pegel banget bacanya....

cerita boediono jadi menteri ternyata berhubungan dengan
kejadian prri/permesta dan g30s 40 tahun lalu ya....?

untung gak dikaitkan dengan alien yang bikin pola
bulat-bulat ditengah ladang gandum....



At 11:40 AM 12/8/05 +0700, you wrote:
>
>
>jimmy okberto
>-----Original Message-----
>From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>On Behalf Of Gita, Gustina Rahayu
>Sent: Thursday, December 08, 2005 10:50 AM
>  Cerita Di Balik kenaikan Budiono.
>Tiba-tiba dengan kejutan yang luar biasa, bahkan bagi kalangan wartawan
>investigasi sekalipun, Presiden mengumumkan rencananya yang sudah
>memiliki tingkat kepastian politik, dimana  Budiono mantan Menkeu di
>jaman Ibu Megawati Sukarnoputeri, yang juga kolega Presiden SBY
>saat-saat di kabinet Mega. Masuk kembali ke jajaran kabinet SBY-Kalla.
>Ini kejutan yang bukan main, karena nama Budiono sejak awal ditolak
>habis-habisan oleh Jusuf Kalla, bahkan sejak pembentukan kabinet rezim
>SBY-Kalla, setahun lalu (Th.2004). SBY sekali lagi telah mulai
>menggeliat dari tangan kuat Kalla, sekaligus pelan-pelan menyingkirkan
>peran Kalla, walaupun yang di korbankan mungkin saja Jusuf Anwar, orang
>netral dalam kabinet SBY-Kalla, tetapi memiliki kecenderungan untuk
>memihak SBY. SBY mengorbankan orang pilihannya (Jusuf Anwar) demi
>langkah selanjutnya yang lebih prinsipil menghilangkan secara penuh
>warna Kalla-Bakrie dalam tim ekonomi dan memulihkan kendali politik ke
>tangan SBY dari kendali Kalla yang sudah mengusik perannya sebagai
>Presiden.
>Untuk menelisik lebih jauh apa dan mengapa SBY memasukkan Budiono serta
>rencana-rencana selanjutnya bagi SBY untuk memulihkan kendali politik
>dan ekonomi ke tangannya, maka bisa kita susuri satu persatu peristiwa,
>kinerja tim ekonomi dan tarik menarik politik antara berbagai kekuatan
>yang mengerubungi Istana dan cerita-cerita emosional di balik kenaikan
>Budiono.
>Perseteruan kubu pro-IMF, Golkar dan Anti-IMF
>Ada segitiga kekuatan yang sekarang berada di lingkaran inti kekuasaan
>ekonomi di Indonesia. Mereka adalah kubu ; Pro IMF, yang sering
>disebut-sebut sebagai kaum kanan, Golkar dengan sebutan tengah-kanan.
>Dan Anti-IMF yang sering disebut oleh lawan politiknya sebagai
>orang-orang kiri. Pada saat kekuasaan Suharto mengalami krisis hebat,
>dimana intervensi IMF sudah masuk secara lugas ke dalam kebijakan
>ekonomi Indonesia akibat krisis moneter 1997, IMF membangun jaringan
>kekuasaannya dengan memasukkan orang-orang yang berpaham benar-benar
>'western' dalam landasan pemikiran ekonominya. Orang-orang ini menganut
>paham kebijakan
>yang pro-Amerika, bersikap moneteris Milton Friedman, dan tidak menyukai
>gagasan-gagasan campur tangan negara yang kuat bahkan untuk berpikir
>secara neo keynesian saja mereka mengharamkan. Kelompok ini berpusat
>pada orang-orang yang pernah direkrut IMF sebagai karyawannya dan
>ditempatkan di seluruh penjuru dunia, sebagai karyawan duta. Tokoh utama
>dalam kelompok ini berpusat pada Sri Mulyani Inderawati, seorang ahli
>ekonomi lulusan UI dan melanjutkan studinya di Amerika Serikat. Sri
>Mulyani (-yang pada saat itu di luar  kabinet-) membangun kelompoknya
>yang sangat pro-IMF di lingkaran kekuasaan Megawati pada saat itu.
>Orang-orang yang berada satu jalur dengan Sri Mulyani dan memiliki akses
>kepada kekuasaan di kabinet Megawati adalah : Laksamana Sukardi, Rini
>Soewandi dan beberapa dirjen di lingkungan departemen (keuangan,
>industri dan perdagangan), termasuk Bank Indonesia yang dikuasai
>kelompok Miranda Gultom. Jaringan Sri Mulyani telah melaju kuat dan
>sempat menekan kelompok Dorodjatun Kuntjorodjakti yang didukung Menkeu
>Budiono. Awalnya Dorodjatun bersikap konservatif terhadap agresivitas
>kelompok Sri Mulyani dalam hal tuntutan kenaikan BBM, namun akhirnya
>sikapnya melunak.Penghapusan subisidi BBM yang menjadi pokok utama
>tuntutan IMF dalam memulihkan kondisi keuangan negara, mendapatkan
>tantangan yang kuat dari orang-orang yang boleh disebut berpaham
>sosialis. Orang-orang 'kiri' ini awalnya menumpukan kekuatan pada
>DR.Rizal Ramli (bekas tahanan politik Malari dan rekan aktivis
>Dorodjatun periode perlawanan politik mahasiswa dan intelektual, 1974).
>Tetapi kesalahan yang utama bagi Rizal Ramli adalah berharap banyak dari
>dukungan politik Gus Dur. Aksi politik Gus Dur yang menggusur berbagai
>kelompok yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya dan menempatkan
>orang-orang yang kurang kredibel dalam posisi-posisi strategis, membuat
>kubu Megawati pda saat itu didekati oleh kekuatan-kekuatan politik yang
>menghendaki ditumbangkannya Gus Dur dari posisi jabatan Presiden. Kubu
>Megawati yang pada awalnya enggan menyambut gandengan politik
>lawan-lawan politiknya yang dulu mengganjal posisi dia di Senayan tahun
>1999, perlahan mulai membuka diri. Puncaknya adalah terowongan politik
>yang dibangun oleh suaminya, Taufik Kiemas ke kelompok penentang Gus
>Dur. Taufik Kiemas membangun aliansi kepada Amin Rais dengan komitmen
>menaikkan Megawati sebagai Presiden dan mengamankan posisi-nya sampai
>tahun 2004, menugaskan Amin Rais menyatukan sikap di kalangan umat Islam
>untuk berada di bawah kekuasaan Megawati dan tidak mengusik apapun yang
>diperbuat Megawati termasuk pembentukan Kabinet. Megawati yang leluasa
>membentuk kabinet akhirnya memasukkan dua orang ke dalam posisi paling
>strategis dalam kabinetnya, yaitu : Dorodjatun, sebagai Menko
>Perekonomian, dan Budiono sebagai Menteri Keuangan. Keputusan Megawati
>ini banyak diwarnai oleh nasihat mantan menteri senior di Era Suharto,
>Prof. Widjojo Nitisastro. Awalnya naiknya Dorodjatun disambut gembira
>kelompok kiri walaupun Rizal Ramli telah tersingkir. Kelompok kiri saat
>itu menggeser gantungan harapannya kepada : Kwik Kian Gie, seorang
>akademisi cemerlang lulusan Rotterdam yang pikirannya bergaya sosialis,
>bahkan disebut-sebut sebagai sosialis garis keras. Namun kegembiraan
>kelompok kiri ini tidak berlangsung lama, karena orang se-partai Kwik di
>PDI-P, Laksamana Sukardi menjadi penantang setiap kebijakan yang condong
>ke kiri. Bahkan Laksamana melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat
>tercela di mata orang-orang kiri, yaitu ; melakukan penjualan BUMN,
>layaknya seperti sopir angkot yang mengejar setoran. Kwik kerap
>berseteru dengan Laksamana, terutama masalah ikut campurnya IMF dalam
>kebijakan-kebijakan ekonomi di Indonesia. Bahkan suatu saat Kwik nyaris
>mengucapkan "Go To Hell, IMF". Kwik yang menampik IMF jelas-jelas
>memposisikan dirinya pada situasi yang sulit. Karena pada saat itu
>anggaran keuangan negara membutuhkan dana segar, kelompok-kelompok
>negara kreditur yang biasanya kerap menggelontorkan dana bersikap
>hati-hati memberikan pinjaman ke Indonesia, perhatian mereka lebih
>kepada negara-negara berkembang yang sehat seperti : Vietnam, Meksiko
>dan pemulihan kondisi moneter di Argentina. Keuangan global yang
>diposkan ke negara-negara berkembang tidak jatuh ke Indonesia. Dan
>inilah yang membuat posisi IMF semakin kuat, karena berkat lobby IMF ke
>sindikasi keuangan internasional dan kesediaan IMF memberikan dananya ke
>Indonesia dalam beberapa tahap juga janji penyelesaian urusan khusus IMF
>yang dimulai tahun 1997 dan akan berakhir 2003, mau tak mau membuat
>orang-orang Sri Mulyani mendapat angin. Menguatnya kubu Mulyani
>pelan-pelan mengikis habis orang-orang kiri di kabinet Megawati,
>ditambah kelompok tengah-kanan (Golkar) yang setelah jatuhnya Suharto
>melakukan politik defensif, mulai mendapatkan jalan untuk memperkuat
>negosiasi. Golkar memiliki dua kubu pada era Megawati. Kubu Akbar
>Tanjung, dengan komandan strategi Mahadi Sinambela dan kubu Iramasuka
>(Indonesia Timur) yang dikomandoi Jusuf Kalla, Marwah Daud Ibrahim dan
>belakangan Agung Laksono membelot ke kubu Iramasuka. Kasus bulog II,
>yang menimpa Akbar merupakan 'handycap' utama bagi kubu Akbar dalam
>melakukan manuver politiknya, entah kenapa Akbar seakan-akan
>menggadaikan kubunya ke Megawati dengan dua pinjaman politik, memuluskan
>Megawati mempertahankan jabatan Presiden, lalu kedua, Megawati berjanji
>mendukung upaya-upaya lolosnya Akbar dari jeratan hukum. Kasus Bulog II,
>juga membuat Akbar melakukan blunder terbesar yang berakibat
>tersingkirnya Akbar dari ketua umum Golkar, blunder itu adalah mekanisme
>pencalonan Presiden oleh Golkar lewat proses konvensi. Dalam konvensi
>itu Akbar benar-benar dipermalukan oleh Wiranto, seorang Jenderal yang
>sepanjang karir militernya berada di luar garis Beringin (tidak seperti,
>Sudharmono, Hartono ataupun Prabowo). Akbar memang pernah mencoba
>menghubungi SBY sesaat sebelum ide konvensi berlangsung, namun keinginan
>Akbar itu kandas karena gadai politik terhadap Megawati. Megawati tidak
>akan suka sekutunya membangun aliansi dengan lawan politik yang paling
>dibencinya, bahkan kebencian terhadap SBY sudah masuk ke wilayah pribadi
>Megawati. Singkat cerita Akbar tersingkir, karena ketidakpercayaan
>cabang terhadap dirinya karena dipecundangi Wiranto, dan Golkar yang
>memiliki prinsip politik paling jelas, yaitu : 'Siapa yang berkuasa, dia
>yang kita bela' menjadi semakin berwarna Iramasuka ketika Kalla berhasil
>menduduki kursi wapres. Dengan mudahnya setelah setelah serangan kilat
>empat bulan, Kalla berhasil duduk menjadi ketua umum Golkar. Kalla
>dengan cepat pula menendang Akbar Tanjung yang sudah bersiap-siap
>memecat Kalla karena memihak kepada pihak lain tanpa seijin DPP. Kalla
>menang dan menguasai jalannya kekuasaan di tubuh Golkar.
>Menguatnya kelompok Kalla.
>Jusuf Kalla yang memiliki latar belakang pengusaha nasional dari
>Indonesia Timur dan kurang tercebur pada proses politik Suhartorian di
>era Orde Baru, memiliki kejeniusan politik yang luar biasa dalam
>membangun strategi politiknya. Proses-proses negosiasi dagang dimana dia
>memiliki pengalaman selama 30 tahun sebagai penguasaha membuat ia
>terbiasa berjalan di tengah konflik lalu mengambil keuntungan, dan
>meng-akumulirnya. Kalla tidak terbiasa dengan politik harmoni, ataupun
>politik yang memiliki unggah-ungguh (etika) Jawa, dimana mayoritas
>politisi Indonesia diluar Gus Dur, sangat mematuhi etika itu. Jaringan
>utama Kalla adalah pedagang praktis, dia bukan industrialis yang
>terbiasa dengan pola pikir strategis jangka panjang, otak Kalla yang
>pedagang sangat bernafsu bila melihat keuntungan-keuntungan jangka
>pendek. Strategi Kalla adalah strategi jangka pendek yang kemudian,
>keuntungan-keuntungannya diakumulir dan menyebar kedalam pukulan-pukulan
>politik yang mematikan. Akbar Tanjung sudah merasakan hebatnya pukulan
>Kalla. Dan cara dagang politik Kalla membuat benturan-benturan politik
>yang kadang menggoyang harmoni, cara Kalla mengingatkan kita pada gaya
>Wakil Presiden Adam Malik (1978-1983).
>Jaringan Kalla yang pedagang praktis mendekatkan Kalla kepada
>kelompok-kelompok dagang pribumi, yang selama ini kurang mendapat
>perhatian politik di era Presiden Suharto. Pedagang-pedagang pribumi
>dengan segala macam asosiasinya mendapat perhatian Kalla dan dijadikan
>Kalla sebagai benteng terkuat untuk melakukan tawar menawar politik,
>bila Amien Rais menggunakan Muhammadiyah sebagai kuda tunggangan, Gus
>Dur Nadhlatul Ulama, Megawati Nasionalis-Sukarnois, Wiranto
>Nasionalis-Sekular-Orde Baru, Hamzah Haz, Islam-Luar Jawa, maka Kalla
>menggunakan Kadin, Hipmi, dan jaringan dagang Indonesia Timur sebagai
>kendaraan politiknya. Awalnya bila dilihat kendaraan politik Kalla
>paling lemah diantara semua pemain politik yang berperang pada pemilu
>Presiden (kecuali Gus Dur yang diganjal KPU). Tetapi nasib baik berpihak
>pada Kalla, tiba-tiba mencuat kharisma politik yang luar biasa dari
>Susilo Bambang Yudhoyono, koleganya paling dekat pada kabinet Megawati.
>Diusir dan didiamkannya SBY oleh Megawati, membuat opini masyarakat yang
>selama ini kecewa dengan perilaku politik Mega, memberikan dukungan
>penuh kepada SBY. Rebutan pinangan ke SBY dilakukan oleh lawan-lawan
>politik Megawati, tapi SBY selalu menolak, sedari awal ia menginginkan
>Kalla sebagai pasangan politiknya. Kalla yang menjaga perasaan Megawati
>-orang yang berjasa membersihkan namanya dari segala tuduhan Gus Dur-
>mengulur waktu untuk menerima tawaran SBY. Namun ketika Kalla mendengar
>SBY sudah akan bergandengan dengan pesaing politiknya, ia segera
>menghubungi SBY dan langsung mengajak kerjasama. Kerjasama politik
>antara SBY dan Kalla menyiratkan kemenangan bagi kelompok kanan yang pro
>IMF. Karena pada saat itu Golkar lebih menyenangi kelompok kanan
>ketimbang musti bersekutu dengan orang-orang kiri.
>Kalla bersekutu dengan Aburizal Bakrie
>Aburizal Bakrie, pengusaha nasional Indonesia yang sering mengklaim
>dirinya sebagai front terdepan pengusaha pribumi Indonesia, besar dalam
>lingkungan usaha. Ayahnya Abdullah Bakrie adalah pendiri NV. Bakrie,
>sebuah perusahaan kontrak minyak dengan investor asing yang laris dalam
>menekuni bisnis subkontraknya. Dan ditangan Aburizal perusahaan Hadji
>Bakri berkembang sedemikian rupa, pesat perkembangannya. Tapi
>perkembangannya itu didukung oleh kemampuan Aburizal bermain di
>ruang-ruang kekuasaan liwat asosiasi-asosiasinya, seperti Hipmi atau
>Kadin.
>Disinilah Kalla mengenal Bakrie, liwat asosiasi pedagang yang sedikit
>banyak mengobarkan semangat anti cina dan menebalkan perasaan pribumi
>(hal yang sudah dilakukan dalam lebih satu abad sejak bangkitnya Sarekat
>Dagang Islam/SDI) dalam melakukan kampanye-kampanye bisnisnya. Dan ini
>tidak disukai oleh golongan konglomerat-konglomerat cina besar seperti
>Bian Koen dan Bian Kie, yang menyerang Aburizal dan terang-terangan
>mendukung Megawati.
>Kalla melihat Aburizal Bakrie sebagai sebuah kekuatan potensial untuk
>menumbuhkan basis politik dengan dasar kekuatan pasar. Kalla yang sudah
>lama tidak menyukai dominasi pengusaha-pengusaha Cina secara sadar
>menempatkan gerbong Aburizal Bakrie sebagai kekuatan besar yang
>diharapkan menandingi kekuatan kelompok Cina dan kompradornya. Dan sikap
>kaku Kalla ini jauh lebih tidak bersahabat daripada sikap Megawati yang
>sudah terbiasa menghadapi kelompok pengusaha Cina karena pengaruh
>bapaknya, Sukarno yang tidak pernah menempatkan politik rasis sebagai
>barang dagangan.
>Dengan demikian persekutuan politik antara Kalla-Bakrie lebih kepada
>penandingan terhadap kelompok Cina tapi kenyataan politik berjalan lain,
>persekutuan ini musti berhadapan dengan musuh yang tak diduganya :
>kelompok pro-IMF, dimana sedari awal mereka menganggap pro-IMF ini
>adalah teman yang jauh dari pikiran menggangu tapi apa daya idealisme
>SBY telah menjebak persekutuan mereka menjadi berhadap-hadapan dengan
>kaum kanan.
>Dan tanpa sadar menggiring mereka membuka front terbuka terhadap SBY.
>Kini pemegang kekuasaan setelah pemilu 2004 semakin jelas, Susilo
>Bambang Yudhoyono (SBY) yang didukung tentara Angkatan Darat dan Laut,
>partai-partai kecil (termasuk Demokrat) yang berhaluan Nasionalis,
>Partai-Partai Islam moderat (PKS, PBB, PPP dan PBR) dan Partai Amanah
>Nasional (PAN) yang baru pada detik-detik terakhir memberikan
>dukungannya. Jusuf Kalla telah menguasai seluruh gerbong Golkar dan
>menyingkirkan unsur Akbar Tanjung dalam DPP, hanya sebagian kecil
>lasykar Akbar tersisa di DPC-DPC  ( sebagian Jawa dan Sumatera ).
>Gabungan antara SBY dan Kalla telah cukup untuk menyetir parlemen dan
>membungkam lawan politik utama SBY-Kalla, PDI-P pimpinan Megawati yang
>kadang-kadang dibantu PKB versi Gus Dur.
>Kemenangan SBY dan Kalla yang sangat telak, malah  bukan menciptakan
>sinergi dalam kubu pemerintahan baru tapi yang terjadi adalah
>meruncingnya persaingan, dan persaingan ini mulai dibuka menjadi
>genderang perang. Dan perang itu bermula pada saat penyusunan kabinet.
>Front pertempuran dibuka pada saat-saat formasi kabinet tim ekonomi. SBY
>yang sedari awal sudah tenang karena menganggap dirinya mahir dalam
>menciptakan strategi ekonomi jangka pendek, menengah dan panjang dengan
>visinya. Ternyata dikejutkan dengan sikap Kalla. SBY tidak menyangka
>Kalla memiliki pandangan politiknya yang begitu bertentangan dengan apa
>yang dimaui SBY. Perang mulut terjadi ketika membahas siapa yang layak
>menjabat posisi Menteri Koordinator Ekonomi dan Menteri Keuangan, SBY
>mengantungi nama Sri Mulyani, Dorodjatun, Marie J Pangestu, Kwik Kian
>Gie (akhirnya dicabut karena penolakan Megawati yang tidak mau Kwik
>membantu SBY). Sementara Jusuf Kalla menyodorkan Aburizal Bakrie, Rahmat
>Gobel dan sederet nama pengusaha yang tidak berlatar belakang akademis
>yang kuat sebagai inti dalam tim ekonomi. Kelompok Islam yang dikomandoi
>kubu PKS malah memperkeruh suasana, orang-orang dari partai Islam tidak
>suka jika Sri Mulyani dan Marie J Pangestu yang sudah mendapat stigma
>IMF-girls, masuk sebagai menteri utama Kabinet SBY.
>Detik-detik terbentuknya tim ekonomi SBY-Kalla
>Layaknya sebuah pernikahan, pertarungan kuasa siapa yang pegang kendali
>rumah tangga isteri atau suami biasanya terjadi di bulan-bulan pertama
>pernikahan, berbagai macam strategi dilancarkan baik dari pihak suami
>ataupun isteri. Begitu pula pada penguasa-penguasa Indonesia setelah era
>Sukarno-Suharto, semuanya penuh hitung-hitungan. Memang bila dipikirkan
>tidak mungkin SBY yang meraih kemenangan besar musti tunduk pada
>pendampingnya yang kekuasaannya jauh lebih kecil. Tapi Kalla bisa
>bersikap sebagai kancil, Ia berpendapat bisa saja SBY menang dalam
>Pemilu, tapi ia bisa saja dijatuhkan jikalau tidak dilingkari partai
>politik yang kuat, seperti kasus Gus Dur. Dimana pada awalnya Gus Dur
>meraih dukungan karena popularitas di parlemen juga karena akal-akalan
>Amien Rais namun ternyata, Gus Dur dijegal di tengah jalan sekaligus
>setengah dipermalukan. Kesalahan Gus Dur hanya satu..tidak punya partai
>yang kuat. Dan kini Kalla memilikinya, lalu SBY musti membayar semua
>itu.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke