Senin, 9 Februari Seusai shalat Shubuh saya keluar untuk mencari toilet. Walaupun sudah mendengar sebelumnya, saya agak terkejut juga melihat di luar tenda banyak pepohonan, yang kemudian saya ketahui bahwa penanaman pohon-pohon tersebut dilakukan Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia atas usul Presiden Pertama RI Bung Karno.
Ketika meliwati Pos Kesehatan dokter Ifa menyapa, apakah saya perlunya dengannya, saya jawab bahwa saya akan ke toilet. Di depan tolet permamen yang baru dibangun1 banyak jemaah pada antri. Apa boleh buat, bersabar adalah suatu hal yang sewaktu-waktu tidak terhindarkan selama berada di Tanah Suci. Selesai sarapan pagi, kami keluar berkeliling, ternyata kemah kloter kami berada dekat batas Arafah. Kami lalu berfoto-foto di dekat tiang papan besar yang menyatakan bahwa kawasan itu merupakan batas Arafah. Kur dan saya sempat berfoto berdua di atas onta yang sedang jongkok. Saya tidak diperboleh berfoto ketika onta sedang berdiri oleh ‘Mat Kodak’ lokal merangkap pemilik onta, karena tidak dapat mengangkangkan kaki karena sedang berpakaian Ihram. “Berbahaya”, kan? Walhasil hanya Kur saja yang sempat “mejeng” di atas onta yang sedang berdiri, yang untuk satu kali jepretan, kami harus merelakan living cost kami berkurang 20 riyal. Puas berkeliling-keliling kami kembali masuk tenda menunggu saat berwukuf setelah matahari tergelincir. Tidak lama setelah selesai shalat zuhur yang diqasar dan dijamak dengan asar, Ustadz kami lalu berdiri dan dengan menggunakan megafon yang dipegang oleh seorang jemaah, beliau lalu mulai melaksanakan khutbah Arafah, yang---seperti biasa---tidak lupa menyapa kami sebagai “tamu-tamu Allah”. Beliau berkhotbah selama lebih kurang 20 menit, yang isinya antara lain mengulangi keutamaan ibadah haji. Selesai, berkhutbah beliau lalu memimpin kami berdoa, yang seperti biasa lalu kami aminkan. Beliau terus membaca doa, dan tentunya terus pula kami amin-aminkan. Lalu terdengar suara beliau agak parau, dan terlihat mata beliau mulai basah. Kami terus mengamin-aminkan, tetapi tidak menangis karena mungkin hanya sedikit di antara kami yang paham arti do’a dalam Bahasa Arab yang dibaca Pak Ustadz. Di dalam hati saya berharap Pak Ustadz segera mengakhiri do’a beliau yang cukup panjang itu, karena saya ingin bermunajah, mengadu dan berdo’a sendiri langsung kepada Allah di tempat di mana Ia membuka hijab, tempat di mana do’a lebih dikabulkan, pengaduan lebih diperhatikan, munajah lebih didengar dan pengampunan lebih disegerakan. Tetapi harapan tinggal harapan. Begitu selesai membaca do’a, beliau meminta kami bersujud syukur, dan berdoa buat kedua orang tua, yang lansung kami lakukan. Tetapi mungkin karena terlalu mendadak, sehingga kebanyakan jemaah mungkin tidak siap, hanya terdengar satu suara perempuan yang menangis. Saya sendiri sudah tidak ingat apa yang saya baca ketika sujud syukur tersebut. Setelah selesai sujud syukur, saya ingin bermunajah dan berdo’a sendiri langsung kepada Allah SWT. Tetapi apa hendak dikata, ketika tiba-tiba Ustadz kami berbicara melalui megafon dengan suara terharu atau diterharu-terharukan, “Inilalah yang dapat diberikan Yayasan dan Yayasan mohon maaf atas kekurangan-kekurangan pelayanan kepada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu”. Lalu sembari mengutip “Al-hajju Arafah” beliau beliau mengatakan “Hari ini Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sudah menjadi haji”, dan mengajak semua jemaah untuk berdiri untuk saling mengucapkan selamat. Semua jemaah lalu berdiri dan membentuk barisan lalu berjalan melingkar sembari bersalam-salaman sembari saling menempelkan pipi. Dengan gontai saya pun ikut berdiri mengikuti jemaah yang di depan saya. “Al-hajju Arafah”, lalu kami sudah “ditahbiskan” menjadi haji? Hampir tidak percaya saya kepada apa yang saya dengar dan saya lihat. Memang melempar tiga jumrah hanya merupakan wajib haji, yang bisa diwakilkan atau ditinggalkan dengan membayar dam. Tetapi Tawaf Ifadhah dan Sa’i Haji, bukan kah merupakan rukun haji, yang kalau tidak dikerjakan, maka haji seseorang tidak sah, dan harus mengulanginya kembali tahun depan? Hal lain yang sangat mengganggu perasaan saya, ialah pernyataan Pak Ustadz yang “mentahbiskan” kami “sudah menjadi haji”, karena beliau, atau siapapun tidak dalam posisi seperti itu. Bahkan saya tidak pernah menemukan hadis yang meriwayatkan Rasulullah SAW mengucapkan hal semacam itu kepada para sahabatnya ketika beliau berhaji. Sejujurnya, saat itu adalah saat yang paling mengcewakan saya selama berada di Tanah Suci. Tetapi saya tidak mau larut dalam perasaan kecewa. Ingat bahwa Kekuasaan, Kasih Sayang dan Kemurahan Allah SWT mengatasi benda, ruang dan waktu, dan setiap peristiwa ada hikmah yang tidak diketahui saat itu, mendorong saya untuk segera berjuang melawan kekecewaan, lalu mulai berdoa, bermunajah, mengadu dan mohon pengampunan kepada Allah SWT dengan khusuk, dan air mata sayapun mulai berlinang. Perasaan khusuk semakin mengental, ketika kembali saya mendengar suara Talbiah yang dilantunkan dengan lembut, khusuk dan syahdu dari tenda sebelah, yang setiap saya coba mengikutinya, saya tak kuasa menahan tangis saya. Suara talbiah kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surah-surah pendek sepertii Surat Al-Ihklas dan sebagainya. Mereka baru berhenti dan keluar dari tenda menjelang waktu magrib. Seusai shalat Magrib yang diqasar dan dijamak dengan Isya dan makan malam, kami mulai berkemas dan bersiap-siap untuk menunggu bus-bus yang akan membawa kami untuk mabit di Muzdalifah malam ini, dan sesudah Shubuh meneruskan perjalanan ke Mina untuk melakukan pelontaran jumrah Aqabah pada hari pertama. Kur termasuk yang pertama keluar dari tenda sembari menarik roda bagasi yang berisi handbag saya dan handbagnya sendiri. Saya tadinya hendak melarang karena khawatir udara di luar yang dingin akan menyebabkan dia sakit, tetapi saya tahu Kur yang punya kemauan keras tidak akan kembali ke dalam tenda karena dia sudah siap, saya diam saja. Akhirnya kami semua keluar tenda dan bergerak ke halte bus khusus. Setelah hampir satu jam berdiri dan mengetahui bahwa bus-bus yang akan menjemput kloter kami belum dikirim, kami beristirahat di dua buah tenda kosong di dekat halte yang penghuninya sudah berangkat. Lama menunggu, bus-bus yang ditugaskan menjemput kloter kami baru datang lewat tengah malam. Seperti biasa, rombongan kami mendapat dua bus. Hanya kali ini bus yang memuat kelompok Pak Ketua kafilah berada di depan, dan bus yang memuat kelompok kami yang dipimpin Pak Ustadz berada di belakang. Bus akan segera berangkat, dan kami melihat Pak Ketua Kafilah dan Pak Ustadz siap-siap naik keatas bus masing-masing. Ketika itu jarum jam menunjukkan pukul satu lewat tengah malam. 1) Sebelumnya perkemahan di Arafah hanya dilengkapi dengan toilet sementara yang tidak dilengkapi keran air sehingga jemaah harus membawa gayung atau botol-botol air kemasan, yang tidak jarang ditinggal begitu saja oleh jemaah setelah selesai melaksanakan keperluannya, sehingga menumpuk di sana ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

