Catatan A. Umar Said

(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak)




                    GENERASI ORDE BARU ADALAH

                    GENERASI BUSUK BANGSA





Melihat pembusukan yang sudah amat parah sebagai akibat korupsi dan
menggunungnya kesulitan-kesulitan besar di banyak bidang politik, ekonomi,
sosial   - dan moral !!! – yang dihadapi oleh bangsa kita dewasa ini, maka
kita bisa bertanya-tanya apakah kita masih patut merasa bangga menjadi
bangsa Indonesia ? Dan apa sajakah yang masih bisa atau  pantas dibanggakan
oleh Republik Indonesia sekarang ini? Apakah kita sekarang ini tidak malu
sebagai orang Indonesia ?



Kalau mau bersikap jujur terhadap diri kita masing-masing, maka, sungguh,
itu semua merupakan pertanyaan yang tidak mudah  kita jawab. Untuk itu kita
patut merenungkan bersama-sama, berbagai soal yang dihadapi rakyat kita di
masa yang lalu, di masa kini dan di masa depan..

.

Negara kita sekarang ini sudah terkenal di dunia sebagai negara yang paling
terkorup tetapi yang paling sedikit koruptornya yang ditangkap. Indonesia
sudah juga  - sejak puluhan tahun ! -  terkenal di dunia sebagai negara di
mana pernah terjadi pembunuhan besar-besaran  terhadap jutaan orang tidak
bersalah, tetapi tidak seorang pun di antara pembunuhnya dituntut atau
diadili (!!!).  Republik Indonesia juga dikenal oleh berbagai organisasi
internasional sebagai negara yang tidak menghargai Hak Asasi Manusia. Para
korban 65 dan para eks-tapol beserta keluarga dan sanak-saudara mereka masih
juga belum mendapat perlakuan yang adil, walaupun 40 tahun sudah berlalu
sejak rejim militer Suharto melakukan berbagai kebiadaban yang keterlaluan
itu. Sementara itu, Indonesia juga sudah terkenal di dunia sebagai negara di
mana terorisme, yang menyalahgunakan nama Islam, beroperasi secara aktif.



Sesudah jatuhnya Suharto sebagai presiden tahun 1998,  dan kemudian
digantikan berturut-turut oleh Habibi, Gus Dur, Megawati dan sekarang
SBY-Jusuf Kalla, keadaan politik, ekonomi dan sosial negeri kita tidak
mengalami perobahan besar atau tidak meraih perbaikan fundamental bagi
kehidupan rakyat banyak, yang merupakan 90 % penduduk Indonesia yang
berjumlah sekitar 230 juta orang. Bahkan sebaliknya, banyak tanda-tanda yang
menunjukkan, bahwa keadaan pada umumnya malahan merosot atau mundur, kalau
pun tidak dikatakan mandeg.  Yang menyedihkan sekali, ialah tidak adanya
perspektif  - dalam jangka dekat - tentang akan terjadinya  perbaikan yang
radikal bagi kehidupan sebagian besar rakyat. Setahun lagi, lima tahun lagi,
lima belas tahun lagi ?





PENGANGGURAN DAN ORANG MISKIN



Kalau melihat banyaknya persoalan-persoalan rumit yang tak kunjung bisa
diselesaikan, ditambah lagi dengan menumpuknya kesulitan-kesulitan baru,
maka masuk akallah kalau ada orang yang sudah putus asa terhadap hari
kemudian bangsa. Sebab, hutang luar negeri kita yang sebesar sekitar US$ 150
miliar masih terus merupakan beban berat bagi seluruh rakyat. Inflasi yang
sekarang sekitar 17% diperkirakan akan melebihi 18% di akhir tahun
(Republika, 18/11/2005). Karena naiknya harga BBM banyak UKM (Usaha Kecil
Menengah) yang terpaksa tutup atau menciutkan usaha. Sebagai akibatnya,
pengangguran terbuka yang sudah besar, makin membengkak terus.



Dengan terjadinya banyak PHK di industri tekstil, alas kaki dan  makanan,
maka pengangguran setengah terbuka pun melonjak, sehingga pengangguran
seluruhnya menjadi sekitar 30 juta dari seluruh angkatan kerja yang sebesar
107 juta orang. Jumlah pengangguran di Indonesia dewasa ini

sudah merupakan ancaman yang nyata bagi stabilitas politik dan keamanan.
Pengangguran di kalangan generasi muda membikin meluasnya frustasi juga di
kalangan orang tua mereka.



Karena itu, jumlah orang miskin kota dan pedesaan yang sudah besar itu, juga
tidak makin berkurang dalam jangka waktu dekat, dan bahkan sebaliknya.
Tayangan televisi (dan berita dalam pers) di masa lalu tentang penderitaan
banyak ibu-ibu tua ketika berebutan antri  - ada yang tewas atau
pingsan-pingsan - untuk menerima BLT (Bantuan Langsung Tunai) sebesar RP
300.000 selama 3 bulan membuka mata banyak orang tentang keadaan sebenarnya
bangsa kita. Sungguh menyedihkan! Dan sangat memalukan !!!





SEBAGIAN TERBESAR RAKYAT MENDERITA, TETAPI ......



Boleh dikatakan bahwa sebagian terbesar rakyat Indonesia tahu bahwa
kehidupan sehari-hari  memang sulit . « Harga beras saja sudah Rp 3.000 per
liter, harga minyak saja sudah Rp 3.000 per liter, harga telur sudah 10.000
per kilogram. Sementara dana kompensasi dalam satu bulan itu hanya Rp 100
ribu, jadi satu hari hanya Rp 3.300. Bagaimana sekeluarga bisa cukup dengan
dana itu? » , begitu tanya sebuah tulisan dalam Bali Post (21 November
2005).



Namun, kehidupan sebagian terbesar rakyat yang amat menyedihkan ini
kelihatannya tidak dipedulikan sama sekali  oleh banyak tokoh-tokoh di
pemerintahan, di partai-partai politik, di lembaga-lembaga sipil dan
militer. Contohnya, yang bisa menyakitkan hati banyak orang, ialah hiruk
pikuk tentang usaha di kalangan  Dewan Perwakilan Rakyat untuk menaikkan
dana operasional dengan Rp 15 juta sehingga pendapatan mereka per bulan
menjadi Rp 30 juta per orang.  Mereka mengusulkan kenaikan gaji  yang
keterlaluan ini ketika kemiskinan melanda rakyat di 199 kabupaten yang masuk
kategori daerah tertinggal (Media Indonesia, 15/7/2005).



Di samping itu, dalam pelaksanaan desentralisasi kekuasaan dalam rangka
otonomi daerah di banyak DPRD terjadi juga “desentralisasi korupsi”. Korupsi
besar dan kecil, dewasi ini  - dan sejak lama -  merupakan penyakit yang
parah di daerah. “Korupsi terbesar di Indonesia tahun 2004 dilakukan di
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, disusul kepala daerah, aparat pemerintah
daerah, direktur badan usaha milik daerah, serta pimpinan proyek. Dari 432
kasus korupsi yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun
2004, sebagian besar dilakukan oleh DPRD. Demikian catatan Indonesia
Corruption Watch.(Kompas, 18/2/2005)





GENERASI ORDE BARU ADALAH GENERASI BUSUK



Jadi, korupsi (atau, dalam bahasa lugunya : pencurian oleh maling-maling),
tidak hanya banyak terjadi di Jakarta saja, melainkan juga sudah melanda di
daerah-daerah secara parah. Ini berarti, bahwa di negara kita memang sedang
berkuasa banyak  pejabat yang menjadi penjahat, yang menyelinap di berbagai
bidang eksekutif, legislatif dan judikatif. Dan kalau kita teliti
benar-benar riwayat hidup mereka, maka akan nyatalah  bahwa kebanyakan
koruptor yang merajalela di Jakarta dan daerah-daerah ini, adalah -  pada
umumnya -  ketika masa Orde Baru  orang-orangnya Golkar atau pendukung
rejimnya Suharto. Dan (harap dicatat dengan huruf besar-besar), kebanyakan
koruptor ini adalah orang-orang terkemuka yang umumnya sudah kaya-raya. Jadi
mereka melakukan korupsi bukan karena kebutuhan hidup sehari-hari yang
mendesak. Melainkan, karena ketamakan, yang bersumber pada rendahnya moral.



Sejarah Orde Baru sudah membuktikan bahwa moral atau mentalitas para tokoh
pendukung utamanya (walau pun tidak semuanya !) tidaklah bisa digolongkan
luhur dalam menghadapi kepentingan rakyat dan negara. Seperti sudah
disaksikan oleh banyak orang selama ini, sistem politik dan pemerintahan
Orde Baru ( yang intinya adalah golongan TNI-AD dan Golkar) bukan hanya
represif atau otoriter saja tetapi juga korup. Sebagai akibat berbagai
kejahatan, kemaksiatan dan pelanggaran yang dilakukan selama lebih dari 32
tahun, bolehlah kiranya dikatakan bahwa « generasi Orde Baru » adalah satu
generasi bangsa Indonesia (sudah tentu saja, tidak seluruhnya!)  yang paling
busuk dalam sejarah bangsa. Generasi Orde Baru telah merusak apa saja yang
luhur dari bangsa Indonesia dan juga apa saja yang terbaik dari Republik
Proklamasi 45.  Ini sudah dibuktikan di masa lalu, di masa kini ini, dan
juga akan lebih gamblang lagi di masa yang akan datang.



Dalam menghadapi banyaknya masalah-masalah besar bangsa dan merosotnya moral
bangsa dewasa ini, terasa sekali kebutuhan adanya tokoh besar bangsa, yang
bisa menjadi panutan sebagian terbesar rakyat, yang berwibawa, yang memiliki
integritas yang tinggi, yang betul-betul bisa mempersatukan seluruh bangsa
yang bersifat majemuk. Kita memerlukan adanya kepemimpinan  yang berbobot,
yang betul-betul mampu melaksanakan Bhinneka Tunggal Ika dalam praktek
kehidupan bangsa, yang bisa memupuk moral bangsa untuk mencintai demokrasi,
toleransi dan perikemanusiaan dan keadilan.





KEKOSONGAN PEDOMAN MORAL BANGSA



Sejak Suharto berhasil menggulingkan Bung Karno dan menghancurkan  kekuatan
pendukungnya yang utama, yaitu PKI beserta golongan kiri lainnya, bangsa
Indonesia telah kehilangan seorang pemimpin rakyat yang besar. Sejak itu,
sampai sekarang, belum muncul tokoh bangsa yang sekaliber Bung Karno. Kita
tidak bisa tahu sekarang, apakah bangsa Indonesia nantinya bisa mempunyai
pemimpin yang baik ketokohannya maupun integritas politik dan moralnya  bisa
menyamai Bung Karno. Yang sudah bisa dikatakan dengan tegas ialah bahwa
pemimpin yang semacam itu tidak mungkin muncul dari kalangan Golkar, suatu
kekuatan politik pendukung rejim militer Suharto yang menggulingkan Bung
Karno.



Dalam buku sejarah bangsa Indonesia perlu dicatat bahwa kesalahan yang
paling besar yang pernah dilakukan oleh Suharto dkk (artinya pimpinan
TNI-AD, pada waktu itu, yang bersekongkol dengan kekuatan nekolim yang
dikepalai AS) adalah pembunuhan secara politik (dan kemundian juga secara
fisik) terhadap Bung Karno dan penghancuran kekuatan golongan kiri, termasuk
PKI. Kalau direnungkan dalam-dalam, maka nyatalah bahwa digulingkannya Bung
Karno dan dihancurkannya kekuatan kiri telah menyebabkan terjadinya
kekosongan pedoman moral bangsa. Patutlah kiranya dikatakan, dengan
jelas-jelas,  bahwa Orde Baru selama lebih dari 32 tahun sama sekali tidak
memupuk moral bangsa ke arah yang baik.



Apa yang dialami bangsa Indonesia selama Orde Baru berkuasa (yang sebagian
masih diteruskan sampai sekarang) ialah indoktrinasi reaksioner dan
anti-rakyat, pemalsuan sejarah, pengebirian atau pemelacuran Pancasila, dan
pelecehan HAM. Dalam buku sejarah yang akan dibaca oleh anak-cucu kita di
kemudian hari perlu juga dicatat bahwa karena Orde Barulah maka bangsa
Indonesia menghadapi pembusukan moral dan kebejatan iman secara parah dan
besar-besaran, seperti  yang bisa kita saksikan sekarang ini di mana-mana di
negeri kita.



Dan karena pembusukan moral dan kebejatan iman ini sudah begitu parah, dan
sudah meluas ke mana-mana, maka wajarlah bahwa Presiden SBY menyatakan bahwa
Indonesia memerlukan waktu sekitar 15 tahun untuk menciptakan kehidupan yang
bersih dari praktek-praktek korupsi. Bahkan, kalau melihat terjadinya
pembusukan-pembusukan di Mahkamah Agung, di Kejaksaan Agung, di Mabes Polri,
dan berbagai instansi negara lainnya, maka dalam 15 tahun pun masih belum
pasti berhasil memberantas korupsi.





PERLU ADANYA GERAKAN BESAR-BESARAN



Untuk  menghadapi pembusukan moral dan kebejatan iman ini, yang merupakan
sumber utama dari segala kesulitan dan masalah-masalah parah – termasuk
korupsi – diperlukan adanya gerakan besar-besaran yang dilakukan oleh bangsa
kita. Kita tidak boleh hanya mempercayakan penanganan soal pemberantasan
korupsi yang begitu serius ini hanya kepada tokoh-tokoh di eksekutif,
legislatif dan judikatif saja (atau,  kepada aparat-aparat negara saja)
karena sudah terbukti selama ini bahwa justru mereka pun harus dijadikan
sasaran gerakan. Dalam gerakan ini perlu diikutsertakan sebanyak mungkin
golongan atau kalangan dalam masyarakat, baik yang tergabung  dalam
partai-partai politik, organisasi massa, LSM maupun  perkumpulan-perkumpulan
lainnya.



Dalam gerakan besar-besaran melawan korupsi ini, penting sekali ikut
sertanya secara aktif kalangan Islam, karena mereka merupakan majoritas
penduduk Indonesia. Di masa yang lalu sebagian dari kalangan agama Islam ini
sudah mengambil tindakan-tindakan positif ke arah ini, antara lain :
sejumlah  ulama NU pernah mengeluarkan fatwa yang cukup keras terhadap para
koruptor (kalau  koruptor mati jenazahnya tidak perlu disembahyangkan).
Sayang sekali, orang mendapat kesan bahwa selama ini kalangan Islam dalam
masyarakat masih belum menunjukkan gebrakannya yang “all-out”
(sekuat-kuatnya) dalam melawan kejahatan besar yang bernama korupsi ini.



Dalam gerakan moral melawan korupsi ini akan baik bagi rakyat Indonesia
kalau golongan Islam lebih menggalakkan gerakannya, umpamanya dengan
menjadikan perlawanan terhadap korupsi sebagai jihad. Dengan begitu, sasaran
gerakan moral ini menjadi lebih jelas, manfaatnya juga besar sekali. Sebab,
tidak dapat diingkari, bahwa sebagian terbesar dari orang-orang yang
melakukan korupsi adalah justru pemeluk agama Islam.  Banyak di antara
koruptor-koruptor kelas kakap ini yang  - yang tidak malu-malu dan juga
tidak takut-takut - mengucapkan sumpah jabatan di bawah Alqur’an. Banyak
juga di antara  mereka yang rajin sembahyang lima waktu, berpuasa, dan juga
pergi naik haji ke Mekah..



Hal-hal yang tersebut di atas adalah sejumlah bahan pemikiran, untuk mencoba
memandang (dari satu sudut pandang) salah satu masalah besar yang dihadapi
bangsa kita sekarang ini, yaitu kemerosotan moral atau kebejatan iman di
kalangan Generasi Orde Baru, dihubungkan dengan masalah korupsi yang
merupakan penyakit parah sekali bangsa kita dewasa ini.



Paris, 8 Desember 2005

--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.371 / Virus Database: 267.13.12/194 - Release Date: 07/12/2005


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke