http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=201572

Sabtu, 10 Des 2005,

Teroris Tak Lahir dari Rahim Pesantren
Oleh Fauzi AM.*

Pernyataan pemerintah, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla, bahwa jika perlu, 
pemberantasan terorisme dilakukan dengan meniru cara-cara Orde Baru, yakni 
mengawasi pesantren dan isi ceramah agama, direaksi keras para pemimpin Islam. 
Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi, misalnya, mengatakan, pernyataan pemerintah itu 
mengisyaratkan masih saratnya stigma dan label-label agama dalam melihat 
aksi-aksi terorisme (JPNN, 24/10/05).

Tertembaknya Dr Azhari Husin dalam operasi pemberantasan terorisme oleh 
Detasemen 88 Polri di Batu, Jawa Timur, menandai babak baru perkembangan aksi 
teroris di negeri ini. 

Publik mendapat bukti konkret bahwa "tokoh teroris" itu betul-betul ada. 
Azahari (bersama Noordin M. Top) merupakan prototipe utuh dalam definisi 
teroris yang dikeluarkan Amerika Serikat. Azahari tokoh cerdas, ekstremis, 
pelaku pengeboman, dan terkait jaringan terorisme global.

Tokoh lain yang memenuhi definisi teroris ala Amerika Serikat adalah Ustad Abu 
Bakar Ba'asyir. Ustad Ba'asyir dikenal sebagai pemimpin Pesantren Al Mukmin, 
Ngruki, Sukoharjo. Dia disebut-sebut sebagai tokoh domestik yang dianggap 
mempunyai jaringan terorisme yang sama. Bahkan, hingga kini, dengan dakwaan 
yang berubah-ubah, Ba'asyir tetap ditahan di Lapas Cipinang.

Berkaitan dengan pernyataan Wapres tersebut, mencari akar masalah terorisme di 
pesantren justru akan menimbulkan risiko dan "biaya" tinggi karena akan membuat 
stigma bahwa Islam identik dengan teroris. 

Karena itu, jika ada alumni pesantren yang bermasalah, orang itu saja yang 
dipermasalahkan, jangan institusi pesantrennya (Jawa: gebyah uyah). Sebab, jika 
institusinya dipermasalahkan, nama baik pesantren akan cedera dan itu tidak 
kondusif untuk melawan terorisme. 

Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang sejak zaman kolonial telah 
membantu bangsa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Pesantren dimaksudkan 
untuk mempertahankan nilai-nilai keislaman dengan titik berat pada pendidikan. 

Pesantren juga berusaha mendidik para santri yang diharapkan bisa menjadi 
orang-orang yang mendalami pengetahuan keislamannya. Kemudian, mereka dapat 
mengajarkannya kepada masyarakat setelah para santri selesai menamatkan 
pelajarannya (nimbo kaweruh) di pesantren.

Wacana pendidikan pesantren di Indonesia menjadi suatu kontroversi setelah bom 
Bali pada 2002 diketahui bahwa beberapa orang tersangka dalam peristiwa 
tersebut diketahui "berhubungan" dengan dua pondok pesantren di Jawa, yaitu PP 
Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, dan PP Al-Islam di Lamongan, Jawa 
Timur. 

Fenomena pesantren memang sarat dengan aneka pesona, keunikan, kekhasan, dan 
karakteristik tersendiri yang tidak dimiliki institusi lainnya. Dalam dunia 
pesantren, posisi pemimpin pesantren (kiai) merupakan figur sentral. Sebagai 
pemimpin pesantren, watak dan keberhasilan pesantren banyak bergantung kepada 
keahlian dan kedalaman ilmu, karisma dan wibawa, serta keterampilan kiai. 

Kiai sebagai pembaca dan penerjemah bukanlah sekadar membaca teks, namun juga 
memberikan pandangan-pandangan pribadi, baik mengenai isi maupun bahasanya.

Selain kiai sebagai pilar utama pesantren, setidaknya ada empat pilar penyangga 
lain. Pertama, santri, yaitu para siswa yang belajar/mengabdi kepada sang kiai. 
Santri bisa disebut sebagai seseorang yang taat melaksanakan perintah agamanya. 
Kedua, pondok yang berupa asrama-asrama tempat tinggal santri. Sistem asrama 
ini merupakan ciri yang membedakan sistem pendidikan pesantren dengan sistem 
pendidikan lainnya. 

Ketiga, masjid/surau. Dalam tradisi Islam, kaum muslimin selalu memanfaatkan 
masjid tidak hanya untuk tempat beribadah, tapi juga sebagai lembaga pendidikan 
Islam. Misalnya, halaqoh dan muhadharah.

Terakhir adalah kitab-kitab Islam klasik atau umum disebut kitab kuning. Pada 
masa lalu, kitab kuning merupakan satu-satunya teks pengajaran formal yang 
diberikan dalam lingkungan pesantren. Namun, dalam perkembangannya, pesantren 
telah memasukkan pengetahuan umum selain kitab klasik (yang diterapkan di 
madrasah-madrasah). 

Dari pilar-pilar pesantren tersebut, setidaknya ada tiga yang mendapat 
perhatian serius, yaitu kiai, santri, dan kurikulum. Kitab-kitab fiqh, ta'lim 
muta'allim, dan tafsir yang digunakan kalangan pesantren tidak selalu seragam. 
Sebab, pada dasarnya, tidak ada kurikulum bersama di kalangan pesantren dengan 
kitab-kitab yang telah dibakukan. 

Jika kiai cenderung memahami Alquran dan sunah dengan pendekatan tafsir yang 
"ekstrem", corak kurikulum dan output santri cenderung berpotensi "ekstrem". 
Oleh karena itu, faktor sang kiai sangat menentukan hitam putihnya kurikulum 
yang diajarkan di sebuah pesantren.

Untuk mengontrol masuknya ajaran ekstrem ke pondok-pondok pesantren, salah satu 
di antaranya adalah perlu dibangun komunikasi antarkiai atau pimpinan pondok 
pesantren untuk saling mengobservasi dan mengevaluasi kurikulum yang diajarkan. 
Selain itu, diperlukan pendampingan dan pembinaan oleh pemerintah melalui 
Departemen Agama. 

Pelaku-pelaku terorisme di Indonesia yang terlihat kini bukan produk kurikulum 
pesantren yang sengaja dirancang untuk melahirkan teroris. Terorisme bukan 
gejala lokal Indonesia, apalagi fenomena domestik pesantren. Terorisme 
merupakan gejala global yang sangat berrkaitan dengan struktur ekonomi dan 
politik global yang didominasi negara-negara industri maju. 

Para teroris bukanlah produk agama karena semua agama mengajarkan kebaikan. 
Schmidtchen berpendapat, banyak teroris berasal dari keluarga-keluarga yang 
menekankan pencapaian prestasi yang gemilang. 

Dalam menghadapi dan menanggulangi terorisme, pemerintah tidak perlu panik, 
tetapi mengambil langkah yang mantap dan akurat. Pendayagunaan aparat dan 
kesatuan yang sudah memiliki kapasitas menangani teror, seperti desk antiteror, 
intelijen, Detasemen 81 TNI-AD, Detasemen Jala Mangkara TNI-AL, Detasemen Bravo 
TNI-AU, dan Detasemen 88 Polri akan lebih cepat dan memiliki daya dobrak serta 
akuntabilitas dengan dukungan unsur lain di masyarakat. 


* Fauzi A.M., alumnus Pondok Pesantren al-Ihsan dan al-Falah, Mojokerto, Jawa 
Timur. Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke