Berikut kiriman berita dari teman Anda yang beralamat di: [EMAIL PROTECTED]
-------------------------------------
IslamLib.com, Senin, 5 Desember 2005

Syu’bah Asa:
Dakwah Para Teroris Itu Bertuah

Tayangan testimoni para pelaku bom Bali II beberapa pekan lalu menunjukkan 
bahwa gejala bom bunuh diri sudah menjadi tren internasional yang menjangkiti 
anak bangsa. Apakah generasi muslim Indonesia sudah mengalami radikalisasi 
sedemikian rupa, sehingga tidak lagi kecut nyali untuk melakukan bom bunuh 
diri? Berikut perbincangan Novriantoni dan Mohamad Guntur Romli dari Jaringan 
Islam Liberal (JIL) dengan Syu’bah Asa, wartawan senior dan penulis buku Tafsir 
Ayat-Ayat Sosial Politik, Kamis (17/11) lalu.

JIL: Pak Syu’bah, beberapa pekan lalu, Wapres M. Jusuf Kalla mengajak beberapa 
kyai menyaksikan testimoni para pelaku bom Bali II. Para kyai tampak shock 
dengan pengakuan para pelaku bom. Apa komentar Anda?

SYU'BAH ASA: Saya tidak heran kalau para kyai terkejut, karena selama ini saya 
kita mereka memang tidak banyak tahu tentang gerakan-gerakan Islam radikal dan 
paham-paham mereka. Selama ini, antara dunia kyai—dunia ajaran Islam yang kita 
katakan benar, damai dan toleran—memang agak terpisah dengan dunia mereka. Para 
kyai mungkin saja sudah mendengar soal teologi teroris, tapi sepotong-sepotong. 
Nah, setelah mendengar testimoni itu, kontan mereka terkejut, terlebih karena 
ajaran yang menganggap pembunuhan atas orang lain sambil membunuh diri sendiri 
itu dianggap sebagai jalan menuju surga. Itu sungguh sangat mengejutkan! 

Namun di samping itu, bagi saya, ada sedikit kebodohan dalam klaim masuk surga 
langsung itu. Sebab, surga itu hanya ada setelah kiamat. Sekarang ini kan belum 
ada surga. Jadi ketika dalam testimoni itu dinyatakan “saya sudah di surga” 
dengan bangganya, itu sudah menunjukkan persepsi keagamaan yang sebenarnya 
dangkal dan belum utuh.

JIL: Testimoni pelaku bom bunuh diri di Palestina, misalnya, sudah sering kita 
dengar. Tapi sekarang, itu dilakukan orang Indonesia. Apakah orang Indonesia 
sudah mengalami radikalisasi sedemikian rupa, sehingga sampai pada kepurusan 
bom bunuh diri?

Saya tidak berpikir begitu. Sebab, hanya sebagian kecil orang Indonesia yang 
berani melakukan itu. Artinya, mereka itu ikut tren internasional saja. Tren 
itu bermula dari keberangkatan ke Afganistan dan langkah-langkah selanjutnya 
yang tidak kita tahu. 

Tapi morif bom bunuh diri di sini tetap berbeda dengan yang di Timur Tengah. Di 
sana, ada hubungan kuat antara para aktivisnya dengan masyarakat pendukung, 
atau masyarakat umum. Di sini, dukungan itu tidak ada. Masyarakat umumnya tidak 
tahu sama sekali kalau mereka akan melakukan itu. Jadi, para pelaku di sini 
sebenarnya orang-orang yang sama sekali terpencil, terasing. 

Tapi itu tidak berarti kalau berdakwah mereka tidak akan “dimakan”. Dakwahnya 
tetap bisa bertuah. Kalau orang seperti mendiang Azahari atau Noordin M Top 
menyatakan bahwa tindakan itu benilai istisyhâd (mati syahid) yang akan beroleh 
surga, pemuda-pemuda yang berlatarbelakang pengetahuan agama tipis, mungkin 
saja akan tergiur. 

Tapi, saya mengira pemuda-pemuda dari kalangan NU atau Muhammadiyah tidak 
mungkin tergiur dengan jalan paling singkat menuju “surga” itu. Kita tahu, 
orang seperti mendiang Azahari itu bukanlah santri. Latar belakang 
pendidikannya pun bukan sekolah agama. Bahkan, konon mantan Panglima Lasykar 
Jihad, Ja’far Umar Talib, pernah menyatakan kepada pers bahwa ia pernah bertemu 
Usamah bin Laden. Katanya, “Pengetahuan agamanya nol.” 

Lalu, Sonata yang mengaku diperintah untuk membunuh Ulil Absha-Abdalla, 
sebenarnya juga tidak tahu apa-apa soal hukum membunuh sesama muslim. Jadi, 
mereka sebenarnya orang-orang memang yang tidak tahu. Tapi mereka gencar diberi 
dakwah oleh orang-orang yang budaya dan ilmu Islamnya bersifat global. Dakwah 
global ini dipengaruhi banyak sekali faktor politik. 

JIL: Bom bunuh diri memang tidak dikenal dalam tradisi Indonesia. Tapi apakah 
aksi bunuh diri untuk mendapat status syahid itu pernah dikenal dalam sejarah 
Islam?

Secara tidak menguntungkan, fakta itu ada. Itu yang kita kenal dengan The 
Assassin atau kaum hasyâsyîn, sempatalan dari sekelompok Syiah Batiniah. Mereka 
menghalalkan teror dan sebagainya demi menegakkan supremasi dan dinasti mereka. 
Orang Barat menyebut mereka sebagai The Assassin, karena menghalalkan segala 
cara; pembunuhan, intimidasi, teror, dan segala yang dianggap perlu untuk akan 
mewujudkan cita-cita mereka. Tapi mereka telah dikutuk di mana-mana. Aliran 
Syiah lain juga tidak mengakui mereka sebagai Syiah yang benar. 

Dalam sejarah moderen, aksi bunuh diri itu pernah dipraktikkan kelompok IRA 
(Irish Republikan Army) di Irlandia, juga pasukan Yakuza Jepang. Oleh kalangan 
Islam tertentu, praktik itu ditiru dan diterapkan. Mereka menganggap itu bisa 
dibenarkan oleh Islam. Dalil pembenarnya mereka cari dari sejarah Islam. Konon, 
ada satu orang sahabat yang bersama Nabi di tepi medan tempur. Lalu ia 
bertanya, “Ya Rasulallah, kalau aku pergi ke medan tempur itu, lalu berperang 
di sana dan gugur, apakah aku akan masuk surga?” Kata nabi, “Ya!” Lalu ia 
membuang kurmanya, melompat ke kuda, dan memacu kudanya ke medan berkecamuknya 
perang. Ia lalu mati terbunuh.

Banyak orang yang mengatakan kalau aksi itu bagian dari taktik bunuh diri. Tapi 
sebagian mengatakan “tidak”, karena ia masih berpeluang hidup. Intinya, kalau 
masih berkemungkinan hidup, bukan bunuh diri namanya. Tapi dalil itu sudah 
dijadikan pembenar oleh sebagian kelompok Islam untuk melakukan aksi bom bunuh 
diri.

JIL: Kalau begitu, bagaimana membedakan kematian yang disebut syahid atau 
al-istisyhâd dengan bom bunuh diri?

Kita bisa mengatakan bahwa etika bom bunuh diri itu bukan etika Islam alias 
etika kafir. Artinya, kalau saya menyatakan ingin syahid atau bermohon menjadi 
syahid dalam sebuah pertempuran, saya wajib membela diri supaya tetap hidup. 
Itu terutama berlaku untuk kancah pertempuran satu lawan satu—dengan menghunus 
pedang, misalnya. 

Ada contoh lain untuk soal seperti ini. Dulu, prajurit Taliban yang berada di 
atas bukit, pernah dihadang meriam oleh pasukan Mujahidin, lawan mereka, yang 
memuntahkan mortirnya ke atas. Sekelompok orang Taliban yang di atas pernah 
menggunakan taktit turun ke bawah demi membungkam mortir Mujahidin. Korban 
berjatuhan. Sebagian orang mengatakan itu bunuh diri konyol, sekalipun tetap 
ada peluang hidup. Karena itu mereka menyebut itu bukan bunuh diri yang murni. 
Kaidahnya: semua yang berkemungkinan hidup, bukanlah aksi bunuh diri. 

Tapi contoh di atas berbeda dengan yang meledakkan diri dengan bom. Aksi itu 
betul-betul aksi menjemput maut. Nah, yang seperti itu tidak ada pembenarannya 
dalam Islam. Dalam Islam, orang tetap harus berusaha hidup, demi menghormati 
pemberian karunia hidup itu sendiri. Di dalam Alqur’an sendiri Allah menyatakan 
bahwa seseorang yang membunuh orang lain tanpa alasan yang haq, seakan-akan ia 
telah membunuh keseluruhan manusia. 

Rasulullah juga mengutuk intihâr, aksi bunuh diri. Dan dalam sebuah hadis 
qudsi, Allah juga berfirman bahwa “orang yang membunuh dirinya, mirip seperti 
mereka yang tidak menerima takdir-Ku.” Artinya, dia mendahului kehendak Tuhan.

JIL: Jadi, pelaku bom bunuh diri ini bisa dianggap mempercepat takdir ilahi 
tentang kematiannya?

Ya. Mungkin mereka tidak paham. Mereka mengira tindakan itu identik dengan apa 
yang pernah dilakukan para sahabat Nabi. Padahal, ada cara-cara lain untuk 
mencapai tujuan. Lebih lagi, tujuan-tujuan yang ingin mereka capai juga tidak 
realistis. Mestinya, harus dibahas dulu apakah tujuan mereka realitstis atau 
tidak, baru kemudian orang mengangguk atau menggeleng. Sepanjang yang kita 
tahu, tujuan mereka tidak realistis sama sekali. Bagaimana melawan Amerika 
dengan membunuh orang-orang di Bali? Logika seperti ini susah ditangkap. Dan 
umumnya, para santri tidak tertarik ide-ide seperti itu. 

JIL: Sajida, perempuan pelaku bom bunuh diri yang gagal di Amman, Yordania, 
tertarik melakukan bom bunuh diri karena tiga kakaknya tewas akibat agresi 
Amerika di Irak. Bagaimana kalau alasannya seperti itu?

Kalau menurut agama, alasan itu bersifat dendam dan sangat pribadi. Kalau kita 
merujuk pada cerita-cerita utama para sahabat, kita akan tahu bahwa tidak boleh 
berperang hanya karena dendam. Sayidina Ali pun tidak jadi membunuh seorang 
musuh ketika ia diludahi. Dia urung, karena kalau tetap membunuh, ia hanya 
membunuh karena motif dendam dan kemarahan. 

Namun fatwa Syekh Yusuf al-Qardlawi memang membolehkan bom bunuh diri di 
Palestina. Katanya, untuk melawan Israel, dibolehkan aksi istisyhâd (bom syahid 
atau martir). Namun bagaimana kalau korbannya ibu-ibu, gadis-belia, atau 
anak-anak yang sedang jalan-jalan di mal dan tempat lain? Ia memberi jawaban 
yang sangat formalistis. Katanya, dalam undang-undang Israel, semua warganegara 
mereka seorang prajurit. 

Secara formalistis, alasan itu memang dapat diterima. Tapi faktanya, mereka 
tetap bukan prajurit. Pertama, mana mungkin seorang bayi sudah bisa dianggap 
prajurit. Kedua, apakah tidak ada jalan lain? 

Kita tentu tahu kepahitan hidup orang Palestina dan orang Bosnia dulunya yang 
sempat diperkosa orang-orang Serbia. Tapi apakah bunuh diri jalan yang bagus 
untuk memecahkan soal? Apakah itu tidak hanya akan menimbulkan dendam 
selamanya? Apakah aksi itu betul-betul bisa dipertanggungjawabkan, sekalipun 
Syekh al-Qardlawi tidak membolehkan aksi itu bagi yang tidak diserang? 

Jadi, kadang alasan pembenar atas aksi itu sangat formalistis. Dulu ada banyak 
orang yang membela Saddam Husein dengan alasan dialah satu-satunya sosok 
penyeimbang dalam peta kekuatan di Timur Tengah. Dia dianggap mengatrol 
kekuatan Islam dalam berhadap-hadapan dengan Israel. Saya pernah menulis 
komentar di Republika: bagaimana bisa menjadi penyeimbang kalau senjatanya saja 
dari luar negeri? 

Sekarang, kita bisa mengatakan, “Bagaimana bisa melawan Amerika dengan cara 
membunuh orang di Bali?” Di sinilah kita tampaknya perlu belajar dari Jepang 
yang bisa mengungguli Amerika tanpa mengeluarkan sepucuk pistol pun. Lihat juga 
ekonomi Cina saat ini. Bahkan, lihat pulalah Vietnam yang mulai menguat.

JIL: Ada yang membenarkan bom bunuh diri asal sesuai dengan syariat dan 
bertujuan menghancurkan musuh-musuh Islam. Tanggapan anda?

Pertanyaan saya: sesuai dengan syariat Islam atau sesuai fikih? Biasanya, kita 
memahami bahkan mengidentikkan syariat itu dengan fikih. Tapi, dari keduanya 
itu pun tidak ada kasus dan klausul pembenar, baik atas bunuh diri dengan bom 
ataupun dengan pedang. Jadi sejak dulu, sejarah Islam tidak menganggap bunuh 
diri sebagai tindak kepahlawanan seperti pernah yang terjadi di Jepang. Dalam 
contoh Jepang, pesawat kecil masuk ke cerobong asap kapal induk musuh, lalu 
pelakunya mati, dan kapalnya meledak. 

Dalam sejarah Islam tidak ada contoh seperti itu. Di masa Nabi juga tidak ada. 
Jadi syariat Islam seperti apa yang dapat membenarkan, saya juga sangat ingin 
tahu.

Yang kedua soal tujuan. Kalau mau menandingi Barat, sebaiknya gunakan cara-cara 
yang islami, seperti yang ditempuh Jepang saat ini; tidak dengan senjata, 
karena memang percuma. Justru dari sisi kekuatan ekonomilah kita mesti berjuang 
keras. Jadi tetap dengan cara yang damai.

Saya rasa, kita terlalu banyak disibukkan, diributkan, dan dibikin habis waktu 
oleh urusan ideologi. Sudah saatnya kita betul-betul bekerja, melek mata dan 
melihat apa yang kita butuhkan untuk kemajuan umat Islam di bumi persada ini. 
Hanya dengan cara itu kita bisa menandingi atau menyamai orang lain.

JIL: Bagaimana dengan bom bunuh diri altruistis, atau yang dianggap sebagai 
pengorbanan untuk orang banyak?

Aksi bunuh diri yang bisa dibenarkan itu hanya pernah saya lihat dalam sebuah 
film yang dibintangi Bruce Willis, Armageddon. Di situ dihayalkan bahwa ada 
benda luar angkasa yang harus diledakkan di atas langit, karena kalau tidak, 
bumi akan hancur. Tentu ini hanya hayalan. Setelah diundi, Bruce Willis 
terpilih sebagai orang yang harus meledakkan. Dia mati, dunia selamat, dan 
manfaatnya nyata bagi semua orang. Nah, kalau ada kasus seperti itu, saya kira 
boleh saja. Tapi di luar itu, saya tidak paham bagaimana menghukuminya. Sebab, 
di zaman Rasulullah tidak ada presedennya.

JIL: Anda bisa bedakan motif-motif bom bunuh diri di Indonesia dan di Timur 
Tengah?

Tentu ada perbedaannya. Bagaimanapun juga, ada penghormatan besar bagi para 
pejuang di Palestina. Target mereka pun jelas. Di Palestina, bom bunuh diri 
dilakukan agar tentara Israel mundur. Di Irak, itu dilakukan agar sesuatu 
terjadi menurut harapan mereka; entah Amerika mundur, atau lainnya. Beberapa 
target mereka tercapai. Terbukti, PM Israel, Ariel Sharon, menarik mundur 
warganya dari pemukiman Gaza. Tapi di Indonesia targetnya tidak ada. 

Tapi kalau saya ditanya apakah setuju bom bunuh diri dengan target tertentu 
seperti di Timur Tengah, dengan pengetahuan terbatas, saya tetap tidak setuju. 
Itu tidak ada klausulnya dalam Islam, dan tidak bisa dikiyaskan dengan ajaran 
Rasulullah soal menghargai hidup. 

JIL: Bagaimana dengan bom bunuh diri atas mereka yang dituduh kolaborator atau 
yang dianggap bekerja sama dengan musuh, seperti kelompok Syiah yang hampir 
tiap hari dibom di Irak?

Saya tidak tahu. Tapi gerakan kekerasan seperti perencanaan bom bunuh diri 
memang sangat menyenangkan dan memikat pelaku dan simpatisannya. Ketika seorang 
pemuda yang berpengetahuan agama nol berkenalan dengan gerakan militan dan 
revolusioner, baik yang berlabel Islam atau pun komunis, itu akan sangat 
menyenangkan. Menyusun rencana bawah tanah, berhubungan secara sel-sel, memang 
membangkitkan adrenalin kaum muda. Apalagi garansinya masuk surga. Orang akan 
berfantasi bahwa mereka akan ke surga yang sudah ditunggui bidadari-bidadari 
cantik.

Dengan aksi-aksi seperti itu, orang yang tadinya nobody menjadi somebody dan 
merasa dirinya sangat penting. Orang-orang seperti Amrozi, Imam Samudra, dan 
lain-lain, sangat yakin akan kebenaran apa yang mereka perbuat. Karena itu, 
pribadi-pribadi yang putus asa di dunia ini, bisa saja dijadikan sasaran dakwah 
untuk kekerasan seperti itu.

JIL: Pak Syu’bah, bagaimana cara menanggapi terorisme Amerika di beberapa 
tempat dan ketidakadilan global yang dianggap pemicu aksi-aksi teror?

Terorisme oleh negara kuat seperti Amerika atau Israel hanya bisa kita pahami 
sebagai latar belakang timbulnya terorisme umat Islam. Tapi sekalipun itu dapat 
dianggap sebagai latar belakangnya, tidak berarti aksi terorisme itu sendiri 
bisa kita benarkan. Itu yang penting kita pegang.

Lalu bagaimana dengan teori konspirasi yang mengatakan aksi-aksi itu hanya 
rekayasa negara-negara asing? Bagi saya, teori yang banyak diungkap bekas orang 
BIN (Badan Intelijen Negara), almarhum ZA Maulani, itu susah sekali dibuktikan. 
Almarhum ZA Maulani percaya betul kalau Bom Bali I itu bukan perbuatan orang 
Indonesia. Saya tidak ahli dalam bidang itu. Tapi yang nyata, kalaupun 
konspirasi itu ada, dan teror itu sebenarnya rekayasa negara luar, toh 
pelakunya tetap orang sini juga. 

JIL: Apakah bom bunuh diri di Indonesia hanya tren yang akan berakhir dua-tiga 
tahun mendatang?

Sangat tergantung bagaimana masyarakat dan kalangan ulama menanggapinya. Kalau 
para ulama berjanji akan berbuat sesuatu, tren itu saya kira cepat menghilang, 
atau tidak pernah dibenarkan umat. Sekarang mungkin umat masih terkagum-kagum 
dengan nyali orang yang membunuh dirinya sendiri sambil membunuh orang lain. 
Kalau para ulama menerangkan bahwa cara berjihad seperti itu salah dan keliru, 
tren itu tidak akan menyebar betul.

JIL: Peran apa yang bisa diharap dari agama dan agamawan untuk mengurangi 
persebaran gagasan-gagasan teror?

Pada akhirnya kita harus mengembalikan agama ke dalam posisinya yang wajar, 
yang benar. Saya sangat mengharapkan kepedulian para ulama untuk berani angkat 
bicara soal terorisme. Kadang-kadang, para ulama memang payah untuk diharapkan. 
Coba kita ingat, pada zaman Orde Baru, tidak ada satu orang ulama pun yang 
bicara lantang soal korupsi. Sekarang, di tayangan televisi setelah subuh, 
mereka pada teriak: “Korupsi! Korupsi!” 

Karena itu, saya kadang berkesimpulan, ulama itu pada dasarnya tidak bisa kita 
kedepankan, kecuali untuk urusan ibadah. Memang ini agak disayangkan, tapi 
begitulah faktanya.

Nanti kalau perkara ini sudah selesai, para teroris sudah kalah, mereka baru 
berani angkat bicara. Saya dapat informasi bahwa surat pembaca yang masuk ke 
desk anti-terorisme di Dephankam menganjurkan untuk melibatkan ulama. Tapi 
sayang, banyak ulama yang bilang: “Jangan saya lah… !” Semua hampir begitu. 
Untuk bicara soal kebenaran saja mereka tak berani. Mereka lebih suka bicara 
soal-soal yang laku di televisi.

Namun demikian, tanpa mengurangi penghargaan kita pada ulama, kita tetap punya 
pengharapan. Harapan itu berupa upaya untuk membantu Islam supaya tetap 
diapresiasi sebagai agama yang benar, yang rahmatan lil `âlamîn. []

Versi asli dapat dibaca di:
http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=935



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke