Biarkan mereka bebas MERDEKA untuk menentukan nasib sendiri.....!

Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/12/07/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Bagaimana Mendekati Konflik Papua?
Oleh Jaap Timmer 



SEBAGAI antropolog yang memfokuskan sebagian besar penelitian tentang Papua, 
saya berkesempatan untuk mengamati secara dekat berbagai perkembangan dan 
pembangunan di daerah itu. Saya secara cermat mengumpulkan informasi dari 
mereka yang kritis dan objektif mengetahui keadaan di Papua, termasuk membaca 
berbagai sumber publik. 

Dari situ tampak adanya semacam paradoks, bagaimana Jakarta dan Papua saling 
mendekati. Kedua pihak ini sering terperangkap dalam prasangka lama yang telah 
mereka kembangkan selama ini, padahal prasangka itu keliru dan sering 
menyesatkan. Atas dasar demokratisasi yang terus berkembang pesat di Indonesia, 
saya ingin membagi pemikiran saya dengan para pembuat kebijakan di Jakarta dan 
Papua, bagaimana seyogyanya paradoks ini diselesaikan. 

Selama beberapa tahun terakhir, Papua sering mengalami dampak negatif dari 
ketidakkonsistenan kebijakan dari Jakarta. 

Yang banyak dikritik, termasuk oleh dunia internasional, adalah peraturan 
perundang-undangan yang saling bertentangan antara Otonomi Khusus untuk Papua 
yang utuh, dengan kebijakan pemekaran yang dituduh sebagai upaya untuk 
memecah-belah rakyat Papua. 

Sejak itu, para pengambil kebijakan di semua tingkat, baik di Papua maupun 
Jakarta, terperangkap antara yang mendukung dan yang menolak pembentukan 
provinsi Irian Jaya Barat. Selain itu, Otonomi Khusus tidak bisa 
diselenggarakan dengan baik karena pembentukan MRP tertunda selama empat tahun, 
sektor formal Papua yang kurang kapasitasnya, dan Jakarta yang tidak memberikan 
perhatian serius terhadap penanggulangan korupsi yang menggunung di daerah itu. 

MRP dikhawatirkan menjadi suatu lembaga super body bagi kaum separatis Papua. 
Padahal Indonesia sudah begitu maju dalam demokrasi, dan karenanya pasti mampu 
untuk menyalurkan dan mengakomodasi sentimen separatisme itu melalui cara- cara 
demokratis tanpa perlu mengorbankan integritas nasionalnya. 

Hal yang sama juga berlaku dengan lemahnya penanggulangan korupsi -padahal 
kebijakan nasional Indonesia sudah sangat tegas tentang hal ini, yang 
seharusnya mampu dilaksanakan oleh duet kepemimpinan Indonesia yang begitu 
tangguh saat ini. 

Pada saat yang sama kita melihat bahwa tuntutan dalam bentuk demonstrasi massa 
maupun melalui pemberitaan media massa agar Jakarta bersedia untuk berdialog 
dengan rakyat Papua, sering dipandang sebagai ancaman terhadap NKRI. Bahkan, 
LSM dan pemerintah di luar negeri pun sering dinilai sebagai ancaman terhadap 
persatuan dan kesatuan nasional Indonesia. 

Papua adalah masalah Indonesia. Apa yang dibutuhkan Papua adalah kesediaan 
Jakarta untuk bersikap dan berperilaku serius dengan terus menerus terlibat 
menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. 

Masalah-masalah ini, mulai dari kemiskinan yang paling ekstrim, eksploitasi 
sumber daya alam yang merusak, sampai pada lemahnya kapasitas lokal untuk 
menerapkan model-model cocok tata pemerintahan yang baik. 

Tingkat kemiskinan di daerah pegunungan dan pedalaman Papua adalah yang 
tertinggi di Indonesia, dan kesenjangan ekonomi antarwilayah mengakibatkan 
ketegangan antarkelompok masyarakat setempat. Tata pemerintahan yang buruk 
mengakibatkan jarak antara masyarakat dan pemerintah lokalnya semakin jauh. 

Selain itu, tindakan opresif aparat Negara dalam waktu yang lama di Papua telah 
menciptakan ingatan akan kekerasan dan pelecehan yang begitu meluas. Akumulasi 
dari berbagai dinamika ini mencuat dalam bentuk tuntutan kemerdekaan yang 
begitu mudah memobilisasi orang Papua, dan melumpuhkan Jakarta untuk mencari 
jawaban yang tepat terhadap tuntutan itu. 


Dua Alasan 

Ada dua alasan mengapa reaksi amarah dari kedua belah pihak sebenarnya bisa 
dihindari. Pertama, tuntutan lokal untuk kemerdekaan sebenarnya sangat beragam 
dan umumnya bukan tentang memiliki Negara yang merdeka, tetapi berisi tuntutan 
rakyat untuk diberikan hak berpartisipasi politik secara penuh, dan memperoleh 
manfaat yang adil dari eksploitasi sumberdaya alam. 

Kedua, kebijakan yang tidak jelas dari Jakarta, sebenarnya mencerminkan bahwa 
pengetahuan dan pemahaman Indonesia tentang Papua juga masih sangat sedikit. 
Kurang jelasnya kebijakan Jakarta ini semakin memperlebar jarak yang memang 
sudah lebar antara pemerintah dan masyarakat setempat. 



Apa yang seharusnya dilakukan? Yang sering diwacanakan, tetapi belum diupayakan 
secara serius, adalah dialog yang terbuka dan jujur dengan semua tokoh gerakan 
politik dan sosial di Papua. 

Termasuk di dalamnya mencari panduan kebijakan dalam bentuk formulasi 
strategi-strategi yang tepat untuk membangun Papua. 

Tokoh yang diajak dialog dari DPR Papua, Dewan Adat Papua, MRP, Presidum Dewan 
Papua, LSM, dan semua organisasi keagamaan. Seyogyanya Jakarta berinisiatif 
dengan memiliki rencana dan agenda yang mantap dan jelas. 

Rencana pembangunan yang dikembangkan Jakarta harus secara tajam berusaha 
menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh mereka yang paling menderita 
(perempuan dan anak-anak) dan wilayah-wilayah paling miskin. Selain itu juga 
harus pula membahas, bagaimana menyelesaikan perbedaan tingkat ekonomi antara 
orang Papua dan orang-orang pendatang. 

Sudah barang tentu hasil-hasil positif tidak akan dicapai apabila tidak 
tersedia ketrampilan dan sumber daya manusia yang mampu melaksanakan rencana 
tersebut. Karena itu, proposal yang disiapkan oleh pemerintah harus pula 
mencakup langkah-langkah komprehensif peningkatan kapasitas pemerintah di 
Papua, dimulai dari mereka yang berada pada posisi yang paling dekat dengan 
masyarakat. 

Komponen pengembangan kapasitas ini harus mampu menjawab ketidakcocokan yang 
mungkin timbul antara model-model atau prinsip-prinsip struktural pemerintahan 
modern dengan realitas sosial sehari-hari yang begitu beragam di tingkat akar 
rumput. 

Kearifan lokal untuk mengorganisasi masyarakat lokal, dan kemampuan untuk 
mengelola sumber daya setempat, haruslah menjadi tulang punggung setiap upaya 
pembangunan. Hal ini merupakan tantangan penting yang selama ini tidak 
diperhatikan oleh pemerintah, bahkan tidak diantisipasi oleh parlemen. 

Otonomi Khusus Papua sebetulnya mengandung prinsip-prinsip ini, tetapi umumnya 
tidak diterapkan karena kurangnya kapasitas, dan juga karena ada 
masalah-masalah lain yang terpaksa harus diberikan lebih banyak perhatian 
akibat ketidakkonsistenan kebijakan Jakarta tentang Papua. 


Tuntutan Merdeka 

Protes yang dilancarkan terhadap Otsus Papua di DPR Papua baru-baru ini, 
keterlibatan MRP dalam sejumlah perkara politik, dan ketertarikan masyarakat 
dalam Pilkada - semua ini menunjukkan keinginan kuat di hampir setiap tingkatan 
masyarakat untuk terlibat dalam politik. 

Tahun lalu, banyaknya rakyat Papua yang berpartisipasi dalam pemilu nasional, 
secara jelas menunjukkan ke-inginan mereka untuk mendukung pemerintahan sipil 
dan demokrasi di Indonesia. Intinya, ada keyakinan yang luas di Papua untuk 
terlibat dalam politik Indonesia melalui cara-cara demokratis. 

Karena itu, Jakarta seharusnya memperkuat perkembangan-perkembangan positif 
ini, dan mendukung mereka di Papua yang berjuang untuk membangun demokrasi. 
Pada saat yang sama, Jakarta pun harus menahan diri dari terlalu banyak campur 
tangan dalam politik internal di Papua. 

Mereka yang paling terganggu dengan campur tangan Jakarta ini adalah para tokoh 
yang agenda politiknya justru paling memiliki komitmen untuk membangun daerah 
dan rakyat Papua. Mereka ini seharusnya diajak dan dijadikan mitra oleh 
pemerintah pusat. 

Terhadap tuntutan `merdeka' dari Papua ini, Jakarta seharusnya tidak mundur 
tetapi menekankan kepada semua pihak bahwa Jakarta tahu bagaimana menyalurkan 
tuntutan merdeka itu menjadi kemandirian di dalam NKRI. Penderitaan yang 
dialami oleh orang-orang Papua ini akibat perlakuan aparat Negara harus pula 
diselesaikan melalui rekonsiliasi yang sejujur-jujurnya. 

Sekarang adalah saat yang tepat untuk merenungkan apa yang salah selama ini 
dalam merumuskan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Apabila sektor formal di 
Papua dapat berfungsi dengan baik, demikian pula sistem yudisialnya, 
pembangunan pasti memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Kehadiran 
militer, dengan demikian, tidak lagi berarti pelanggaran HAM. Akibatnya, 
tuntutan kemerdekaan menjadi semakin tidak berdasar. 

Tahapan terakhir integrasi total Papua ke dalam Republik Indonesia tinggal 
selangkah lagi. Sekarang adalah kesempatan bagi pemerintah pusat untuk menjawab 
akar penyebab ketidakpuasan di Papua yang bertumbuh, dengan melakukan reformasi 
yang telah lama dijanjikan itu. * 

Penulis adalah peneliti pada Pusat Penelitian Pasifik dan Asia di Universitas 
Radboud, Nijmegen, Belanda 


Last modified: 7/12/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]



    
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS 

    
    Visit your group "ppiindia" on the web.
    
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
    
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 

    
---------------------------------
  




                        
---------------------------------
Yahoo! Shopping
 Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping 

[Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke