http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=5989

Selasa, 06 Des 2005,


Indonesia Tetap Terkorup 

SINGAPURA - Dibandingkan sebelas negara besar di Asia, korupsi di Indonesia 
tetap paling parah. Berdasar survei yang dilakukan lembaga konsultan 
internasional yang bermarkas di Singapura, Political and Economic Risk 
Consultancy (PERC), Indonesia mendapat poin 9,44. Rentang skor itu -dari yang 
terbaik sampai yang terburuk- adalah 0-10.

Dalam pernyataannya, PERC menilai, parahnya tingkat korupsi itulah yang membuat 
pertumbuhan ekonomi Indonesia paling buruk di antara negara-negara yang ikut 
disurvei. Itu juga menjadi penghalang utama pertumbuhan bisnis dan investasi. 
Banyak investor asing yang enggan masuk.

Namun, PERC menyatakan terkesan terhadap tekad Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono dalam pemberantasan korupsi. "Sistem hukum di negara ini (Indonesia, 
Red) masih dipertanyakan. Tapi, Presiden SBY sudah meningkatkan upayanya untuk 
memerangi korupsi," kata PERC dalam pernyataannya kemarin. 

Dalam pandangan PERC, banyak pejabat tinggi yang ditangkap dan dihukum karena 
kasus korupsi. Itu memunculkan harapan bahwa korupsi bisa berkurang.

Sementara itu, posisi teratas dalam daftar yang dirilis PERC tersebut ditempati 
Singapura yang mendapat 0,89 poin, disusul Hongkong dengan 1,22. Kedua negara 
itu mendapat nilai paling bagus karena investor asing merasa yakin terhadap 
sistem hukum di sana. Kemudahan bagi korban korupsi untuk mendapatkan 
perlindungan hukum menjadi nilai tambah tersendiri. 

Karena itu, investasi asing terus mengalir ke kedua bekas koloni Inggris 
tersebut meski ongkos pekerja di sana lebih mahal daripada di negara lain. 
"Pelabuhan mereka bagus, infrastruktur kelas dunia, dan pekerja yang memiliki 
pendidikan tinggi. Meskipun Singapura dan Hongkong tidak punya sumber daya 
alam," papar PERC. 

Urutan di bawah Singapura dan Hongkong ditempati Jepang, Korsel, Malaysia, 
Taiwan, Thailand, China, India, Filipina, dan Vietnam. 

Khusus untuk Filipina, investor enggan masuk karena -meski di negara ini banyak 
korupsi- pemerintahannya tidak melakukan apa pun untuk mengatasinya. Sedangkan 
di China, investor senang terhadap upaya pemerintah menghukum pejabatnya yang 
korup. 

Apalagi, mereka sudah menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). 
Khusus di Thailand, PERC melihat sudah banyak perubahan hukum yang dilakukan. 
Sayang, perubahan itu hanya menguntungkan perusahaan besar yang memiliki kaitan 
dengan politisi yang berpengaruh. (afp/any)




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke