para tokoh agama dinilai manipulatif karena 
menjadikan agama sebagai justifikasi terhadap propaganda menumpas terorisme 
yang nota bene dikembangkan AS. 

"Secara tidak langsung TPT telah memosisikan diri sebagai tim antiterorisme 
versi AS yang berseberangan dengan makna terorisme dalam Islam," kata Fauzan. 
Selain itu, TPT dinilai berlaku tidak adil dalam memandang parameter terorisme. 
"Ada kecurangan dalam memaknai terorisme oleh TPT," sambungnya. 

Abu Jibril, salah seorang tokoh MMI, tak kalah keras bersuara. Dia lantas 
mengutip pernyataan ulama ternama, termasuk Yusuf Qordhowy, yang menyatakan 
bahwa bom syahid dibolehkan dalam Islam. Apalagi, dengan niat melindungi Islam 
dari kehancuran yang lebih besar. "Maka saya heran, kok ada ulama yang 
antijihad. Padahal, ulama itu seharusnya mendukung jihad," papar Abu Jibril. 

Karena itu, Abu Jibril yang telah merilis VCD berjudul Zaman Jihad itu 
menantang pemerintah, aparat keamanan, dan TPT untuk duduk bersama 
mendiskusikan pemahaman jihad menurut Alquran dan Sunah. "Kalau secara bahasa 
artinya memang bersungguh-sungguh, tapi secara maknawi jihad itu tidak punya 
arti lain selain qital (perang)," tambahnya. 

Di sela-sela forum, Jawa Pos disapa Jamaludin alias Luluk, adik kandung Abdul 
Azis alias Imam Samudera, terpidana mati dalam kasus peledakan bom Bali I. 
Jamaludin mengatakan, dia tahu acara tersebut langsung dari Fauzan Al Anshori 
yang kebetulan menjadi ketua panitia seminar. 

"Waktu ada musker (musyawarah kerja) pemuda Persis (Persatuan Islam, Red) 
sebulan lalu di Islamic Center, saya ketemu Mas Fauzan. Dia bilang akan ada 
bedah buku kakak saya (Imam Samudera, Red), tapi kayaknya nggak jadi, terus 
diganti seminar ini," tuturnya.

Luluk mengaku sepakat dengan pendapat Abu Jibril yang mengatakan ada tiga 
syarat jihad. Yakni, masuknya musuh secara fisik ke Indonesia, bertemu dan 
berhadap-hadapannya dua pasukan, dan perintah amirul jihad untuk berperang. 
"Kalau niatnya berperang untuk kemaslahatan, itu berarti jihad," tukasnya.

Ketika berpendapat tentang aksi peledakan bom di Indonesia, yang salah satu 
pelakunya adalah kakak kandungnya sendiri, Luluk berargumen bahwa hingga saat 
ini dia belum yakin seratus persen kalau para tersangka versi polisi itu pelaku 
yang sebenarnya.

Luluk mengaku belum sempat menanyakan secara detail kepada Imam Samudera, 
apakah kakaknya memang benar pelaku peledakan. "Saya belum yakin, kalau tidak 
mendengar dari dia (Imam Samudera, Red) sendiri," ujarnya. Ketatnya persyaratan 
untuk menemui Imam, menurut Luluk, membuat keluarga tidak leluasa berkomunikasi.

Dia juga mengaku mengenal beberapa tersangka peledakan bom di Indonesia. Namun, 
dia enggan menyebutkan nama orang yang dikenalnya itu satu per satu. Meski 
begitu, Luluk menyatakan hingga saat ini, belum ada pihak yang ingin 
merekrutnya untuk melakukan bom bunuh diri. "Kalau ajakan berjihad ya tiap 
hari. Tapi, kalau untuk meledakkan bom tidak ada," akunya.

Dalam kesempatan itu Luluk menyatakan kekecewaannya pada keputusan Majelis 
Ulama Indonesia (MUI) yang meminta buku Imam Samudera Aku Melawan Teroris 
dibredel dan tidak boleh diterbitkan lagi. Menurut dia, keputusan itu sangat 
tidak bijaksana. "Kalau buku Kang Azis (panggilan Imam Samudera, Red) dibredel, 
kenapa buku-buku liberal-sekuler dan komunis lainnya tidak?" tukasnya. (candra 
kurnia harinanto)




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/BrzMLB/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke