Mencampur Jeruk dan Apel

Pengadilan Federal Amerika Serikat menyidangkan kasus pengajaran teori 
intelligent design yang membahas asal-usul alam semesta di sekolah. 
Pro-kontra apakah teori ini ilmu pengetahuan atau bukan pun terus berlanjut.

Hari itu hari penting bagi masyarakat Pennsylvania, Amerika Serikat. 
Puluhan wartawan berjubel menunggu di luar gedung Pengadilan Federal 
Harrisburg Pennsylvania. Suasana riuh ketika Matthew Chapman, lelaki yang 
sebelumnya tak banyak dikenal, muncul. Dia menyempatkan diri untuk datang 
karena pengadilan mempersoalkan teori kakek buyutnya, Charles Darwin, ahli 
biologi yang menggagas teori evolusi. Wartawan pun berebut mewawancarainya.

Kasus ini bermula ketika sekolah Dover Area mewajibkan pengajaran teori 
intelligent design kepada para siswanya. Teori ini disandingkan dengan mata 
pelajaran biologi tentang evolusi yang diajarkan di kelas 9. Teori itu 
menjelaskan bahwa evolusi bukanlah fakta dan tidak mampu menerangkan 
asal-usul kehidupan atau munculnya bentuk-bentuk kehidupan yang sangat 
kompleks.

Rupanya ada orang tua dari delapan siswa yang tidak setuju dengan langkah 
yang dilakukan pemimpin sekolah. Mereka mengajukan gugatan ke pengadilan 
dengan permohonan penghapusan teori intelligent design dari kurikulum 
pelajaran biologi. Mereka beralasan teori ini berpotensi menggiring siswa 
kepada cara pandang kitab suci terhadap makhluk hidup, yang pada gilirannya 
akan bertentangan dengan undang-undang dasar yang memisahkan gereja dengan 
negara.

Pada 26 September, pengadilan mulai menyidangkan kasus yang menjadi 
kontroversi di Amerika Serikat ini. "Intelligent design hanya menjadi label 
Dewan Sekolah yang bernafsu mengajarkan kreasionisme," kata Eric 
Rothschild, yang mewakili penggugat. Tuduhan itu dibantah Patrick Gillen, 
pengacara sekolah Dover Area. Menurut Gillen, teori ini merupakan gagasan 
baru dan gerakan ilmu pengetahuan yang sedang mengepakkan sayapnya. Dewan 
Sekolah, katanya, bermaksud mengajarkan ilmu pengetahuan pada tingkat yang 
lebih lanjut.

Juli lalu, Pew Research Center melakukan jajak pendapat terhadap 2.000 
responden yang dipilih secara acak. Hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 64 
persen responden setuju teori baru itu diajarkan bersanding dengan teori 
evolusi.

Asumsi dasar teori ini berangkat dari keyakinan bahwa alam semesta dan 
segala kehidupan yang ada di dalamnya, yang begitu kompleks, dihasilkan 
dari agen atau sesuatu yang cerdas. Mereka menolak konsep seleksi alamiah 
seperti yang dinyatakan dalam evolusi Darwin. "Seleksi alam tak akan bisa 
melahirkan makhluk yang kompleks." Mereka juga mengklaim teorinya melebihi 
pemikiran Darwin, bahkan teori mutakhir yang mampu menjelaskan asal-usul 
kehidupan.

Kontroversi teori ini semakin panas setelah Discovery Institute 
mempublikasikan kajiannya melalui internet pada 1999. Lembaga yang 
bermarkas di Seattle ini memang jadi salah satu pendukungnya. Sejumlah 
ilmuwan lintas disiplin menjadi pendiri dan peneliti, misalnya Phillip E. 
Johnson (profesor emeritus hukum), Stephen C. Meyer (filsuf), dan Jonathan 
Wells (biolog). Dua tokoh yang terkenal di barisan ini adalah William 
Dembski (ahli matematika, filsafat, dan teologi) dan Michael Behe (profesor 
biologi di Lehigh University dan ahli biokimia). Buku Behe yang berjudul 
Darwin's Black Box terbitan 1996 masuk jajaran buku laris.

Ada dua hal yang mereka anggap meruntuhkan teori Darwin, yaitu revolusi 
molekuler dalam biologiseperti kloningdan kajian baru dalam matematika yang 
meragukan proses seleksi alamiah dari evolusi. Untuk dua hal ini, Behe dan 
Dembski menjadi juru bicaranya. Tokoh lain yang juga kondang di kubu ini 
adalah Harun Yahya, ilmuwan Turki, yang kajiannya tentang penciptaan alam 
banyak mengutip Al-Quran.

Gagasan itu ditentang banyak ilmuwan. Yang paling nyaring suaranya adalah 
Richard Dawkins, ahli biologi yang menjadi guru besar di Oxford University. 
Menurut dia, teori intelligent design menyederhanakan kompleksitas awal 
mula dan gerak kehidupan dengan  argumennya soal sang pencipta. Sambil 
menyindir, para pengkritik bertanya, "Jadi, apa dan siapa yang menciptakan 
sang pencipta?"

Para pengkritik lainnya, US National Academy of Sciences, menilai teori 
intelligent design bukanlah ilmu pengetahuan, karena klaim mereka tidak 
dapat diuji melalui eksperimen. Pendapat senada juga diutarakan Pastor 
George Coyne, Direktur Vatican Observatory.  Dia menyalahkan kebijakan yang 
menyandingkan teori ini dalam satu mata pelajaran dengan evolusi. Keduanya 
beda, katanya, ibarat apel dengan jeruk.

Para pengecam juga menilai intelligent design merupakan wajah baru dari 
kreasionisme (aliran penciptaan). Aliran ini meyakini apa yang tertulis 
dalam Injil tentang sejarah penciptaan alam. Aliran ini dikembangkan di 
Indonesia oleh sekumpulan cendekiawan yang mendirikan Lembaga Sains 
Penciptaan Indonesia (LSPI) pada 1995. Yohannes Surya, fisikawan yang giat 
mendidik pelajar Indonesia mengikuti Olimpiade Fisika, mengakui ikut 
mendirikan lembaga itu. Namun, tidak sampai setahun, dia mengundurkan diri 
karena kreasionisme terlalu ekstrem menolak teori evolusi.

"Saya masih percaya adanya evolusi di level mikro, misalnya pada jerapah 
(yang lehernya bertambah panjang karena tiap hari mereka harus mendongak 
makan dedaunan yang tinggi letaknya)," katanya.

Surya menceritakan ilustrasi menarik tentang sejarah mobil yang bisa 
menjelaskan kontroversi di atas. Misalnya, ada makhluk luar angkasa yang 
setiap tahun mengunjungi bumi dan mencatat sejarah mobil. Berarti dia 
memiliki data per tahun tentang sejarah transportasi yang dimulai dari 
gerobak.

Alkisah, ada dua orang yang mendiskusikan data itu. Orang pertama bilang, 
terjadinya mobil karena satu proses panjang yang dimulai dari makhluk 
berkaki empat. Tiba-tiba kakinya lenyap dan berganti  menjadi roda. Ekornya 
juga lenyap. Nah, katanya, ini semua terjadi melalui evolusi yang lama 
sehingga mobil itu semakin cepat dan sempurna seperti saat ini.

Namun, orang kedua membantah. "Itu karena ada yang mendesain," katanya. 
Dimulai dari makhluk berkaki empat, lalu muncul makhluk lain yang 
menggantikan sebagai alat transportasi. Alhasil, setiap saat muncul desain 
baru hingga bentuknya yang sekarang.

Menurut Yohannes Surya, masyarakat tidak bisa melarang berkembangnya kedua 
pandangan itu. Keduanya juga tidak boleh mengklaim sebagai yang paling 
benar. "Sampai suatu saat kebenaran akan muncul," ujarnya.

Di Pennsylvania, debat "barang lama" itu masih bergulir.

Untung Widyanto (CNN, MSNBC, Newyorker)
(TEMPO, 28 Nopember 2005)



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke